
Happy reading
Tak terasa hari sudah pagi, Viola yang terbangun dahulu itu merasa berat di perutnya, dan ia tahu apa penyebabnya.
"Kenapa sih kamu ganteng banget? Dan kenapa juga aku tak bisa membencimu? Mungkin jika orang lain tahu apa yang telah terjadi pada kita mereka akan bilang aku bodoh karena sudah memaafkanmu. Apa cintaku padamu terlalu besar ya sampai aku tak bisa membenci pria yang sudah dua kali menyetubu*iku?" tanyanya menyingkirkan rambut yang menutupi mata Galaksi.
Galaksi yang sudah terbangun tapi belum membuka matanya itu merasa sakit di ulu hatinya. Ia sadar ia terlalu dalam menyakiti kekasihnya ini tapi dengan lapang dada Viola memaafkannya.
"Intinya aku mencintaimu Galaksi," lanjutnya mengecup kening pacarnya dengan sayang.
Viola tak pernah diajari mendendam oleh orang tuanya hingga Viola tumbuh dengan hati yang lulus. Apalagi Galaksi adalah orang yang paling ia cintai, Viola juga tak menyalahkan Galaksi karena saat itu pria ini belum ingat.
Galaksi pura pura mengeliat dan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah kekasihnya yang dari dulu tak pernah berubah tetap saja cantik.
"Pagi cantik," Suara serak Galaksi mampu membuat Viola gimana gitu, apa lagi wajahnya yang tetap tampan itu.
"Udah bangun hmm, gimana tidurnya?" tanya Viola tersenyum.
"Nyenyak banget," jawabnya dengan senyum manis.
Galaksi yang sudah biasa tidur dengan Viola itu langsung memeluk tubuh Viola dengan manja jangan lupakan kepalanya yang diletakkan di dada empuk itu.
"Berasa jadi bantal ya?" tanya Viola mengelus rambut Galaksi.
"Empuk sih, lebih empuk dari bantal," jawabnya.
Viola hanya tertawa mendengarnya, tak heran kenapa Galaksi bersikap seperti ini. Ia justru tak percaya jika Galaksi tak bermanja seperti ini berarti ingatan Galaksi belum kembali.
Setelah berberapa lama dalam posisi mereka yang sangat nyaman. Viola dan Galaksi bangun dari tidurnya. Viola berjalan menuju kamar mandi sedangkan Galaksi masih diam diatas kasur.
"Kalau mau mandi aku udah siapin air hangat untuk kamu."
Viola mendekat kearah Galaksi dan memegang kening kekasihnya.
"Syukurlah udah gak panas."
"Kamu bener mau tinggal di rumah Reno? Kamu gak mau selingkuhkan yank? Kamu gak menjalin hubungan sama Reno kan di belakang aku?" tanyanya dengan curiga.
__ADS_1
Viola yang merasa dituduh itu menatap Galaksi dan menyentil kening mulus itu sedikit keras.
"Kalau ngomong gak bisa difilter ya, emang aku deket sama Kak Reno tapi aku gak pernah ada niatan untuk selingkuh. Lagian kak Reno udah punya calon sendiri, By. Lagian mana ada cowok yang mau sama cewek yang udah gak bersegel!"
"Maaf sayang, Aku gak ada niatan buat judul kamu. Aku hanya takut kamu pergi setelah apa yang aku lakukan padamu," ucapnya memegang tangan Viola dan mengecupnya.
"Aku gak akan melakukan itu, By. Aku udah terlanjur cinta sama kamu. Jadi stop berfikir yang tidak tidak."
"Oke."
"Sekarang kamu mandi, aku mau masak dulu buat kita. Habis itu baru aku ke rumah sakit lagi," perintahnya yang langsung diangguki oleh Galaksi.
Galaksi berlalu menuju kamar mandi sedangkan Viola berlalu menuju dapur untuk membuat sarapan.
Viola hanya membuat masakan sederhana untuk pacarnya yaitu sandwich komplit dengan udang goreng di dalamnya.
Setelah selesai menyiapkan makanan itu Viola kembali ke kamar dan mengambil pakaiannya untuk dibawa ke rumah sakit. Tapi ia dibuat menggeleng saat pakaian Galaksi yang tak tertata rapi disana.
