Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Obat yang Beda


__ADS_3

Happy reading


Seperti hari sebelumnya Sania datang ke kediaman Ryano, tepat hari ini pula Papa Bara tak bekerja. Ia ingin menghabiskan waktu pekan ini bersama keluarganya termasuk anak pertamanya.


"Pagi om, tante," sapa Sania.


"Pagi."


"Ini tan, Sania bawain Pizza kesukaan tante dan om," ujarnya meletakkan box Pizza itu diatas meja.


"Wah terima kasih sayang, tapi om gak boleh makan makanan ini lagi. Maklumlah sudah tua, tapi pasti tante makan kok," ucap Mama Audi.


Setelah itu Sania pamit ingin ke kamar Galaksi, tentu saja Mama Audi langsung mengizinkannya.


"Kenapa Mama mengizinkan dia ke kamar Galaksi? Kalau dia melakukan apa apa paan anak kita gimana? Kamu masih ingatkan kejadian 5 tahun lalu dia hampir membuat Clara meninggal kalau aja gak ada anak SMA saat itu mungkin Clara sudah gak ada," ucap Papa Bara pada istrinya.


"Tapi bukannya kita sudah memaafkannya lagi pula itu udah lama pah, 5 tahun dimana Clara masih 13 tahun."


"Terserah Mama aja, walaupun Papa berusaha memaafkannya tetap saja sulit. Putri kesayangan Papa hampir memegang nyawa gara-gara dia," dingin Papa.


Mama Audi yang mendengar itu membenarkan ucapan suaminya, ia ingat saat Galaksi lebih mementingkan Clara saat itu. Sania dengan tega berbuat hal yang tak terpuji seperti itu.


"Tapi aku tak mau Viola berbuat buruk pada Galaksi mengingat aku tak mendapatkan identitas Viola dengan lengkap," batin Mama Audi menatap kepergian suaminya ke kamar.


Mama Audi mengikuti suaminya ke kamar dan berusaha menjelaskan kenapa ia melakukan semua ini.


Sedangkan Sania yang sudah sampai di kamar Galaksi itu langsung mengusir Viola yang masih menyuapi Galaksi sarapan. Untungnya Galaksi tak duduk di sofa hingga Sania tak tahu jika Galaksi sudah bisa berjalan walau masih pelan.


"Sayang, aku suapin ya," ujarnya dengan senyum manis.


"Viola tetap disini!!"


Mau tak mau Sania mengizinkan Viola untuk duduk disana. Dengan terpaksa Galaksi menerima suapan Sania. Sesekali pria itu menoleh kearah Viola yang tampak berbeda entah apa yang terjadi pada gadis itu pikir Galaksi.


"Ya Tuhan kenapa rasanya sangat sakit, aku tahu jika Galaksi hanya sandiwara tapi aku tak kuat jika terus seperti ini," batin Viola sedih melihat pacarnya disuapin bahkan Sania bersikap manis padamu Galaksi seperti itu.


Setelah menghabiskan sarapannya, Sania mengeluarkan obat dari dalam tasnya dan memberikannya ke Galaksi.

__ADS_1


"Ini obat baru yang sangat efektif untuk mempercepat kesembuhanmu, harganya juga sangat mahal. Beda jauh dengan obat lamamu ini," ujarnya membuka obat itu.


Galaksi menatap obat itu dengan bingung kenapa obatnya berbeda, pasti ada sesuatu di dalam obat itu. Dari awal saja Sania sudah bohong apalagi sekarang.


"Obatnya kok beda, obat Galaksi kan putih tulang semua kok itu obatnya putih bersih," batin Viola menatap obat yang hendak di minum Galaksi itu.


"Boleh ku minta tolong, ambil kan air jeruk yang biasa dibawakan Viola ke sini," pinta Galaksi setelah sebelum obat itu.


Sania yang melihat Galaksi sudah meminum obat yang ia Bawakan itu tersenyum menang dan mengangguk.


Setelah Sania keluar dari kamar itu Galaksi langsung memuntahkan obat tadi ke tisu yang ada disamping tempat tidur.


