Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Calon Istri


__ADS_3

Happy reading


Sampainya di rumah, mereka langsung turun dari mobil. Aulia yang pertama kali ke rumah Reno itu rasanya deg deg deg, ia gugup, takut, dan rasa tak percaya diri itu muncul dalam diri Aulia.


"Ren," panggil Aulia berhenti saat Reno ingin membuka pintu rumah itu.


"Kenapa Lia?" tanya Reno menatap Aulia.


"Takut, gimana kalau orang tua kamu gak setuju? Aku cuma gadis sederhana," tanyanya dengan lirih.


Reno yang mendengar itu memegang kedua pundak Aulia.


"Orang tuaku baik kok Lia, mereka tak memandang kasta. Kenapa kamu jadi pesimis gini sih hmm? Bukannya dari dulu kamu yang paling pingin ketemu orang tuaku?"


"Aku hanya takut jika mereka tak merestui kita, kayak di film film itu orang tuanya tak merestui pacarnya karena orang miskin tak pantas untuk anaknya," ujarnya yang membuat Reno hanya bisa menggeleng akan pemikiran Aulia.


"Ini dunia nyata sayangku, bukan dunia maya. Kamu nih jadi korban sinetron ya, mulai sekarang jangan pernah nonton sinetron yang kayak gitu. Bikin pikiran kamu tercemar aja," ujarnya menyentil kening Aulia sedikit keras.


"Sakit tahu, kamu mah belum nikah udah KDRT duluan," cemberut Aulia mengelus keningnya yang mulus kek jalan tol.


"Ini bukan KDRT ya yank, cuma nyentil aja. Kalau aku pukul kamu itu baru KDRT," ujarnya dengan lembut mengelus kening Aulia.


"Yuk masuk, Ayah sama Ibu sudah nunggu di dalam," ajaknya menggandeng tangan Aulia untuk masuk.


Setelah mereka masuk, disana sudah ada Ayah Sandi dan Ibu Lana menunggu mereka. Reno mengajak Aulia untuk duduk di sofa itu.


"Ibu, Ayah... Perkenalkan ini namanya Aulia, dia adalah perempuan yang ingin Reno kenalkan pada kalian," ucap Reno pada orang tuanya.


"Saya Aulia. Om, tante..."


Aulia menyalami kedua orang tua itu, hingga sampai ke Ibu Lana. Orang yang dulu pernah ia rawat, Ibu Lana yang depresi karena kehilangan putrinya.


"Nak Aulia ya, kita pernah ketemu di rumah sakit dulu itu kan?" tanya Ayah Sandi pada Aulia.


"Iya Om, saya yang saat itu di rumah sakit," jawabnya dengan senyum.


"Cantik sekali kamu, Nak. Kamu benar pacarnya Reno anak Ibu?" tanya Ibu Lana, Aulia tak menjawab tapi ia menatap Reno yang mengangguk.

__ADS_1


"Iya Bu," jawabnya dengan senyum.


Ibu Lana mengangguk dan keluarlah Viola dari dapur membawa air minum dan cemilan yang tadi di buat bibi. Ya, karena tadi Viola pamit ingin ke dapur saat Reno dan Aulia sampai di depan sana.


"Kak Aulia udah lama?" tanya Viola basa basi seraya meletakkan minuman itu di meja.


"Belum Nona," jawabnya ramah.


Walau bagaimanapun Viola adalah pemilik GV Hospital, dan calon Nyonya Ryano. Aulia sebagai seorang perawat disana cukup sadar akan tingkatan itu.


"Jangan panggil Nona dong kak, panggil aja Vio," ujarnya dengan senyum khasnya.


"Tapi Nona, Anda adalah pemilik rumah sakit tempat saya bekerja," ujar Aulia tak enak jika hanya memanggil Viola dengan nama.


"Tak apa kak, aku buka siapa siapa. Anggap apa aku adiknya Kak Reno," jawabnya dengan senyum.


Reno hanya mengangguk, tapi berbeda dengan Ibu Lana yang bingung dengan perbincangan mereka.


"Tunggu, apa maksudnya Viola? Kenapa kalian sebagai sekali memanggil Tiara dengan Viola. Nama Tiara itu sudah sangat bagus, kami yang memilihnya. Jangan seenaknya mengganti nama Tiara dengan Viola, Ibu tak suka!!"


Mendengar itu Aulia hanya menunduk sedangkan Ayah Sandi mengelus punggung istrinya.


