
Happy reading
Tok! Tok! Tok!
"Pulang sayang!!"
Seorang laki-laki masuk kedalam ruangan itu dengan suara ngebasnya. Dia adalah salah satu dokter spesialis di rumah sakit itu.
Pria berusia 31 tahun itu tampak lelah dengan wajahnya, tapi langsung berganti segar saat melihat sang pujaan hati yang sudah menemaninya 3 tahun ini.
"Iya ini juga mau pulang," jawabnya dengan senyum paksa.
Dokter Andre yang melihat wajah lemas calon istrinya itu mulai mendekat dan menariknya agar duduk di sofa itu.
"Kenapa lemes gini?" tanya Dokter Andre.
"Capek Mas, aku gak bisa ambil cuti buat seminggu ini. Gimana dong? Paling bisa 4 hari sebelum hari H."
"Ya sudah tak apa, kan ini memang pekerjaan kita sayang. Jangan ngeluh hmm," ujarnya mengecup kening calon istrinya.
"Heem, kalau kita punya anak aku resign ya Mas. Mau ngurus anak aja, nanti kalau ada waktu lagi Dina akan balik kerja," ujarnya menyandarkan kepalanya di dada Andre.
"Iya sayang, habis nikah terus kamu resign juga gak apa-apa kok," ujarnya dengan lembut.
3 tahun menjalani kisah, mereka sudah tahu luar dalamnya masing-masing hingga sudah tak membuat mereka canggung.
"Mas...."
"Ya sayang ada apa?" tanya Dokter Andre.
Dokter Dina tak menjawab tapi ia naik ke atas paha Dokter Andre hingga rok span hitam itu terangkat.
"Jangan mulai deh yank," ujar Dokter Andre akan sikap calon istrinya.
"Kamu mah gak tergoda deh Mas, kamu normal gak sih?" tanya Dokter Dina mendorong pelan calon suaminya.
"Normal dong, kalau enggak aku gak akan nikahin kamu," jawabnya mulai gelisah.
"Tapi kamu gak pernah tergoda sama aku, aku pernah baca internet. Cowok yang tak tergoda akan pasangannya itu homo, Dina gak mau ya punya suami suka terong," jawabnya membuka kancing jas calon suaminya.
"Kamu mau tahu seberapa normal aku hmm?" tanya Dokter Andre menatap sayu calon suaminya.
Dina menaikkan alisnya sebelah seraya menggoda Andre di pangkuan itu.
Andre mulai duduk kembali dan mengecup bibir Dina dengan penuh gai*ah, tentu Dina yang sangat menginginkan ciuman itu membalasnya tak kalah ganas. Tangan Andre kini sudah berada di gundukan itu.
"Ahhh."
__ADS_1
Plup
"Gimana? Udah yakin jika calon suamimu ini normal?" tanya Andre mengusap bibir basah itu.
"Hmm, ada yang nganjel di bawah," bisik Dina.
Yah selamat 3 tahun menjalin kisah, Andre sangat menjaga Dina sebagai wanita yang paling ia cintai. Ia tak mau merusak Dina sebelum halal.
"Jangan gerak sayang, takutnya dia berontak," jawabnya dengan lembut.
Dina yang mendengar itu terkekeh geli, ia salut dengan calon suaminya ini. Meski sudah berumur 31 tahun tapi Andre selalu menjaganya. Pria itu tak mendahulukan nafsunya entah nanti jika sudah halal.
Berbeda dengan Reno dan Aulia yang saat ini sedang berada di mobil tak lupa jaket yang selalu menempel di tubuh mereka.
"Kita mau kemana?" tanya Aulia pada Reno.
"Suatu tempat yang pasti gak di pinggir jalan lagi," jawabnya dengan senyum manisnya.
"Tapi aku lebih nyaman di pinggir jalan tahu, kita bisa lihat orang pacaran, bisa lihat orang lalu lalang, lihat cewek marahi cowoknya, kalau mau pesen makan juga gak mahal 50 ribu itu udah lebih dari cukup. "
Reno yang mendengar itu tak menjawab, tangannya terulur untuk menggengam tangan Aulia dengan hangatnya ia letakka di dadanya.
"Kenapa?" tanya Aulia yang bingung dengan apa yang dilakukan Reno.
