Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Modusnya Jalan


__ADS_3

Happy reading


"Mas bosan," rengek Viola setelah beberapa lama mereka disana.


"Terus kamu mau gimana?" tanya Galaksi menutup ponselnya dan menatap istrinya yang sedang membanting ponsel mahal itu ke kasur rumah sakit itu.


"Jalan jalan," jawabnya manja.


Tapi sedetik kemudian ia menatap anak anaknya yang masih anteng di ranjang.


"Ya sudah kita jalan jalan, nanti anak anak kita titipkan sama Mama. Katanya dia udah hampir sampai sini," ujar Galaksi mendekat ke arah istrinya dan duduk di samping sang istri yang tampak cemberut.


"Aku gak mau ninggalin anak-anak Mas, kalau mereka nangis gimana?" tanya Viola dengan sedih.


"Gak apa-apa sayang, kalau cuma sebentar aja. Lagian Mama juga ada kalau mereka nangis, apalagi suster yang jagain mereka kan juga ada," jawab Galaksi mengelus rambut sang istri.


"Tapi..."


"Sstt udah, kita nunggu Mama datang aja. Besok kamu juga sudah boleh pulang kan."


"Heem, kita bawa kembar di kamar kita ya Mas. Aku gak mau pisah sama mereka sebelum mereka besar," ucap Viola yang membuat Galaksi langsung menggeleng.


"Sebulan atau dua bulan aja, habis itu mereka tidur sama suster."


Mendengar hal itu, Viola hanya cemberut. Ia tahu apa maksud suaminya itu. Padahal ia tak mau jauh jauh dengan anak anaknya yang selalu membuatnya gemas.


"Mas ih gitu."


"Kalau sampai anak-anak ikut kita terus, pasti aku ga bakal dapat jatah malam dong. Mana bisa," batin Galaksi dengan tak terima jika anak anaknya ikut tidur bersama.


Bukan ia tak suka tapi, mereka berdua juga butuh privasi untuk keduanya. Lagipula Galaksi memiliki target ingin memiliki banyak anak dari Viola, walau ada rasa mengganjal di hatinya saat mengingat saat istrinya melahirkan.


Tak menunggu lama akhirnya Mama Audi datang bersama Clara yang sengaja bolos kuliah karena ingin bertemu dengan keponakannya yang imut imut itu.


Mama Audi dan Clara yang memang sudah mengetahui jika Viola bangun itu ikut bahagia. Setelah masuk Mama Audi juga sudah melihat aura anaknya yang sudah bahagia tak seperti kemarin yang bisanya hanya menangis.


"Untung kalian cepat datang," gumam Galaksi.


"Memangnya kenapa kak?"


"Kakak ipar kamu bosen katanya," jawab Galaksi pada Clara.

__ADS_1


"Enggak kok, cuma suntuk aja. Anak anak juga belum bangun," jawab Viola dengan senyum paksa.


"Ya sudah kamu ajak jalan jalan aja istri kamu, biar istrimu gak sepaneng aja di kamar rawat terus. Biar si kembar sama Mama dan Clara," ujar Mama Audi pada anaknya.


"Tapi gak ngerepotin kan Ma?" tanya Viola pada Mama Audi.


"Enggak kok Nak, Mama sama sekali tak ngerasa di repotin."


"Iya kak, habisnya aku juga udah rela relain bolos buat ketemu twins."


"Pacar kamu?"


"Dia kan kerja kak, lagi cari modal buat nikah," jawab Clara dengan lesu.


"Sabar dek, gak lama kamu bakal dihalalin kok sama Satya," jawab Galaksi dengan senyum menggoda adiknya.


"Kakak bisa aja sih, ada Mama tahu. Malu kak," ucap Clara menatap Ibunya yang hanya tersenyum.


"Mama merestui kamu kok dek, Mama dan Papa selalu berdoa yang terbaik untuk kamu dan Kakak kamu."


Ucapan Mama makin membuat Clara malu, bahkan wajahnya sudah memerah karena malu. Kakak dan Mama itu selalu saja menggodanya.


"Kak Vio bantuin Clara," rengek Clara pada Viola berharap kakak iparnya itu bisa membantunya.


"Kak Vio mah malah buat Clara malu aja," rengek Clara yang dibalas tawa oleh mereka.


Tak lama setelah itu, Viola dan Galaksi keluar dari kamar itu. Viola juga sudah menyiapkan susu untuk kembar.


