
sambil makan sambil mengobrol dengan Naya lewat video call Naya menemaninya dengan senang hati sampai Juna selesai makan dan kembali kekamarnya
selesai mengobrol dengan Naya lewat layar diponselnya mereka pun mengakhiri panggilan teleponnya dan memutuskan untuk istirahat karna hari senin menyambutnya
***
seminggu telah berlalu Juna masih berada di Semarang dan untuk mengajaknya berkunjung ke kantornya
"nanti kakak jemputnya??"
ucap Juna diseberang layar laptopnya
"ya kak tapi kantor kakak besar tidak??"
tanya Naya penasaran
"ya gitu deh, nanti kamu lihat sendiri tapi kakak harap kamu jangan minder atau kabur ya kakak gak mau"
pinta Juna
"iya"
Naya mengangguk manggut manggut
"ok deh kakak kerja gihh aku juga mau lanjut kerja assalamualaikum"
Naya mengakhiri panggilan videonya dan melanjutkan pekerjaannya.
"waalaikum salam"
jawab Juna yang panggilannya sudah ditutup oleh Naya
Juna pun melanjutkan pekerjaannya hingga waktu memasuki jam makan siang tiba Juna menjemput Naya dipabrik untuk mengajaknya makan siang
"assalamualaikum sayang??"
ucap Juna kala membuka pintu ruangan pujaan hatinya bersama Bagas
"hahaha waalaikum salam mas, kak Naya nya lagi keluar tadi tunggu bentar ya"
jawab Tata tertawa
Juna pun mengangguk dan duduk disofa ruangan menunggu Naya datang Bagas pun ikut demikian
Naya masuk tanpa mengucap salam memasang wajah kesalnya
"kenapa sayang dengan wajahmu?? kenapa wajahnya ditekuk gitu hmm??"
tanya Juna lembut
Naya hanya diam saja menahan rasa kesalnya
"sayang??"
panggil Juna menghampiri Naya yang duduk dikursinya
"ibu mas Ryan datang kesini kak dia minta aku untuk rujuk dengan anaknya"
Naya akhirnya memberitahu Juna
deggg
hati Juna mulai resah takut Naya lepas dari genggamannya tapi ia mencoba untuk tetap tenang
"terus kamunya mau kak??"
tanya Tata penasaran ia juga sempat melihat reaksi Juna berubah
"aku gak mau rujuk lagi sudah cukup, karna mereka aku takut berumah tangga lagi aku masih trauma dengan semuanya"
jawab Naya sedih mengingat masa lalunya
"jangan dipikirkan, kalau memang kamu sudah tidak mau dengannya ya sudah abaikan saja"
Juna ikut angkat bicara
"iya mbak seenaknya saja nyuruh kamu rujuk dan cerai dulu nyuruh kamu cerai sekarang nyuruh kamu rujuk, emang mereka pikir dia siapa kamu bukan mainan ya dasar keluarga tak ada akhlak gak ada otak"
maki Tata kesal dengan kelakuan keluarga Ryan
Juna dan Bagas hanya dia saja tanpa berkomentar
"mereka nyuruh aku rujuk dengan alasan Malik Ta, aku tau Malik juga butuh sosok ayah, setiap anak membutuhkan kasih sayang orang tua kandungnya aku juga membebaskan mas Ryan bertemu dan berhubungan dengan Malik tanpa ada halangan, tapi aku gak mau kalau harus kembali dengan mas Ryan aku sudah nyaman hidup menjanda, aku tidak ingin terikat dalam rumah tangga lagi, tapi mereka bilang kalau aku belum juga menikah lebih baik rujuk kembali demi Malik, mereka pikir hidup tanpa anaknya aku menderita justru aku lebih nyaman tanpa memikirkan konflik rumah tangga yang tiada ujungnya aku benar benar kesal dengan keluarga mas Ryan hampir tiap hari mereka mendatangi rumahku dan sekarang mereka mala kesini apa yang harus aku lakukan Ta??"
Naya meminta pendapat sahabatnya
"abaikan saja kak?? gak penting kalau memang kamu belum ingin berumah tangga lagi, lagian mereka seneng banget sih bikin acara kenapa gak bikin sinetron aja kayaknya bakalan sukses tu"
ucap Tata kesal
"gak tau ah malas aku ngurusin keluarga mas Ryan"
jawab Naya tak kalah kesal.
Juna dan Bagas hanya menyimak apa yang dibicarakan oleh dua wanita didepannya
"ya allah aku lupa, kak Juna jadi makan bareng??"
tanya Naya pada Juna
"sudah ingat kakak sayang??"
