
dan setelah jam makan siang Bagas Intan dan Tata pun makan siang bersama diruangan Bagas tidak lupa mengambil foto untuk dipamerkan ke Naya
"kenapa senyum senyum gitu Ta?? mencurigakan kamu ya??"
tanya Bagas heran
"biasa aku pamerin ke kak Naya pasti dia kepanasan kita kumpul kumpul dan nanti pasti merengek ke mas Juna hihihi"
Tata cekikikan yang diikuti Intan
"kamu itu ya seneng banget bikin Juna kelimpungan"
Bagas mencubit pipi Tata adiknya gemas karna suka bikin susah orang lain
"gak papa biar mas Juna hidupnya lebih berwarna gak hitam putih doang hahaha"
Tata mala tertawa
Bagas hanya geleng geleng kepala dengan tingkah adiknya
"lah emang hidup mas Juna bagaimana dulu kok hitam putih??"
tanya Intan penasaran
"dulu hidup mas Juna lurus mbak sejak bertemu kembali dengan kak Naya jadi banyak belok melengkung bulat ya pokoknya gitu deh"
jawab Tata cekikikan
"gak jelas banget sih"
cibir Bagas
"maksudnya??"
tanya Intan bingung dengan penjelasan Tata
"ya hidupnya sebelas dua belas lah mbak sama mas Bagas, gak punya tujuan hanya ada kerja kerja kerja dan kerja, kayaknya kalau bisa waktu kerja adalah pacarnya"
ledek Tata
Intan melongo
"masak sih Ta??"
tanya Intan lagi ia ingin tau kehidupan calon suaminya sebelum bertemu dengannya
"Tata??"
tegur Bagas tapi sang adik tidak menghiraukannya
"he'em mbak padahal dulu tu ya banyak banget yang naksir sama mas Bagas dan mas Juna tapi mereka berdua cuek cuek angsa gitu apalagi mas Juna dia tidak akan segan segan mendorong para perempuan yang berani menggodanya, tapi kadang heran sama semua perempuan gak kapok kapok walau sudah didorong"
cerita Tata
Bagas mencubit hidung adiknya tapi tidak dihiraukan karna ia sedang semangat empat lima bercerita
"wah cowok idaman banget dong, kuat iman"
jawab Intan kagum melirik kearah calon suaminya
"he'em mbak, wajar sih mas ku dan mas Juna kan cakep tajir lagi, tapi kepincutnya kamu dan kak Naya yang pada suka bikin pusing hahhaha"
Tata tertawa mengingat dua pria harus selalu ia dan Naya bikin pusing atas kemauhannya
"untung mbak agak kalem gak terlalu banyak tingkah kayak aku dan kak Naya"
Tata cengengesan
"ya juga ya kalau dipikir pikir, kamu lebih gampang, ketimbang Tata dan Naya"
ucap Bagas cekikikan
Tata menjitak kepala Bagas
"sakit Ta, Yang adik kamu ini kurang sambel"
Bagas mengaduh manja pada Intan
Intan cekikikan
"kakak laknat jelek jelekin aku ke mbak Intan"
cibir Tata
Intan tertawa
"biarin biasanya aku selalu dikeroyok kamu sama Naya, sekarang Naya nya gak ada jadi berkurang satu"
jawab Bagas enteng
"awas aja kamu mas aku aduin ke kak Naya biar dikeroyok"
ancam Tata
"bodo amat aku udah punya Intan"
jawab Bagas santai
Tata manyun kesal dengan kakaknya
"tuan putriku gak usah manyun gitu nanti tambah jelek kan gak lucu"
ledek Bagas
"auk ahhh"
jawab Tata kesal
**
dikamar Naya menonton drakor kesukaannya untuk mengurangi kebosanannya
"ya allah cha eunwoo ganteng banget sih kamu"
puji Naya kala adegan artis korea bernama cha eunwoo tayang
Naya menontonnya sampai ketiduran kala Juna menghubunginya tidak terangkat karna Naya sudah ke alam mimpi
dan Juna beralih menghubungi ibu Naya dan menanyakan keadaannya
panggilan tersambung
"assalamualaikum gimana Jun??"
