Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Daster


__ADS_3

Happy reading


Saat ini Viola dan Galaksi sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Sangat santai jika Viola hanya memakai tanktop dan hotpants saja sedangkan Galaksi hanya memakai kolor berwarna hitam.


"Lapar," rengek Viola mengelus perutnya.


"Tunggu aja sebentar," jawabnya ikut mengelus perut Viola dengan lembut.


Deg


"Kenapa perut Viola sedikit menonjol ya?" batin Galaksi memperhatikan perut Viola lagi.


"Aku sekarang banyak makan jadi lemaknya nimbun di perut. Malas olah raga juga akunya," jawab Viola seolah tahu apa yang dipikirkan Galaksi.


Galaksi hanya menggeleng mendengar jawaban itu seolah Viola tahu apa yang ada dipikirannya.


"Kamu tunggu sini, bir aku yang ambil," ucap Galaksi menurunkan Viola ke kasur dan membuka pintu kamar itu.


Tak lama Galaksi datang dengan makanan mereka ditangannya. Viola yang melihat ayam bakar itu seketika berselera untuk makan banyak.


"By suapin ya," ucap Viola pada Galaksi yang mengangguk.


Viola dan Galaksi dengan lahap memakan makanan itu, apalagi bumbu yang meresap dalam ayam itu membuat wanita itu seakan tak pernah puas.


"Enak banget deh," ucap Viola memakan paha ayam itu dengan lahap.


"Pelan pelan sayang aku gak akan ambil kok," ucap Galaksi menghapus sisa bumbu di sudut bibir Viola.


Viola hanya tersenyum, ia melanjutkan makannya dengan cara yang lebih lembut daripada tadi.


Setelah selesai makan mereka menikmati buat yang juga disiapkan tadi. Dengan Viola yang kembali ke pangkuan Galaksi.


"Ponsel kamu mana By?" tanya Viola pada Galaksi.


Galaksi mengambil ponselnya yang ada di nakas lalu memberikannya pada Viola.


"Sayang, main yok. Udah halal loh," ujar Galaksi pada menatap lembut wanitanya yang asik pada ponsel itu.


"Main apa? Aku juga lain main game ini," jawabnya dengan tenang.


Galaksi tak menjawab tapi pria itu menggigit leher Viola hingga memperlihatkan bekas gigitan itu.

__ADS_1


"Kalau buat jangan di leher, nanti aku pakai gaun kelihatan loh!!"


"Kalau gitu di dada aja," jawabnya dengan paksa membuka tanktop Viola.


Galaksi yang melihat dada empuk sang istri itu hanya menelan ludahnya. Sudah berapa bulan ia tak merasakan dada ini. Kenapa jadi sangat besar seperti ini?


"Tahan dulu sampai malam nanti!! Siang ini kamu cuma boleh nen aja," ujarnya dengan lembut.


Dengan semangat Galaksi memasukkan satu buah itu ke mulutnya sedangkan tangan satunya merem as dada sebelahnya.


"Jangan kenceng kenceng deh ngilu," ucapnya dengan kesal.


Akhirnya di siang itu Galaksi menjadi bayi besar lagi untuk Viola. Viola yang merasakan nikmat yang sangat itu mulai menahan suara suara yang dapat membangkitkan gairah Galaksi supaya tak memasukinya.


Sedangkan di kamar lain, Reno yang kini tidur di pangkuan Aulia itu mulai menelusupkan kepalanya di perut rata wanitanya.


Kini Reno juga tahu pakaian yang di sukai Aulia saat di rumah. Yaitu memakai daster, katanya baju paling nyaman saat istirahat ya cuma daster. Dan Reno menyukainya penampilan Aulia yang sederhana seperti ini. Apalagi dada yang tak tertutup apapun itu tampak lebih menantang jika terlihat.


"Yank gak tahan nih, sekarang aja yok," ajak Reno memegang dada Aulia yang sangat pas di tangannya itu.


"Nanti masih ada resepsi loh, aku janji nanti malam kita begituan ya."


