Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Happy rending


"Kenapa?"


"Karena aku gak mau perasaan aku terlalu jauh sama kakak, kakak hanya menganggap aku sebagai adik. Sedangkan aku, aku menganggap kakak lebih."


"Aku mencintaimu kak," lanjutnya dengan nada terisak.


Satya yang mendengar ucapan Clara itu tak bisa lagi membendung senyum tampannya. Inilah kata yang paling ia tunggu selama kini.


"Kamu yakin dengan ucapan kamu?" tanya Satya dengan nada tak biasa.


"Ya. Aku mencintaimu," jawabnya dengan tegas, bahkan tangisnya juga makin kencang karena ini. Ia tak pernah mengucapkan cinta pada orang lain tapi hari ini ia mengakui cintanya pada Satya.


"Aku bahkan lebih mencintaimu, aku mencintaimu sebagai seorang pria pada wanita bukan sebagai adik," balasnya lebih mengeratkan pelukan itu.


Deg!


"Apa ini hanya mimpi?" tanya Clara dalam hatinya.


Bahkan ia sampai menghentikan tangisnya karena ucapan ini. Ucapan yang selama ini ia tunggu dari Satya.


"Kakak jangan bohong, aku tahu kakak hanya ingin menghiburku agar tak menangis," ujar Clara dengan nada serak karena tangisnya.


Clara melepaskan tangan kekar penuh dengan kerja keras itu dari perutnya.


"Hei kenapa kamu gak percaya sama aku hmm?" tanya Satya mengajak Clara duduk di kursi kayu itu.


"Karena selama ini kakak hanya menganggapku sebagai adik. Kakak juga banyak disukai sama cewek," jawabnya dengan sedih, air matanya juga kembali menetes hingga membuat Satya merasa bersalah pada Clara.


Satya membawa tangan Clara untuk menyentuh dadanya yang terasa sama berdetaknya dengan milik Clara.


"Hiks hiks kakak sakit?" tanya Clara disela isakannya.


"Kakak gak sakit dek, kakak sama dengan kamu. Dada kakak juga berdetak kencang saat bersamamu, kamu tahu semua tentang kakak. Entah itu dari Nana ataupun dari kakak sendiri."


"Kakak mencintaimu Clara Ryano."


Tangis Clara makin kencang saat mendengar ungkapan cinta itu. Sedangkan Satya memeluk Clara dan membenamkan kepala Clara di dada bidangnya.


"Aku juga mencintai kakak," jawabnya lirih. Gadis itu memeluk erat pria yang ada di depannya ini.


Tangan Satya mengelus punggung Clara yang masih bergetar. Hingga beberapa saat akhirnya Clara berhenti menangis kini hanya isakan kecil saja yang terdengar.


"Udah selesai nangisnya hmm?" tanya Satya menghapus air mata Clara dengan lembut. Clara mengangguk pelan, kemudian memeluk lagi tubuh Satya.


"Kenapa lagi dek? Nyaman banget di dada kakak yang bidang ini. Kamu suka hmm?" tanya Satya dengan tawa. Ia tak marah malah suka dengan apa yang dilakukan Clara padanya.


"Sejak kapan kakak suka sama aku?" tanya Clara dengan lirih.

__ADS_1


"Sejak kamu bantuin aku di kantor saat itu, kamu bawa kertas kertas fotocopy an."


Clara yang mendengar itu malah melototkan matanya.


"Selama itu tapi kakak gak pernah bilang sama aku? Kakak anggap aku apa? Kenapa kakak biarin aku sendiri yang berjuang?" tanya Clara dengan kesal.


"Kakak malu dek, kakak belum mampu untuk bersaing dengan kamu. Tunggu kakak sukses dan akan meresmikan hubungan ini hmm," jawabnya dengan mengelus pipi lembut itu.


"Terus hubungan kita sekarang apa?" tanya Clara dengan ragu.


"Pacar mungkin, karena saat ini aku belum bisa memberikan apa yang kamu mau. Aku juga belum bisa memberikan kamu cincin yang bagus untuk pertunangan atau pernikahan kita. Kakak mohon tunggu kakak ya," jawabnya dengan lembut.


"Heem."


Clara mengangguk dan tersenyum, baginya tak apa pacaran dulu. Daripada kemarin kemarin statusnya digantung oleh Satya kan mending sekarang udah resmi jadi pacar.


"Kakak gak tanya aku cinta kakak sejak kapan?" tanya Clara menatap wajah tampan Satya.


"Emm enggak," jawabnya dengan jahil mencubit hidung merah Clara.


