Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
banyak memberi kode


__ADS_3

Juna dan Bagas melongo


"ini beneran kamu kan Ta?? kamu masih hidup?? tadi dokter bilang kamu meninggal Naya syok sampai pingsang"


Juba memberitahu


"apaaa"


Tata terkejut


"iya Ta, jadi kamu beneran selamat?? dimana Rofik?? di juga selamat kan Ta??"


tanya Bagas khawatir


"bentar mas aku melupakan suamiku"


jawab Tata langsung mencari keberadaan suaminya yang dibantu Bagas menuntunnya


"Ta ini Rofik"


Bagas memberitahu karna membuka gorder pembatas


"iya mas, dia belum sadar, semoga tidak parah"


jawab Tata


tiba tiba Intan dan kakaknya datang tergopoh gopoh


"Gas??"


panggil Fauzi ngos ngosan


Intan langsung menangis memeluk Tata


"maaf ya Ta baru datang"


ucap Intan sesugukan


"iya gak papa mbak, maaf kalian jadi khawatir gara gara aku"


sesal Tata


"bagaimana kejadiannya?? kenapa bisa sampai begini??"


tanya Fauzi


dan Tata pun menceritakan kejadiannya


"terus bagaimana dengan orang yang kamu tabrak Ta??"


tanya Bagas penasaran


"tidak tau mas, aku kan baru sadar"


jawab Tata


"ok nanti mas minta tolong Juna untuk mencari tahu semuanya"


saran Bagas


"astagfirullahal adzim kak Naya mas??"


Tata teringat


"kenapa dengan Naya??"


tanya Intan penasaran


"dia pingsan karna syok, kami mengira Tata yang meninggal"


jawab Bagas


"sekarang dia dimana??"


tanya Intan


"ayo kesana, Ta kamu temani suamimu ya"


perintah Bagas yang dianggukan Tata


Bagas Intan dan Fauzi mengantar ketempat Naya berada


"Jun apa Naya belum sadar??"


tanya Bagas Juna hanya menggeleng tangannya masih megang tangan Naya matanya masih memerhatikan kekasih hatinya


Bagas menghela nafas


"yang sabar ya mas Juna"


Intan menyemangati


"sebentar lagi akan dipindahkan keruangan karna Naya harus dirawat, bagaimana dengan Rofik apa sudah ketemu??"


tanya Juna kemudian


"sudah Jun tapi belum sadarkan diri Tata masih menemaninya, kamu tenang saja, mereka pasti akan baik baik saja"


Bagas menenangkan


"ya semua akan baik baik saja, apa aku terlalu rapuh Gas?? tapi aku benar benar takut kehilangannya aku benar benar takut Gas"


ucap Juna masih menatap Naya yang belum sadarkan diri


" aku tau, kamu terlalu mencaintainya Jun, jadilah tameng untuknya jadilah perisai baginya jadilah kekuatannya disaat dia tidak berdaya Jun, jangan jadikan Naya sebagai kelemahanmu, jadikanlah Naya kekuatanmu"


Bagas menasehati


"ya aku harus kuat agar aku bisa melindunginya, dialah kehidupanku, dialah jantung hatiku Gas"


Juna menguatkan tangannya membelai lembut Naya


"pak pasien akan dipindahkan sekarang juga"


perawat rumah sakit memberitahu


Juna hanya mengangguk dan mengikutinya


Bagas dan yang lainnya menunggu diruangan yang akan ditempati Naya sebelumnya Bagas sudah memberitahu Tata


"Gas apa Juna sangat mencintai Naya??"


tanya Fauzi penasaran


"ya mas, teramat sangat, dia benar benar tergila gila dengan Naya"


jawab Bagas


"ohhh pantas"


Fauzi manggut manggut


tidak lama Naya dan Juna datang dan masuk ruangan beserta perawat yang menanganinya


"sudah pak, bila perlu apa apa tinggal pencet tombol diatas nanti kami datang kemari"


perawat memberitahu


Bagas dan yang lainnya mengangguk kecuali Juna yang masih terdiam memandang Naya yang masih belum sadar


"sabar Jun"


ucap Bagas


Juna hanya diam saja menatap nanar kekasih hatinya baru tadi malam mereka bahagia dan mendengarkan Naya mengomel tadi bagi dia dikejutkan suara tangisan Naya dan sekarang harus melihatnya terbaring dirumah sakit


