
Happy reading
Satya membonceng Clara dengan sepeda milik Clara tadi. Karena memang jarak rumah Satya dengan tempat mereka itu tak terlalu jauh. Mungkin 20 menit sudah sampai.
"Kak Satya gak apa-apa bawa aku ke rumah kakak?" tanya Clara pada Satya.
"Gak apa-apa, Nana pasti senang karena ada temannya yang datang," jawab Satya dengan senyumnya tapi tak diketahui oleh Clara.
Jujur di dalam hati, Satya senang karena bisa membonceng gadis yang selama ini ia sukai. Tapi Satya tak cukup keberanian untuk mengutarakannya.
"Kak Satya gak takut kalau pacar kakak lihat kita jalan berdua gini?" tanya Clara tanpa sadar menanyakan Satya sudah mempunyai pacar atau belum.
"Pacar? Kakak gak punya pacar dek. Jadi gak akan ada yang marah walau kita jalan atau pegangan tangan sekalipun," jawabnya dengan tenang. Clara yang mendengar itu langsung menebar senyumnya, ia cukup bahagia mendengar jawaban dari Satya.
"Pegangan dek, nanti jatuh," ucap Satya dan dituruti oleh Clara. Dengan malu Clara melingkarkan tangannya di perut Satya. Sedangkan pria berusia 22 tahun itu terlihat seperti anak yang baru merasakan indahnya jatuh cinta.
"Apa begini rasanya di peluk oleh orang yang kita sukai, kencan yang tak sengaja ya," batin Satya dengan senyum manisnya.
Akhirnya mereka sampai dirumah sederhana dengan pohon jambu didepan rumah itu. Satya tak malu mengajak Clara masuk walau rumahnya sederhana.
"Dek, kamu dimana? Teman kamu datang nih!"
Satya menyuruh Clara untuk duduk di kursi itu dan memanggil Nana tapi tak ada entah dimana anak itu.
Bugh
Bugh
Bugh
Clara dan Satya sontak menoleh ke sumber suara, mereka melihat beberapa jambu yang jatuh dari atas sana.
"Nana Turun!!"
"Nana?" tanya Clara dalam hati.
Brug
Clara kaget melihat seorang gadis yang loncat dari atas pohon jambu itu dengan senyum tipisnya.
"Kok udah pulang, udah dapat apa yang di minta ibu?" tanya Nana mengambil jambu yang tadi ia jatuhkan.
__ADS_1
"Udah dapat, nih teman kamu kan. Kamu ajak ngobrol dulu, kakak mau ke dapur dulu," ucap Satya pada adiknya.
"Kakak ke dalam dulu, kamu ngobrol aja sama Nana," ucap Satya pada Clara yang langsung mengangguk.
Setelah Satya masuk, Nana duduk di kursi rotan di samping Clara. Gadis itu memakan jambu yang tadi ia sudah cuci di hadapan Clara.
"Na, gue mau ngucapin terima kasih sama lu karena sudah nolong gue waktu itu," ucapnya dengan tulus tak lupa senyum manis yang membuat Nana terpesona dengan senyum Clara apalagi gigi gingsul gadis itu.
"Santai aja kali, gue malah seneng sekarang lu udah gak di bully lagi," jawabnya seraya mengunyah jambu biji itu.
"Mau gak lu?" tanya Nana menawari jambu yang masih normal itu pada Clara.
"Gak makasih, emang gak sakit perut ya kalau kamu cuci sama air keran?" tanya Clara dan dijawab gelengnya oleh Nana.
"Aku sudah biasa, kita hidup sederhana Ra, terlalu irit untuk menggunakan kompor," jawabnya santai tanpa tersinggung sekalipun.
"Tapi nanti kalau kamu sakit perut gimana?" tanya Clara.
"Buktinya aku gak sakit perut kan," ujarnya dengan senyumnya.
"Eh gimana ceritanya Lu bisa bareng kakak gue tadi? Kalian ada hubungan apa?" tanya Nana dengan kepo. Pasalnya selama ini ia belum pernah melihat kakaknya membawa atau membonceng seorang cewek selain dirinya dan ibunya.
"Jangan bohong, lu pasti ada hubungan spesial kan sama kakak gue?" tanyanya dengan serius.
Clara tak menjawab, karena ia juga hingga ingin menjawab apa. Tiba tiba Ibu Sari datang membawa teh dan cemilan.
