
Happy reading
"Nana, tolong bawakan kertas ujian ke ruangan saya," perintah Ilham dengan tegas pada kekasihnya.
Walau mereka sepasang kekasih tapi jika di kampus, mereka akan tetap bersikap profesional. Walau saat di ruangan Ilham akan ada hal lain.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!!"
Nana masuk ke dalam ruangan itu dan mulai meletakkan kertas kertas itu diatas meja Ilham.
"Bantuin kakak, koreksi ini," pinta Ilham yang ingin selalu berlama lama dengan kekasihnya.
"Kak, ini sudah jam 12 loh. Waktunya makan siang."
"Aku sudah bawa bekal buat kita, Ibu tadi yang bikinin. Katanya buat anak dan calon mantunya," ujar Ilham dengan senyum manisnya mengambil paper bag yang dia bawa tadi.
"Masakan Ibu?"
"Iya."
Bukan tanpa sebab Nana bertanya seperti itu, karena ia sangat menyukai masakan Ibu Safira yang sangat pas di mulutnya. Selain masakan ibunya, masakan Ibu Safira juga sangat ia nantikan.
"Bilang sama ibu, aku berterima kasih," ucap Nana seraya membuka tupperware berwarna biru itu.
Ilham hanya mengangguk, mereka pun makan bersama di dalam ruangan Ilham.
"Gimana, By?" tanya Ilham.
"Gimana apanya?" tanya Nana dengan malu. Ia sudah tahu apa yang ingin dipastikan oleh kekasihnya ini.
"Soal yang kemarin," jawab Ilham seraya menghabiskan makanan itu.
"Aku belum tahu kak, aku masih menunggu kak Satya menikah dengan Clara dulu. Aku gak mau mendahuluinya," ujar Nana dengan lirih.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan menunggu sampai Satya menikah," jawab Ilham tersenyum lembut.
__ADS_1
Ilham tak mau memaksakan kehendaknya untuk menikah dengan Nana, jika Nana saja menunggu Kakaknya menikah.
"Maaf ya kak, bukan aku tak mau menikah dengan kakak. Tapi aku hanya ingin kakak menunggu sampai aku lulus kuliah. Apa kata orang jika nanti kita sudah menikah saat aku masih jadi mahasiswi kakak? Mungkin orang orang akan menganggap aku orang yang memanfaatkan kakak agar nilaiku baik," jelas Nana menutup kembali tupperware yang sudah habis isinya itu.
"Aku akan menunggu, By. Tapi aku tak memikirkan omongan orang orang tentang kita. Aku juga akan bersikap adil pada semua murid muridku sekalipun kamu adalah kekasihku atau pun istriku," jawab Ilham dengar serius.
"Ya aku tahu."
"Jadi jawabanmu soal kemarin apa, Hubby? Aku butuh jawaban, aku tak mau kamu diambil orang karena status kita yang masih abu abu."
"Aku mau kak, tapi untuk menikah aku belum siap," jawabnya tersenyum malu.
"Alhamdulillah kalau kamu terima, secepatnya aku dan Ibu akan datang ke rumah kamu."
Dengan senyum Ilham menatap Nana, ingin sekali ia memeluk tubuh kekasihnya ini. Tapi mereka belum mahram.
"Tapi apa kakak gak menyesal ingin melamar aku? Kakak tahu aku kan, aku bukan wanita yang taat agama, aku masih sering meninggalkan shalat. Apakah aku pantas dengan seorang dosen yang taat agama seperti kamu? Jujur aku malu jika mengingat diriku sendiri."
Ilham tersenyum dan menggeleng.
"Aku tidak menyesal, Nana. Aku juga bukan seorang yang taat agama, aku juga masih belajar. Kamu yang menjadi makmumku nanti, aku yang akan membimbing kamu sebagai istriku. Kita saling belajar, kekuranganku kamu yang sempurnakan begitupun sebaliknya."
Inilah yang menjadi pertanyaan Nana dari dulu. Kenapa ilham memilihnya sedangkan di luar sana banyak wanita yang lebih baik darinya?
