
Happy reading
"MAS!!" teriak Viola membuat Galaksi yang sedang mandi itu langsung keluar padahal ia masih menggunakan shampoo. Hingga pria itu hanya menggunakan handuk pendek yang menutupi pusaka berharganya.
"Kenapa yank, kamu sakit atau apa?" tanya Galaksi dengan wajah panik.
Galaksi melihat sang istri yang duduk di kasur itu dengan membawa pisau dan apel di tangannya.
"Mas kenapa belum selesai mandinya, udah 10 menit lebih loh ini."
"Astaga sayang aku pikir kenapa kamu teriak begitu. Kan masih 10 menit sayang, aku masih pakai shampoo loh ini."
"Lah aku kan gak minta kamu buat keluar kalau belum selesai mandi. Aku cuma teriak aja Mas," jawab Viola dengan senyum manis tanpa rasa bersalah.
Galaksi yang mendengar itu kesal, pasalnya dengan seenaknya Viola bilang jika hanya teriak saja.
"Lain kali jangan teriak gitu ya, Mas kan khawatir sama kamu dan anak-anak kita," ujar Galaksi dengan senyum manisnya.
"Maaf Mas. Janji gak lagi," ujarnya dengan senyum manisnya terus melakukan aktivitasnya mengupas apel muda itu.
Galaksi mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Untung cinta kalau enggak gak tahu aku kuat apa enggak," gumam Galaksi melanjutkan ritual mandinya dengan kesal.
Setelah menyelesaikan keramas dan mandinya, pria itu tak langsung keluar tapi masih mengamati wajahnya dari cermin kamar mandi itu.
"Sebenarnya aku tak menyangka jika aku hampir menjadi seorang ayah diusiaku yang sudah 27 tahun."
"Tapi aku bersyukur karena yang menjadi istri dan ibu dari anak-anakku adalah wanita yang paling aku cintai."
Setelah puas di depan cermin itu, ia mulai keluar memakai handuk kimono yang membuat dada dan perut pria itu terekspos untungnya Galaksi sudah memakai boxer berwarna hitam itu. Jadi, walau ia tak menali handuk itu tak membuat pusaka nya bergelantungan bebas.
Galaksi keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju istrinya yang sudah mandi sebelum dia tadi.
"Was wangi banget sih," ujarnya dengan nada menggoda tak lupa ia menggendus dada Galaksi yang memang terpampang jelas.
"Mulai lagi, pasti ada apa-apa nih. Apa kamu mau apa?" tanya Galaksi to the poin karena tak mungkin istrinya bersikap seperti ini kalau tak menginginkan sesuatu.
"Emm... Cuma mau peluk aja gak boleh?" tanya Viola memeluk perut Galaksi. Sebenarnya Viola takut mengatakan ini pada Galaksi tapi mau bagaimana lagi.
"Ngomong sayang jangan dipendam," ujarnya dengan lembut. Ia tahu Viola sedang menginginkan sesuatu.
"Apel," cicitnya.
__ADS_1
Galaksi menatap apel yang sudah dipotong kecil kecil oleh Viola tadi. Lalu menatap istrinya yang sedang memainkan jarinya di atas dadanya.
"Kenapa apel? Kamu mau makan apel?" tanya Galaksi dengan lembut.
Galaksi merapikan rambut Viola yang memang belum di sisir.
"Enggak mau makan apel, tapi kamu," jawabnya dengan lirih.
"Aku?"
"Aku mau kamu yang makan apel itu," jawabnya dengan pelan.
Viola takut suaminya tak mau makan apel masam dan kecut itu karena Galaksi bukan tipe orang yang suka makan masam atau kecut. Daripada memakan dua rasa itu, Galaksi lebih baik memakan makanan pahit dan pedas.
"Owhh kamu mau Mas yang makan buah apel ini hmm?" tanya Galaksi mengambil buah apel yang ada di piring.
"Heem, tapi kalau Mas gak mau gak apa-apa kok," ujarnya dengan senyum tapi air mata yang sudah menggenang.
"Hei siapa juga yang tak mau mengabulkan keinginan sepele dari istri dan anak anakku ini hmm. Jangankan cuma makan apel muda yang masam ini sayang, mati untuk kamu aja kalau kamu mau aku bisa sayang," ujarnya dengan serius.
"Mas gak boleh ngomong gitu, aku gak mau Mas mati," ucapnya dengan sedih.