"sayang bekas gigitanmu tadi malam masih loh ini, lebih baik kamu ngomel ngomel seperti biasanya bisa membuatku tenang dan senang"


Juna berbicara sendiri menunjukkan bekas gigitan Naya


"aku kangen sayang, aku sangat merindukanmu"


ucap Juna lagi


"padahal hanya pingsan tapi kenapa dia begitu, bisa dibilang terlalu lebay"


gumam Fauzi yang masibh terdengar ditelinga Intan adiknya


Intan menyenggol karna tidak enak dengan Bagas


Naya menggerak gerakan tangannya mendapat respon Juna mengusap air matanya yang menetes perlahan Naya membuka matanya dan melihat sekelilingnya ada Juna yang di sampingnya


"alhamdulillah kamu sadar sayang, ada yang sakit?? dibagian mana yang sakit sayang??"


tanya Juna lembut


Naya hanya menangis


"Tata mana kak, Tata mana??"


tanya Naya menangis


"sayang dengerin kakak, Tata gak papa dia baik baik saja, kamu jangan khawatir ya"


Juna menenangkan tapi Naya masih tetap menangis


Bagas yang mengetahui Naya sadar ia langsung menghubungi adiknya yang kebetulan tinggal dibangsal sebelah Naya karna Rofik juga dipindahkan diruang rawat


"kak Naya"


Tata membuka pintu ruangan Naya berada


Tata dan Naya saling berpelukan menenangkan satu sama lain


Naya terisak dipelukan Tata

__ADS_1


"kak aku gak papa, jangan khawatir, kami sangat menyayangiku ya"


ledek Tata mencairkan suasana


"aku sangat menyayangimu Ta jangan tinggalkan aku"


pinta Naya


"baiklah baiklah jangan nangis jelek tau, sekarang kamu lihatkan kak aku baik baik saj jadi jangan khawatir, jangan pingsan lagi kasian mas Juna hampir gila melihatmu terbaring tidak berdaya"


Tata memberitahu cengengesan


Naya pun menatap wajah Juna yang tersenyum padanya


"maafkan aku kak selalu bikin kamu khawatir"


sesal Naya


"kamu bukan saja membuatku khawatir sayang tapi kamu membuatku jantungan dan hampir mati karna takut kehilanganmu"


jawab Juna memeluk Naya dengan dangat erat


menumpahkan rasa rindunya beberapa jam yang lalu tidak mendengar celotehnya


"sakit kak aku sesak nafas kalau gini"


protes Naya meronta dipelukan Juna


Juna pun melepaskan pelukannya sambil cengengesan


"maaf sayang aku kangen"


ucap Juna


"ya tapi gak usah peluknya kayak tadi yang ada aku mati kak, aku masih ingin menikah denganmu jangan membunuhku"


cerocos Naya yang membuat Juna dan yang lainnya tertawa


"maafkan kakak"


Juna membelai lembut kepala Naya


"Ta kamu beneran gak papa?? gimana dengan mas Rofik?? apa dia juga baik baik saja??"


tanya Naya khawatir


"dia patah tulang kak harus dirawat dulu, tapi aku gak tau yang aku tabrak nasibnya seperti apa"


jawab Tata dilema


"kak tolong"


Naya menoleh ke Juna


"kakak sudah cari tahu, bentar lagi pasti dapat info sabar dulu ya"


Juna membelai lembut Tata


Tata mengangguk mengiyakan akhirnya ia bisa bernafas lega mendapatkan bantuan dari Juna


"ayo ke ruangan Rofik kasian dia sendirian disana biarkan Naya istirahat ditemani Juna"


ucap Bagas kemudian


"Intan disini temani Naya aku takut khilaf lagi Gas"


bisik Juna ditelinga Bagas yang membuat Bagas tertawa


"aku harus ikut temani adikku Jun Intan juga harus ikut aku, gimana dong??"


ucap Bagas mengerjai Juna yang takut akan kekhilafannya


"ya allah"


Juna kebingungan kalau harus temani Naya sendirian tapi kalau Naya ditinggal sediri membuatnya semakin takut


