
Happy reading
Setelah Nana izin dengan Clara jika ia akan pergi bersama Ilham untuk mengambil buku di rumah Ilham. Clara sempat tak setuju karena tadi janjinya ingin menemaninya jalan jalan tapi ini malah diambil sama Pak Ilham.
Awalnya Clara terkejut kenapa bisa dosennya ada di perpustakaan ini. Hingga sepertinya Clara tahu ada yang tak biasa dari tatapan Ilham untuk Nana.
"Oke, lu boleh pergi sama Pak Ilham. Tapi malam nanti tetap jadi kan?" tanya Cara dan diangguki oleh Nana.
"Aku bawa sahabatmu," ucap Ilham dan diangguki senyum oleh Clara.
"Sepertinya, Pak Ilham menyukai Nana," gumam Clara menatap kepergian mereka dengan senang.
Setelah membayar buku novel yang tadi ia pilih. Clara langsung berlalu meninggalkan toko buku itu.
Sedangkan di dalam mobil, Nana dan Ilham sama sama diam dengan pandangan yang terarah ke depan.
"Kenapa jadi canggung seperti ini?" gumam Ilham dengan lirih.
Sedangkan Nana yang baru pertama kali semobil dengan pria lain selain kakaknya itu hanya bisa diam. Jujur saja ia sangat canggung apalagi lelaki ini adalah dosennya di kampus.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Ilham pada Nana yang mengangguk.
"Sudah, Pak. Tadi di kampus bareng Clara juga," jawab Nana menatap Ilham yang sedang fokus menyetir mobil.
"Na."
"Ya, Pak."
"Aku akan meminjamimu buku tapi dengan syarat kamu harus memanggil aku nama saat di luar seperti ini. Aku tidak setua itu untuk dipanggil, Pak," ujarnya dengan sedikit kesal.
Tapi hal itu cukup membuat Nana tersenyum geli karena pria yang ada di sampingnya ini seakan tak suka panggilan Pak darinya. Tapi dimana salah Nana, Ilham adalah dosennya.
"Saya rasa itu tak sopan, Pak."
"Ilham, panggil aku itu. Dan jangan terlalu formal," ucap Ilham dengan tegas. Seolah memberi perintah pada Nana.
"Apa tidak apa-apa, jika saya memanggil Anda nama? Bukan apa-apa Pak, tapi Bapak itu adalah dosen saya di kampus," ujar Nana merasa tak enak.
"Yah kalau di kampus kamu boleh panggil aku, Pak. Tapi jika sedang di luar seperti ini panggil aku nama, dan jangan formal."
Akhirnya karena tak mau berdebat, Nana mengiyakan apa permintaan Ilham untuk memanggil nama.
"Jangan kaget saat nanti kamu ketemu Ibuku. Dia orangnya cerewet tapi baik kok," ucap Ilham dengan senyum.
Nana yang mendengar itu tersenyum, kenapa Ibu Ilham ingin bertemu dengannya? Apa dulu mereka pernah bertemu?
Mobil Ilham berhenti di depan supermarket itu, Nana menatap Ilham.
__ADS_1
"Aku boleh meminta tolong, Na?"
"Apa? Kalau aku bisa pasti aku bantu," jawabnya dengan tulus.
Ilham memberikan secarik kertas pada Nana, Nana yang melihat tulisan itu langsung menatap Ilham.
"Itu tadi Ibu minta tolong untuk membelikan apa yang di tulis disana," ujarnya dengan rasa tak enak.
"Aku minta tolong untuk kamu yang memilihkan bahan bahan itu, karena aku tak tahu mana yang sawi dan mana yang kubis."
"Oalah gitu, oke aku bisa bantu. Tapi gak bisa bayarin ya," jawabnya dengan senyum.
Dengan cepat Ilham mengangguk, tangannya melepas sabuk pengamannya begitupun dengan Nana yang melepas sabuk pengamannya.
Mereka turun dari mobil itu dan masuk kedalam supermarket. Ilham mengambil troli dan mengikuti kemanapun Nana pergi.
Jika dilihat mereka seperti sepasang suami istri yang sedang belanja bulanan apalagi Ilham yang nurut saja apa kata Nana.
Banyak dari wanita wanita disana yang curi curi pandang kearah Ilham begitupun yang pria membuat Ilham tak suka jika Nana di perhatikan seperti itu oleh laki-laki lain.
Setelah semua yang di tulis itu di dapatkan, Nana dan Ilham berlaluenuju kasir.