"Kok gitu, kakak gak asih ah," cemberut Clara.


Dalam pikiran Clara, Satya akan bertanya kapan ia cinta pada pria itu tapi nyatanya realita tak semanis buah melon.


"Aku sudah tahu kapan kamu mencintai kakak dek, Nana yang ceritakan semuanya pada kakak. Kamu kalau curhat jangan sama Nana deh, dia orangnya ember tapi bisa diandalkan," ujar Satya memeluk pinggang Clara.


"Sunset nya indah Clara suka," ujar Clara mengalihkan topik pembicaraan agar ia tak semakin malu di hadapan Satya.


"Iya indah, apalagi kalau lihatnya sama orang yang kita sayang. Jauh lebih indah, cantik lagi," jawabnya menatap Clara yang tersenyum. Tak ada lagi raut raut kesal seperti tadi yang ada hanya kebahagiaan.


Clara menatap Satya hingga pandangan mereka saling bertemu, Clara yang malu itu langsung memalingkan wajahnya.


"Jangan lihatin gitu kak, aku malu," cicitnya dengan nada yang sangat mengemaskan.


"Kenapa? Lagian gak salah aku lihat kamu, karena kamu lebih indah daripada sunset disana," jawabnya menujukan matahari yang hampir hilang.


"Terserah kakak aja," jawabnya.


"Dek," panggil Satya menatap Clara.


"Hmmm."


"Boleh minta ciuman pertama kamu?" tanya Satya sedikit tak enak karena menurutnya ini sangat lancang, tapi mau gimana lagi ia sangat tergoda dengan bibir pink itu.


"Aku udah bukan ciuman pertama kak," jawabnya dengan polos.


Deg!


Seketika pikiran Satya mulai blank, siapa yang sudah berani mencium Clara selama ini. Kenapa rasanya sesak sekali saat membayangkan jika bibir sang pacar sudah pernah ada yang menja*ah.

__ADS_1


"S-siapa?" tanya Satya dengan gugup.


Seingatnya Clara tak pernah berpacaran tapi kenapa ciuman pertama itu sudah tak ia dapatkan.


"Banyak kak," jawab Cara yang membuat hati Satya makin sesak.


"SIAPA AJA CLARA JAWAB!!"


Clara yang mendengar nada tinggi dari Satya itu hanya bisa menelan ludahnya kasar.


"Serem euy," batin Clara menatap Satya yang tampak beda.


"Kan bukan cuma kakak yang hadir alam hidup aku. Pipi aku ini udah gak perawan dari bayi. Banyak yang cium tahu gak, ada Oma, Papa, kakak, bahkan tukang kebun karena keimutan aku waktu kecil. Dan yang terakhir adalah kakak saat itu," jawab Clara yang membuat darah mendidih di dalam tubuh Satya bagai tersiram air es.


"Huhh untung pipi," gumamnya yang masih dapat didengar oleh Clara.


"Emang kakak pikir apa?" tanya Clara.


Satya tak menjawab tapi tangannya terukur untuk mengelus bibir lembut Clara.


"Ini."


"Ih kakak belum boleh ya, aku anak baik baik loh. Lagian kakak belum jadi suami aku," ujarnya dengan senyum manisnya.


Bukan ia tak tahu apanya diinginkan Satya, ia masih malu saat mengingat drama korea yang pernah ia tonton apalagi tentang kiss kiss an. Ia jadi malu jika itu terjadi padanya, walau ia sangat ingin merasakan yang namanya ciuman.


"Ayolah sayang sekali aja, aku ingin banget rasain bibir manis kamu ini," pintanya dengan melas.


"Enggak kak, nanti aku marah loh."


Karena tak mau memaksa sang pacar, akhirnya Satya mengecup pipi kiri Clara yang membuat wanita itu membeku.


"Kebiasaan gak bilang bilang kalau mau cium pipi," ujarnya dengan cemberut bukan ia tak suka tapi ahh entahlah.


"Maaf sayang," ujarnya dengan senyum manisnya.


Clara yang mendengar kata sayang dari Satya itu membuat wajahnya merana karena malu. Rasanya nano nano gimana gitu.


"Cieee malu malu kucing lagi," ujarnya mencubit pipi Clara.


"Kakak."


"SAYANG!!"


Akhirnya mereka tertawa dengan riangnya, tak terasa hari sudah malam hingga membuat mereka harus pulang.


Bersambung


Ciyee yang udah resmi jadian, jangan lupa sajen mana sajen. Senin loh ini.

__ADS_1


__ADS_2