
Happy reading
Tak terasa seminggu sudah Ibu Lana di rawat di rumah sakit. Sejak malam itu juga Ibu Lana tak mau Viola pergi hingga membuat Viola tetap menetap disana.
Reno dan Ayah Sandi juga sudah meminta Viola untuk tinggal di rumah mereka bersama Ibu Lana. Karena Viola juga hidup sendiri hingga Viola mengiyakan tapi sebelum itu ia akan ke apartemen dulu untuk mengambil pakaiannya.
Reno pernah diam diam mengambil sampel rambut Viola tapi entah kenapa rambut itu hilang dan darah, Reno belum bisa mengambil darah ataupun tes DNA lainnya.
Galaksi yang sudah seminggu tak mendapat kabar dari Viola itu di buat frustasi, Reno sungguh membuat informasi tentang Viola hilang begitu saja. Ia sudah membuat karir Sania hancur tak tersisa begitupun Mama Audi yang sudah melaporkan Sania atas tuduhan pembunuhnya berencana bermodal CCTV rumahnya. Hingga saat ini Sania menjadi buronan polisi.
Seminggu ini pula Galaksi selalu pulang ke apartemen pacarnya, berharap Viola pulang dan ia bisa merasakan kembali sentuhan hangat pacarnya.
"Bu, Tiara keluar sebentar ya nanti Tiara balik lagi," bisik Viola setelah Ibu Lana tidur.
Viola pamit pada Reno untuk pulang terlebih dahulu, ia sudah terlalu lama di rumah sakit hingga membuatnya sedikit pusing.
Tak lama sampailah di apartemennya, dengan langkah gontai ia masuk kedalam kamar. Aa hal lain yang ia lihat, kenapa kamarnya berantakan apa Reno pernah tidur di kamarnya tapi Reno tak selancang itu.
Dan lagi kenapa foto dan bajunya berada di kasur, apa ada seseorang yang berbuat jahat padanya.
Ceklek
Galaksi yang baru keluar dari kamar mandi itu mematung melihat wanita yang ia rindukan satu minggu ini berada di depannya dengan wajah cantiknya itu.
"Sayang."
Galaksi berlari memeluk tubuh Viola hingga membuat wanita itu sesak karena pelukan Galaksi.
"Maafin aku," lirihnya setelah itu Galaksi kehilangan kesadarannya.
Viola yang merasa ada hal lain dengan tubuh sang pacar itu mulai mengeceknya. Galaksi demam? Kenapa bisa? Padahal tak ada hujam atau angin.
"Gal.... Galaksi," panggilnya tapi tak ada sautan dari pria itu.
Viola mengendurkan pelukannya dan Galaksi jatuh tak sadarkan diri.
"Galaksi bangun jangan buat aku khawatir deh," ucapnya membangunkan Galaksi.
__ADS_1
Merasa tak ada tanda-tanda Galaksi bangun membuat Viola harus membawanya ke ranjang dan menyelimutinya tubuh Galaksi yang panas itu.
"Kenapa kamu bisa kayak gini sih hmm?" tanyanya mengompres Galaksi dengan air hangat.
Setelah berberapa lama, tapi demam Galaksi belum juga turun. Viola yang mulai khawatir itu menelepon dokter untuk datang ke apartemennya.
Walaupun sudah tengah malam tapi dokter tetap menyanggupi karena ia sudah lama mengabdi pada keluarga Galaksi.
Dokter itu datang dan mulai memeriksa Galaksi yang menggigil diatas tempat tidur. Apa yang dilakukan dokter itu tak luput dari pandangan Viola.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Viola pada sang dokter.
"Tuan Galaksi mengalami dehidrasi yang membuat radang tenggorokannya kembali kambuh. Dia juga demam tinggi Nona, apa Tuan juga jarang makan?" tanyanya dan dijawab gelengan oleh Viola karena ia tak tahu.
"Usahakan untuk Tuan muda banyak minum ya Nona, dan Nona pasti sudah tahu pantangan untuknya," ucap sang dokter dan diangguki oleh Viola.
"Ini obat dan Vitamin untuk Tuan, sengaja saya bawa karena saya sudah firasat sejak kesini tadi."
