
Bukannya mau bersenang senang diatas kesedihan Galaksi yak, tapi ini cuma selingan aja biar kalian gak bosen nunggu Viola bangun dan Galaksi yang nangis nangis gak jelas.
Happy reading
Satya dan Clara keluar dari kamar itu menuju kantin rumah sakit. Walaupun sudah malam tapi masih ada yang berjualan karena petugas disana juga tak jarang membeli makanan di kantin.
"Kak udah dong," rengek Clara menatap Satya yang masih saja menggodanya tentang anak 11 tadi.
"Kenapa sih yank?"
"Jangan bahas anak lagi, kita aja belum nikah," ujar Clara mencubit perut Satya.
"Emang kamu mau aku nikahi sekarang?" tanya Satya mengecup pipi Clara.
Clara yang mendengar itu tersenyum dan mengangguk, walau ia tahu jawaban pacarnya akan sama.
"Aku gak maksa buat cepat halalin aku kok. Yang penting kamu gak jelalatan aja matanya," ujar Clara dengan senyum lembut.
Satya yang mendengar itu tersenyum, ia memang tak salah memilih wanita. Clara mau diajak menunggu. Jujur saja ia belum cukup untuk mengimbangi Clara.
Sampailah mereka di kantin, Satya dan Clara memesan nasi untuk mengisi perut mereka. Walaupun tadi Clara sudah makan tapi ia akan tetap makan walau sedikit.
"Yank, kamu besok libur gak?" tanya Satya dan dijawab anggukan. Besok memang libur kuliah.
"Kamu ke kantor ya yank," pintanya dengan nada melas.
"Iya tapi setelah dari rumah sakit ya," ujar Clara meminum teh hangat itu.
"Heem..." jawab Satya berdehem karena ia saat ini sedang makan.
Satya dan Clara menghabiskan makanan mereka. Ralat hanya satya yang menghabiskan makanan, Clara sudah kenyang jadi hanya makan sedikit.
"Gak makan kamu yank?" tanya Satya setelah meminum teh hangat itu.
"Enggak kak, aku udah kenyang. Kan kakak tahu sendiri aku cuma nemenin kakak makan."
"Gak enak aku jadinya," ujar Satya mengambil satu bungkus kripik usus.
"Dienakin ajak kak, kayak sama siapa aja," ujar Clara menatap Satya yang sedang memakan kripik usus.
"Kamu mau?" tawar Satya memberikan kripik usus itu.
__ADS_1
"Buat kamu aja," jawabnya dengan senyum manis.
Satya mengangguk dan menghabiskan kripik itu, setelah habis semua Satya membayar makanan mereka.
Satya dan Clara berjalan menuju parkiran mobilnya. Satya membukakan pintu mobil untuk Clara, hal kecil itu cukup membuat Clara tersenyum malu.
"Terima kasih," ucap Clara dengan senyum.
"Sama-sama," jawabnya ikut masuk dan mulai memasang sabuk pengaman.
Satya menjalankan mobilnya menuju suatu tempat dulu sebelum ia mengantarkan pacarnya ini pulang.
"Kak jangan malam malam aku gak mau orang rumah khawatir," ujar Clara memeluk lengan Satya dengan pelan. Ia sudah terbiasa dengan hal ini.
"Iya sayang, seperti biasa," jawab Satya mengecup kening Clara dengan lembut.
Akhirnya mereka sampai di sebuah kafe sederhana yang merupakan kafe miliknya sendiri. Walau sederhana tapi jangan salah kafe ini sangat laris dengan pembeli, Satya membangun kafe ini sudah sekitar 4 bulan yang lalu. Sebelum mereka berpacaran.
"Ini jam berapa kak?" tanya Clara pada Satya.
"Jam setengah 9," jawab Satya setelah menatap jam di tangannya.
Mereka masuk dan langsung di sapa oleh salah satu pelayan yang menjadi orang terpercaya Satya untuk mengola kafe ini.
Mereka memang teman SMA, Aditya tak melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Bersyukur Satya masih bisa kuliah walau dengan jalur beasiswa yang ia dapat. (Tya juga mau dapat beasiswa kuliah juga.)
