
Happy reading
Tak terasa matahari sudah mulai meninggi, Mama Audi, Clara, dan Viola pun sudah siap untuk pergi ke mall. Berbeda dengan Clara dan Mama Audio yang memakai dress cantik, Violet hanya memakai hoddie dengan celana jeans saja karena cuaca juga tampak mendung.
Mereka tak mempermasalahkan itu yang penting kan sopan dan tak memperlihatkan lekuk tubuh Viola yang aduhai.
Viola juga tak membawa tas seperti Mama Audi, ia dan Clara lebih memilih membawa tas kecil hanya untuk tempat ponsel dan dompet saja.
"Ingat ya sayang, nanti jangan capek capek. Kamu lagi hamil," ucap Mama Audi dan dianggukkan oleh Viola.
"Iya Mah, Viola gak akan capek," jawabnya dengan senyum.
"Kakak ke mall mau beli apa?" tanya Clara pada kakaknya. Karena setahunya Viola tak suka belanja, Galaksi yang bilang itu.
"Dress dek, dress kakak banyak yag gak muat. Entah kenapa, Kakak kamu juga uring uringan aja kalau kakak pake dress yang terlalu ketat," jawab Viola dengan jujur.
Mama Audi yang mendengar itu hanya tersenyum, anaknya itu memang tak menyukai orang yang berpakaian terbuka apalagi sampai memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Apalagi sekarang Viola adalah istrinya, hal itu akan membuat Galaksi semakin posesif dengan istrinya ini.
"Kenapa gak di butik aja yang lebih bagus kualitasnya," tanya Mama Audi menatap menantunya.
"Vio gak mau sampai Mas Galaksi beli butik itu Mah. Dulu pernah beberapa kali Vio minta hoddie malah dibelikan se tokonya."
Mendengar jawaban Viola membuat mereka tertawa. Galaksi memang tak pernah membelikan atau membeli pakaian sejak dulu. Jika butuh, pria itu akan meminta bodyguard atau pelayan memberikannya.
"Kamu salah kalau suruh dia belanja sayang, " ucap Mama Audi disela tawanya.
"Iya kak, asal kakak tahu aja kalau kak Galaksi gak pernah beli pakaian. Semua yang ia pakai itu karena nyuruh orang buat beli."
__ADS_1
"Lah jadi aku salah suruh kan ya?" tanyanya polos.
"Salah lah! Hahahaha.."
Viola tak tahu ternyata suaminya itu tak pernah membeli baju alias menyuruh orang. Tapi kenapa? Selama dengannya ia sering membelikan dirinya sesuatu entah itu parfum ataupun jam tangan tapi semua itu jarang dipakai. Dan lagi adalah apartemennya, apa jangan jangan itu juga dia nyuruh orang.
"Astaga kenapa dia gak pernah bilang soal ini ya?" tanya Viola dalam hati.
Akhirnya mobil mereka sampai di mall yang merupakan salah satu aset Keluarga Bara. Tapi tetap saja mereka harus membayar jika membeli disana. Kalau tidak mungkin bangkrutlah mall itu.
Mereka bertiga masuk, sedangkan pak sopir itu disuruh untuk pulang saja karena nanti mereka akan di jemput oleh pasangan masing masing.
"Sayang Mama ada urusan di lantai atas, kalian belanja aja dulu. Buat kamu Clara sayang, jangan belanja melebihi 30 juta atau Mama bakal sita ATM kamu selama sebulan."
Clara yang mendengar itu langsung melemas, ia pikir akan belanja banyak dengan uang Mamanya rapi nyatanya ia harus menelan pil pahit karena ucapan sang Mama tadi.
"Gak ada tawar menawar ya Sayang, 30 juta itu banyak loh. Selamat belanja sayang sayangnya Mama," ucap Mama meninggalkan anak dan menantunya disana tak lupa kecupan di kening keduanya.
Tinggallah Clara dan Viola yang hanya terbengong melihat Mama Audi yang sudah berlalu meninggalkan mereka. Clara hanya bisa menghela nafasnya pelan, Mamanya selalu saja meninggalkan dirinya saat belanja bersama.
Bukan apa-apa tapi Mama Audi memang sudah biasa menuju spa langganannya di mall itu, salah satu alasannya karena ingin mengencangkan area area itulah agar Papa Bara makin klepek klepek dengannya.
"Yuk kak, kita ke toko dress. Tapi maaf ya aku gak bisa beliin kakak," ucapnya dengan senyum malu.
"Gak apa-apa dek, Kakak bawa kartu kakak kamu kok. Kalau kamu mau belanja boleh kok. Nanti kakak bayarin," ucapnya dengan senyum manisnya.
"Serius kak? Aku ada banyak barang loh mau beli," ucapnya dengan girang.
"Ya jangan banyak banyak dong adikku sayang, kamu sebagai seorang wanita harus bisa hemat. Bukan kakak mengajari kamu untuk pelit ya tapi kamu seorang wanita yang akan menjadi pemegang uang saat berumah tangga, apa kamu mau gak makan jika uang kamu habis untuk beli barang barang yang tak terlalu berguna?" tanya Viola berjalan menuju toko pakaian disana.
__ADS_1
Clara yang mendengar ucapan kakak iparnya itu seketika terdiam. Ia sadar jika selama ini terlalu banyak menghamburkan uang hanya untuk membeli sesuatu yang tak penting.
"Dek kenapa diam gitu? Ayo masuk," ajak Viola menyadarkan adiknya.
Clara tersenyum dan menggandeng kakaknya menuju toko pakaian itu. Clara yang biasanya belanja sendiri merasa senang karena bisa belanja dengan kakak iparnya.
Mereka mulai mencari dress yang cocok untuk mereka, mulai dari yang tak berlengan samapi yang berlengan panjang. Dari yang panjangnya atas lutut sampai yang panjangnya sampai mata kaki.
Setelah berbelanja dan menghabiskan uang yang ada di ATM berwarna hitam sang suami walau tak akan habis walau Viola membeli mall ini sekalipun. Viola keluar untuk membeli sesuatu sedangkan Clara masih ingin berlama lama disana.
Viola mulai masuk ke toko pakaian dalam, Viola berencana untuk membeli bera miliknya yang mulai sesak juga.
Sedangkan di kantor, Galaksi malah disibukkan dengan tugasnya. Walau sudah di handle oleh Reno dan Papa Bara tapi tetap saja tugasnya masih banyak. Padahal ia masih menjadi diresktur belum menjadi pemimpin perusahaan menggantikan posisi Papa Bara.
Belum juga selesai mengerjakan berkas berkas yang menumpuk di atas meja, Satya kembali datang membawa map di tangannya.
"Apa tak bisa kau saja yang mengerjakan?" tanya Galaksi yang sudah ngelu akan tulisan dengan angka angka diatasnya.
"Maaf Tuan, tapi ini tinggal mengecek saja. Tadi sudah saya teliti," jawab Satya sopan.
Akhirnya mau tak mau Galaksi harus menerima map berwarna merah itu. Satya pamit meninggalkan bosnya itu di ruangan itu dengan segala kesibukannya.
"Apa dia sudah selesai belanja ya?" tanya Galaksi menatap foto pernikahan mereka yang terpasang di atas meja itu.
Bersambung
Hai hai, jangan lupa mampir ke novel teman aku judulnya Terjerat Cinta Mafia tampan, karya Reni.t
__ADS_1