Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Ini Sakit


__ADS_3

Happy reading


Galaksi melepaskan jambakannya dan menghempaskan berberapa helai rambut yang rontok akibat jambakannya tadi.


"Akhh tolong jangan Tuan, aku pelayanmu kenapa kamu seperti ini!!" Viola memohon saat Galaksi mendorongnya kuat ke kasur empuk itu.


Plak


"Diam!!"


Dengan kasarnya Galaksi menampar pipi Viola hingga memerah.


"Saya mohon Tuan jangan apa-apa kan saya!!"


Galaksi tak memperdulikan permohonan dari Viola karena saat ini ia di selimuti oleh kabut gairah. Ia tak bisa berfikir jernih sekarang.


Pria itu naik kekasur dan mengungkung tubuh Viola yang memberontak, tangan Galaksi menahan kedua tangan Viola hingga wanita itu tak bisa melepaskan diri begitu saja.


"Kau yang memberikan obat ini sialan, jadi kau juga yang harus merasakan akibatnya," ucap Galaksi dengan dingin.


"Saya tak memberikan obat apapun!"


Galaksi yang kalap itu mulai melucuti semua pakaian Viola dengan kasar. Ia tak bisa berfikir jernih atas apa yang ia lakukan sekarang yang terpenting adalah nafsunya tersalurkan.


"Ya Tuhan maafkan dosa kami ini, aku tak bisa menahan pria ini untuk berhenti," batin Viola menahan Galaksi agar tak melakukan ini tapi tenaganya kalah.


Galaksi pun membuka celananya yang sedari tadi sudah sesak. Dengan kasar Galaksi membuka paha Viola lebar dan memasukkan bendanya itu ke dalamnya.


"Akhh," pekik Viola saat benda itu masuk kedalam intinya.


Rasanya sakit seperti saat mereka melakukannya dulu. Tapi Viola tak suka cara yang seperti ini, ini bukan Galaksinya. Galaksi sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya lagi tapi apa? Pria itu mengingkarinya.


"Kenapa rasanya tak ada penghalang apapun, apa dia sudah tak perawan?" tanya Galaksi dalam hati. Walau separuh dirinya tak sadar ia masih bisa merasakan apa yang terjadi.


"Berapa pria yang sudah kau tiduri Viola, aku tak menyangka jika kau tak perawan," ucap Galaksi terus memacu dirinya.


Air mata Viola tumpah mendengar pertanyaan dari Galaksi yang sangat menyakiti hatinya. Ini bukan Galaksi kan? Galaksi yang ia kenal sangat lembut walau sedikit ketus. Tapi Galaksi tak pernah merendahkannya seperti ini.


Viola tak mampu menjawab, ia hanya bisa merintih kesakitan saat dirinya dipacu terus oleh Galaksi.


Viola yang tadi menutup matanya perlahan kini membuka matanya dan melihat wajah tampan Galaksi yang ada didepannya.


"Kenapa kau menyakitiku?"


"Ini sakit Galaksi, kenapa kamu menyakitiku!!"

__ADS_1


Sekuat apapun Nabila berusaha membenci Galaksi wanita itu tak akan bisa. Karena Galaksi adalah hidupnya, ia hanya berharap jika Galaksi mengingatnya.


Tangannya terulur memegang rahang tegas itu disela tangisnya ia hanya bisa memegangnya. Galaksi yang melihat itu langsung membanting tangan Viola dengan keras.


"Aku mencintaimu sayang, Viola mencintai Galaksi," ucap Viola dengan senyum manis yang ia miliki sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya atas sakit yang ia rasakan.


Deg


Galaksi mendengar itu, tapi ia tak bisa menghentikannya rasanya sangat sakit melihat air mata yang turun dari pipi Viola.


"Akhh," erangan panjang Galaksi saat sampai dipuncaknya.


Galaksi menghentikan aktivitasnya dan menatap Viola yang masih tak sadarkan diri. Denfan gemetar tangan kekar itu mengelus air mata yang jatuh ke pipi nya itu.


"Apa ini?" tanyanya saat melihat warna cokelat ditangannya. Hingga ia tersadar sesuatu, ia mengusap seluruh wajah Viola dengan tisu yang ada disana.


