
malam tiba Bagas menemui teman kenalannya yang bernama Fauzi sesuai janji.
"assalamualaikum bro sorry telat"
ucap Fauzi tersenyum, ia datang bersama adik perempuannya yang bernama Intan.
"waalaikum salam gak papa bro mari duduk"
jawab Bagas membalas senyuman teman kenalannya.
"oh ya maaf mas Bagas aku kesini bawa adik perempuanku kenalin namanya Intan, Tan ini teman baru mas namanya Bagas
Fauzi saling memperkenalkan adik dan temannya.
"Intan"
Intan menyalami Bagas dengan mengapitkan kedua tangannya didada.
"Bagas"
Bagas pun sebaliknya.
mereka duduk masing masing. saling mengobrol ringan.
"ohh iya mas Bagas apakah sudah menikah??"
tanya Fauzi tiba tiba.
"belum dua kali mas hehehe"
canda Bagas.
"maksudnya??"
tanya Faiuzi bingung
"aku sudah pernah menikah sekali mas, kami cerai dan sampai sekarang belum bertemu jodohnya hehehe"
ucap Bagas cengengesan.
"ohhh kirain sampai kaget akunya"
jawab Fauzi lega ia berniat memperkenalkan adiknya untuknya karna Bagas kelihatan orang baik baik.
"maaf mas"
ucap Bagas lagi.
"ya gak papa mas, berarti mas Bagas duda ya??"
tanya Fauzi lagi memastikan karna dari tadi Intan memerhatikan Bagas seperti orang mengagumi.
"ya mas saya duda belum punya anak"
jawab Bagas lagi.
lalu mereka pun mengobrol ringan sampai Bagas pamit duluan.
"mas Fauzi saya pulang dulu ya terima kasih mas sudah berkenan bertemu saya"
pamit Bagas sopan menjabat tangan Fauzi.
"sama sama mas Bagas saya juga terima kasih mas Bagas sudah mau bertemu dengan saya dan adik saya"
jawab Fauzi
"sama sama mas jangan kapok ketemu saya assalamualaikum"
ucap Bagas sebelum berlalu meninggalkan Fauzi dan Intan adiknya.
"waalaikum salam"
jawab Intan dan Fauzi bersamaan.
"sudah dengar kan Bagas masih single??"
Fauzi memberitahu. setelah Bagas berlalu
"apaan sih mas siapa yang mau tanya tentang statusnya."
peotes Intan karna ketahuan diam diam memperhatikannya.
"gak usah ngeles?? mas tau kok daritadi kamu mratiin Bagas terus??"
ucap Fauzi.
"apa sihhh ayo ah pulang aku ngantuk"
Intan mencari alasan agar tidak diledek lagi.
"ya sudah ayo"
Fauzi mengalah akhirnya mereka menuju pulang.
**
ponsel Naya masih belum berhenti berdering Naya pun masih tetap acuh tak menghiraukannya.
hingga akhirnya Ryan yang sekarang berstatus mantan suami mengirimi pesan untuknya
{Nay mas mohon tolong angkat telponnya mas minta maaf}
isi pesan dari Ryan
Naya hanya membuka dari notifikasi tanpa membuka ke aplikasi hijaunya.
ia masih tetap tidak menghiraiukan mantan suaminya itu.
***
hari minggu pun berlalu berganti hari senin waktunya menjalankan rutinitas sehari hari
Juna mengirim pesan kepada Naya.
ting
bunyi pesan diponsel Naya, ia pun membuka pesannya.
{good morning my sunshine semangat ya}
{morning too ya kak, kakak juga semangat ya}
tidak lupa Naya memasang emoji tersenyum ceria.
akhirnya ia pun terpaksa membaca pesan dari mantan suaminya tapi ia enggan membalasnya dan menutup kembali ponselnya dan bersiap siap untuk berangkat kerja.
setelah saling sapa bersama sahabat sahabatnya Naya pun menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.
**
"kak kantin yuk laper"
ajak Tata saat jam istirahat.