Aulia yang melihat suaminya tampak lesu itu mulai mengelus rambut tebal suaminya. Bukan ia tak mau tapi ia tak mau kelelahan karena nanti masih ada resepsi


"Daripada bete di kamar, kita jalan jalan yuk Ren," ajak Aulia.


"Ren Ran Ren, aku ini suami kamu loh. Panggil yang lebih romantis gitu napa sih?" tanya Reno sedikit kesal. Mungkin ini efek dari tak dapat jatah setelah menikah.


"Oke kamu mau dipanggil apa?" tanya Aulia masih berusaha memahami isi hati suaminya ini.


"Sayang! Aku mau dipanggil sayang, di depan aku ataupun di depan semua orang," jawabnya dengan memeluk perut Aulia.


"Ya sudah kalau gitu, sayang yuk jalan jalan aja," ajaknya dengan lembut.


"Yakin mau jalan dengan daster ini?" tanya Reno memasukkan satu tangannya ke dalam baju Aulia.


"Kenapa enggak! Malu ya punya istri yang pake daster?" tanya Aulia dan dijawab gelengan oleh Reno.


"Badan kamu kecetak jelas kalau pakai daster ini, lihat saja dan kamu. Mau pamer hmmm?" tanyanya seraya meremass dada Aulia hingga membuat wanita itu spontan mencubit perut Reno.


"Ya aku ganti banjur deh," jawabnya bangun dari duduknya dan mencari pakaiannya di tas dan ia menemukan daster yang harganya sedikit mahal karena bahannya yang sangat jarang digunakan untuk daster.

__ADS_1


Aulia masuk kedalam kamar mandi dan memakai pakaiannya tak lupa sabuk kecil yang ia pakai agar terlihat seperti dress. Aulia memandang tubuhnya dari cermin itu dan tersenyum.


"Pembuktian kalau Reno cinta sama gue bukan cuma karena wajah tapi juga hidup gue," gumamnya.


Aulia keluar dari kamar mandi dan menghampiri suaminya yang masih sayang berbaring di atas kasur itu.


"Ayo," ajaknya mengecup bibir suaminya sebentar.


"Sayang, kenapa pakai daster lagi? Lihat kaki kamu kelihatan. Aku gak mau banyak cowok yang lihat kaki mulus kamu," ujarnya dengan kesal.


"Lah emang aku harus jadi hantu biar kakiku gak kelihatan?" tanyanya.


"Lagian aku nyaman pakai daster," jawabnya hingga mau tak mau Reno harus rela kaki sang istri dilihat oleh laki laki lain.


Mereka keluar dari kamar dengan Reno yang memeluk posesif pinggang Aulia seolah mengklaim jika Aulia adalah miliknya.


Kebetulan Viola yang ingin keluar membeli es krim itu bertemu dengan mereka.


"Sendiri aja dek, suami kamu mana?" tanya Reno pada adiknya yang membawa satu kesekian penuh es krim.


"Ada di kamar tidur, wah kak aku mau daster nya 1 boleh?" tanya Viola memegang daster kakak iparnya.


"Uang suami kamu banyak kenapa pake minta sih?" tanya Aulia pada Viola.


"Aku maunya yang punya kakak, kan lumayan buat dipake tidur. Nanti aku ganti deh uangnya," jawab Viola memohon pada Aulia.


Aulia menatap Reno yang hanya mengangguk kasihan juga Viola sampai memohon seperti itu.


Akhirnya Aulia mengajak Viola ke kamarnya dan memberikan satu daster yang ia bawa pada Viola kebetulan juga ukurannya pas. Daster berwarna biru tua bermotif awan itu sangat pas di badan Viola.


"Makasih kak, nanti uangnya aku ganti kok."


Dengan senang Viola mengecup pipi kakak iparnya, ia berlari membawa es krim yang tadi ia beli dan juga daster yang ia pakai sekarang.


Entah apa yang di ucapan suaminya nanti yang penting sekarang ia senang karena mendapat daster itu.


Bersambung


Mampir ke karya teman aku yuk kak, judulnya Dosen Tampan Pemikat Hatiku, karya kak Ippiiieee.


__ADS_1


__ADS_2