Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Telinga Clara Ternoda


__ADS_3

Happy reading


"Thank's boy."


"Kok boy? Gimana nanti kalau anak kita cewek?" tanya Viola dengan sedih. Bagaimana nanti nasib anaknya jika tahu mereka ada sebelum kedua orang tuanya menikah.


"Aku yakin jika kedua jagoan kita adalah laki-laki. Tapi kalau perempuan juga gak apa-apa, ini rezeki buat kita," ujarnya mengelus perut sang istri.


Sebenarnya Galaksi juga sedih jika nanti tak bisa menjadi wali sang putri. Ia takut bagaimana sedihnya saat putrinya nanti saat akan menikah.


"Percayalah semua akan baik baik saja," ujar Galaksi memeluk tubuh sang istri dengan lembut.


"Hmmm, aku mau pulang dulu," ucap Viola pada sang suami.


"Katanya ingin sama aku kerja, kalau gini aku gak bisa antar kamu sayang. Aku masih ada kerjaan," ujar Galaksi melepas pelukan itu.


"Kan aku bisa pakai taksi Mas, atau enggak aku pakai mobil kamu aja. Dan nanti aku suruh supir buat jemput kamu," ujarnya dengan lembut.


Wanita itu merapikan jas suaminya yang sempat lungset karenanya tadi.


"Gak bisa, kau lagi hamil kalau kenapa napa di jalan gimana? Kalau ada orang yang berniat nyulik kamu gimana? Sekarang kamu bukan lagi anak gadis yang dulu aku pacar, kamu adalah istri dari Galaksi Ryano. Banyak orang yang berniat jahat pada keluarga kita sayang."


"Aku akan telepon supir pribadi aku buat jemput kamu, dia orang yang aku percaya buat jemput kamu."


"Ya sudah aku manut aja, tapi aku tiba-tiba pengen martabak manis Mas."


"Martabak? Kamu mau makanan itu?" tanya Galaksi pada sang Viola.


"Heem."


Galaksi menelepon salah satu bodyguard yang selalu ada dimanapun Viola ada untuk membelikan martabak pandan dengan toping komplit.


"Kamu tunggu sebentar ya sayang, gak lama kok martabatnya datang," ujarnya mengelus perut Viola dengan lembut.


Viola mengangguk, Viola menurut diajak sang suami untuk duduk dipangkuan Galaksi kembali. Dengan posisi yang saling berhadapan


Cups


"Kenapa kamu semakin menggoda sih hah? Badan kamu juga makin menggoda, gimana aku bisa tahan kalau begini?" batin Galaksi frustasi.


Bendanya yang tadi sempat bangun kini bangun lagi karena berpapasan dengan sar**** sang istri yang ada di atasnya.


"Mas pengen!"


"Gak salah kamu minta hmmm? Ini masih di kantor loh. Kamu bilang gak mau ehem di kantor?" tanya Galaksi menggoda sang istri.

__ADS_1


"Tapi aku pengen posisinya gini Mas, ayolah mau ya?" rengek Viola dengan manja.


"Tapi kerjaan aku banyak loh yank," ujar Galaksi masih mencoba menolak sang istri agar berhubungan, bukan ia tak mau tapi Galaksi tak mau membuat sang istri kecapekan.


"Mas mah," cemberut Viola dengan mata berkaca kaca.


"Kalau kamu kelelahan gimana?" tanya Galaksi mengelus punggung Viola yang terasa panas menahan tangis.


"Aku gak akan capek kok hiks."


Satu bulir air mata Viola jatuh hingga membuat Galaksi tak tega. Ia langsung menghentikan tangisan sang istri dengan lembut.


"Mass..."


"Ya sudah, tapi jangan nangis Mas gak mau kamu nangis cuma gara gara ini ya," ujarnya dengan senyum. Viola yang mendengar itu langsung menghapus air matanya dengan cepat.


"Heem."


Dan akhirnya di jam siang itu, Viola dan Galaksi melakukan hubungan suami istri sebelum Violet pulang. Viola yang tiba tiba menginginkan hal hal yang random seperti ini membuat Galaksi kadang senang dihadang juga kesal.


"Mas, kenapa gak bolehin aku turun kan udah?" tanya Viola menatap suaminya yang ada dibawahnya.


