Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku

Menjadi Pelayan Pribadi Kekasihku
Rasa Kencan


__ADS_3

Happy reading


"Ma, Pah... Clara izin keluar ya," pamit Clara pada orang tuanya yang ada di ruang keluarga bersama Oma dan Opa.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Oma pada cucu perempuannya.


"Jalan Oma sama teman," jawab Clara dengan gugup.


"Oh ya, teman apa teman?" goda Mama dengan senyum.


"Teman Mah," jawabnya.


"Kakak kamu juga belum pulang jam segini, mereka kemana?" tanya Opa Carlos pada cucu perempuannya.


"Galaksi sama Viola sedang berada di apartemen Pa, tadi udah izin sama Audi."


Mereka mengangguk paham, mungkin mereka butuh waktu berdua, begitulah pikir mereka.


"Di jemput atau gimana sayang?" tanya Mama Audi pada putrinya.


"Katanya mau dijemput Ma," jawabnya dengan senyum.


Setelah mendapat izin dari orang tuanya, Clara berlalu menuju depan karena dari pesan yang dikirim Satya tadi pria itu sudah ada di dekat rumah besar itu.


Tak menunggu lama akhirnya Satya datang dengan motor metic miliknya yang baru ia beli itu. Bisa dibilang Clara adalah wanita pertama yang akan ia bonceng.


"Kak," panggilnya.


Satya yang melihat penampilan Clara itu terpesona, karena gadis 18 tahun itu sangat cantik dengan dress berwarna biru laut itu.


"Kamu cantik," ucapnya dengan senyum hingga membuat Clara malu karena pujian Satya.


"Kakak juga ganteng," balasnya.


Satya memberikan jaket miliknya pada Clara, sedangkan ia hanya memakai kaos dengan lengan panjang itu.


Clara naik motor itu dan motor metic itu keluar dari area mansion megah itu menuju tempat yang akan mereka gunakan untuk jalan malam ini.

__ADS_1


"Kita mau kemana kak?" tanya Clara pada Satya.


"Nonton aja gimana? Malam ini ada film bagus loh."


"Boleh, aku ikut aja," jawabnya dengan senyum. Ia tahu Satya bukan laki-laki bakal seperti teman temannya di sekolah.


Akhirnya mereka sampai di bioskop, harusnya ke bioskop itu siang tapi karena siang Satya masih kerja dan Clara masih sekolah akhirnya mau tak mau di laksanakan malam hari.


"Kamu tunggu di sini dulu, kakak mau beli tiket sama popcron buat teman kita nonton nanti," ucapnya pada Clara.


Dengan patuh wanita itu duduk di kursi dan menatap Satya yang berantri untuk membeli tiket. Sepertinya yang akan dibeli pria itu adalah tiket film romantis. Membayangkan saja sudah membuat Clara baper. Apakah nanti ia akan dipeluk seperti di film film atau malah di cium.


"Ganteng banget deh jodoh orang eh jodoh gue aja kalau bisa," batin Clara tertawa geli dalam diamnya.


Tak lama Satya datang dengan membawa popcorn dan minuman untuk mereka. Kemudian mengajak Clara untuk masuk.


Ternyata kursi mereka ada di belakang dan tak terlalu bising dengan orang orang.


"Kamu sering ke bioskop?" tanya Clara menatap Satya yang hanya menggeleng.


"Dulu aku pernah bekerja disini lagi, jadi sudah hafal. Bahkan aku pernah melihat orang kissing di tempat ini bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Tapi itu adalah hal biasa," jawabnya menatap Clara dengan senyum.


Dengan cepat Satya memalingkan wajahnya hinggar membuat Clara bingung kenapa Satya?


Tiba tiba lampu bioskop mati, hingga hanya ada cahaya dari layar di depan mereka.


Mereka cukup menikmati film romantis itu, walau tak ada hubungan apapun diantar Clara dan Satya walau mereka saling mencintai dalam diam mereka. Satya yang tak berani mengutarakan perasaannya karena ia dan Clara beda itu hanya bisa menahannya. Sedangkan Clara yang baru merasakan hal yang namanaya menyukai seorang lawan jenis itu hanya bisa diam. Ia terlalu malu untuk mengakuinya.


