Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Rencana Nikah Bareng


__ADS_3

Happy reading


Setelah mendapat persetujuan dari sang kakak, Nana langsung mengundurkan diri dari kafe dan mulai menjadi asisten dosen dari Ilham.


"Ciee yang hari ini di lamar pak dosen," goda Clara pada Nana yang sedang memilih buku di perpustakaan.


"Apaan sih, Ra. Jangan godain aku terus," balas Nana dengan malu.


"Udah jangan malu malu. Aku dulu juga kamu godain gini kok, sekarang gantian," ujar Clara tersenyum seraya mencolek dagu Nana yang membuat wanita itu semakin memerah.


"Gimana kalau nanti kita nikahnya barengan aja?"


"Apaan lagi sih, Ra. Aku di lamar aja belum, kamu udah bilang nikah aja. Ingat ya kita masih kuliah," jawab Nana dengan kesal.


Memang tadi ia sempat malu tapi lama kelamaan jadi kesal juga karena sahabatnya itu selalu menggodanya.


"Hehehe maaf deh ya, aku cuma goda kamu doang. Tapi kalau masalah nikah bareng nanti aku bicarain sama Kak Satya," ujar Clara meletakkan buku yang tadi ia ambil.


"Haiss, terserah kamu aja deh Ra. Aku capek denger kamu ngoceh terus."


Mereka berlalu mencari buku yang di perlukan. Hingga tiba ada seorang mahasiswi yang memanggil Nana.


"Na, dipanggil Pak Ilham di


suruh ke ruangannya," ucap mahasiswi itu.


"Ngapain Pak Ilham panggil aku?" tanya Nana dengan penasaran. Mungkin dia lupa jika sekarang Nana adalah asisten dosen dari Ilham.


"Gak tahu, kan lu asistennya," jawab mahasiswi itu.


"Oh iya, gue lupa. Makasih ya."


Mahasiswi itu mengangguk dan berlalu meninggalkan mereka. Clara yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Semangat temuin calon suami," goda Clara.


"Apaan dah."


"Gue ke ruangan Pak Ilham ya."


"Oke, gue juga mau ke kantor. Nanti minta dianter sama Pak Ilham aja ya," jawab Clara dan dianggukkan oleh Nana. Walau ia tak tahu bagaimana nanti ia meminta tolong.


Mereka pun berpisah di sana, Nana menuju ruangan Ilham sedangkan Clara keluar menuju parkiran dan tujuan utamanya adalah kantor. Tak lupa membawakan makan siang untuk calon suaminya.


Dengan pelan, Nana mengetuk pintu dan ia mendapat jawaban dari dalam. Tanpa menunggu lama Nana langsung membuka pintu ruangan itu.


"Kenapa ada Bu Inggrid disini?" tanya Nana dalam hati.


Siapa yang tak tahu dosen centil yang saat ini sudah berusia 30 tahun itu. Seketika tatapan tajam Nana langsung terarah pada Ilham yang hanya tersenyum.


"Terima kasih, Pak. Nanti kita bicara lagi," ucap Bu Inggrid dengan senyum manisnya. Dosen itu juga sedikit membungkuk agar belahan dadanya terlihat tapi Ilham tak merespon dan menatap Nana untuk mendekat.


Karena tak mendapat respon dari Ilham, Bu Inggrid langsung keluar dari ruangan itu hingga menyisakan Nana dan Ilham di dalam sana.


"Kenapa Bu Inggrid kesini?" tanya nana dengan tajamnya.

__ADS_1


"Cuma anterin undangan ulang tahun anaknya," jawab Ilham dengan santai.


"Kami cemburu?" tanya Ilham menggoda kekasihnya.


Nana yang mendengar itu tanpa sadar mengangguk laku menggeleng.


"Enggak siapa juga yang cemburu dih," ujarnya dengan nada ketusnya.


"Aku senang kalau kamu cemburu, berarti kamu cinta sama aku," jawab Ilham menyuruh Nana duduk.


"Enggak ih."


"Kenapa nyuruh aku kesini? Ada pekerjaan yang harus aku kerjain?" tanya Nana dan dijawab gelengan oleh Ilham.


Ilham mengambil paper bag yang ada di bawah mejanya dan memberikannya pada Nana.


"Nanti kamu pakai ya, aku mau nanti malam kamu memakai itu," ucapnya dengan lembut memberikan paper bag itu pada Nana.


"Ini apa?"