"bentar lagi Ta tunggu ya?? bentar aja"
pinta Naya tangannya sedang membereskan berkas yang berserakan.
Tata pun mengangguk menunggu Naya selesai membereskan berkasnya.
setelah selesai mereka pun berjalan bersama bergandengan menuju kantin pabrik.
"Nay Ta dong mas ikut"
panggil Bagas
"gak mau ahh lari ayo Ta??"
goda Naya cengengesan.
"ayo kak"
Tata ikut menimpali mereka berdua pura pura berlari meninggalkan Bagas
"wah resek kalian berdua"
Bagas ikut mengejar Naya dan Tata.
"kalian berdua itu ya seneng sekali ngerjain aku"
ucap Bagas ngos ngosan menarik hijab keduanya.
hahahahaha
"ampun kak ampun"
Naya cekikikan diikuti Tata.
"mas capek tau gak ngejar kalian"
ucap Bagas ikut cekikikan dan mereka bertiga kekantin bersama sambil bercanda bersama Bagas berada ditengah tengah Naya dan Tata
"mbak Naya boleh tanya sesuatu gak??"
tanya Lily ikut duduk dikursi sebelah Naya
"iya Ly silahkan mau tanya apa??"
tanya Naya balik.
__ADS_1
"mbak katanya mbak Naya udah cerai ya??"
tanya Lily berbisik ditelinga Naya.
"ya benar Ly mbak sudah pisah sama suami kenapa Ly??"
tanya Naya penasaran
"gak mbak cuma nanya aja soalnya kata Yayuk mbak Naya bercerai karna lebih memilih selingkuhan mbak yang kaya itu gitu sih yang aku dengar mbak"
jawab Lily masih berbisik.
"udah biarin aja Ly gak usah didengerin udah biasa Yayuk kayak gitu, jadi mbak gak kaget "
ucap Naya.
"ya mbak maaf ya mbak"
sesal Lily
"ya gak papa santai aja ya"
pinta Naya
akhirnya Lily kembali dikusinya bersama teman temannya.
"bisik bisik apaan sih kak kepo tau gak??"
tanya Tata penasaran.
"bisik bisik tetangga hahaha"
Naya tertawa
"ihh nyebelin gak mau kasih tau aku tega banget kamu kak??"
Tata kesal.
"kepo banget sih kamu Ta"
Naya cekikikan.
"gak usah cekikikan kayak kunti gitu gak lucu"
ucap Tata manyun.
"kepo aja apa kepo banget??"
goda Naya.
"kalian berdua itu ya benar benar deh bikin gemes"
ucap Bagas mencubit pipi Tata adiknya
"apaan sih mas sakit tau"
keluh Tata masih memanyunkan bibirnya.
Naya cekikikan melihat tingkah mereka ia teringat kakak tertuanya dan adiknya sering melakukan hal seperti yang ia lihat didepan matanya.
sambil menyantap makanannya.
selesai mengisi perut mereka pun menuju ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
**
"kok ada motor ku yang dulu?? berarti ibu mas Ryan kesini hahh ya allah apa lagi coba heran aku"
keluh Naya dalam hati.
ia masuk kedalam rumah dengan terpaksa dengan lesu.
"assalamualaikum"
ucap Naya masuk kedalam rumah.
"waalaikum salam"
jawab serempak yang ada didalam rumah.
kemudian ia menyalimi kedua orang tuanya dan mantan mertua.
"ibu sehat??"
tanya Naya basa basi
"iya seperti yang kamu lihat, ibu kesini disuruh Ryan tolong angkat telponnya dan selesaikan urusan kalian berdua ibu capek harus bolak balik terus nyamperin kamu"
jawab ibu Ryan to the poin.
"iya bu maaf Naya sibuk soalnya"
"iya ibu tau kamu bukan perempuan pengangguran sekarang kamu wanita karir jadi sibuk tapi tolong ya Nay selesain urusan kamu dengan Ryan."
ucap ibu Ryan sewot.
