Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Bodoh


__ADS_3

Happy reading


"Papa," ucap Galaksi menatap sang Papa yang hanya tersenyum tipis.


"Bibi sudah bahagia di sisinya," ujar Papa Bara duduk di kursinya.


"Kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu pernah operasi?" tanya Mama Audi dengan kesal, selama 28 tahun menikah ia tak mengetahui jika suaminya pernah mempunyai kanker.


"Itu sudah lama sayang, aku masih kecil. Bahkan aku sudah lupa bagaimana wajah Bibi Caramel," jawabnya dengan jujur.


"Tapi kamu gak menyimpan dendam kan?" tanya Mama Audi memberikan piring yang sudah ia isi dengan nasi dan lauk untuk suaminya.


"Makasih," ucapnya dan diangguki oleh Mama Audi.


Tak jauh beda dengan Viola yang mengambilkan makanan untuk suaminya. Tapi bukannya menerima Galaksi minta disuapi.


"Dasar manja," cibir Clara menatap kakaknya yang sudah bucin pada Viola.


"Iri, cari cowok sana," jawab Galaksi dengan ketus.


"Dih, Clara masih kecil. Nanti aja kalau Clara sudah besar pasti akan cari yang kayak Papa dan Opa."


Mereka yang mendengar itu hanya tersenyum, bagi mereka Clara tetap putri kesayangan mereka. Begitupun dengan Viola, wanita hamil itu juga selalu menyayangi dan memperlakukan Clara dengan lembut selayaknya adik.


"Kamu selesaikan ujian kamu itu, habis itu baru deh mikirin dimana kuliah dan baru nikah."


"Kakak tahu aja."


Semenjak ada Viola, Clara juga semakin berani melawan orang yang membully dan merendahkannya. Di sekolah juga tak banyak yang tahu jika dia adalah putri satu satunya keluarga Ryano. Mungkin yang tahu hanya anak seangkatan saja.


"Sayang ayamnya," rengek Galaksi menujuk ayam yang ada di sana.


"Ada Oma dan Opa, malu ih jangan manja gini," bisiknya seraya menyuapkan ayam goreng itu pada suaminya.


"Kalau gak ada Oma dan Opa boleh aku manja?" tanya Galaksi dengan genit. Jangan lupakan kedipan matanya yang membuat orang yang ada disana mual.


"Ini bukan Galaksi, kenapa cucu kebanggaanku jadi seperti ini?" tanya Oma dan Opa dalam hati.


"Fiks cucu kita udah ketukar di pasar dulu itu," bisik Oma pada suaminya.

__ADS_1


"Sepertinya seperti itu," ucapnya dengan mengangguk.


Mereka menghabiskan sarapan mereka dengan lahap, Viola tak memakan sarapannya karena tadi sudah makan nasi goreng yang ada di pinggir jalan. Entah kenapa itu penjual nasi goreng suatu jualan jam segini.


"Dihabiskan susunya," ucap Galaksi setelah selagi makan. Ia menatap istrinya dengan lembut.


"Iya, tapi yang bawah kamu ya," ujarnya dan diangguki oleh Galaksi. Padahal susu yang bagian bawah itu banyak gizinya, tapi kenapa istrinya itu tak mau meminumnya.


Viola meminum susu hamil itu anak menyisakan sedikit yang kental di bawah itu. Kini giliran Galaksi yang menghabiskan sisa susu sang istri.


"Sayang aku ke kamar dulu ya, ada kerjaan yang harus aku kerjain," ucap Galaksi pada istrinya.


"Mau aku bantuin?" tanya Viola yang tak mau suaminya terlalu capek bekerja.


Karena tadi malam ia sudah menyusahkan suaminya untuk membuat mie ayam dan pagi harinya ia menyusakan suaminya untuk mencarikan tukang nasi goreng sebelum pulang.


"Gak usah sayang kamu boleh kok ngobrol sama Mama, Oma, dan Clara. Mas cuma selesaikan sedikit pekerjaan aja kok," jawabnya mengelus rambut sang istri.


"Oke nanti Vio nyusul," ujarnya dengan senyum.


Galaksi mengangguk, pria itu naik ke kamarnya sedangkan Viola ikut bergabung dengan para orang tua disana, entah mengobrol apa ia juga tak paham jadi hanya menyimak.


***


"Kamu kok keluar kamar sih sayang? Kan masih lemes, nanti terjadi apa-apa sama kamu dan anak anak gimana?" tanyanya dengan khawatir.