"mau nikah sekarang ajalah biar bebas adegan khilaf"


gumam Juna yang membuat Bagas tertawa yang mendengarnya


"ok deh jangan khawatir telpon Stela dan Sukma gih, aku biarkan Intan disini menemani sampai mereka datang"


saran Bagas


"iya ya aku lupa kalau aku punya mereka"


jawab Juna setelah ingat dua adiknya


"otakku yang menuju lembah itu jadi melupakan adikku"


umpat Juna sambil mencari nama adik adiknya diponsel lalu menghubungi adiknya untuk menemani Naya


Naya cekikikan mendengar umpatan Juna


"kalian itu seneng sekali khilaf"


ledek Intan cekikikan


"hehehe maaf merepotkanmu mbak, habisnya kak Juna suka aneh aneh sih"


kilah Naya


Juna hanya tersenyum


"tahan bentar ya mbak sampai Stela dan Sukma datang, baru mbak kekamar mas Rofik"


ucap Naya cengengesan


"iya gak papa"


jawab Intan tersenyum


"mbak pernah khilaf gak sih mbak kalo pas lagi sama mas Bagas??"


tanya Naya penasaran


"huss Naya"


tegur Juna yang mendengar


"cuma penasaran aja kok kak, gak papa lah sekali kali biar tau jadi kita bisa belajar"


kilah Naya


Juna hanya menggeleng dengan kelakuan Naya


"gimana mau khilaf Nay jarang ketemu sekali ketemu ditemani yang lain paling telponan itu aja hanya bentar doang, pengen sih khilaf kayak kamu gitu"


bisik Intan menggigit bibirnya takut Juna mendengar


Juna yang mendengar bisikan Intan hanya pura pura tidak dengar dan fokus dengan ponselnya


"hihihi ternyata sama saja ya manusia tempatnya khilaf"


bisik Naya cekikikan


"namanya juga manusia Nay tempatnya dosa, udah tau dosa tapi masih aja dilakiuin"


jawab Intan cengengesan


mereka mengobrol bersama sambil tertawa cengengesan dan mengabaikan Juna yang berada disofa


tidak lama Sukma dan Stela datang


tok tok tok


"assalamualaikum"


ucap Sukma dan Stela kompak


"waalaikum salam"


jawab Naya Intan dan Juna


"mbak kamu kenapa?? apa yang terjadi padamu mbak??"


tanya Stela khawatir


"aku gak papa Stel, salim dulu gih sama mbak Intan masak dilewatin gak sopan"


tegur Naya


"hehehe maaf abis aku khawatir sama kamu mbak"


jawab Stela langsung menyalami Intan dan Juna bergantian


"adik tak ada akhlak kalian itu ya ketemu Naya lupa sama mas"


tegur Juna sambil menyerahkan tangannya untuk disalimi adik adiknya


"hehehe maaf"


jawab Stela dan Sukma


"ya sudah ya Nay mbak ke ruangan Tata dulu nyusul mas Bagas"


ucap Intan


"ya mbak makasih ya mbak sudah nemenin kami"


Naya berterima kasih


"ya sama sama, kesana dulu ya Stel dik mas Juna"


pamit Intan yang dianggukan semuanya

__ADS_1


"sebenarnya apa yang terjadi mbak kenapa kamu seperti ini??"


tanya sukma mengulangi pertanyaan Stela


akkhirnya Naya menceritakan kejadian dari pagi sampai ia masuk rumah sakit


"maaf ya aku ngrepotin"


ucap Naya tidak enak hati


"iya gak papa mbak yang penting kamu gak papa, berapa hari kamu dirawat disini mbak??"


tanya Stela


"infus ini habis katanya"


jawab Naya memutuskan sendiri


"gak harus sembuh total baru pulang, kakak gak mau kenapa napa sayang"


bantah Juna mengkhawatirkan Naya


"kak pliss aku ingin dirumah, capek dirumah sakit terus kak, kak Juna, aku janji akan istirahat dirumah"


rengek Naya


Juna menghela


"ok deh, janji ya istirahat dirumah"


ucap Juna mengelus lembut kepala Naya


Naya mengangguk tersenyum


"ya sudah kalau begitu kakak bilang dulu sama dokter kamu pulang hari ini"


lanjut Juna dan langsung menuju ruang perawat memberitahukan


diruangan Rofik ia sudah sadar dengan kondisi kepala dan tangan diperban karna patah tulang


