Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Hilangnya Tiara (Flashback)


__ADS_3

Happy reading


Flashback on


Tepat di hari senin, sebuah keluarga merayakan ulang tahun putri mereka yang ke-5. Tiara Andini, nama yang sangat indah seorang gadis cilik yang saat ini sedang duduk di tengah kedua orang tuanya. Disana juga ada kakak laki lakunya yang sekarang berusia 11 tahun yaitu Reno Alexander.


"Ibu, Ayah... Tia mau makan kue yang banyak ya," ucap Tiara dengan cerianya.


"Iya sayang, Tiara mau makan apapun juga boleh. Tapi jangan berlebihan ya, gak baik loh buat tubuh mungil kamu ini. Nanti kalau kamu gendut, Kak Reno ejek kamu terus," jawab Ayah Sandi mengelus rambut putrinya yang dibiarkan terurai itu.


Tiara menoleh kearah Reno yang masih asik berbincang dengan teman temannya, tanpa mau menoleh kearah sang adik.


"Kak Reno kayak kulkas di lumah Ayah, dia gak ada eksplesi apapun selain kayak gitu," ujar Tiara. Kadang gadis itu sangat menginginkan perhatian kakaknya lebih dari apapun tapi kakaknya itu jarang respon.


"Ibu juga gak tahu kenapa kakak kamu gitu, tapi yang perlu kamu ketahui Kak Reno sangat menyayangi Tiara lebih dari apapun," ujar Ibu Lana mengecup kening putrinya.


"Tapi Kak Reno jarang ajak Tiara main."


Reno yang melirik kearah adiknya itu tersenyum geli, bukan ia tak sayang dengan adiknya itu. Ia sangat sayang dengan adik perempuannya itu hanya saja caranya berbeda, tanpa diketahui oleh sang adik ia sering datang ke kamar adiknya secara diam diam untuk melihat adiknya. Tak jarang juga ia tidur di kamar adiknya dan memeluk tubuh mungil Tiara.


Reno berlalu meninggalkan teman teman sebayanya dan berjalan menuju adik dan orang tuanya.


"Ngomongin kakak ya?" tanya Reno yang sudah ada di depan adiknya.


"Kakak jelek!"


"Oh gitu, kalau kakak jelek adiknya apa ya?" tanyanya seolah berfikir.


"Ayah, Ibu, Kakak jahat."


Tiara menangis melihat kakaknya yang meledeknya, Ayah Sandi yang melihat putrinya menangis itu menatap putranya yang hanya tersenyum datar.


"Maafin kakak ya, janji deh habis ini kakak akan main terus sama Tiara. Karena Tiara adik kecil kakak yang paling kakak sayangi. Selamat ulang tahun ya dek, maafkan kakakmu yang selama ini terlalu cuek denganmu. Di hari yang bahagia ini kakak punya hadiah istimewa untuk kamu," ujarnya dengan senyum.

__ADS_1


"Apa?"


"Tutup matanya dulu dong," ujar Reno dengan senyum manis. Tiara menutup matanya dengan bahagia saat mengetahui jika kakaknya ingin memberinya hadiah.


Reno mengambil hadiah untuk adiknya dan menyuruh Tiara untuk membuka matanya.


"Ini apa kak?" tanya Tiara dengan polosnya menatap kotak hadiah yang cukup besar itu bahkan kotak itu paling besar diantara kotak kotak yang lain.


"Boleh Tia buka?" tanya Tiara pada Reno.


"Boleh dong dek, mau kakak bantu buka?" tanyanya.


Reno duduk di tengah antara orang tuanya, Tiara dan Reno membuka kotak hadiah itu dengan senang.


"Wah boneka," senang Tiara saat melihat boneka dengan remot kontrol disampingnya hal itu cukup membuat Tiara senang bukan main.


"Suka?" tanya Reno mengelus rambut adiknya.