"Bu, nama Tiara juga Viola. Sebelum Ibu nemuin Tiara, nama aku adalah Viola. Jadi gak salah kalau mereka panggil aku Viola. Toh, artinya juga sama sama bagusan Bu, Yah. Intinya Tiara bisa jadi Viola, dan Viola adalah Tiara. Anak Ibu," ucapnya dengan senyum manisnya. Viola memeluk tubuh Ibu Lana yang sedang sedih itu.


"Jadi kamu bukan anak ibu?" tanya Ibu Lana mengembangkan air matanya.


"Anak Ibu, Tiara atau Viola adalah anak Ibu dan Ayah," ujar Viola mengusap air mata Ibu Lana dengan lembut.


"Jangan sedih ya Bu, Viola selalu jadi anak ibu kok," lanjutnya dengan senyum manisnya.


Akhirnya Ibu Lana mengangguk, karena baginya wanita yang ada di depannya ini adalah Tiara nya. Putrinya yang hilang 16 tahun yang lalu kini sudah ada di depannya, bersamanya.


"Maafin Aulia ya Bu," ucap Aulia memegang tangan Ibu Lana dengan lembut.


"Gak apa-apa Nak Aulia, Ibu juga minta maaf ya. Ibu cuma sedikit heran aja tadi karena kalian selalu nyebut Tiara dengan nama Viola," jawabnya.


Akhirnya di sore itu mereka saling mengenal satu sama lain sebagai seorang calon istri dan seorang calon mertua. Sedangkan Viola yang tak tahu apa-apa itu hanya diam menatapnya, ia juga tak mau ikut campur dalam urusan mereka yang akan menjadi seorang keluarga. Ia sadar karena ia bukan keluarga mereka. Ia disini hanya menemani Ibu Lana agar tak kambuh lagi sakitnya.

__ADS_1


Viola menatap mereka dengan membayangkan jika nanti jika Galaksi membawanya pada orang tuanya. Apalagi mengingat dulu, orang tua Galaksi sangat membencinya terutama Mama Audi yang sangat tak membencinya setelah insiden pagi itu.


Tapi ia sedikit bisa bernafas lega karena ucapan Mama Audi lihat video call dulu. Tapi Papa Bara selaku ayah Galaksi apa bisa merestui nya nanti.


Seketika ia tersadar dari lamunannya saat melihat Bibi berlalu menuju dapur dengan membawa kantong kresek dari luar itu.Pamit pada mereka dan mengikuti Bibi yang sudah ada di dapur.


"Mbak Viola kenapa disini?" tanya Bibi pada Viola yang sudah berdiri di sampingnya.


"Mau bantu Bibi masak lah!" jawabnya enteng.


"Gak usah Mbak, Bibi bisa sendiri kok. Kan tadi Mbak Vio ada di ruang tamu sama Ibu, Bapak," ujarnya dengan memisahkan kangkung yang sudah tua.


"Mau masak apa bi?" tanya Viola pada Bibi.


"Yang sederhana ada Mbak," jawabnya.


Akhirnya merekapun memasak bersama, sesekali cendawan mereka lontarkan agar atur itu tak lagi sepi. Viola yang dasarnya suka masak itu dengan gampang mengolah sayur dan lauk yang ada disana. Bahkan Bibi yang melihat kelihaian Viola dalam memakai pisau itu membuatnya kagum. Andai Bibi punya anak laki-laki mungkin sudah ia nikahan sedari dulu. Tapi sayang anaknya perempuan yang sekarang sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri.


"Akhirnya plating," riang Viola saat masakan mereka sudah sampai tahan akhir.


"Seneng banget Mbak," goda Bibi paan Viola.


"Iya lah Bi, biasanya kalau plating itu kita bisa berkreasi di piring agar lebih indah di lihat."


Bibi hanya menggeleng melihat apa yang di lakukan Viola itu, ia berfikir semua akan sama aja saat di sendok tanpa tahu nilai dari masakannya.


Setelah selesai meletakkannya di meja makan, Viola mengajak mereka untuk makan. Mereka semua mengangguk dan menuju ruang makan.


Aulia yang melihat banyak makanan di meja makan itu sedikit minder, ia yang kesini tak membawa apa-apa dan sekarang ia tak membantu masak.


"Yuk makan, jangan gak enak gitu. Viola emang gitu orangnya," ucap Reno dan dianggukkan oleh mereka.


Saat mereka mulai menyendokkan nasi ke piring itu menghentikan aktivitasnya saat suara yang sangat famili itu berteriak.


"Sayang..."


Bersambung

__ADS_1


Fiks Galaksi tuh, bikin malu aja yak!


__ADS_2