"ya bu"
jawab Naya singkat.
lalu ia pun masuk kekamarnya tanpa memperdulikan mertuanya yang lagi menahan emosi.
"sudah kan bu??"
tanya ibu Naya dengan nada halus tapi bermaksud mengusir mantan besannya itu.
"iya sudah bu saya minum dulu haus"
jawab ibu Ryan yang tau maksud mantan besan tersebut.
"ya silahkan bu"
ucap ibu Naya
tidak lama setelah meminum minumannya Agung dan ibunya pun berpamitan dan berlalu dari rumah orang tua Naya.
Naya sendiri sengaja berlama lama dikamar dan kamar mandi karna sudah malas bertemu dengan mantan mertuanya.
***
sebulan telah berlalu Naya sudah menyandang dengan status janda anak satu masih dalam masa iddah. Naya masih bekerja dipabrik milik Bagas membantu Tata mengurus berkas berkas pabrik. ia juga tidak pernah menghiraukan panggilan dari Ryan mantan suaminya.
Naya benar benar membuka lembaran baru setelah bercerai dari suaminya walaupun agak sulit karna ia terbiasa hidup tercukupi karna suaminya selalu memberikan apapun yang ia minta tapi Naya tetap berusaha berjuang.
"bu sabtu besok kan Naya libur jadi mau jenguk Malik kepondok ya??"
ucap Naya meminta izin
"tanya bapakmu dulu sana"
ibu Naya memberitahu
"ya sudah"
jawab Naya berlalu menuju ruang tivi dimana bapaknya berada.
"pak??"
panggil Naya.
"ya ada apa nak??"
jawab bapak Naya menoleh karna masih menonton berita ditivi.
Naya pun duduk disebelah bapaknya
"pak sabtu besok kan Naya libur Naya mau minta izin mau ke pondok mengunjungi Malik pak??"
Naya meminta izin.
"sama siapa??"
tanya bapak Naya
"sendiri pak naek kereta"
jawab Naya
bapak Naya mengerutkan alis.
"kok sendiri??"
tanya bapak Naya heran
"maksud bapak??"
tanya Naya bingung
"gak minta dianterin nak Juna Nay??"
tanya lagi bapak Naya
"apaaa??"
Naya terkejut.
bapak Naya hanya diam saja menatap anak perempuannya yang baru saja berstatus janda ada rasa iba bercampur lega
"apa hubungannya Naya sama kak Juna pak?? kok kak Juna diikut ikutin"
__ADS_1
Naya minta penjelasan.
"ya kan Juna juga sering jemput Malik Nay bapak juga lebih tenang kalau kamu bersamanya dari pada sendiri naek kereta takutnya kenapa napa"
bapak Naya memberi tau.
"gak usah pak aku sendiri saja, lebih nyaman, selain itu juga kak Juna ada di Jakarta kasian kalau suruh nganterin aku, aku juga gak mau terus menerus ngrepotin kak Juna pak Naya juga kan biasa sendiri naek kereta bapak gak usah khawatir ya"
Naya menjelaskan.
"ya sudah kalau begitu nanti yang antar ya??"
pinta bapak Juna
"sippp, ya sudah pak aku mau istirahat dulu pak"
pamit Naya.
"ya"
jawab bapak Naya fokus lagi menonton tivi acara berita terkini lagi.
setelah Naya masuk kamar ia langsung memesan tiket kereta lewat aplikasi online
selesai memesan ia pun bergegas istirahat agar besok tidak ketinggal kereta.
**
keesokan paginya
kereta Naya pukul 08.50 ia berangkat dari rumah jam 07.35 dari rumah menuju stasiun semarang
Naya tiba distasiun pukul jam delapan lebih ia kenunggu keretanya kurang lebih setengah jam bagi Naya lebih baik menunggu kereta dari pada terlambat ketinggalan kereta.
saat Naya duduk dikursi ada seseorang yang duduk disampingnya.
"hay cantik??"
sapa seseorang pria yang bernama Alim duduk disebelahnya.