Mereka yang melihat interaksi antara adik dan kakak itu tersenyum. (Bahagia memiliki keluarga seperti ini, beda banget sama Tya kalau sama abang adanya ribut terus gak ada sayang sayangnya. Kadang pernah berpikir Tya itu adiknya apa bukan gitu.)


Setelah acara selesai Tiara pamit dahulu untuk tidur, padahal itu hanya alasannya untuk mencoba mainan dari sang kakak.


"Tiara terlihat senang mendapat hadiah dari Reno ya Mas," ujarnya dengan senyum melihat anak anaknya akur selalu.


"Iya, kalau begini Mas akan lebih rajin lagi bekerja. Biar bisa beliin mainan untuk anak anak kita," ucap Ayah Sandi mengecup kening istrinya.


"Untuk Ibu juga Ayah," ucap Ibu mencubit dagu suaminya.


"Kalau untuk ibu sih sudah pasti, tapi bayarannya juga harus seimbang," ujarnya mengecup pipi istrinya lagi.


Yah, sebelum ulang tahun Tiara, Reno meminta sang ayah untuk membelikan hadiah untuk adiknya tapi dia yang memilih. Dengan antusiasnya Reno memilih boneka barbie yang bisa bergerak dengan remot kontrol. Hampir sama dengan mobil kontrol bedanya ini boneka barbie.


Sedangkan Tiara yang sedang berada kamar itu mulai menyalakan boneka itu. Ia sering melihat teman temannya memainkan mobil kontrol jadi ia sudah tak kaget lagi.

__ADS_1


"Lucunya bisa gerak kayak mobilnya teman teman," sorak Tiara saat ia mulai bisa menjalankan boneka itu.


Tiara dengan riangnya bermain di hingga pikiran gadis itu jika bermain di halaman pasti sangat seru.


Dengan pelan Tiara berjalan mengendap keluar fasilitas rumah, ia melewati orang tuanya yang duduk di ruang keluarga.


"Ayah, Ibu... Tiara keluar sebentar," pamitnya dengan lirih.


Tiara bermain boneka itu di halaman yang luas itu, ia menggerakkan remot itu dengan asal. Hingga membuat boneka itu menjauh dari halaman rumah itu dan bodohnya Tiara mengikuti kemanapun bonekanya pergi.


"Hei kenapa cepat sekali sih jalannya," ujar Tiara tak sadar jika dia yang mempercepat laju boneka itu.


Tiara yang baru menyadari kebodohannya itu hanya tertawa, ia memang pintar di TK tapi yang namanya anak kecil ada kalanya juga sedikit bodoh.


"Dapat, jangan lari lari ya. Tiara capek loh," ucapnya memeluk bonekanya.


Tapi ia baru menyadari jika ia sudah jauh dari rumah, Tiara yang takut hanya bisa menangis disepanjang jalan. Ia berusaha mengingat dimana rumahnya. Karena rumah itu sangat banyak dan besar.


"Ibu, Ayah, Kak Reno... Tiara takut," teriaknya histeris.


Sedangkan di rumah, Ibu Lana menyuruh Bibi pembantu untuk melihat putrinya sudah tidur atau belum.


"Ibu, Bapak... Non Tiara gak ada di kamarnya pak bu," teriaknya dari atas tangga.


Ibu dan ayah yang mendengar itu langsung panik dan mencari putri cilik mereka. Tapi tak kunjung ditemukan, karena saat itu belum ada CCTV mereka hanya bisa tanya kepada tetangga siapa tahu ada yang lihat anaknya.


Ayah Sandi dan Ibu Lana juga sudah melaporkan hal ini ke polisi tapi belum ada tanggapan. Reno yang mendengar adiknya hilang itu ikut sedih, ia menyalahkan dirinya sendiri karena tak becus menjaga adiknya.


Satu bulan kemudian, Tiara belum juga ditemukan hingga membuat Ibu Lana stress dan depresi hingga akhirnya Ibu Lana berada di rumah sakit jiwa.


Flashback off


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2