tanya ibu Naya
"waalaikum salam maaf bu menganggu Juna mau tanya Naya lagi apa Juna telpon gak diangkat"
jawab Juna sopan
"bentar ibu periksa dulu nak"
ucap ibu Naya kemudian melangkah kekamar anak perempuannya
"lagi tidur Jun, mau ibu bangunin??"
tanya ibu Naya
"tidak usah bu biarkan dia istirahat saja, ya sudah bu kalau begitu terima kasih sudah mau Juna repotkan, asaalamualaikum"
pamit Juna menutup telponnya setelah mendapat salam dari ibu Naya
***
seminggu telah berlalu setelah Juna menyelesaikan pekerjaannya ia langsung pulang ke Semarang untuk mengecek kekurang acara pernikahannya dan Bagas
"Gas aku pulang Semarang jemput gih sekalian kita fiting gaun untuk Naya dan Intan"
ucap Juna
"ok deh aku meluncur sekarang"
jawab Bagas langsung bergegas menuju bandara untuk menjemput sahabatnya
"kita jemput Intan dulu ya baru Naya"
ucap Juna setelah ditengah perjalanan dari bandara
"siap"
jawab Bagas
lalu mobil Bagas meluncur kerumah Intan
"assalamualaikum"
Juna dan Bagas mengucap salam saat sudah sampai dirumah orang tua Intan
__ADS_1
"waalaikum salam, mas duduk dulu aku ambil tas dikamar"
jawab Intan langsung masuk kekamarnya
Juna dan Bagas pun ikut duduk diruang tamu menunggu Intan
"bu pamit dulu ya mas Bagas sudah sampai"
ucap Intan pada ibunya
"ya sudah hati hati"
jawab ibu Intan
"Gas Jun titip anak ibu ya, hati hati dijalan"
pesan ibu Intan
"insyallah bu"
jawab Juna dan Bagas sopan
lalu mereka pun langsung beralih meluncur kerumah Naya
"kak, mas"
ucap Naya tersenyum senang saat mengetahui mobil Bagas sudah sampai dihalaman rumahnya
"sayang"
jawab Juna sudah merentangkan tangannya ingin memeluk Naya tapi Naya mala memeluk Intan
"apa kabar mbak, maaf ya jadi ngrepotin kesini"
sapa Naya melepaskan pelukannya
"gak papa aku mala senang kita bisa pergi bersama"
jawab Intan
"maaf kak"
ucap Naya cekikikan
"kamu gak kangen kakak sayang??"
Juna memelas
Naya hanya tersenyum
"bentar aku pamit dulu ke ibu mumpung ibu belum pergi"
ucap Naya langsung berlalu kedalam rumah menghampiri ibunya
"Juna sudah datang Nay??"
tanya ibu Naya
"sudah bu"
jawab Naya menggandeng tangan ibunya keluar rumah
tiba tiba Ryan datang menghampirinya
"pada mau kemana?? rame rame"
Tanya Ryan dingin
Naya hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Ryan mantan suaminya
"Nay aku tanya kamu, kamu mau kemana??"
tanya Ryan lagi mencekal lengan Naya dengan suara meninggi
"jaga sikapmu, dia bukan lagi milikmu"
Juna menepis tangan Ryan memperingatinya
"dia tetap milikku, akan tetap jadi milikku"
ucap Ryan pada Juna tapi matanya melihat Naya
"aku gak mau sama kamu mas, aku gak mau lagi denganmu, dan aku sudah berkali kali bilang ini, tolong jangan ganggu aku lagi mas"
pinta Naya memohon
ucap Ryan memelas
"aku nya yang gak cinta lagi"
jawab Naya cepat dan tegas
lalu masuk kedalam mobil dan dengan cepat menutup pintunya
"Nay tolong dengarkan aku dulu sayang, Nay??"