Juna nyengir kuda
"maafkan kau kak habisnya aku kesal maaf ya jadi tidak kalau tidak aku makan dikantin saja"
tanya Naya
"jadi dong ayo kita berangkat"
ajak Juna
mereka pun keluar ruangan menuju rumah makan yang sudah dikasih tau oleh Juna
"kak nanti kamu jangan kaget ya kalau sampai kabtor mas Juna??"
ucap Tata berbisik saat Juna dan Bagas sedang asyik mengobrol
"lahh emanga ada apa Ta sampai kaget??"
tanya Naya penasaran.
"nanti saja kamu juga lihat kak pokoknya kamu nurut aja sama mas Juna ya yang penting aku ingetin aja jangan kaget atau minder pokoknya gitu deh"
bisik Tata lagi
Naya semakin penasaran dengan apa yang Tata ucapkan
"lagi apa bisik bisik gitu?? lagi ghibahin siapa sih??"
Bagas bersuara
"gak mas ini lagi janjian nanti mau nonton film dibioskop"
Naya mencari alasan
"ohhhh"
jawab Bagas manggut manggut
"kak emang mau nonton bioskop??"
tanya Tata
"ya lah udah terlanjur kita masuk aja dulu kalau ada film yang bagus nonton kalau tidak ya sudah gak jadi"
jawab Naya enteng
"ya sudah terserah kamu ajalah"
ucap Tata akhirnya
__ADS_1
"ya sudah nanti kita nonton bioskop ingin nonton film apa??"
tanya Juna ikut bicara
"nanti saja lah kalu sudah sampai"
jawab Naya
Juna hanya mengangguk dan fokus menyetir kembali
tidak lama mereka sampai rumah makan yang agak megah dan turun dari mobil
"kita yakin makan disini?? kayaknya mewah banget deh tempatnya"
ucap Naya memastikan
"ayo masuk"
Juna tidak menjawab pertanyaan Naya mala menggandeng tangan pujaan hatinya untuk masuk kedalam
"pak bu"
Juna melambaikan tangan pada kedua orang tuanya.
mereka pun ikut melambaikan tangan tersenyum
"ibu"
ucap Naya senang bisa bertemu lagi dengan orang tua Juna dan mereka pun berpelukan menumpahkan rasa rindunya
"kamu apa kabar sayang?? kenapa main hanya sekali saja sering seringlah main nak"
pinta ibu Juna membelai lembut kepala Naya setelah melepaskan pelukannya dan Naya pun mencium punggung tangan ibu dan bapak Juna begitu pun dengan Bagas Juna dan Tata
"alhmadulillah sehat bu, ibu juga sehatkan??"
tanya Naya
"seperti yang kamu lihat"
jawab ibu Juna memutarkan tubuhnya
"bu jangan muter muter nanti jatuh"
tegur bapak Juna
"ya pak maaf habisnya ibu seneng banget sih"
jawab ibu Naya cengengesan
"mbak Naya Tata"
teriak Stela berlari kecil kearah mereka
Naya dan Tata pun menoleh kesumber suara
"Stel"
panggil Naya dan Tata kompak dan memeluk Stela
"ya allah manggil doang sampai kompak gitu"
geruru bapak Juna
ibu Juna menyenggol suaminya
"mbak, Ta apa kabar?? seminggu gak ketemu"
ucap Stela cengengesan
"alhamdulillah baik Stel"
ucap Naya yang dianggukan Tata
Juna tersenyum melihat keakraban keuarga mereka dengan Naya
"ayo duduk gak capek berdiri terus??"
ucap Juna
"pak ini Naya, Naya kenalin ini bapak aku"
Juna memperkenalkan Naya dengan bapaknya karna sebelumnya mereka belum pernah bertemu.
"Naya pak"
Naya mencium kembali punggung tangan bapak Juna
bapak Juna pun membelai lembut kepala calon menantu sambungnya (insyallah jadi ya bestie)
mereka mengobrol ringan sambil menunggu makanan datang.
setelah makanan datang mereka pun menikmatinya sampai habis
"pak bu Juna pamit kekantor ya bawa Naya, Stela juga sekalian"
pamit Juna pada kedua orang tuanya dan mereka pun menyamili kedua orang tua Juna
mobil pun berhenti didepan lobby kantor perusahaan Juna yang besar dan megah
Naya ternganga melihat keindahan kedung tersebut setelah turun dari mobil
"ayo"
ajak Juna menggandeng tangan Naya
"bentar kak ini kantor kakak??"