"Kamu gak mau beli sesuatu, Na? Tenang aku yang bayarin kok," tanya Ilham menatap Nana yang menggeleng.
Ia memang jarang jajan di tempat seperti ini. Selain harganya mahal di tempat ini juga sangat banyak yang menarik, Nana takut akan khilaf.
Setelah membayar, mereka berdua keluar dari supermarket tapi Ilham terlebih dahulu berjalan ke toko es krim dan membeli dua untuk Nana.
Nana yang melihat Ilham berjalanendekat itu bingung.
"Ini buat kamu, kamu pasti butuh yang dingin karena berkeliling," ujar Ilham memberikan plastik itu pada Nana.
"Gak usah, lagipula aku gak capek kok. Aku udah biasa ke pasar buat beli bahan bahan dapur," jawab Nana menolak.
"Aku akan marah kalau kamu tak mau menerimanya, lagipula ini cuma es krim Na. Bukan racun," ujarnya. Akhirnya es krim itu diterima oleh Nana. Walau ia tak enak dengan Ilham.
"Santai aja."
Setelah memasukkan barang belanjaannya ke mobil. Mereka berlalu meninggalkan area supermarket menuju rumah Ilham.
"Kamu mau?" tanya Nana menyodorkan es krim yang sudah ia gigit sedikit. Entah kenapa ia malah memberikan yang itu bukan yang masih baru.
"Kalau disuapi aku mau, tapi kalau sendiri aku gak bisa. Lihat saja tanganku masih memegang stir," jawabnya dengan santai, santai apa modus. Kan masih bisa pakai satu tangan. Dalam hati ia sangat ingin disuapi oleh Nana.
Nana yang tak enak itu langsung menyuapi Ilham dengan es krim itu tapi bagian yang masih utuh bukan yang sudah ia gigit.
"Kak, itu bekas gigitanku loh," kaget Nana saat Ilham memakan yang tepat di gigitannya.
__ADS_1
"Sama aja Na, manis kok," ujar Ilham tersenyum senang.
Tapi tidak dengan Nana yang sedikit tak nyaman atau bahkan bersalah.
"Kamu habiskan saja ya," ucapnya mengelus rambut Nana dengan satu tangannya.
Akhirnya dalam perjalanan itu, Nana menghabiskan es krim yang di beli Ilham sedangkan Ilham diam diam mencuri pandang ke arah Nana.
Entah kenapa juga Nana bisa senyaman ini dengan Ilham yang notabene adalah dosennya. Apa karena pembawaan Ilham yang sangat santai yang membuatnya nyaman. Apa sikap dewasanya?
Tak terasa mobil Ilham sampai di area rumah Ilham, Nana yang melihat rumah besar itu hanya terdiam.
Ilham yang sudah turun dari mobil itu langsung membuka pintu mobilnya untuk Nana.
"Ayo keluar, Ibu menunggumu di dalam," ajak Ilham seraya mengambil bahan makanan yang tadi di beli.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu dengan Nana yang mengekor di belakang Ilham. Ibu Ilham yang melihat putranya membawa seorang wanita itu langsung mendekat.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam sayang," jawabnya.
Nana yang melihat ada Ibu Ilham itu langsung menyalaminya dengan sopan.
"Oh, jadi ini calon mantu ibu, Nak?" tanya Ibu menatap Nana yang masih syok akan apa yang diucapkan ibu Ilham.
"Ibu, kamu cuma teman," jawab Ilham yang menyadari raut tak enak dari Nana.
"Sekarang teman entah suatu hari nanti," jawabnya mengajak Nana ke dapur, seraya membawa barang belanjaan yang tadi sudah di beli.
"Maaf sayang sudah membawa kami ke tempat ini," ujar Ibu Ilham dengan tulus. Merasa tak enak karena calon mantunya di ajak ke dapur.
"Tidak apa-apa, Tante."
"Bukan Tante tapi Ibu. Kamu harus panggil Ibu, sama seperti Ilham," ucap Ibu dengan senyum.
"Kenalin nama Ibu Safira, kamu pasti Nana kan?"
Nana cukup terkejut karena Ibu Ilham mengetahui namanya. Lantas ia mengangguk.
Entah siapa yang mulai tapi obrolan mereka menjadi cukup hangat, dengan tangan mereka yang fokus pada yang di lakukan.
Terlihat mereka seperti Ibu dan anak yang sedang memasak. Ilham yang masih ada disana itu tersenyum.
"Semoga doaku terkabul ya Na. Aku berharap kamu yang menjadi makmumku," ucap Ilham menatap Nana dari kejauhan.
Bersambung
__ADS_1