"Buka nanti di rumah ya," pintanya dan dianggukkan oleh Nana.


"Kakak benar mau lamar aku nanti malam?" tanya Nana memastikan. Ia takut Ilham hanya bercanda dengan ucapannya.


"Benar dong, kita sudah sejauh ini masa aku mundur sih hmmm?"


"Aku takut kakak cuma bercanda," jawabnya dengan nada yang lirih.


Ilham bangkit dari duduknya dan mengajak Nana duduk di sidang yang cukup untuk dua orang itu. Mereka saling berhadapan.


"Walau kamu lebih tua daripada dia," ujar Nana yang dibalas anggukan oleh Ilham.


Setelah beberapa saat mereka berbincang, Ilham memutuskan untuk mengantar Nana pulang tanpa diminta.


Kadang Nana tak enak hati dengan Ilham yang sangat baik padanya. Sifat tomboynya juga sedikit hilang saat bersama Ilham, pakaiannya juga sudah tertutup walau tak memakai hijab.


Ilham yang melihat perubahan dalam diri Nana itu bangga karena kekasihnya ini mau berubah yang lebih baik.


(Ada juga yang waras dalam novel ini, hahaha. Ilham dan Nana, jempol buat kalian)


***


Sedangkan Clara yang sudah sampai di kantor itu. Tanpa basa basi langsung membuka pintu ruangan Satya, tapi ia tak melihat dimana calon suaminya itu berada.


Ceklek


"Ayang kenapa gak pakai baju?" pekik Clara saat Satya keluar dari kamar mandi hanya memakai celana panjang saja.


Dengan cepat Satya memakai kaos yang tadi sempat ia beli, kemudian menatap calon istrinya yang masih menutup mata.


"Udah sayang, buka mata kamu," ucap Satya berjalan menuju tempat Clara berdiri.


"Maaf ya, aku tadi kegerahan. Jadi aku mutusin buat mandi deh. Lagipula hari ini tak ada meeting atau acara apapun, jadi tenang jika ada yang kesini."


Clara mengangguk dan memberikan makan siang untuk calon suaminya.

__ADS_1


"Makasih sayang."


"Sama sama."


Satya membuka makanan itu dan menatap pacarnya atau bisa dibilang calon istri.


"Kamu udah makan?" tanya Satya dan dijawab Gelengan oleh Clara.


"Aku sengaja gak makan siang di luar, biar disuapin sama kamu," jawab Clara dengan manjanya.


"Oh gitu hmm, naik dulu sini."


Satya menepuk pahanya dan Clara langsung duduk di pangkuan Satya.


Mereka makan di dalam ruangan itu dengan lahap. Clara memang sengaja membawa makanan yang banyak agar mereka bisa makan bersama.


"Nanti kamu ke rumah ya," ucap Satya dan diangguki oleh Clara. Ia tahu apa maksud calon suaminya ini, karena hari ini adalah hari dimana Nana di lamar.


"Pakai baju yang aku belikan itu ya."


"Iya, Ayang."


Akhirnya makan siang mereka selesai. Satya memberikan minum untuk Clara, dan Satya juga minum dari botol yang sama. Hal itu sudah biasa untuk mereka.


"Kamu mau tunggu aku selesai kerja atau pulang dulu?" tanya Satya pada kekasihnya.


"Emm masih lama gak?" tanya Clara dan dijawab anggukan oleh Satya.


"Tapi jam 6 aku udah pulang kok, yank."


Satya berharap kekasihnya itu mau menunggunya. Jujur ia rindu ingin memeluk tubuh Clara.


"Aku temani aja ya, aku kangen sama kamu. Kita udah 5 hari gak ketemu masa hari ini aku pulang dulu," jawabnya membuang bungkus makanan itu ke tempat sampah.


"Oke aku usahain buat cepat selesaikan pekerjaanku sebelum jam 5 sore."


Satya menggendong Clara menuju kursinya, seperti biasa Clara selaku minta dipangku oleh Satya jika prianya itu masih bekerja.


Untung paha Satya kuat kalau tidak mungkin sudah patah dari kemarin kemarin.


"Ingat jangan gerak gerak."


"Siap bos."


Clara menuruti apa yang di perintahkan oleh Satya, ia menyandarkan kepalanya di dada Satya.


Cups


"Makasih buat semuanya."


"Hmmm."


Bersambung


Duh duh romantisnya, Tya kapan digituin?😰😩

__ADS_1


__ADS_2