Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Pelukan Satya


__ADS_3

Mumpung Tya lagi seneng Tya up 3 bab nih, jangan lupa juga like dan komennya.


Happy reading


"Kamu cemburu?"


"Aku cemburu?" tanya Clara dalam hati.


"E-enggak siapa bilang aku cemburu?" tanya Clara dengan malu. Apa iya dia cemburu.


"Bilang aja dek, kakak gak masalah kalau kamu cemburu. Malah kakak seneng kamu cemburu sama Hanin," ujarnya memancing Clara agar mengatakan jika dia memang cemburu.


"Clara gak cemburu kak, kakak jangan GR deh."


"Kakak gak GR dek, dari kalimat kamu aja udah memperlihatkan jika kamu itu cemburu dengan Hanin. Nada ketus kamu, tuduhan kamu tadi."


"Kamu suka sama kakak?" tanya Satya dengan nada menggoda sungguh ia suka melihat wajah Clara yang sangat cantik jika sedang merona.


Clara yang mendapat pertanyaan itu hanya diam dan melanjutkan acara makannya.


Sedangkan Satya hanya tersenyum dan melihat Clara yang sangat lahap memakan bakso itu.


Setelah selesai makan, Clara meminum jus stroberi yang sudah diminum Nana tadi hingga tandas.


Dengan menahan pedas Clara berdiri dan berlalu untuk membayar bakso dan dua jus yang tadi ia pesan. Begitupun dengan Satya.


"Na aku pulang dulu ya, gak betah disini. GERAH!"


Pamit Clara menatap Satya yang ada di sampingnya. Sedangkan yang di tatap hanya cuek bebek dengan tampang sok coolnya.


"Iya Ra, suruh kak Satya anterin aja. Kamu tadi juga gak bawa motor kan?"


"Gak usah aku bisa pakai taksi online," jawab Clara.


Setelah itu Clara keluar dari kafe, hingga membuat Nana menatap kakak satu satunya itu dengan tajam.


"Kenapa masih disini sih, kejar nih cewek pujaan hati kakak," perintah Nana sedikit kesal karena Kakaknya tak juga mengejar Clara yang sekarang sudah menunggu taksi yang lewat.


"Oke kakak kejar calon kakak ipar kamu," jawabnya berlalu meninggalkan Nana dan temannya yang ada disana.


"Kakak lu ganteng banget deh Na, kenapa sih lu gak dari dulu ngenalin ke gue? Lihat tuh, kan gue jadi gak punya kesempatan buat jadi penikung," tanya Zakia dengan muka tertekuk.

__ADS_1


Melihat Clara dan Satya yang seperti pasangan yang sedang bertengkar tapi terlihat sweet dimata gadis berusia 20 tahun itu.


"Ingat Kang Anto yang nungguin kamu," ujar Nana menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat barunya itu.


"Ahh males aku bahas dia yang gak ada kepastian, dia kayak gak serius sama aku," jawabnya dengan lesu.


"Kok jadi curhat," batin Nana menatap Zakia.


Setelah berbincang unfaedah itu, mereka kembali bekerja. Mereka sama sama anak yang tak memiliki ayah dan bekerja di kafe ini untuk tetap bisa melanjutkan kuliah. Nana sudah memiliki ATM sendiri tapi isinya tak seberapa.


Sedangkan diluar Clara dengan kesal menghempaskan tangan Satya yang menggenggam pergelangan tangannya.


"Kenapa sih dek, kamu kayak kesel gitu sama kakak. Kapan salah apa? Kenapa kamu kayak menghindar gitu?" tanya Satya yang tak suka dengan cara Clara seperti ini.


"Apa karena kakak sama Hanin tadi? Kamu cemburu karena itu?" tanya Satya lagi.


"Enggak Clara gak cemburu, lagi badmood aja," ujarnya dengan ketus.


Satya yang mendengar nada ketus dari Clara itu mulai menarik lembut tangan Clara dan membuka pintu mobil.


"Aku anterin dek, jangan marah marah gini gak enak sama orang," ujarnya menutup pintu mobilnya.


