
Happy reading
Setelah pernikahan Dokter Andre dan Dokter Dina. Kedua pasangan itu juga tak mau kalah dengan Dina dan Andre, mereka sudah menyiapkan hari dimana mereka akan menikah.
Pernikahan di sebuah gedung yang sudah di sewa sebelumnya bahkan sudah persiapan Galaksi dan Reno sudah 65%.
Viola dan Aulia hanya bisa mengiyakan karena itu uang mereka. Lagian Aulia dan Viola bukan orang yang terlalu ribet soal itu.
"By, kamu tetep mau kerja?" tanya Viola pada sang kekasih yang sudah siap dengan jas yang senada dengan celananya.
"Iya sayang, aku ada meeting hari ini."
"Tapi kita mau fitting baju pengantin loh," cemberut Viola. Bukan apa-apa Viola berucap seperti ini, karena Galaksi sudah janji ingin menemaninya fitting baju pengantinnya nanti.
"Tapi meeting ini gak bisa ditinggal sayang, tolong lah. Kamu sama Aulia aja ya," lembutnya.
"Ya sudah terserah kamu, aku juga gak mau ke butik kalau gitu. Biarin aja aku pakai daster pas nikah," merujuk sudah Viola.
Wanita itu naik lagi ke atas kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Ia kesal dengan Galaksi yang tak bisa memegang omongannya sendiri.
Galaksi yang melihat pacarnya mulai merajuk itu hanya bisa menghela nafasnya kenapa Viola jadi gampang marah seperti ini.
"Sayang aku tak bisa meninggalkan meeting kali ini. Kalau kamu mau kamu boleh ikut aku ke kantor. Habis itu baru kita fitting baju ya," ajak Galaksi membuka selimut itu.
"Boleh?"
Galaksi tersenyum dan mengangguk. Dengan cepat Viola berlari menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Kemarin ia sudah membeli banyak dress yang ukurannya lebih besar daripada sebelumnya jadi tak riweh lagi.
Tak sampai 10 menit, Viola sudah keluar dari kamar mandi. Ia mengambil bedak dan lip tin lalu memasukannya dalam tas kecilnya.
"Yuk."
Galaksi memeluk erat pinggang Viola untuk turun ke bawah. Mereka memang menginap di apartemen untuk beberapa hari sebelum pernikahan.
"Mau selai apa yank?" tanya Galaksi.
"Sama kayak kamu," jawabnya duduk dipangkuan Galaksi.
Galaksi mengoleskan selai cokelat itu ke dua roti yang akan menjadi makan pagi mereka.
"Makasih," ucap Viola mengecup rahang Galaksi.
"Sama-sama cantik," jawabnya membelit perut Viola dengan satu tangan. Takut nanti jatuh.
Mereka memakan sarapan mereka dengan diam, Viola yang sudah terlebih dahulu selesai itu mengambil air putih dan meminumnya.
"Turun sayang, aku mau berangkat," ucapnya dengan lembut mengelus rambut Viola. Viola yang tak mau turun itu malah memeluk erat leher sang pacar.
__ADS_1
Dengan terpaksa Galaksi menggendong tubuh Viola menuju mobil, untung saja tubuhnya sudah kembali seperti semula. Jadi jika hanya menggendong tubuh Viola sampai mobil itu sudah biasa.
Setelah sampai mobil, Galaksi melakukan mobil itu menuju perusahaan. Dalam perjalanan Viola tak ada hentinya mengagumi wajah tampan sang pacar yang sedang fokus menyetir mobil itu ia berharap anaknya nanti bisa setampan Galaksi.
Galaksi yang merasa dirinya perhatikan itu hanya tersenyum seperti biasa, entah ini cuma perasaannya saja atau memang iya. Pacarnya itu aneh dari kemarin.
"Hidungnya boleh buat aku gak sih By?" tanya Violet memegang hidung mancung Galaksi.
"Ambil aja kalau mau, biar aku gak punya hidung!"
"Tukeran deh sama hidungku," jawabnya.
Galaksi memegang tangan pacarnya dan mengecupnya.
"Hidung kamu itu udah mancung dari samanya. Jadi gak perlu minta punyaku," ucapnya mengecup singkat hidung Viola.
Viola yang di perlakukan sabar oleh galaksi itu memeluk lengan Galaksi. Ia sadar ia akhir akhir ini bersikap aneh tapi baginya itu biasa karena ingin dimanjakan saja oleh Galaksi.
"Aku kenapa ya?" tanyanya dalam hati.
Sampainya mereka di kantor, Galaksi menggandeng tangan Viola memasuki kantor besar itu. Mereka berjalan menuju lift khusus pemimpin perusahaan sedangkan karyawan lain bisa pakai lift yang satunya.