"Terima kasih bu, gak usah repot-repot sebenarnya."
"Gak apa-apa Non, Nona teh anaknya bos Satya di kantor kan?" tanya Bu Sari dengan ramah.
"Iya Bu," jawabnya.
Mereka duduk di kursi itu, seraya berbincang ringan. Clara yang pertama kali datang ke rumah temannya itu sedikit kikuk. Tapi ia mencoba mengakrabkan diri.
"Ibu masuk dulu ya, kalian lanjut aja ngobrol."
"Iya Bu, terima kasih ya."
"Sama-sama Non."
"Panggil aja Clara Bu, aku temannya Nana," ucap Clara tak enak karena Ibu Sari memanggilnya Nona hanya karena ia anak pemilik perusahaan tempat Satya bekerja.
__ADS_1
"Iya."
Kini hanya tinggal Nana dan Clara saja disana, mereka layaknya teman lama bisa langsung akrab.
"Nana habis SMA mau lanjutin ke mana?" tanya Clara pada Nana. Clara mulai mengambil kripik pisang itu.
"Kerja deh kayaknya, aku mau langsung cari uang bantu Ibu."
"Kenapa gak kuliah? Apa kamu gak menginginkan gelas sarjana?" tanya Clara pada Nana.
"Mau sih, aku juga mau kayak kakak yang bisa kerja di perusahaan besar. Tapi melihat bagaimana kondisi keuangan kita, aku juga gak mau terlalu membebani Kakak karena kuliahku. Karena kakak juga butuh uang buat masa depannya nanti," jawab Nana.
Clara yang mendengar itu mengangguk, ia bersyukur karena terlahir di keluarga yang cukup mampu. Ia tak perlu memikirkan caranya cari uang, bagaimana susahnya makan nasi. Sesuatu sudah tersedia, tapi Nana harus mencari dulu.
"Emm aku bisa mencarikan kamu beasiswa kok Na, aku dengar dari kakak kamu nilai-nilai kamu bagus semua. Jadi gimana mau gak? Kamu juga bisa kerja part time kan setelah kuliah. Nanti aku carikan tempat deh," tawar Clara dengan sungguh sungguh.
"Emang ada? Aku gak yakin Ra, kamu tahu kan kalau beasiswa itu juga ada batasnya. Kalau nilaiku anjlok gimana?" tanya Nana dengan sendu.
"Aku yakin kamu bisa, kamu pintar juga kan. Kita gak akan tahu kalau gak mencoba dulu," ujar Clara.
Akhirnya Nana mengangguk, ia akan mencoba mencari beasiswa nanti. Sedangkan Clara sudah memikirkan bagaimana caranya agar teman barunya ini bisa kuliah di kampus yang sama dengannya.
"Kakak dan papa pasti bisa bantu aku," batinnya dengan senang.
Tanpa mereka sadari Satya sudah berdiri di belakang pintu dan mendengarkan apa yang adik dan Clara bicarakan. Ia bangga karena Clara bisa membujuk Nana untuk kuliah. Walaupun nanti Nana tak mendapat beasiswa ia masih bisa membantunya.
Satya keluar dari rumah dan duduk di samping Clara. Clara yang melihat Satya duduk disampingnya itu menjadi gugup. Ia merasa badannya mulai panas dengan wajah yang merah.
"Kak antar Clara pulang gih, udah panas banget nih. Takut kulit nih kucing gosong, nanti gak cantik lagi," ujar Nana menujuk Clara.
"Enggak kok, lagian kalau mau pulang pun panas di jalan. Kan sepedaan," ucap Clara yang tak mau pulang.
Clara tak mau cepat berpisah dengan Nana dan Satya, sedangkan Satya yang mendengar itu hanya menggeleng. Ini belum terlalu panas, lagian jalanan juga tertutup dengan daun jadi tak akan terasa panas malah sejuk.
"Gak akan panas kok dek, yuk kakak antar pulang. Nanti kamu boleh main ke sini lagi," ucap Satya dengan lembut.
Akhirnya Clara mau diantar pulang oleh Satya, gadis itu pamit pada Nana tak lupa meminta nomor wa gadis itu.
Satya juga meminta nomor ponsel Clara, entah mau diapakan ia juga akan tahu.
Bersambung
__ADS_1