
Happy reading
Drrrttt
"Sayang telepon kamu bunyi," ucap Galaksi yang saat ini berbaring dengan paha Violet yang menjadi bantal.
Walau ia sudah izin tak masuk kantor, tapi pekerjaan tetap ia kerjakan di rumah. Violet juga tak keberatan, yang penting suaminya sembuh dulu.
Viola yang sedang menonton drakor di laptopnya itu mulai meraih ponsel pintarnya.
"Ya halo Beb."
"Halo zayeng, lagi di rumah gak?"
"Astaga Beby, udah lama gak telepon. Sekali telepon nanyain rumah."
"Hehehe, gue mau ngajak lu jalan-jalan nanti malam."
"Jalan kemana? Gue gak mau kalau jauh. Lagi hamil jadi susah jalan."
"Lu tahu gak nanti malam di taman kota ada pasar malem? Nah sekalian kita double date. Mumpung suami gue masih libur."
Suami Beby adalah seorang pengacara muda yang tentu sibuk di setiap harinya. Waktu liburnya juga sangat sedikit.
"Gimana mau gak?"
Viola menatap suaminya yang sangat fokus pada layar laptopnya. Sedangkan Galaksi yang merasa dirinya tatap oleh istrinya itu mulai menghentikan pekerjaannya dan menatap kembali sang istri.
"Ada apa?" tanya Galaksi pada Viola yang sepertinya bingung.
"Gimana say, jadi lu mau gak?"
"Bentar Beb, gue tanya suami gue dulu. Siapa tahu dia mau diajak jalan."
"Oke, kalau gak berhasil. Lu rayu aja dia, kalau perlu pake jatah."
"Soalnya gue udah lama pengen ketemu lu lagi. Kita kan terakhir bertemu saat lu nikah, itupun gue harus cepat-cepat."
"Iya nanti aku usahain ya."
"Oke dah dulu, gue ada misi ama mas suami."
__ADS_1
"Hahha oke lah. Nanti kalau Mas Gala izinin, aku bakal hubungi kamu lagi nanti."
Tuttt
Akhirnya panggilan terputus, Galaksi menggenggam tangan Viola dan mengecupnya.
"Kenapa sayang?" tanya Galaksi pada Viola.
"Emmm, Mas masih ingat sama Beby? Yang dulu juga magang di perusahaan kamu. Orang yang dengan beraninya memarahi kamu setelah aku?" tanya Viola mengelus pipi sang suami.
"Emm, ya aku ingat. Aku juga masih kesal dengan perlakuannya yang dengan berani melawanku!"
"Sudahlah itu sudah lama Mas, lagipula semua itu Beby lakukan karena kamu yang udah seenaknya sama aku. Lupain aja ya," rayu nya. Viola tak mau suaminya mempunyai dendam yang tak mendasar seperti ini.
"Iya sayang."
"Tadi Beby bilang ada pacar malam di taman kota, aku mau kesana Mas. Boleh ya sama kamu juga," rengeknya dengan nada melas.
"Pasar malam?"
"Iya Mas, pasar malam. Aku mau kesana, anak anak juga pengen lihat pasar malam loh. Masa kamu gak mau ngabulin?" tanya Viola dengan sendu. Tak lupa ia mengelus perut buncitnya agar terlihat meyakinkan.
"Anak-anak atau Mommynya?" tanya Galaksi dengan lembut.
"Apa imbalan kalau aku izinin kamu pergi ke pasar malam?" tanya Galaksi dengan senyum mesumnya.
Suaminya ini tak bisa ya sedikit saja tak meminta imbalan atas apa yang ia lakukan. Dan Viola tahu imbalan yang Galaksi maksud bukanlah uang atau sejenisnya tapi jatah malam.
"Vio bakal mimpin permainan nanti malam," jawabnya dengan senyum manisnya.
"Semalam aja? Gak mau! Seminggu full baru aku mau kasih izin."
"Gak bisa di diskon apa?" tanya Viola melas.