"Belum jadi suami aja udah bikin geleng kepala. Apalagi nanti kalau udah nikah, pasti manjanya bertambah dua kali lipat," gumamnya merapikan pakaian itu. Viola juga mengambil pakaian kantor Galaksi plus dengan dalaman.
Galaksi yang sudah keluar dari kamar mandiin tu dibuat kagum dengan pacarnya yang menyiapkan pakaian untuknya itu. Entah bagaimana orang tua Viola dulu mendidik wanitanya hingga menjadi wanita cerdas dengan segala kesempurnaannya itu.
"Dingin By, pakai bajum," perintahnya dan diangguki oleh Galaksi.
Galaksi memakai pakaiannya sedangkan Viola kembali merapikan pakaian di lemari besarnya.
"Lain kali jangan berantakan ya kalau taruh baju," ucap Viola dan diangguki patuh oleh Galaksi.
"Kamu boleh kok tinggal disini, karena ini juga apartemen kamu."
"Ini apartemen kamu, aku hanya numpang!"
Viola hanya mengangguk, wanita itu mengajak Galaksi untuk sarapan bersama dengan membawa tas ransel miliknya.
"Kamu udah lama gak potong rambut kan, nanti dipotong ya biar rapi. Kantung mata kamu juga sudah menghitam pasti kamu kurang tidur!"
"Aku gak bisa tidur karena mikirin kamu yank, aku juga kurang makan karena mikirin kamu yang gak aku tahu dimana. Aku juga kurang ngerawat diri karena tak sempat," jawabnya dengan sedih.
__ADS_1
Mendengar jawaban Galaksi, rasa tak enak itu muncul pada diri Viola. Jadi ia penyebab pacarnya seperti ini.
"Tapi kamu lebih tampan jika rapi By," ucapnya memberikan sandwich pada Galaksi.
"Aku tahu, makanya kamu cinta banget sama aku," percaya diri sekali bapak ini.
Setelah menghabiskan sarapan, mereka berlalu menuju rumah sakit, karena Reno juga sudah menelepon Viola untuk segera ke rumah sakit sebelum Ibu Lana bangun.
Walau tadi Galaksi sempat tak terima saat Viola membawa pakaian di dalam ranselnya.
Sampainya di rumah sakit, Viola dan Galaksi masuk ke dalam ruangan Ibu Lana ternyata Ibu Lana sudah bangun dan mengamuk mencari Viola yang dianggap Tiara.
"Tiara," teriak Ibu Lana langsung memeluk tubuh Viola.
"Ibu kenapa langsung loncat, nanti kalau sakit gimana?"
"Kamu tinggalin Ibu lagi," ujarnya dengan sedih.
"Tiara cuma keluar sebentar kok Bu, sekarang kita pulang ya. Tiara akan jagain Ibu," ajaknya yang membuat mereka tersenyum senang. Pasalnya sedari bangun Ibu Lana langsung histeris mencari Viola hingga membuat Reno dan Ayah Sandi kewalahan.
"Aku bisa melihat tatapan kasih sayang itu tulus. Apa memang Viola adalah adik Reno?" tanya Galaksi dalam hati menatap pacarnya yang menenangkan Ibu Lana.
Reno dan Galaksi ke kantor sedangkan Ayah Sandi, Viola, dan Ibu Lana kembali ke rumah mereka. Ayah Sandi sudah mengeluarkan istrinya dari rumah sakit jiwa karena menurutnya, istrinya akan lebih baik jika bersama Viola di rumah.
"Ibu."
"Hmm."
"Ingat gak sama laki-laki di samping Ibu?" tanya Viola menatap Ayah Sandi.
"Ingat, dia Sandi. Suami Ibu, ayah dari Tiara dan Reno."
"Syukurlah jika ibu ingat, nanti Tiara gak bisa tidur sama Ibu ya. Karena ibu harus tidur sama Ayah Sandi. Gak kayak di rumah sakit," dengan lembut Viola berucap dan mengelus tangan Ibu Lana.
"Iya."
Bukan tanpa sebab Viola berucap demikian, gadis itu mendapat curahan hati dari Reno saat ayahnya selalu menangis dimalam hari karena rindu istrinya. Oleh sebab itu, ia berinisiatif untuk membuat mereka bersama.
__ADS_1
Bersambung