Deg


"Wajah ini?"


Galaksi membeku saat melihat wajah asli Viola tanpa make up, ternyata pelayannya adalah pacarnya sendiri.


"Viola..." lirihnya dengan sendu.


"Aku mencintaimu, jangan sakiti aku ya."


"Kamu yang pertama mengambilnya dan aku tak mau kamu pergi. Hanya kamu yang ku punya sekarang."


"Aku tak akan melakukannya lagi jika kamu tak menggodaku sayang. Aku akan selalu ada disampingmu dalam keadaan apapun."


"Aku mencintaimu Mas Gala."


"Aku juga mencintai Dedek gemeshhhku."


"Hahaha sudah jangan gelitiki aku lagi."


Galaksi memegang kepalanya yang sakit, ia mengingat jelas itu adalah percakapannya dengan Viola. Jadi ia yang mengambil kesuciannya.


"Kamu pacarku? Tapi kenapa kamu tak bilang?"


"Nanti kalau sudah menikah aku mau kita punya anak banyak agar aku tak kesepian."


"Berapapun yang kamu mau akan aku kabulkan, tapi kita juga tak bisa melawan takdirnya."


"Aku kesepian tahu, aku sendiri dari umurku 16 tahun. Jika aku punya anak banyak dimasa tuaku aku akan sangat disayangi."

__ADS_1


"Ku aamiin kan doamu ini sayang."


Ingatan itu berputar di otaknya kini ia mulai ingat semua yag terjadi mulai dari siapa dia dan siapa Viola.


"Hahaha kau brengsek Galaksi kenapa kamu menyakitinya?" maki Galaksi pada dirinya sendiri.


"Maafkan aku sayang, aku menyakitimu. Aku tak bisa mengendalikannya," ucap Galaksi dengan tangis. Pria itu mengelus pipi merah itu karena dirinya.


"Tangan ini yang sudah menjambak dan menamparmu kan? Sekarang biar aku hukum dan merasakan apa yang kamu rasakan sayang," ucap Galaksi dengan sedih.


Galaksi menjambak rambutnya sendiri hingga berberapa helai rambutnya rontok. Tak sampai situ Galaksi juga menampar kedua pipinya hingga mereka sama. Bedanya Galaksi lebih jahat.


Brak


Galaksi meninju dinding kamar itu hingga tangannya berdarah banyak. Galaksi tak menghiraukannya, dengan segala umpatan bagi dirinya sendiri.


"Lihat sayang sekarang kita sama," bisiknya.


Cups


"Maafkan kekasihmu ini ya, aku tak mau kamu membenci pria jahat ini sayang. Aku mohon maafkan aku," bisiknya seraya mengecup kening Viola.


"Maaf menyakitimu," bisiknya lagi.


Karena lelah dalam tubuhnya Galaksi ikut tertidur disamping Viola yang masih pingsan. Ia memeluk tubuh Viola dengan nyaman tak lupa meletakkan kepalanya di dada sinyal Viola.


_____


Sania yang tadi sedang menerima telepon jika agensi membutuhkannya itu beralasan tak bisa hingga memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikannya.


Saat sudah selesai teleponan, ia kembali melihat Galaksi di kamarnya tapi nihil. Pria itu tak ada.


"Kemana dia? Bukanya tadi dia sudah memakan makanan yang ku siapkan. Jangan sampai Galaksi berbuat itu pada orang lain."


Sania segera mencari keberadaan Galaksi dimana mana hingga tatapan matanya mengarah pada kamar sebelah kamar Galaksi yang tak ia ketahui siapa pemiliknya.


Dengan cepat Sania membuka kamar itu dan betapa terkejutnya ia saat melihat Galaksi tidur dengan seorang wanita yang sangat cantik itu. Dalam pikirannya siapa wanita itu.


Walau sedikit sakit hati Sania tetap memotret mereka dan menyimpan kembali ponselnya.


Bersambung


Sakit gak sih?


Ada yang mau nangis gak?

__ADS_1


Atau ada yang mau menghujat Sania?


Hahahaha jangan lupa like, comen, dan kirim hadiahnya. Hehehe gak maksa kok.


__ADS_2