
Happy reading
"Bagaimana keadaan Viola?" tanya Reno yang sudah terlebih dulu sampai di kamar Viola.
"Belum ada kemajuan, kata dokter tadi. Harusnya sudah sore tadi, tapi sampai malam belum juga bangun," jawab Galaksi dengan sendu.
Anak-anaknya juga sudah tertidur setelah menyusu tadi, Galaksi memutuskan untuk tetap meletakkan kedua bayinya di kamar yang sama dengan Viola. Galaksi juga sudah mengganti ranjang Viola dengan yang lebih besar.
Reno yang melihat keadaan adiknya itu, mulai mendekat dan duduk di samping sang adik. Tangannya mulai terulur untuk mengelus pipi lembut itu dengan lembut.
"Anak anak kamu butuh kasih sayang kamu dek, apa kamu tak ingin melihat wajah imut mereka?" tanya Reno menatap keponakannya yang tampak anteng di ranjang empuk itu.
"Lihat juga suami kamu yang sepertinya sangat kusut, dia bagaikan baju tak disetrika. Kamu juga gak kasihan sama Ibu yang mendonorkan darahnya untuk kamu hmm?" tanya Reno masih saja berbicara dengan Viola walau tak ada respond dari Viola.
Galaksi yang dibilang bagaikan baju tak disetrika itu menahan kesalnya. Enak banget Reno bilang gitu, walaupun Reno adalah kakak iparnya tapi Reno juga asistennya di kantor.
"Ehem."
Mendengar deheman dari Galaksi membuat, Reno tersenyum.
"Tuh lihat, kamu gak mau lihat wajah kesal suami kamu hmmm? Kakak gak mau kamu lama lama tidur," ucap Reno mengecup kening Viola.
Galaksi yang melihat Reno mengecup kening istrinya itu menarik paksa laki-laki yang notabene adalah kakak iparnya.
"Jangan cium cium istri gue," tegas Galaksi pada Reno yang tampaknya tersenyum menantang.
"Lebih baik kamu pergi saja, aku gak mau istriku banyak kamu cium," ujar Galaksi menahan kecemburuannya karena Reno mencium kening Viola.
"Dia juga adik aku, adik kandung aku," jawab Reno seakan menantang Galaksi.
"Tapi aku suaminya, aku tak mengizinkan kamu untuk menciumnya lagi," titahnya dengan nada serius.
"Hahahaha baik lah."
Reno mengeluarkan map dari dalam tasnya dan memberikannya pada Galaksi.
"Ini adalah berkas yang perlu kamu tanda tangani. Semua sudah aku cek berulang kali, tinggal tanda tangan saja," ujar Reno memberikan bolpoin pada Galaksi.
Galaksi yang mendapat map itu mulai berjalan menuju meja yang ada disana. Lalu membukanya dan membaca berkas itu sekilas.
__ADS_1
Tak menunggu lama Galaksi mulai menandatangani berkas berkas itu dan memberikan pada Reno.
"Kenapa tidak Satya yang memberikannya?" tanya Galaksi.
"Satya masih menjemput Clara di rumah," jawabnya dengan santai memasukkan map itu ke dalam tas.
Setelah beberapa saat Reno keluar dari kamar rawat itu mencari sang istri yang sudah menghilang setelah mengambil bakso ceker pesanannya itu.
Sepeninggalan Reno, Clara dan Satya masuk.
"Bagaimana keadaan Kak Vio, Kak?" tanya Clara memberikan tas itu pada kakaknya.
"Belum sadar dek, terima kasih kalian sudah mau menjenguk Viola dan anak-anak Kakak."
"Sama sama Tuan, kami juga membawa buah untuk kalian," jawab Satya dengan formal. Walau bagaimanapun Galaksi adalah atasannya di kantor.
"Jangan terlalu formal, aku juga kakakmu," ujar Galaksi pada Satya yang mengangguk.
Clara yang mendengar itu tersenyum, Satya adalah pilihannya. Jadi dia harus membuat pria itu nyaman dengan keluarganya.