"Karena aku yakin, aku yakin kamu adalah wanita yang tepat buat aku. Sejak pertama aku melihat kamu di rumah saat itu, entah kenapa aku mulai menaruh rasa. Melihat tingkah kamu yang apa adanya membuat aku memiliki rasa yang lain pada kamu. Hingga Satya menceritakan tentang kamu padaku, hal itu membuat aku ingin terus bersamamu dan melindungi kamu," jawabnya dengan panjang.
Nana yang mendengar itu terkejut. Ternyata sudah selama itu Satya menyukainya. Sejak dia masih kelas 2 SMA, sedangkan saat itu Ilham masih semester 6.
"Selama itu tapi kakak tak pernah memberi tahu aku?" tanya Nana sedikit kesal dengan Ilham.
"Aku terlalu takut untuk mengatakannya, By. Tapi melihat kamu bahagia saja sudah membuat aku senang," jawabnya berjalan menuju kursinya dan menyuruh Nana untuk duduk di kursi sampingnya.
"Bantuin kakak ya," pintanya memberikan ketas ujian teman teman Nana pada kekasihnya.
Akhirnya di siang itu, Nana membantu kekasihnya untuk mengoreksi ujian mereka. Dan betapa kecewanya Nana saat melihat nilainya sedikit anjlok.
"Sudah tak apa, ini cuma ujian harian. Kamu harus belajar yang giat supaya nilai kamu memuaskan," ujar Ilham mengelus rambut Nana.
__ADS_1
"Aku malu sama kamu, kamu seorang dosen yang pintar. Sedangkan aku apa."
Nana menyadari perbedaan mereka, ingin sekali ia menangis tapi ia tahan karena tak ingin menunjukkan sikap lemahnya pada Ilham.
"Sudah tak apa. Aku juga pernah gagal, bahkan nilaiku lebih parah daripada ini."
Nana menatap Ilham yang tersenyum. Sedangkan ilham yang melihat Nana jalur menangis itu langsung mengambil tisu dan menghapus air mata itu.
"Kamu keluar aja ya dari kafe itu, aku masih sanggup biayain kamu kok," pinta Ilham dengan lembut. Ia tak mau belajar kekasihnya terganggu karena harus pulang malam terus terusan.
"Aku gak bisa, aku harus kerja buat diriku sendiri. Lagipula kita ini belum resmi menikah tanggung jawab aku masih di orang tuaku. Sedangkan kamu juga banyak kebutuhan kan?"
"Tapi aku masih sanggup, Hubby. Aku gak mau kamu terus terusan pulang malam."
"Maaf ya."
"Oke gini aja, gimana kalau kamu jadi asisten aku di kampus," tawarnya yang membuat Nana sedikit terkejut dan berpikir.
"Tenang aja. Aku akan tetap menggajimu tiap bulan, bahkan uang makan juga aku yang tanggung. Kamu tak harus pulang malam lagi, kamu akan pulang jika aku pulang. Bagaimana?"
"Emmm tapi aku takut anak anak berpikir yang tidak tidak," jawabnya Nana sedikit lesu.
Sebenarnya ia juga sedikit letih jika setelah pulang kampus langsung kerja. Belum lagi harus belajar malam harinya, alhasil ia tak cukup tidur dan terlihat lelah di pagi hari.
"Ini semua demi kebaikan kamu, gak usah memikirkan omongan orang," jawabnya mengelus rambut halus kekasihnya.
"Nanti aku tanyakan sama Kak Satya," jawab Nana dan dianggukkan oleh Ilham.
"Aku tunggu jawaban kamu besok," ucap Ilham dan dianggukkan oleh Nana.
Setelah selesai mengoreksi itu, Ilham dan Nana keluar dari ruangan itu. Rencananya Ilham ingin mengantar Nana ke kafe, lagipula ia juga ada janji dengan temannya di kafe itu.
Sampainya di kafe, Nana langsung pamit menuju ruang ganti. Teman teman Ilham juga sudah datang dan menunggu Ilham.
Nana berjalan menuju tempat dimana Ilham dan temannya kumpul. Sebagai seorang pelayan ia harus ramah pada pengunjung tapi hal itu malah membuat Ilham cemburu.
"Aku harus cepat membuat Nana keluar dari kafe ini," gumam Ilham menatap kepergian Nana lalu menutup kuping saat teman temannya membicarakan Nana.
__ADS_1
Bersambung
Hahahah cemburu ya bang?