"Peluk," manja Viola saat mereka sudah ada di dalam lift itu. Galaksi memeluk tubuh pacarnya dengan satu tangan sedangkan tangan satunya ada di saku celana.
Ting
"Janji aku gak akan lama kok," ucapnya mengecup kening Viola.
"Hmmm."
Galaksi keluar menuju ruang meeting sedangkan Viola duduk di kursi kebesaran Galaksi dan membuka laptop prianya.
"Astaga kenapa dia pakai wallpaper fotoku sih, seksi lagi ahh gak salah dah aku pilih laki," gumamnya. Kemudian dengan jahilnya, Viola mengirim fotonya yang lebih seksi lalu mengganti wallpaper itu.
"So hot baby," gumamnya terkikik geli melihat fotonya yang hanya memakai baju tipis berwarna hitam tanpa CD ataupun bra, hingga membuat asetnya terlihat.
Merasa bosan menunggu wanita 21 tahun itu mulai menonton drakor yang sudah ia download berberapa bulan lalu di laptop itu. Untung saja Galaksi belum menghapusnya hingga ia bisa melihat sekarang.
"Astaga pake ada adegan ranjangnya lagi, gimana nih terusin atau skip. Lanjutin aja mumpung Galaksi gak ada," gumamnya melanjutkan drakornya.
"Suaranya bikin gue gimana aja deh," gumamnya.
"Jadi panen kiss lan gue," batinnya menatap adegan kiss yang sangat panas itu.
Tak lama Galaksi kembali ke ruangan itu, Viola yang melihat sang pacar itu tak bisa menganggurkannya.
Viola bangkit dan mencium bibir pacarnya dengan lembut tapi juga sangat menuntut. Galaksi yang mendapat serangan dari sang kekasih itu hanya bisa menerima dengan senang hati. Galaksi menarik tubuh sang pacar agar duduk dipangkuan nya.
__ADS_1
"Pantas saja pacarnya menjadi agresif seperti ini," batin Galaksi menatap laptopnya yang menyala dan memperlihatkan adegan ranjang yang sangat hot itu.
Jika begini bukan hanya Viola yang tak tahan dia pun jadi tak tahan untuk memakan sang kekasih.
"Jadi ke butik apa tidak?" tanya Galaksi mematikan laptop itu.
"Jadi dong," jawabnya dengan semangat.
Mereka pun keluar dari ruangan itu dan lagi lagi menyerahkan pekerjaannya pada Reno, untung calon suami Aulia itu sudah memiliki asisten jadi ia tak keteteran.
Aditama Satya adalah sepupu jauh Aulia yang bekerja sebagai asisten Reno, berasal dari keluarga yang kurang mampu hingga mendapat pekerjaan ini membuat mereka bahagia.
Viola dan Galaksi sudah sampai di butik ternama di kota itu, butik rekomendasi dari Mama Audi. Mereka masuk ke dalam butik itu.
"Selamat siang Tuan, Nona ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pegawai butik dengan ramah.
"Saya mau ketemu dengan pemilik butik ini," jawabnya datar.
"Atas nama siapa Tuan?" tanyanya lagi.
"Galaksi," jawabnya tetap mempertahankan wajah datarnya.
Pegawai itu mengangguk dan menelepon atasannya jika ada tamu bernama Galaksi.
"Baik Tuan, Anda dan Nona disuruh langsung menemui beliau di lantai atas," jawabnya dengan ramah.
Mereka mengangguk dan berjalan menuju lantai atas butik itu.
"Jangan datar gitu wajahnya, nanti tampannya hilang loh," ujarnya mengecup rahang pacarnya.
"Udah kefilter gitu yang," jawabnya dengan senyum manis.
"Haiiss terserah kamu lah," jawabnya dengan kesal. Ia tak suka wajah datar pria ini, apakah jika berkata dingin. Ingin sekali ia mengganti raut wajah itu.
Sampainya mereka di lantai atas ternyata sudah ada Mama Audi disana berbincang dengan teman lamanya. Mereka mulai mencoba baju yang sangat indah itu pada tubuh masing masing.
Teman Mama Audi, Mama Audi, dan Galaksi tak henti hentinya mengagumi penampilan Violet yang sangat cantik itu. Aura kelembutan itu terpancar dari gaun berwarna putih itu.
"Cantik sekali, tinggal memberi sedikit ornamen lagi dan kamu akan sangat sangat cantik," ucap teman mama Audi.
Viola tersenyum dan mengucapkan terima kasih, ia juga suka gaun ini. Sangat indah dan elegan di pakai. Viola juga tahu harganya tak main main untuk satu gaun ini.
Cups
"Sangat cantik," bisik Galaksi memeluk perut pacarnya. Galaksi juga sudah memakai stelan yang senada dengan gaun itu hingga mereka terlihat sangat serasi.
Bersambung
__ADS_1
Loncat ke pernikahan atau perlu dilamain nih nikahnya?