Mobil ini adalah mobil perusahaan yang sengaja di gunakan Satya karena ia sudah menjabat sebagai sekretaris Galaksi. Lain lagi dengan Reno yang menjadi asisten plus sekretaris pembantu agar pekerjaannya tak banyak.


"Aku mau pulang!"


"Iya iya kita pulang, tapi kamu senyum dulu. Kakak akan tetap disini kalah kamu gak senyum."


"AYO PULANG!!" bentaknya. Satya yang mendengar bentakan dari Clara itu hanya menggeleng, ia juga tak tahu kenapa wanita ini jadi pemarah.


Satya menjalankan mobil itu menuju suatu tempat yang akan mendinginkan hati dan pikiran Clara. Apa lagi ini sudah sore, pasti suasananya akan sangat indah.


"Kak ini bukan jalan ke rumah aku loh," ujar Clara menatap jalan yang tak asing baginya.


"Iya dek, kakak tahu ini bukan jalan ke rumah kamu yang besar itu," ujarnya dengan lembut. Ia baru tahu dari Nana jika Clara sedang datang bulan jadi emosinya naik turun.


"Tenang aja kakak gak akan apa apain kamu," ujarnya dengan senyum lembut.


Sampailah mereka di gedung besar yang tak lain adalah gedung besar milik Ryano Group.


"Kenapa kesini? Kakak gak nyuruh aku buat bantuin kakak kerja kan?" tanya Clara menatap Satya dengan tajam.

__ADS_1


"Aku libur dek, jadi hari ini aku free gak kerja," jawabnya melepas sabuk pengaman miliknya.


"Terus kita ngapain kesini? Udah sore loh kak," ujarnya dengan nada lesu. Ia ingin tidur di kamarnya saat ini.


"Udah ikut aja," ajaknya sudah keluar dari mobil dan ingin membukakan pintu mobil untuk Clara.


Mereka berjalan menuju rooftop, tak lupa Satya menyapa pak satpam yang memang sangat kenal. Pak satpam juga memberi salam pada Clara selaku anak dari bos besar mereka.


Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya menuju rooftop. Clara sendiri sangat jarang ke rooftop jika ke perusahaan ini.


"Memang ada apa sih di rooftop?" tanya Clara pada Satya.


"Sesuatu," jawabnya dengan senyum.


Akhirnya mereka sampai di rooftop yang sering Satya gunakan saat jam istirahat.


Clara yang melihat matahari terbenam dari atas rooftop itu mulai berjalan mendekat kearah kursi agar bisa lebih melihat pemandangan sore yang indah ini.


"Kenapa aku gak tahu jika disini ada tempat yang sangat indah?" gumam Clara memejamkan matanya menikmati semilir angin yang belum terlalu dingin baginya karena dia memakai hoodie.


Grep


Satya memeluk tubuh Clara dari belakang hingga membuat gadis itu membeku mendapat pelukan hangat dari Satya itu.


"Jangan marah marah gak jelas lagi ya, aku kan udah jelasin kalau Hanin sama aku gak ada hubungan apapun," bisikan tepat di telinga Clara hingga membuat Clara merinding saat merasakan hembusan nafas Satya.


Deg deg deg


"Jantung kamu normal kan dek?" tanya Satya saat merasa detak jantung Clara sama dengannya. Sangat cepat.


"Hmmm."


"Sekarang kamu udah goodmood kan? Gak marah marah lagi?" tanya Satya mengelus pipi putih Clara yang sudah memerah karena ulahnya.


"Kakak jangan gini, aku gak mau menyalah artikan apa yang kakak lakukan selama ini," ujarnya dengan lirih tapi hal itu mampu di dengar oleh Satya.


"Kenapa?"


"Karena...


Bersambung

__ADS_1


Maaf gaes Tya gak bisa nulis yang sedih sedih, karena Tya gak mau kalian nangis bombay. Tya bikin semuanya happy ending walau perlu sedikit drama tapi tetep sweet romance kok.


__ADS_2