panggil Ryan mengetuk kaca mobil Bagas
"sebaiknya mulai sekarang jauhi Naya, jangan sampai aku bertidak kelewat batas"
Juna mengingatkan lalu masuk kedalam mobil dan Bagas pun langsung berlalu dari rumah orang tua Naya
"Yan relakan Naya ya nak?? biarkan dia bahagia"
ucap ibu Naya
"tapi bu aku masih mencintainya"
jawab Ryan sopan
"ibu tau, tapi mau bagaimana lagi, ibumu yang menyuruhnya berpisah, Naya hanya menurutinya saja nak, kamu nurut ya sama ibumu"
nasehat ibu Naya Ryan hanya diam saja tidak menjawab ucapan ibu Naya
"pulang lah nak, ibumu memcarimu, jangan tambah masalah lagi ya"
pinta ibu Naya berlalu masuk kedalam rumahnya
Ryan masih terdiam mematung didepan rumah ibu Naya
dalam rumah ibu Naya masih mengintip keberadaan mantan menantunya yang masih setia berdiri mematung diluar rumahnya
"kenapa gak pergi pergi, nanti kalau ada yang lihat ngadu ke emaknya dan nanti emaknya nyari masalah kesini, bikin pusing aja sih ni orang"
cerocos ibu Naya dalam hati
**
didalam mobil Naya masih memasang wajah kesalnya karna diganggu kembali oleh Ryan
"sayang jangan ngambek terus dong, kakak udah usir dia tadi"
bujuk Juna
Naya hanya diam saja
"sayang bidadariku, kamu ingin apa?? kakak beliin ya??"
Juna masih membujuk
"apa mau es cream?? atau cemilan lain sayang?? hmm kamu mau apa??"
bujuk Juna lagi
"Jun gak mempan, gimana dong gak mungkin dengan mood dia gitu kita fiting"
gumam Bagas berbisik karna Juna duduk didepan samping pengemudi
"itu dia makanya bikin mood dia bagus dulu, baru kesana"
jawab Juna juga ikut berbisik
"gara gara kecubung gila itu jadi gini"
bisik Bagas lagi
"he'em kesel aku"
jawab Juna kesal
"gimana ya mbak caranya biar mantan suami gak ganggu lagi?? capek diganggu mulu, mbak Intan dulu gimana cara ampuh ngusir mantan??"
tanya Naya tiba tiba
"lahh gimana mau ngusir Nay orang dianya yang kabur bawa uang keluargaku"
jawab Intan apa adanya
__ADS_1
"hahhhh jadi mbak kena tipu suami sendiri??"
tanya Naya penasaran
Intan mengangguk
"iya dia bawa kabur uang 300jt rupiah hasil jual sawah bapak dan meninggalkan utang 200jt beserta bunga bunganya direntenir Nay, aku dan keluargaku kelingpungan waktu itu untung ada mas Fauzi jadi dia yang bantu nglunasin utangnya sejak saat itu aku gak mau dekat dengan semua laki laki takut kena tipu lagi"
Intan menceritakan masa lalunya
Naya langsung memicingkan matanya ke arah Bagas
Bagas yang merasa ditatap tajam pun salah tingkah tingkah
"waduh kok mala matanya lihat ke aku, gawat kalau sudah begini tanda tanda gak enak"
gumam Bagas dalam hati
"awas ya mas kalau kamu berani tipu mbak Intan"
ancam Naya
"ya allah ada yang kayak gitu, terus mbak Intan berapa lama berumah tangga dengannya?? aku kepo mbak"
tanya Naya lagi cengengesan
Juna dan Bagas hanya menggeleng dengan ucapan Naya
"2 tahun kami berumah tangga baru tau belangnya dan kami juga gak pacaran kenal ketemu dua kali langsung nikah, nikahnya pun sederhana tanpa ada pesta pesta segala hanya akad saja, ternyata mala ketipu niat hati ingin menghindar dari pacaran karna dalam syariat islam itu dosa tapi mala begitu jadinya"
curhat Intan
"iya sih, tapi gimana ya mbak kadang aja ada yang bacaran lama berlanjut nikah terus baru juga ketahuan belangnya, aku aja dulu pacaran 3 tahun sama mas Ryan dan ibunya masih baik baik saja, setelah menikah baru tau sifatnya kayak gitu, gak tau juga sih mbak namanya manusia kadang cuma kelihatan baik diluarnya aja"
jawab Naya
"itu dia,hahhh pasrahkan saja pada yang diatas kita sebagai hambanya jalani dan nikmati saja prosesnya"
ucap Intan berlapang dada
"he'em insyallah mbak"
jawab Naya tersenyum
"alhamdulillah udah mau senyum lagi tu anak emang benar benar ya bikin aku jantungan aja"
gumam Juna dalam hati
"kak jadi tidak beli es Creamnya??"