Naya hanya menoleh dan cuek kembali
"mbak cantik kok cuek banget??"
tanya seseorang bernama Alim.
Naya masih cuek saja.
"Inayah maharani??"
akhirnya laki laki bernama Alim menyebut nama Naya.
Naya pun akhirnya menoleh karna namanya dipanggil.
"kamu siapa kok tau namaku??"
tanya Naya penasaran karna ada pria asing mengenal dirinya.
"kamu lupa sama aku Nay??"
tanya balik Alim
"siapa?? maaf aku lupa??"
tanya Naya canggung
"kamu gak ingat Nay?? kita pernah bersama dulu Nay kamu gak ingat??"
tanya Alim lagi
"hahh tinggal bersama?? kapan?? perasaan aku gak pernah tinggal sama kamu deh"
jawab Naya bingung karna ia benar benar tidak mengingatnya
"Nay aku Alim apa kamu ingat??"
Alim menjelaskan
"Alim?? Alim siapa ya"
Naya garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"kamu masih gak ingat Nay??"
tanya Alim lagi Naya hanya geleng geleng kepala.
"kamu ingat Iis?? anak Pegandon??"
tanya Alim lagi
"mbak Iis sama Yana maksudnya?? yang anak Pegandon itu yang sepupuan sama aku itu, anak ibu Komsatun sama ibu Zaroh??"
tanya Naya memastikan.
Alim mengangguk meng iyakan.
"iya aku ingat walaupun jarang ketemu sihh"
ucap Naya cengengesan.
"nah kamu ingat terus ingat tidak sama aku??"
tanya Alim kembali Naya masih menggeleng tidak ingat.
"ya allah Nay sama Iis dan Yana kamu ingat sama aku gak ingat"
keluh Alim prustasi
Naya hanya tersenyum canggung karna ia tidak enak hati Alim sudah menjelaskannya tapi ia masih belum ingat juga.
Alim menghela nafas karna greget dengan Naya sudah ia jelaskan tapi masih tidak ingat
"Nay namaku Mualimin tapi kamu gak mau manggilku dengan sebutan Alimin dan kamu dengan pedenya manggil aku mas Alim mas Alim gitu?? dulu kita pernah tinggal bersama walaupun hanya beberapa hari tapi kita dulu sering main bareng kalau kamu berkunjung kerumahku kerumah Iis dan Yana, apa kamu masih gak ingat??"
Alim menjelaskan panjang kali lebar masa kecilnya kala bersama Naya dan teman teman sepermainannya.
"tapi kok aku gak ingat kamu ya?? nama ibumu siapa?"
tanya Naya penasaran
"ibuku kholipatun, bu tun kamu ingat??"
Alim memberitahu
"oh bu tun kamu cowok yang dulu itu??"
tanya Naya lagi setelah ingat.
"jadi kamu sudah ingat??"
Alim memastikan.
"ya ingat mas Alim kan"
Naya memperjelas.
Alim mengangguk senang akhirnya Naya mengingatnya.
"maaf tadi aku sempet lupa"
sesal Naya.
" bagaimana kabarmu?? sehat kan kita gak ketemu udah berapa abad ya hihihi"
Naya cekikikan.
"alhamdulillah sehat, kamu sehatkan??"
tanya balik Alim.
"alhamdulillah."
Naya sama mengangguk.
"kamu mau kemana??"
tanya Alim lagi
"ke Jogja jenguk anakku"
jawab Naya santai.
"hahhh anak??"
Alim kaget karna Naya tidak kelihatan seperti wanita yang sudah punya anak.
Naya mengangguk pasti.
"maaf kirain masih prawan gak kelihatan soalnya gak kelihatan"
Alim cengengesan
"gak papa udah biasa kok kayak gitu, baby pack"
jawab Naya ikut cengengesan
"maaf ya kereta ku sudah datang daaa"
pamit Naya langsung masuk gerbong dan meninggalkan Alim
__ADS_1
Maaf ya kak dikit dulu masih kecapekan habis hajatan 🙏😅