"Aku bosen yank, Ibu sama Ayah kapan pulang dari Surabaya? Aku udah kangen banget nih," ucapnya dengan nada merengek.


Reno yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya, pasalnya orang tuanya belum ada kabar ingin pulang kapan.


"Yang sabar ya, Ibu sama Ayah belum ada kabar sayang. Mungkin mereka masih menikmati waktu yang terbuang dulu. Disana tempat lahir Ayah dan Ibu jadi bisa lebih tenang," jawabnya seraya mengelus rambut saja istri.


Sedangkan Aulia cemberut, wanita itu membaringkan tubuhnya di karpet itu dengan paha sang suami menjadi bantal.


"Sebentar aku ambil bantal dulu biar kepala kamu gak sakit," ucapnya mengambil bantal sifat dan meletakkan di pahanya.


"Kamu benar udah gak apa-apa?" tanya Reno merayakan melanjutkan pekerjaannya.


"Udah Mas, aku juga udah minta tugas aku di jam 9 sampai jam 4 sore aja. Dan alhamdulillahnya langsung disetujui oleh pihak rumah sakit," ucapnya dengan senyum.

__ADS_1


Reno yang melihat istrinya bahagia ikut tersenyum. Hal itu tak lepas dari tangannya yang meminta untuk tugas Aulia dikurangi. Pihak rumah sakit yang tahi sikap reno itu hanya bisa mengabulkan keinginan pria itu.


"Yank, anak kamu minta dielus," ucapnya dengan mata terpejam.


Reno yang mendengar itu langsung mengelus perut istrinya dengan lembut. Pria itu juga memutar lagu slow agar istrinya tenang dan terlelap. Sukur sukur kalau Aulia lupa jika ia masih harus bekerja.


"Kerjaan kamu banyak banget ya, sampai di kerjain di rumah?" tanya Aulia pada suaminya.


Biasanya di waktu weekend seperti ini bisa bersantai di rumah bersama keluarga. Bukannya malah kerja. kadang Aulia juga menutupi nasibnya saat ini, disaat weekend ia juga harus masuk kerja.


"Banyak sayang, walau sudah adalah Satya yang ikut mengurusnya," jawab Reno.


"Tapi ini weekend loh, kenapa Galaksi gak cari sekretaris sendiri aja. Kenapa harus menjadikan kamu asisten sekaligus sekretaris?" tanya Aulia menggenggam tangan yang mengelus perutnya tadi.


"Setelah Viola selesai magang sebagai sekretaris Galaksi saat itu, dia sudah tak banyak percaya pada orang luar. Galaksi mengangkat aku sebagai sekretaris yang menggantikan Viola sekaligus asistennya. Padahal aku sudah bilang pada Viola untuk mencarikan sekretaris untuk Galaksi, laki laki juga tak apa tapi belum juga ada respon," jawab Reno mengecup tangan istrinya.


Aulia mengangguk, ia mulai bangkit dan memeluk suaminya dari belakang kemudian menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.


"Kenapa gini?" tanya Reno pada sang istri. Lebih baik kan peluknya dari depan biar ia bmjyga bisa menikmati wajah cantik Aulia.


"Gak apa-apa pengen aja kayak gini," jawabnya menelusupkan tangannya ke dalam baju Reno.


Aulia mulai mengelus perut kotak kotak milik Reno sesekali ia cubit.


"Sudah sayang, nanti aku khilaf gimana?" tanya Reno.


Sebenarnya boleh boleh saja mereka melakukan hubungan suami-istri tapi dokter menyarankan untuk jangan sering dulu karena kandungan Aulia masih sangat lemah dan rentan keguguran.


"Ya kita main lah," jawabnya santai jangan lupakan cengiran khas Aulia yang tak bisa dilihat Reno.


"Kandungan kamu masih lemah sayang, aku gak mau anak kita kenapa napa," ucapnya meraih tangan istrinya yang ingin mengelus bawah sana.


Akhirnya Aulia berhenti, wanita itu mulai bangkit hingga membuat Reno heran.


"Mau kemana?" tanya Reno pada istrinya.


"Kamar, mandi dan berangkat kerja," jawabnya dengan malas.


Reno yang mendengar itu hanya bisa terdiam, harusnya tadi ia membiarkan apa yang dilakukan istrinya. Lihat sekarang, niatnya tak ingin membuat istrinya capek malah akan berangkat kerja yang otomatis akan capek juga.

__ADS_1


"Bodoh banget gue," batin Reno.


Bersambung


__ADS_2