"Ini bukan acara jual beli yang ada di toko-toko. Kalau kamu gak mau juga gak apa-apa, aku gak akan maksa. Lagian gak masalah buat aku kalau kamu gak mau. Mending malam ini kita berindehoi ria aja di kamar," jawabnya dengan senyum tipis.
"Oke aku mau, tapi Mas janji izinkan Viola buat ke pasar malam. Mas harus ikut pokoknya, kalau enggak Viola gak mau tidur sama Mas Galau," ucap Viola dengan serius.
"Heem, selagi kamu senang," jawabnya seraya mengecup perut Viola dengan lembut.
"Nanti kita jalan-jalan," bisiknya kemudian memeluk perut itu.
__ADS_1
***
Dan waktu yang ditunggu oleh Viola pun tiba, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Viola dan Galaksi sudah pamit pada orang rumah dan ternyata Clara juga sudah keluar sebelum mereka pamit. Entah bersama siapa, tapi Galaksi bisa tenang karena ada bodyguard bayangan untuk Clara.
"Sayang pakai jaketnya, aku gak mau kamu masuk angin."
"Nanti Mas, udaranya juga belum dingin banget. Viola masih mau gini," tolaknya seraya mengelus perut buncitnya.
"Gak bisa sayangku, nanti kalau kamu masuk angin. Anak-anak juga ikut sakit, aku gak mau itu sampai terjadi," ujarnya ikut mengelus perut Viola.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, Viola memakai jaket yang harganya juga tidak main main. Walau Viola tak membelinya tapi ia tahu standar Galaksi.
Mereka berjalan menuju pintu masuk pasar malam itu, Galaksi tak masalah walau banyak yang melihat dia disini. Karena nama dan wajahnya serta wajah sang itu sudah meluas sejagat internet.
"Nanti kalau dingin banget, kita langsung pulang," titah Galaksi dan dianggukkan oleh Viola.
Sedangkan Beby dan Bian yang sudah menunggu pasangan baru itu, sedikit kesal. Tapi mereka juga sadar datang terlalu awal.
"Mas jangan sibuk terus ya, nanti Beby sama siapa di rumah kalau Mas gak ada?" tanya Beby dengan sendu.
Pernikahannya baru saja terjalin 5 bulan, tapi suaminya itu sering pulang telat karena kliennya.
"Maafin Mas ya sayang, nanti kalau ada libur lagi. Mas akan ajak kamu keliling kota," ujar Bian dengan senyum manisnya.
"Beby gak minta itu Mas. Beby cuma mau Mas itu pulang lebih awal, dan sering di rumah. Jangan jam 10 11 baru pulang. Mas juga udah punya istri loh Mas," ujarnya dengan sendu.
Bian yang melihat istrinya sedih itu langsung memeluknya, ia tak tega dengan sang istri yang sudah 5 bulan ini ia nikahi.
"Gimana Beby mau hamil kalau Mas sibuk terus. Beby juga mau kayak teman teman Beby yang bisa hamil. Dan juga Beby kadang suka sedih kalau orang tua kita nanyain kapan aku hamil. Aku bingung mau jawab apa," ujarnya menahan air matanya agar tak tumpah.
Cups
"Maaf sayang, aku gak tahu. Nanti aku akan ajuin cuti untuk beberapa hari biar bisa sama kamu terus. Maaf ya sayang, bukan aku gak mau punya anak tapi aku sangat menginginkannya. Tapi saat aku pulang dan melihat tidur kamu yang nyenyak aku jadi gak tega," ujarnya memeluk tubuh sang istri yang sudah menangis.
"Beby juga salah, harusnya Beby tahu pekerjaan Mas itu susah."
"Gak kok sayang, kamu gak salah. Mas aja yang terlalu sibuk, demi kita dan kehidupan anak anak kita nanti," ujarnya dengan senyumnya. Walau hatinya ikut menangis karena ini.
Bian menghapus air mata Beby dan mengecup kedua mata itu. Bian memutuskan untuk mencari jalannya sendiri dengan menjadi pengacara, sedangkan adik adiknya meneruskan perusahaan ayahnya yang sudah berkembang sampai ke negara tetangga.
"Beby..."
__ADS_1
Bersambung