tanya Naya kemudian
"jadi dong"
jawab Juna senang
"Gas cari toko es cream ya"
ucap Juna
"siap juragan"
jawab Bagas langsung mencari toko es cream yang diinginkan Naya
"kak ajak Stela dan Tata ya biar rame menikmati es cream bersama gitu, kayaknya kurang afdzol deh kalau gak kumpul kumpul gitu"
celetuk Naya
"Nay gak usah aneh aneh deh, Tata dan Stela kerja"
tegur Bagas
"nanti aku bantuin mas biar cepat selesai, aku udah musyawarah sama kak Juna aku kerja dari rumah aja gak papa yang penting jangan sampai kecapekan"
jawab Naya santai
"bener Jun??"
tanya Bagas memastikan
Juna mengangguk pasti
"terpaksa dari pada dia berangkat ke pabrik pulang pergi, aku kerja suruh kerja dirumah saja sebisanya"
bisik Juna
Bagas manggut manggut
"gak usah bisik bisik aku masih dengar ya, kupingku belum bolot"
sindir Naya
Juna dan Bagas hanya cengesan
Juna langsung menghubungi Tata dan Stela untuk ikut bergabung bersama mereka berempat
Stela langsung meluncur kelokasi diantar supir kantor begitu dengan Tata yang juga diantar supir pabrik
"ya salam dikacangan lagi ini nanti alamat alamat"
gumam Juna
Bagas cekikikan dengan nasib sahabatnya yang selalu dicuekin Naya bila berkumpul bersama para kaumnya
tidak lama mereka tiba dilokasi yang dituju
dan langsung masuk kedalam dan menunggu adik adiknya datang berkumpul
"halo semuanya"
ucap Stela dan ibunya
wajah Naya sumringah dengan kedatangan calon mertuanya
"lah tambah lagi satu, bikin tambah pusing aja"
umpat Juna dalam hati
"bu alhamdulillah"
Naya langsung bangkit menghampiri calon mertua dan adik iparnya
"ibu apa kabar??"
sapa Naya mencium punggung tangan ibu Juna dan memeluknya tidak lupa memeluk Stela adiknya
"alhamdulillah baik sayang, kamu apa kabar semenjak dari rumah sakit gak pernah ketemuan"
tanya ibu Juna
"biasa bu, anak ibu itu nglarang aku ini itu sampe bosen aku dirumah terus"
Naya mengaduh
ibu Juna terkekeh mendengar pengaduan calon menantunya
"dia sayang banget sama kamu, gak ingin kamu kenapa napa, maklumin aja ya sayang"
ibu Juna mencoba memberi pengertian pada Naya calon menantunya
Naya mengangguk tersenyum nyengir menampakkan giginya
"ayo duduk bu"
ucap Naya menggandeng calon mertuanya untuk duduk bergabung bersama
"Jun kenapa mukanya ditekuk gitu??"
senggol Bagas melihat wajah kesal Juna
"noh lihat?? hahhh tambah alamat"
jawab Juna menghela nafas pasrah
Bagas menengok ke arah yang ditunjuk Juna dan terkekeh
"sabar Jun walau bagaimana pun juga kan memang mereka dekat udah akrab"
ucap Bagas
"iya akrab sih akrab aku senang dia gampang akrab dengan keluargaku tapi kalau tiap kali aku selalu dikacangin sama mereka ya sama aja, mala bikin aku tambah ngenes dicuekin"
jawab Juna lemas
Bagas cekikikan
"kenapa anak ibu lemes gitu, gak pulang kerumah lagi, pintar banget ya kamu Jun"
__ADS_1
ibu Juna mengoceh karna anaknya tidak memberitahu kedatangannya