
Happy reading
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucapnya dengan dalam.
Entah ada angin apa hari ini Galaksi sangat semangat untuk bekerja. Apa ini efek dari tadi malam. Tapi hal ini cukup membuat Reno puas.
"Ada apa?" tanya Galaksi tanpa mengalihkan pandangan dari laptop yang menyala itu.
"Maaf Tuan, apa saya boleh izin satu hari ini untuk pulang cepat Tuan? Nanti sore saya ingin mengenalkan seorang wanita saya pada Ayah dan Ibu. Jadi saya mohon untuk Anda mengizinkannya."
Weekend seharusnya semua pekerja kantor libur, menenangkan otaknya tak terkecuali Reno. Tapi karena tuntutan kerja yang sangat banyak membuatnya tak bisa berlela lega saja. Pagi tadi saat ingin menemui Aulia, Reno di telepon Galaksi jika berkas yang belum di tanda tangan Galaksi masih banyak. Reno tak lupa, karena ia sering menelitinya saat pulang kantor.
Alhasil Reno harus mengiyakan dan menelepon Aulia jika nanti sore ia akan menjemputnya. Untung wanita itu pengertian.
"Siapa wanita itu? Apa wanita yang sering Viola ceritakan?" tanya Galaksi kepo. Sebenarnya ini bukan sikapnya tapi entah kenapa ia sangat ingin tahu.
"Ya Tuan, dia adalah Aulia seorang suster di GV Hospital," jawabnya jujur.
"Owh syukurlah kamu sudah mendapatkan jodoh aku pikir kamu gak suka cewek," ujar Galaksi dengan santainya hingga membuat Reno sebagai cowok tulen merasa tak suka.
"Saya masih normal Tuan," jawabnya.
"Ya kau masih normal, oke karena pekerjaanmu bagus berberapa hari lalu. Hari ini kau boleh pulang cepat," jawabnya.
"Baik Tuan terima kasih. Emm ada satu lagi Tuan."
"Apa?" tanya Galaksi.
"Saya butuh asisten Tuan, berberapa hari ini banyak tugas yang membuat saya kewalahan. Mulai dari tugas Anda saat tiba tiba pulang cepat sampai pekerjaan saya sendiri," ucapnya yang membuat Galaksi sedikit tersinggung tapi memang itu kenyataannya.
"Oke, kamu boleh cari asisten untuk membantumu di kantor, aku harap laki-laki ya. Aku tak mau Viola marah karena mempekerjakan perempuan di dekatku," jawabnya yang membuat Reno mengangguk senang.
"Baik Tuan terima kasih banyak," ucap Reno membungkukkan badannya.
__ADS_1
Setelah itu Reno pamit untuk kembali bekerja hingga siang hari, sedangkan Galaksi yang ditemani Viola lewat video call itu merasa lebih semangat lagi bekerja.
[Kak Reno pulang cepat?]
[Iya yank, mau bawa calon kakak ipar ke rumah]
[Owhh kamu kapan ajak aku ke rumah?]
[Tunggu sampai pekerjaanku selesai hmm, lagi pula Papa masih di luar kota sayang.]
[Emm oke]
[Kamu gak marah kan yank?]
[Enggak kok santai aja]
Tak terasa hari sudah semakin siang, Reno sudah siap siap untuk pulang. Tapi lebih tepatnya menjemput sangat kekasih. Hari ini Ibu dan Ayahnya ada di rumah karena weekend.
Reno menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh menunju rumah Aulia. Tak lupa ia membelikan martabak bulan kesukaan orang tua Aulia baginya itu sudah menjadi rutinitas sejak berkunjung ke rumah Aulia.
"Om, Tante..."
"Eh Nak Reno mau jemput Aulia, Nak?" tanya Ayahnya.
"Iya Oma. Ohh ya ini martabak seperti biasa," ucapnya memberikan martabak itu pada mereka.
"Wah sepertinya kami akan cepat melar ini yah, makasih ya martabaknya. Kamu duduk saja dulu biar Tante panggilin Aulia."
Ibu Aulia berlalu menuju kamar putrinya yang ternyata sudah siap sedari tadi. Ia menyuruh putrinya itu untuk turun.