Dokter itu memberikan obat dan vitamin pada Viola dan diterima begitu saja oleh Viola.
"Terima kasih dok," ucap Viola tulus.
Setelah selesai memeriksa Galaksi, dokter itu pamit untuk pulang. Dan kini tinggallah Viola dan Galaksi di kamar itu.
"Kamu kurang makan dan minum hmm? Walaupun aku pergi kamu juga jangan sakit dong," ucapnya terus mengompres Galaksi.
"Vio..."
"Vii maafin aku," lirihnya yang membuat Viola mengangguk.
"Maaf."
Galaksi terus mengigau dengan menyebut Viola dan maaf. Viola yang mendengar itu hanya bisa mengelus kening Galaksi hingga membuat pria itu nyaman dengan elusan lembut itu.
"Bentar ya Gal, aku mau buat bubur dulu."
Viola keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Wanita 21 tahun itu membuat bubur untuk Galaksi, tak mungkin kan ia membiarkan tubuhnya tak terisi apapun. Lagipula ia juga sedikit lapar karena kurang makan.
__ADS_1
Tak lama Viola kembali ke kamar dengan dua mangkuk dan dua teh hangat untuknya dan Galaksi.
"Tuan bangun," ucapnya membangunkan Galaksi. Harusnya Galaksi sudah bangun sekarang tapi kenapa masih saja tidur?
Perlahan Galaksi membuka matanya satu mendengar suara yang ia rindukan selama seminggu ini. Ia pikir tadi itu hanya mimpi jadi ia memutuskan untuk tidak bangun tapi sekarang ia bisa mengulang senyum saat melihat wajah ayu pacarnya kembali.
Grep
Galaksi memeluk tubuh Viola dengan tiba tiba, pria itu menangis dipelukan Viola. Ia merasa bersalah dan saya juga sangat hina karena membuat Viola seperti dulu. Ia mengingkari janjinya untuk menjaga Viola sampai mereka menikah.
"Maafkan aku Vio, aku menyakitimu," ucapnya terisak dipelukan Viola.
"Tuan gak salah kok," jawab Viola menghapus air matanya cepat.
"Siapa Tuan? Aku pacarmu kan? Kamu ataupun aku belum memutuskan hubungan kita. Saat ini ataupun nanti!!" tegas Galaksi di wajah pucatnya.
Deg
"Kamu mengingatnya?" tanya Viola dan dianggukkan oleh Galaksi.
"Aku ingat saat kamu bilang cinta sama aku, aku tak bisa menghentikan diriku sendiri Viola aku tak bisa. Maafkan aku sudah menyakitimu dengan kembali membuat kesalahan yang sama, aku menyesal sayang. Aku menyesal karena perkataanku menyakitimu."
Galaksi kembali menangis saat mengingat apa yang diucapkannya kemarin. Ia bilang jika Viola seorang jala*g karena sudah tak perawan padahal yang mengambil kehormatan Viola juga dirinya.
"Kamu boleh membalas apa yang aku lakukan kemarin sekarang Vio. Kamu boleh pukul, tampar atau sayat lenganku. Asal kamu mau memaafkanku," ucapnya menatap mata berair Viola.
"Aku memang marah padamu Galaksi tapi aku tak membencimu, mungkin kecewa itu lebih besar. Tapi semua itu terkalahkan oleh cintaku yang selama ini kamu pupuk," ucapnya mengusap air mata Galaksi.
"Kau memaafkanku?" tanya Galaksi menatap Viola.
"Kapan aku tidak memaafkanmu hmm? Mungkin jika kamu mendua dan berhubungan dengan wanita lain itu aku akan snagat membencimu."
"Aku janji akan segera menikahimu, aku tak mau kamu hamil tanpa adanya aku disampingmu."
"Tapi untuk sekarang belum bisa, aku harus menjaga Ibu kak Reno. Dia sakit Gal, aku tak mau dia tambah sakit saat aku pergi. Biarkan aku merawatnya dulu sampai sembuh," ucapnya dengan senyum tawar.
"Reno?"
__ADS_1
Bersambung