Viola yang melihat itu langsung memberikan air minum untuk Galaksi. Ternyata bukan cuma dia yang berfikir buruk tentang obat yang baru Sania beri tadi, tapi juga Galaksi.


"Rasanya aneh," ucap Galaksi setelah menghabiskan air minum itu.


"Saya rasa ada Yang tidak beres pada obat ini," ujar Viola memegang botol obat itu.


"Hmm, kamu selidiki itu obat apa. Tanpa sepengetahuan orang tuaku atau cewek aneh tadi," perintahnya dan dianggukkan oleh Viola.


Viola mengambil dua butir obat itu dan meletakkannya di tisu bersih lalu menyimpannya.


Viola yang melihat itu pamit keluar dari kamar itu menuju kamarnya. Tapi saat ia masuk sudah ada Clara disana, berbaring dengan santainya tak lupa laptop yang menyala. apalagi kalau bukan nonton drakor kesukaan gadis itu.


"Pagi pagi udah disini aja dek?" tanya Viola ikut duduk di kasur itu.


"Bosen ih, mama papa gak tahu ada dimana. Kenapa kakak balik ke kamar emang kak Gala gak marah kakak keluar dari kamarnya?" tanya Clara pada Viola yang ikut menonton drakor itu.


"Dia udah ditemani Sania," jawabnya dengan kesal. Ia tak suka jika pacarnya dekat dengan wanita lain tapi ia juga tak bisa berbuat lebih.


"Sabar kak, aku yakin kak Gala punya rencana sendiri," ucapnya dengan senyum manisnya menatap Viola yang sedang kesal akut itu.


"Entahlah dek, aku mau tidur!"


Viola membaringkan tubuhnya di ranjang membuat Clara yang ada disana yang menggeleng.


"Semoga kalian selalu bersama," batinnya.

__ADS_1


"Kakak temani Clara nonton ih, malah tidur," cemberut Clara saat melihat Viola sudah memejamkan matanya.


"Enggak dek, kakak gak tidur kok."


"Bangun dan kita nonton bareng!" ajaknya dengan paksa hingga membuat Viola mau tak mau membuka matanya dan menatap malas Clara.


"Kak pinjam hp, Clara mau download musik ni lagi bagus. Ponsel Clara ketinggalan," ujarnya menatap kakak iparnya dengan imut.


Dengan terpaksa Viola memberikan ponselnya pada Clara, tak lupa membuka sandi ponselnya.


Clara mengambil ponsel Viola tapi sepertinya galeri foto itu lebih menggodanya. Clara membuka galeri foto dan di dalam galeri itu banyak sekali foto Galaksi dan Viola disana bahkan mereka terlihat sangat inti*.


"OMG demi apa!! Kalian perah tidur bareng!! Bahkan oh my god, Kak Gala gak pake baju dong," teriak Clara kaget melihat foto itu.


Viola yang mendengar apa yang diucapkan Clara langsung merebut ponselnya dan.


Bluss


Merah sudah wajahnya melihat foto yang bisa dibilang sangat inti* untuk Clara yang baru 18 tahun.


"Gak sopan deh dek, katanya mau download lagu tapi malah buka yang lain," ucap Viola dengan malu.


"Gak apa-apa dong kak, berarti kak Gala itu normal. Masa dari kecil aku gak pernah lihat kak Gala dekat sama siapapun. Kakak adalah satu -satunya wanita yang pernah ia katakan padaku," jawab Clara dengan tenang seolah ia tak melakukan kesalahan apapun.


"Benarkah? Jika ia begitu aku adalah cewek yang beruntung bisa dapatkan laki laki se-sempurna itu," batin Viola tersenyum menutupi malu yang ia terima tadi.


"Kak!!"


"Hmm."


"Ceritain gimana kalian bisa sampai tidur bareng gitu?" tanya Clara dengan wajah keponya.


"Gak tahu dek, dah lah jangan bahas itu lagi kakak malu tahu," balas Viola.


"Kakak," rengek Clara.


Viola menggeleng pertanda tidak, dia kembali membaringkan badannya dan mengingat kembali saat saat difoto itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2