Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Membeli Cincin


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa usia baby twins sudah menginjak tiga bulan. Bayi yang dulu masih merah itu kini sudah semakin terlihat ketampanan mereka walau dulu pun sudah terlihat. Akan tetapi keimutan dan kelucuan mereka membuat Viola seakan tak ingin jauh dari anak-anaknya.


Sejak sebulan lalu, Galaksi juga sudah kembali bekerja seperti biasa karena bujukan dari Viola. Walaupun Galaksi tetap kerja di rumah, tapi tanggung jawabnya lebih besar di kantor.


Hubungan Clara dan Satya juga makin membaik, walau kadang kala mereka bentantem karena hal yang tak jelas tapi keduanya bisa mengatasi semua itu.


Usaha yang di rintis oleh Satya juga sudah berkembang pesat, dalam 3 bulan saja Satya sudah bisa mendirikan kafe lagi yang lebih besar dari sebelumnya.


Hal itu tak luput dari dukungan Cara dan keluarganya. Bahkan Nana yang dulu bekerja di kafe orang kini sudah bekerja di kafe kakaknya sendiri.


Keluarga Clara juga senang akan kemajuan ini, mereka bisa melihat jika Satya sangat sesuai untuk Clara.


"Tumben kamu izin? Mau kemana emangnya kita?" tanya Clara menatap Satya bingung.


"Ke toko perhiasan sayang," jawab Satya melajukan mobilnya menuju toko perhiasan terbesar di kota itu.


"Buat siapa? Ibu atau Nana? Tapi setahu aku Nana gak suka perhiasan deh Ay," ucap Clara dengan bingung.


"Buat kita sayangku, aku ingin melamar kamu langsung ke orang tuamu dalam waktu dekat ini," ujar Satya dengan lembut.


"Tapi aku masih muda banget buat menikah," jawab Clara kaget.


Satya yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengacak rambut Clara.


Sebulan yang lalu, Satya sudah melamar Clara secara pribadi. Pria itu memberikan kalung yang sangat pas di leher Clara, saat itu Clara baru saja merayakan hari ulang tahunnya bersama Satya. Dan bagi Clara hari itu adalah kado terindah bagi Clara.


"Aku masih lamar kamu sayang, bukan langsung menikah. Aku akan menunggu kamu sampai lulus kuliah. Setidaknya dengan aku mengikatmu dalam sebuah pertunangan, aku sedikit tenang karena tak ada yang bisa mendekati kamu."


"Aku gak mau hubungan kita cuma ditahap itu itu saja, aku ingin membuktikan jika aku bukan laki-laki pengecut," tambahnya dengan tegas. Sepertinya ajaran Reno saat rapat dapat di terapkan Satya.


Jujur Clara saat ini ingin terbang ke langit saat mendengar ucapan Satya yang sangat serius. Ia tak menyangka jika kakak dari sahabatnya ini akan sangat seserius ini dalam menjalin hubungan. Clara jadi terharu.


"Makasih Ay, sudah mau berjuang. Aku berharap hubungan kita akan tetap seperti ini sampai kapanpun. Walau kita kadang berantem karena hal yang tak jelas."


Satya yang mendengar itu mengangguk dengan senyum manisnya. Satyaemang selalu berdoa agar Clara benar benar jodohnya hingga mereka tua nanti.


Sampailah mereka di sebuah toko perhiasan yang belum pernah Clara datangi sebelumnya.


"Yakin kak mau beli disini? Pasti mahal mahal di toko ini," ujarnya dengan tak percaya.

__ADS_1


"Kenapa? Aku masih mampu kok buat beli cincin disini. Aku sudah kerja dan uang aku lumayan buat beli apa yang kamu mau walaupun tak semewah yang orang tua kamu kasih," ujarnya dengan lembut.


Satya mulai melepas sabuk pengaman Clara dan membukakan pintu untuk pacarnya walaupun Clara bisa melakukannya sendiri.


Sebelum turun, Clara lihat seperti mobil kakaknya yang ada di parkiran itu. Apa kakaknya ingin membeli perhiasan juga?


"Oh buat kak Viola nih pasti," ujarnya seraya turun dari mobil.


"Mobil kak Galau kan, Ay?" tanya Clara menujuk mobil kesayangan kakaknya.


"Iya yank, mungkin dia juga mau beli perhiasan buat istrinya," jawab Satya tak mau berpikir negatif terhadap calon kakak iparnya.


Clara mengangguk dan merekapun masuk, disambut oleh salah satu karyawan disana dengan ramah.