"Yang udah cantik mau ketemu calon mertua," goda Ibu pada putri cantiknya ini.
"Ibu apakan dah, Lia cuma mau dikenalin kok bu. Belum juga jadi calon mertua kan," ujar Aulia malu.
"Sama saja sayang, Ibu senang jika ada yang serius sama kamu seperti ini. Ibu tahu siapa Reno dengan segala pekerjaan di perusahaan besar itu. Dia pasti banyak mencuri waktu untuk ke sini. Ibu berdoa yang terbaik untuk kalian," ucapnya yang mendapat anggukan dari Aulia.
__ADS_1
Setelah itu mereka keluar dari rumah dan melihat Ayah Aulia sangat akrab mengobrol. Walau pembawaan Reno yang sedikit kaku. Tapi hal itu cukup ditanggapi hangat dan ramah oleh Ayah Aulia.
"Maaf lama," ucap Aulia.
Reno yang melihat penampilan Aulia yang beda dari biasanya itu terpesona. Jika biasanya ia melihat Aulia yang memakai pakaian pesawatnya, hari ini Aulia memakai dress berwarna biru dengan lengan pendek ditambah rambut yang terurai begitu saja membuat penampilan Aulia tampak berbeda, lebih cantik.
"Belum lama kok, yaudah yuk kita berangkat," ajaknya.
"Bu, Yah.... Kami pergi dulu ya," pamit mereka mencium punggung tangan orang tua Aulia.
"Hati hati ya nak, jangan ngebut. Titip salam juga buat Ayah dan Ibu kamu," ucap Ayah dan dianggukan oleh Reno.
Setelah pamit, mereka bedua masuk ke mobil dan menjalankan mobil itu keluar dari area rumah itu.
"Ren gimana nih penampilan aku dah oke belum? Duh kalau orang tua kamu gak suka sama aku gimana?"
"Kamu udah cantik kok, bahkan kali ini lebih cantik dari biasanya. Kenapa kamu mau aja sih jadi perawat yang bayarannya gak seberapa itu? Padahal kamu bisa loh kerja di kantor," ujarnya menggenggam tangan Aulia.
"Kenapa? Aku cuma mau merawat orang yang sakit. Itu adalah cita citaku dari kecil. Dimana dulu aku melihat banyak orang di jalan itu sakit, mulai dari sana keinginanku makin besar. Apalagi saat melihat Ibuku sakit dulu," jawab Aulia yang membuat Reno bangga akan pikiran Aulia.
Sebelumnya Reno memang sudah menyelidiki siapa Aulia sama seperti Galaksi dulu. Aulia yang pernah kuliah jurusan akuntansi sampai mendapat gelar S 1. Tapi setelah mendapat gelar sarjana, Aulia mengambil kursus keperawatan hingga setahun kemudian Aulia diterima menjadi perawat alias suster di rumah sakit swasta. Dan setelah GV Hospital dibangun saat itu, Aulia mencoba untuk melamar pekerjaan disana.
"Kok diam aja sih, kamu malu ya punya pacar cuma seorang perawat? Oh iya kita gak ada hubungan apa apa ya," tanya Aulia berfikir yang tidak tidak.
"Enggak sayang, kenapa juga aku malu hmm? Pekerjaan kamu juga pekerjaan mulia, nanti jika aku sakit kamu bisa rawat aku kan tanpa harus ke dokter," ucapnya.
"Kita lebih dari sekedar pacar sayang, kamu calon istri aku. Kamu bahkan boleh menyebut aku suamimu," lanjut Reno dengan senyum manisnya.
"Duh senyumnya bikin gue diabet dah," batin Aulia yang terpesona akan senyum Reno.
"Stop bilang kita gak ada hubungan apa apa," ucapnya mengecup punggung tangan Aulia.
Perjalanan mereka lalui dengan tawa dan canda yang mengisi mobil itu. Reno dan Aulia seperti tak ada habisnya mencari topik pembicaraan agar tak sepi.
Bersambung
__ADS_1
Note: Aulia masih punya orang tua ya ges, di bab 24 kan pernah aku tulis kalau aku yatim piatu. Sekarang dah di revisi kok, anggap aja Aulia bohong.