Sampai di pertengahan film itu belum terjadi apapun hingga saat adegan kissing itu membuat Clara menutup matanya. Walau ia sangat menyukai drama romantis tapi ia jarang melihat yang begituan.


Sedangkan Satya yang melihat Clara menutup mata itu hanya mengulum senyumnya tipis. Clara memang tak seperti adiknya (Nana) yang sudah paham dengan apa yang dilihatnya.


Entah dorongan dari mana, Satya menarik tubuh Clara dan memeluk perut ramping itu. Sedangkan Clara yang merasakan hal ini tentu saja terkejut, jantungnya berdetak tak karuan karena hal ini.


"Kak.."


"Emm? Ada apa? Daripada kamu lihat yang begitu belum cukup umur kan. Mending kamu dipelukan kakak," jawabnya.

__ADS_1


Modus


Dasar Satya modus, pria itu tampak sangat menyukai Clara yang kini ada di dekapannya itu. Terlihat dari senyum mengembang dari bibir Satya yang tak luntur.


Sedangkan Clara yang memang pasif dalam hal ini hanya bisa mengiyakan dan ia juga tampak menikmati irama jantung Satya.


"Ya Tuhan apa seperti ini rasanya memeluk orang yang kita sukai?" tanya Satya dalam hati.


Setelah adegan kiss kiss selesai, Satya kembali melepaskan pelukan itu tapi tidak dengan tangan yang saling menggenggam itu. Satya sebenarnya sadar tapi ia tak mau melepaskannya.


Ia tak mau kesempatan ini cepat berakhir. Satya yang tak menikmati film itu hanya mmmenatap wajah ayu Clara dengan lembut. Ia baru pertama kali yang namanya jalan bareng perempuan yaitu Clara bahkan bersama adiknya saja ia belum pernah selain antar jemput sekolah dulu.


Tak terasa waktu berlalu, film yang diputar juga sudah selesai. Clara yang begitu menikmati itu menoleh ke arah Satya yang sedari tadi menatapnya.


"Kenapa natap aku kayak gitu?" tanya Clara dengan malu. Wanita mana yang tak malu saat ditatap lembut oleh pria tampan yang ia sukai.


"Kamu cantik sih, jadi duniaku terlihat padamu," jawabnya mulai mengeluarkan gombalan ala ABG.


"Kak Satya gombal. Film udah selesai nih, yuk keluar," ajaknya dengan tangan yang sudah terlepas.


Tanpa ba bi bu, Saya mengajak Cara untuk keluar berhubung popcron dan minuman mereka sudah habis.


Satya membawa Clara untuk mencari makanan, walau tadi mereka sudah makan malam di rumah. Rasanya tak afdol jika tak merasakan yang namanya makan bareng walau dengan makanan sederhana.


"Kita beli bakso bakar aja gimana? Aku mau makan itu kak. Kemarin Kak Vio makan bakso bakar kayaknya enak deh," ujarnya dengan senyum. Membayangkan bakso bulat dengan bumbu itu membuatnya ngiler.


"Sesuai permintaan, aku akan mengajak kamu ketempat bakso bakar yang enak," ajaknya menaiki motornya.


Clara mengangguk dan menaiki motor Satya kemudian memeluk pelan pinggang Satya.


Di malam ini, Satya dan Clara menghabiskan malam mereka dengan jalan jalan rasa kencan.


...


Sedangkan ditempat berbeda, seorang wanita tampak tak waras dengan kaki dan tangan yang dipasung. Dia adalah Sania Arabella, wanita yang dulu hampir masuk dalam hubungan Galaksi dan Viola.


Wanita itu tampak stres, berulang kali ia menangis, tertawa, bahkan marah marah tak jelas. Hingga membuat para warga memasung kaki dan tangan Sania di rumahnya. Wanita itu hanya akan dilepaskan saat diberi makan, itupun hanya tangannya.

__ADS_1


"Galaksi milikku, bukan wanita murah itu," lirihnya tampak mengeluarkan air mata tapi juga tertawa.


Bersambung


__ADS_2