"Selamat datang di toko kami," sapa salah satu karyawan disana.


Clara dan Satya hanya mengangguk dan tersenyum. Mereka memang sangat murah senyum, tapi kadang Clara dan Satya juga sering cemburu karena senyuman itu.


Mereka berdua menelusuri toko itu mulai dari gelang, sampai ke daerah yang penuh dengan cincin yang berharga fantastis itu.


Clara yang melihat deretan cincin itu hanya menggeleng, ia memang tak terlalu suka dengan perhiasan walau ia memakai kalung tapi hanya itu saja tak ada perhiasan lain di tubuhnya.


"Kamu pilih yang mana?" tanya Satya menatap Clara yang masih diam di sampingnya.


"Loh kok balik tanya sih hmmm? Kan ini cincin buat lamaran kita sayang, aku maunya kamu yang milih."


Satya tak mau membelikan cincin KW untuk pacarnya ini. Selagi ia masih mampu ia akan memberikannya. Selama mereka berpacaran Clara tak pernah meminta yang aneh aneh padanya. Mungkin hanya makanan saja yang harganya tak sampai 50 ribu itupun saja jarang.


Clara yang mendengar itu langsung melihat cincin yang ada di etalase panjang itu. Ia mulai mengamati dan melihat cincin yang menurutnya paling bagus.


Hingga tatapannya berhenti pada cincin permata satu kecil berwarna biru dan sangat elegan di matanya. Tapi Clara tahu harga cincin itu tidaklah murah, lihat saja dari ukiran di cincin itu saja sudah tampak mahal.


Dengan cepat Clara langsung mengalihkan pandangannya tapi telat Satya sudah terlebih dulu melihat arah pandangan Clara yang sangat kagum dengan benda kecil dan sangat elegan itu.


"Mbak bisa lihat cincin bermata biru ini."


Mbak mbak itu mengangguk dan mengambilkan cincin yang dimaksud. Clara yang melihat itu melongo, apa pacarnya ingin membeli cincin itu.


"Ay."


"Kamu suka dengan cincin ini?" tanya Satya pada pacarnya.

__ADS_1


"Suka, tapi yang lain aja ya. Ini mahal banget loh, aku gak mau."


Satya yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya. Pacarnya ini selalu saja memikirkan tentang uang yang ia punya.


"In syaa Allah, uangnya ada."


Clara menggeleng, walaupun ia suka tapi cincin ini terlalu mahal untuknya. Begitupun dengan Satya tapi pria itu ingin menyenangkan sang kekasih.


Satya menarik tangan pacarnya dan memakaikan cincin itu di jari Clara yang sangat pas tidak terlalu longgar juga tak terlalu sempit. Entah kenapa juga bisa pas seperti ini.


"Apa ada pasangan dari cinci ini, Mbak? Soalnya cincin ini buat tunangan kami," tanya Satya pada Mbak itu.


"Ada Mas, mohon ditunggu sebentar."


"Ini terlalu mahal loh, Ay. Udahlah yang lain aja, aku gak apa-apa."


Clara masih bersikeras untuk menolak tapi Satya tetap teguh pada pendiriannya yang ingin membeli cincin ini.


Tak lama Mbak tadi membawa pasangan cincin permata itu dan mereka akhirnya setuju lalu membayar kedua cincin tersebut.


"Totalnya ada 350 juta, sudah termasuk dengan sertifikat dari berlian ini ya Mas, Mbak."


Clara yang mendengar itu tampak terkejut, kemudian ia menatap pacarnya yang tampak tenang dan memberikan kartu miliknya.


"Ay."


"Gak apa-apa, uangnya juga ada kok yank. Kamu gak perlu cemas gitu," ujar Satya mengelus pucuk kepala Clara.


"Tapi itu."


Satya menggeleng dan meletakkan telunjuknya di bibir Clara.


Setelah itu, mereka langsung keluar dari toko itu dengan raut wajah Clara yang berbeda. Walau bagi keluarganya uang segitu bukan apa tapi beda kan kalau dengan Satya.


Mereka tak tahu jika interaksi mereka di perhatikan oleh Galaksi yang ingin mengambil pesanan kalung miliknya yang sudah jauh jauh hari ia pesan untuk istrinya.


"Semoga kalian selalu bahagia," batin Galaksi dengan senyum.


Ia juga bahagia melihat adiknya jatuh ke tangan orang yang tepat. Bagi keluarganya kasta bukanlah segalanya.


Bersambung

__ADS_1


Ku kasih lihat cincin yang tadi di lihat Clara.



__ADS_2