Ia tak mau ada kata kata kematian dalam kehidupannya, ia belum siap jika kehilangan orang yang dicintai lagi untuk kedua kalinya. Dulu cukup Mama dan Papanya yang pergi dulu, sekarang ia tak mau sampai suaminya juga pergi meninggalkannya.
Dengan pelan Galaksi mulai menyuapkan satu potong apel ke dalam mulutnya. Asam dan sedikit sepat itulah rasa dari apel hijau ini. Wajar saja jika rasanya seperti itu karena apel ini masih sangat muda.
Viola yang melihat wajah suaminya menahan rasa tak karuan dari apel itu membuat dirinya tak tega.
"Udah Mas jangan dipaksa kalau gak suka," ujarnya dengan pelan. Ia tak mau suaminya kenapa napa hanya karena apel ini.
"Gak apa-apa sayang kan buat kamu sama baby baby," jawabnya tetap memakan buah apel itu bagaikan tak terasa asamnya.
Viola yang penasaran rasanya itu mengambil satu potong dan memakannya baru juga satu gigitan Viola langsung memuntahkannya.
Tapi ia langsung menatap suaminya dengan rasa bersalah.
Cups
"Udah jangan dimakan lagi," ujar Viola mencium bibir Galaksi dengan lembut.
Viola menekan tengkuk leher Galaksi yang membalas ciumannya.
Suara decapan dua orang ini menggema dalam kamar besar ini. Viola dan Galaksi sama-sama tak ingin menyudahi ciuman panas itu. Bahkan Galaksi sudah tak merasakan rasa asam yang tadi mendera lidahnya.
__ADS_1
"Ugghh," legu*an Viola mulai terdengar saat tangan nakal Galaksi mulai menyentuh dadanya yang masih terbungkus kain berbusa itu.
Plup
Keduanya saling menatap saat ciuman itu terlepas. Ciuman yang berlangsung beberapa menit itu membuat dua orang ini saling melempar senyum.
"Mas gak mau kita kebablasan, ini masih siang sayang," ujar Galaksi mengusap bibir basah milik Viola dengan jarinya.
"Hehehe maaf ya Mas, tapi lidah Mas gak kenapa napa?" tanya Viola dengan cemas.
"Enggak kenapa napa sayang, kan udah kamu cium tadi," jawabnya dengan lembut. Ia tak mau istrinya merasa bersalah karena sudah memberikan apel mentah itu padanya.
"Bener gak apa-apa?" tanya Viola dengan nada bersalah.
"Iya sayangku, lagian ini cuma apel. Bukan racun sianida yang bisa mematikan," jawabnya dengan senyumnya.
Mendengar hal itu membuat hati Galaksi tenang.
Hari masih siang, di rumah juga sepi hanya ada para pelayan saja. Mama bersama oma dan opa tadi pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan Oma dan Opa.
Viola sudah memposisikan dirinya di depan tubuh suaminya lalu menyadarkan kepalanya di dada Galaksi.
"Elus Mas, anak anak kamu ingin dielus Daddynya," manja Viola menarik tangan suaminya ke atas perutnya.
"Iya sayang," jawabnya.
Galaksi mulai mengelus perut buncit istrinya dengan lembut. Viola pun dapat merasakan jika anak anak yang tadinya meronta mulai tenang karena elusan suaminya.
Lama kelamaan tubuh Viola mulai merosot dengan pelan. Hingga akhirnya kepala Viola berada di tengah tengah paha Galaksi.
"Mulai nakal kamu ya," ujar Galaksi saat istrinya itu mulai menyentuh bendanya.
"Gak nakal kok Mas, aku cuma main," jawabnya menarik tangannya dan mulai memejamkan matanya seraya menikmati apa yang ada di atas wajahnya.
"Mainan kamu meresahkan," gumam Galaksi mengelus pipi lembut itu.
Hingga akhirnya Viola terlelap dengan nyamannya, tak lupa dengan tangan yang memeluk paha Galaksi.
Setelah memastikan Viola terlelap Galaksi bangun dan mulai membenarkan posisi tidur istrinya agar nyaman.
Sedangkan ia mulai berjalan menuju ruang kerjanya. Dan mulai membuka laptopnya lalu mengerjakan pekerjaan yang baru saja di kirim oleh Reno.
Bersambung
__ADS_1