"assalamualaikum"


ucap Intan masuk keruangan calon adik iparnya


"waalaikum salam"


jawab yang ada didalam


"sudah datang Stela dan Sukma Tan??"


tanya Bagas


"sudah mas makanya aku kesini, mereka sudah datang"


jawab Intan


"mas Fauzi mana kok gak kelihatan??"


tanya Intan tidak melihat keberadaan kakaknya


"tadi pulang Tan ada urusan katanya, biar kamu nanti mas yang anterin tadi mas sudah bilang ke mas Fauzi"


Bagas memberitahu


Intan langsung tersenyum cerah mendengar tunangannya yang akan mengantar


dan mereka pun mengobrol bersama sampai Bagas mengantar pulang Intan


"mbak perawat terima kasih ya"


ucap Naya tersenyum


"ya mbak sama sama, mari saya permisi"


pamit perawat rumah sakit


"alhamdulillah pulang"


Naya tersenyum


"ayo pulang"


ucap Juna menggandeng tangan Naya


"kamu bawa mobil sendiri Stel??"


tanya Juna


"gak mas aku tadi minta anterin supir kantor dan jemput Sukma dirumah"


jawab Stela cengengesan


"ohhh"


Juna tau maksud adik adiknya


"ikut mobil mas Juna ya sekalian anterin mbak Naya pulang"


pinta Stela yang dianggukkan Sukma


"ya"


jawab Juna singkat


"mas"


protes Sukma


"ya sayang ikut mobil mas Juna sekalian antar mbak Naya pulang"


jawab Juna


Sukma dan yang lainnya cekikikan melihat wajah kesal Juna


selesai mengantar Naya kerumahnya Juna mengantar Sukma pulang kerumah dan kembali kekantor bersama Stela


Juna dan Stela kembali disibukkan dengan pekerjaannya


"mas makasih ya udah nganterin aku pulang, jadi ngrepotin"


ucap Intan tersenyum malu


"gak papa Tan kedepannya kan mas yang akan mengantarmu kemana mana"


jawab Bagas


"hehehe iya juga ya"


jawab Intan membenarkan


"sudah sana masuk gih, mas mau jemput ibu biar Tata ada yang nemenin soalnya tadi mau dijemput orangnya Juna tapi mas tolak, bair mas saja yang jemput ibu"


Bagas memberitahu


"ya sudah, mas yakin gak mau mampir dulu??"


tanya Intan memastikan


"lain kali saja ya sayang, mas buru buru"


tolak Bagas


"ya sudah, hati hati dijalan"


jawab Intan kecewa


lalu masuk kedalam rumah dengan lemas


Bagas langsung pulang menjemput ibunya dirumah tidak menghiraukan Intan yang kecewa padanya


"gimana mau khilaf disuruh mampir aja gak mau, gak kayak mas Juna selalu curi kesempatan sama Naya, lah ini boro boro curi kesempatan punya inisiatif aja susahnya minta ampun padahal aku sudah banyak memberi kode padanya hahh gak tau deh sebenarnya dia peka apa gak"


umpat Intan berbicara sendiri


"kenapa Tan pulang pulang ngedumel"


tegur ibu Intan heran dengan anak gadisnya


"gak papa bu"


jawab Intan masuk kekamarnya


"bagaimana keadaan adiknya Bagas Tan??"


tanya ibu Intan


"alhamdulillah baik baik saja bu, cuma suaminya yang agak parah tangannya patah tulang"


Intan memberitahu


"alhamdulillah kalau tidak terlalu parah, sana kamu instirahat pasti capek nungguin dirumah sakit"


ucap ibu Intan


"ya bu"


jawab Intan langsung masuk kekamarnya untuk berisitirahat


saat membuka ponselnya Intan mendapat pesan dari Naya ia pun langsung membukanya


{mbak aku udah pulang dari rumah sakit baru aja sampai rumah


tadi aku kesana mau pamit tapi mbak Intan dan mas Bagas gak ada katanya nganter mbak pulang hati hati dijalan ya mbak aku jadi trauma}


isi pesan Naya

__ADS_1


__ADS_2