"Bagus Sat, banyak pembeli bahkan gue dan beberapa pegawai juga kewalahan jika lagi rame. Tapi alhamdulillah banget," jawabnya dengan senyum.
"Ada yang perlu gue selesaikan gak? Apa lu ada rencana sesuatu buat kafe ini kedepannya?" tanya Satya mengajak Aditya duduk begitupun dengan Clara.
Kenapa Satya tak makan disini? Karena setiap makan ia selalu tak diperbolehkan membayar. Walau ini kafe nya tapi tetap saja itu tak baik.
"Ada semuanya udah gue kirim ke email lu, apalagi rincian duit."
Cukup lama mereka berbincang hingga akhirnya Clara dan Satya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan pribadi milik Satya bahkan hanya mereka berdua yang tahu.
Satya menguci pintu ruangan itu dan memeluk tubuh Clara dari belakang sedangkan Clara yang merasa perutnya dipeluk itu hanya tersenyum.
"Kebiasaan," ujarnya dengan senyum.
"Udah kangen banget buat peluk gini," jawabnya seraya mengecup pipi kanan Clara.
__ADS_1
"Dih kan tadi bisa tanpa harus kesini," jawabnya seraya membalikkan badannya menatap Satya.
"Bisa apa loh?"
"Pelukan," jawab Satya mengelus pipi pacarnya.
"Ohh tapi aku lebih suka pelukan kalau dalam ruangan, bisa lebih dapat aja sensasinya," ujar Satya membawa Clara ke sofa empuk itu.
Satya memangku tubuh Clara dengan lembut sedangkan wanita itu hanya bisa tersenyum dan memeluk leher Satya.
"Aku pengen setiap hari peluk kamu gini, tapi aku gak bisa," ujarnya dengan lirih.
Pekerjaan yang membuatnya sedikit jauh dengan Clara. Untungnya Clara bukan tipe cewek yang apa apa harus pacar hingga membuat Satya bersyukur akan hal itu.
Walau mereka sudah pacaran, mereka tak pernah melakukan hal lebih. Mungkin hanya sekedar pelukan dan ciuman di kening dan pipi saja. Bibir Satya dan Clara masih perawan hingga saat ini.
Karena Satya benar benar menjaga Clara dengan sepenuh hati. Begitupun dengan Clara yang selalu menjaga dirinya dengan sepenuh hati.
Walau banyak yang menyukainya tapi ia tak membalas bahkan dengan terang terangan ia menolak setiap cowok yang menembakkan.
Begitupun dengan Satya yang tiap hari ada saja cewek yang datang ke rumah dan mengutarakan niatnya. Tak ada satupun yang ibu terima karena ibu tahu jika putranya itu sudah mencintai satu orang wanita yaitu Clara.
"Nanti kita bakal tiap hari begini kok kak, aku bakal ada saat kakak bangun tidur sampai kakak tidur lagi," jawabnya mengelus pipi tegas Satya.
"Maaf aku belum bisa menikahimu sayang. Jangan pernah lelah untuk menunggu aku hmmm."
"Iya kak, kakak juga. Lagian aku masih kuliah. Nanti kalau aku udah lulus kakak pasti sudah berhasil," jawab Clara memeluk erat leher Satya.
Satya yang sudah PW dengan posisinya itu menyadarkan kepalanya di dada Clara yang selalu membuatnya nyaman.
Sedangkan Clara hanya tersenyum, tak jarang ia mendapati wajar lelah Satya seperti ini. Tapi Clara hanya bisa mengelus dan menyemangati pacarnya itu agar tetap semangat menjalani hari harinya besok.
"Aku bangga punya kamu yank."
"Aku juga bangga punya pacar pekerja keras kayak kakak."
"Kamu dewasa walau sedikit kekanakan, aku suka dengan sikapmu yang sangat mengemaskan saat marah," ucapnya terjeda.
"Aku mencintaimu Clara Ryano," bisikan seraya mengecup pipi wanitanya. Ia ingin mengecup bibir tapi ia masih ingat akan semuanya.
"Aku juga mencintaimu kak, I Love You So Much."
__ADS_1
Mereka menikmati malam yang tak lama itu di sana, tapi berbeda lagi dengan Reno dan Aulia.
Bersambung