Di dalam lift Viola dibuat bingung dengan angka yang di tekan suaminya. Kenapa ke lantai atas, bukanya taman ada di bawah?


"Kita mau kemana Mas?" tanya Viola saat suaminya itu mengajak dirinya untuk naik ke atas.


Sedangkan Galaksi yang berada di belakang Viola itu hanya diam dan memeluk tubuh Viola dari belakang.


"Kamar," jawab Galaksi mengecup pundak Viola dengan lembut.


"Masss."


Rengekan Viola bagaikan nada syahdu bagi Galaksi, dia sangat rindu dengan istrinya ini.


Viola tahu akan apa yang dilakukan sang suami. Tak heran kenapa Galaksi mengatakan kamar, karena di rumah sakit ini memang ada satu kamar khusus milik Galaksi dan Viola.

__ADS_1


Dulu setelah rumah sakit ini di bangun, Galaksi dan Viola sering tidur disini. Galaksi dan Viola yang dulu memang masih atasan dan bawahan selalu membuat orang salah paham tapi mereka tak menganggap. Setelah pulang kerja mereka selalu melepas penatnya di rumah sakit sambil menikmati pemandangan indah di kota itu.


Sampailah mereka di lantai atas, lift terbuka dan Galaksi mulai menggendong tubuh istrinya menuju tempat dimana mereka pernah tidur.


Sampainya di depan pintu, Viola langsung menunjukkan jarinya lalu pintu itu otomatis terbuka.


Galaksi mulai merebahkan tubuh istrinya di kasur yang lebih empuk dari kamar rawat itu.


"Mas kebiasaan deh, tahu gini tadi aku di kamar rawat aja," ucap Viola dengan cemberut.


"Disini juga jalan jalan sayang, tapi nanti. Akunya sudah pesan sarapan untuk kita Pati perut kamu lapar banget dari kemarin belum makan?" tanya Galaksi mengelus perut Viola dengan lembut.


"Disini cuma rebana doang gitu loh."


"Kamu belum sembuh loh sayang, nanti malah capek lagi. Aku gak mau kamu sampai sakit sakit lagi," ujarnya dengan lembut.


"Gak sakit kok Mas."


Galaksi tak memperdulikan ucapan Viola. Pria itu mulai naik dan memeluk tubuh sang istri dari samping.


"Udah deh jangan mulai."


Galaksi diam, tangannya menyelusup ke dalam daster yang di pakai Viola dengan lembut. Rasa hangat itu kembali menjalar dalam diri Galaksi.


"Mas..." tegur Viola dan dijawab deheman oleh Galaksi.


"Mau cium deh kalau gitu, nanti kalau kamu sudah selesai baru kita main lagi," ucapnya dengan lembut mulai mengecup bibir manis itu.


Viola pun tak munafik, ia juga menikmati ciuman lembut dari Galaksi yang sangat memabukkan baginya. Dengan lembut pulang Viola membalas ciuman itu hingga suara delapan dari kamar itu terdengar jelas. Untungnya kedap suara jadi tak sampai luar.


"Jangan kelewat batas ya Mas."


"Iya sayang," jawabnya seraya membuat tanda di leher mulus Viola tak jauh beda dengan Viola yang asik membuat tanda tapi tak kunjung berhasil hingga membuat Viola menyerah.


"Mas gak jadi," ujarnya dengan lelah.


"Biar Mas saja yang buat banyak tanda di dada kamu," jawab Galaksi membuka daster yang dipakai Viola begitupun dengan beranya. Hingga wanita itu hanya memakai celana pendek saja.


Pagi itu, dalam keadaan perut kosong Viola dan Galaksi saling membuat tanda di tubuh masing masing, walau tak berhasil tapi Viola di ajari oleh Galaksi hingga ia dapat menghasilkan satu karya di leher Galaksi. Jika Galaksi jangan ditanya lagi, pria itu membuat banyak tanda di dada dan leher Viola.


Setelah beberapa menit akhirnya aktifitas mereka selesai, Galaksi yang membagi sudah di kabari jika makanan mereka sudah sampai itu mulai mengambilnya di meja depan dan mereka makan bersama di kamar itu

__ADS_1


Bersambung


Makasih sayang sudah baca sampai part ini. Sayang Tya sama klean semua.


__ADS_2