"Biar dia puas dulu sayang, lagipula martabak kamu belum datang kan," ujarnya menggoyangkan sedikit pinggul Viola.


"Masshhh ahh sepertinya ah emm anak-anak kita menyukainya," bisiknya seraya membuat tanda di leher Galaksi dengan sensual.


"Mommynya juga menikmatinya kan?"


"Heemm."


Viola mencengkeram kursi itu saat benda milik suaminya semakin dalam tertanam. Tapi ia juga menikmati semua ini.


Drrtttt


"Ada telepon Mas," ucapnya disela-sela desahhannya.


"Angkat aja sayang, siapa tahu penting," jawab Galaksi dengan lembut. Pria itu terus menghujam sang istri dari bawah sana.


Viola mulai mengambil ponselnya yang ada ditas dan ternyata itu adalah Clara. Entah kenapa Clara meneleponnya siang siang begini.


"Clara Mas ahh," ucapnya memberi tahu sang suami.


"Angkat aja, tapi jangan keluarkan suara indahmu ini," jawabnya.


Viola mengangguk, wanita itu mengangkat panggilan dari adik iparnya yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Halo kakak dimana?" tanya Clara dari seberang.


"Ka-kakak ada di perusahaan kakak kamu dek. Kenapa?" tanya Viola seraya menahan suara laknatnya dengan membekap bibir sang suami.


"Oalah kenapa gak ajak Clara sih? Clara juga pengen ikut kakak ke kantor," ujar Clara seolah merujuk.


"Kakak juga emmhh mau pulang kok dek," ucapnya menatap suaminya yang baru saja meremmas ******nya


"Kakak kenapa?" tanya Clara mulai curiga dengan sang kakak.


"Gak apa-apa dek, udah dulu ya kakak sibuk," ucapnya meletakkan ponselnya begitu saja dan melanjutkan apa yang mereka lakukan.


Tanpa sadar jika panggilan tadi masih tersambung dengan Clara. Clara yang mendengar suara-suara aneh itu langsung mengumpat dan mematikan ponselnya. Ok astaga kalian membuat telinga Clara ternodai.


Mereka melakukan hubungan itu hingga akhirnya lava Galaksi keluar membasahi rahim Viola dengan hangat. Ia terpaksa melakukan itu agar tak mengotori dress sang istri atau pakaian mereka.


Lagipula dokter juga tak mempermasalahkan, selagi tak terlalu sering.


" Mas capek."


Galaksi mengangkat tubuh sang istri keatas meja hingga membuat pernyatuan mereka terlepas.


Galaksi membersihkan miliknya dan milik sang istri dengan tisu yang ada disana. Galaksi juga memakaikan kembali segitiga berwarna biru milik istrinya itu.


"Terima kasih," ujarnya memeluk leher sang suami.


"Mau tidur dulu sayang? Biar aku hilang sama supir biar nunggu sebentar lagi," ujarnya dan dijawab gelengan oleh Viola.


"Aku mau nunggu martabak habis itu langsung pulang," jawabnya turun dari meja dan mengambil minuman yang ada disana. Haus rasanya bermain seperti tadi padahal tak sampai 1 jam.


Tak lama martabak Viola datang, mereka menikmati makan siang dengan martabak manis itu. Viola yang terlihat lahap membuat Galaksi menghentikan makannya walau masih satu suap. Ia tak mau istrinya kekurangan karenanya.


"Anak-anak yang laper apa kamu yank? Lahap banget makannya?" tanya Galaksi meminum jus kotak itu dengan tatapan yang mengarah ke Viola.


"Dua duanya, aku kan ngundang dua anak jadi harus makan banyak," jawabnya dengan senyum.


Galaksi yang mendengar itu hanya bisa menggeleng pelan, semakin hari ada saja yang dijadikan alasan. Dan hal itu menyangkut anak-anaknya.


"Ya sudah di habiskan ya," ucapnya dan dianggukkan oleh Viola.


Wanita itu tak malu dengan sang suami jika tak sadar, tapi kadang ia juga insecure jika mengingat betapa rakusnya ia sekarang.


Bersambung


Hai hai, mampir ke novel teman Tya yuk judulnya Aku Mafia Bukan Bidadari , karya Indah Wulandari

__ADS_1



__ADS_2