"Gak apa-apa sih, cuma mau ngaruh tangan dingin kamu di dada aku," jawabnya enteng karena memang itu kenyataannya. Tangan Aulia sangat dingin jika malam hari begitupun tangannya.
"Hmmm."
Tak lama sampailah mereka di taman kota yang sudah ia sulap menjadi tempat dinner romantis dengan banyak taburan bunga dan lilin di sana.
"Ren, ini...." Aulia menutup mulutnya lantaran tempat yang biasa ia lewati kini berubah menjadi tempat romantis.
"Khusus buat kamu, kita masih lihat jalan raya walau gak di pinggir jalan. Kita masih bisa lihat orang pacaran juga dari sini."
Aulia memeluk tubuh Reno, lelah seharian bekerja kini musnah sudah dengan semua ini. Ia bahagia jika di perlakukan seperti ini. Entah kapan Reno menyiapkan semua ini tapi yang pasti ia sangat bahagia.
"Yuk duduk, makanan ini juga yang bisanya kita makan kok. Hanya saja sedikit di modifikasi," ujarnya menyerahkan piring berisi nasi goreng berselimutkan telur diatasnya.
"Aku suka," ucapnya dengan senyum.
Mereka makan di temani oleh suara motor dan mobil yang berlalu lalang walau tak terlalu terdengar keras.
"Ren," panggil Aulia.
Reno yang sedang menikmati makan malamnya itu menatap Aulia yang ada di depannya itu.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Habis ini kita pulang atau gimana?" tanya Aulia dengan gugup.
Sebenarnya ia masih ingin lebih lama bersama Reno, waktu seperti ini sangat jarang mereka dapatkan.
"Pulang ke apartemen aku gimana?" tanya Reno menatap Aulia dengan senyumnya.
"Ngapain ke apartemen? Aku ada rumah sendiri loh," ujarnya dengan bingung.
"Gituan."
Plak
Aulia menampar lengan Reno dengan keras, bisa bisanya Reno mengajaknya begituan. Entah begituan dalam arti apa. Tapi Aulia memiliki firasat buruk soal begituan.
"Sakit tahu yank," ujarnya mengelus lengannya.
"Lebay, cowok apaan gitu aja sakit," balas Aulia seolah tak peduli.
"Cowok juga manusia sayang, aku juga bisa ngerasain sakit."
"Tapi ucapan kamu itu loh Ren, bikin traveling tahu gak."
"Maaf sayang, aku cuma bercanda. Tapi kalau kamu mau sih aku oke oke aja," ucap Reno meminum es teh itu.
Reno sudah tak canggung Lagi jika ingin memanggil Aulia dengan panggilan sayang, walau Aulia masih sedikit canggung tapi ia berusaha menerimanya.
Sebenarnya Reno juga tak ingin cepat mengakhiri malam ini dengan Aulia. Ia masih ingin memandangi wajah cantik Aulia dari dekat bukan cuma virtual.
Setelah menyelesaikan makan malam itu, mereka tak langsung pulang melainkan duduk di kursi panjang yang ada di taman itu.
Dengan tak tahu tempatnya, Reno meletakkan kepalanya di paha Aulia. Seakan tak memiliki rasa dingin sama sekali mereka disana menikmati malam yang makin larut itu.
"Kadang aku pengen kayak mereka yang setiap malam bisa jalan jalan sama pasangannya. Sedangkan kita? Satu minggu sekali itu udah paling banyak," ujar Aulia dengan sendunya.
"Sabar ya yank, gak lama kok kita bakal sama sama."
"Heem."
Aulia menatap Reno dengan lembut, begitupun dengan pria itu sedang menikmati wajah ayu Aulia.
"Aku mencintaimu Aulia, apa kamu juga mencintaiku," tanya Reno mengecup telapak tangan Aulia.
Bukannya menjawab Aulia malah memalingkan wajahnya dengan malu. Ia masih saja tak percaya diri akan pernyataan cinta dari Reno.
"Malu malu lagi, bikin tambah gemes deh."
Mereka menikmati malam yang singkat itu dengan tawa dan canda, Aulia tak takut di marahi orang tuanya karena tadi sudah mengirim pesan jika ia pulang lewat begitupun dengan Reno.
__ADS_1
Bersambung