"Iya kak, Kak Galaksi sama Kak Viola juga kakak kamu. Jadi jangan sungkan gitu, bukannya Oma dan Opa pernah bilang kalau kamu juga bagian dari keluarga Ryano," ujar Clara pada Satya yang hanya mengangguk.
Clara berlalu menuju tempat bayi yang saat ini sedang terlelap itu.
"Namanya siapa kak?" tanya Clara seraya mengelus pipi salah satu bayi mungil itu. Tanpa tahu mana kakaknya mana adiknya.
"Kakak belum memberinya nama," jawab Galaksi duduk di samping sang istri dan menggenggam tangan Viola dengan lembut.
"Kenapa? Apa tak sebaiknya langsung di beri nama?" tanya Clara menatap dua bayi itu bergantian.
"Hanya menunggu Mommy anak Kakak bangun," jawabnya dengan santai.
Clara diam tak menyaut lagi, ia paham akan perasaan kakaknya yang saat ini sedang sedih karena kakak iparnya belum juga bangun dari pingsannya.
Satya pun ikut melihat kedua bayi kembar itu, ia berdiri di samping Clara yang tampak gemas dengan bayi bayi itu.
"Kenapa? Pengen?" tanya Satya dengan nada lembut.
"Pengen lah, apalagi lihat yang kayak gini. Jadi pengen punya teman kayak gini," jawabnya dengan gemas. Clara mengelus pipi bayi bayi itu bergantian.
__ADS_1
"Ini yang kakaknya yang mana? Yang adiknya yang mana?" tanya Clara pada Galaksi.
"Yang pake bedong warna oren itu abang, kalau yang bedong warna biru itu adik. Kalian bisa panggil Abang dan Adik sekarang, nanti kalau Viola sudah bangun, kakak akan memberitahu nama mereka," jawab Galaksi menatap istrinya dengan sendu.
Jujur Galaksi sangat menginginkan istrinya ini bangun, melihat seharian istrinya tak berbicara bahkan membuka mata itu membuatnya sedih.
"Nanti kita bikin yang gini ya 11," bisik Satya pada Clara. Hal itu cukup membuat Clara malu akan bisikan Satya.
"Ihh malu kalau kak Galaksi dengar," jawabnya masih dengan menatap bayi bayi itu tanpa mau menggendong karena ia terlalu takut untuk menggendong sang keponakannya.
"Suatu saat kita juga bakal punya anak sayang. Tapi aku mau 11 anak dari kamu," balas Satya mengecup pipi Clara dengan lembut.
"Jangan dicium aku, Kak. Malu," ujar Clara dengan malu.
Sedangkan Satya tak bisa diam untuk terus mengecup pipi Clara dengan lembut. Hingga membuat Clara tak tahan dan ingin keluar.
Tapi sebelum itu ia terlebih dulu mengecup pipi kedua bayi itu dengan lembut.
"Onty pulang dulu ya boy, besok onty balik lagi," ujarnya dengan senyum manisnya.
"Kak aku sama kak Satya pulang dulu ya, udah malam. Takut malah ganggu," pamit Clara pada Galaksi yang belum beranjak dari tempat itu.
"Hmm."
"Kami pulang ya kak," ujar Satya pada calon kakak iparnya.
Galaksi mengangguk dan mengucapkan untuk berhati-hati saat pulang nanti.
Clara dan Satya keluar dari kamar rawat itu menuju kantin, meninggalkan Galaksi disana menjaga istri dan kedua buah hati mereka.
"Semua menginginkan kamu bangun sayang, aku juga sangat. Anak anak juga, apa kamu mau aku memiliki istri baru?"
Galaksi hanya bercanda mengucapkan itu, ia seperti tak lelah untuk mengatakan agar Viola itu bangun.
"Aku harap saat aku bangun nanti, kamu juga ikut bangun sayang," ujar Galaksi memeluk tubuh istrinya pelan. Saat ini ia sudah ikut terbaring disamping Viola yang belum sadarkan diri.
Setetes air mata Galaksi menetes tapi ia membiarkan hal itu, ia masih betah menatap istrinya dengan lembut.
"Bangun ya sayang, ku mohon!"
__ADS_1
Bersambung
Ayolah Vio bangun. Gak kasihan suami kamu apa?😢