tanya Naya menahan langkah Juna
Juna hanya mengangguk sambil tersenyum
deggg
Naya langsung menciut melepaskan genggaman tangan Juna akan tetapi Juna mala menggengamnya semakin erat Naya merasa perbedaan mereka berdua terlalu terlihat jelas
"ayo Nay kakak kan udah bilang kamu gak boleh kabur atau minder, kakak udah bilang sebelumnya kan"
Juna mengingatkan
Naya hanya diam saja bingung harus berkata apa
"Ayo sayang"
ucap Juna lembut
Naya pun hanya mengangguk menurut dengan Juna dan mereka melangkahkan kakinya masuk kegedung yang menjulang tinggi itu
"mari masuk"
Juna mempersilahkan semuanya masuk keruangannya
Naya terkejut kala melihat papan nama yang terpapar dimeja kerja Juna yang bertuliskan CEO seketika nafas Naya terasa sesak melihat ruangan yang begitu megah
"ayo sayang duduk sini ya"
pinta Juna lembut
"kak tadi kan aku udah bilang jangan kaget atau minder nurut saja sama mas Juna"
bisik Tata ditelinga Naya karna mereka duduk berdampingan
Naya yang tersadar dan menoleh ke Tata
"tapi Ta aku pikir kak Juna gak sesukses ini Ta ternyata mala lebih yang aku kira"
keluh Naya
"sudah gak papa kak yang penting mas Juna menerimamu apa adanya"
Tata mengingatkan Naya hanya mengangguk tapi hatinya benar benar minder
__ADS_1
"mbak aku senang deh akhirnya kamu mau main kesini juga aku capek tau gak bujuk kamu terus tapi selalu kamu tolak"
keluh Stela kala Naya selalu menolak bila diajak berkunjumg kekantornya
"aku juga kerja disini mbak jadi wakil direktur mbak"
Stela memberitahu
Naya hanya diam saja mencerna apa yang mereka katakan
ia benar benar kaget melihat semuanya awalnya Tata dan Bagas, Naya merasa minder karna hanya tamatan SMA saja beda dengan lainnya yang semuanya tamatan sarjana dan sekarang Naya harus melihat Juna dan Stela yang menjabat sebagai CEO dan wakil direktur
membuat Naya semakin menciut dan minder dengan pertemanannya.
tok tok tok
pintu ruangan Juna diketuk dari luar
"masuk"
perintah Juna dan pintu pun dibuka dari luar
"maaf pak ini minuman dan cemilannya"
ucap sekretaris Juna yang bertugas luar ruangannya
"iya terima kasih Fa tolong letakkan saja dimeja"
pinta Juna
dan sekretarisnya yang bernama Shifa pun meletakkan pesanannya dimeja dan pamit undur diri
"ayo mbak dimakan cemilannya Ta ayo"
Stela mengajak semuanya ngemil
" ya Stel makasih"
ucap Tata memasukkan cemilannya kemulutnya sendiri
Naya hanya diam saja dengan pikirannya
sampai sore mereka berada dikantor Juna hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan seketika nafas Naya benar benar lega karna sejak tadi meresa sesak berada diruangan yang megah tersebut karna masih terkejut dengan semua yang ia lihat
sampai diperjalanan pun Naya masih terdiam membisu tanpa mau bicara apapun
saat sampai pabrik mereka pun turun kecuali Naya yang Juna cegah agar ikut mobilnya mengantarkan dirinya pulang kerumah
"Nay kakak mau bicara dan sekalian anterin kamu pulang"
ucap Juna dengan wajah datar dan dinginnya
deg
seketika Naya terkejut melihat perubahan wajah Juna yang tidak biasa ia lihat
Naya hanya mengangguk dan menutup pintu kembali.
ia pun memasang wajah sama dengan Juna
"mau bicara apa kak??"
tanya Naya dingin
"maafkan aku Nay bukan bermaksud bohongin kamu tapi..."
omongan Juna dipotong oleh Naya
"aku yang minta maaf kak maafkan aku seharusnya aku bercaya denganmu sejak awal, akunya yang bodoh padahal kakak sudah menjelaskannya sejak awal tapi akunya yang tidak mau percaya, lebih tepatnya menolak percaya kak,maafkan aku kak"
ucap Naya menangis dan Juna pun memeluknya untuk menenangkannya
"aku mencintaimu tulus Nay, tolong jangan tinggalkan aku hanya karna kamu tau aku yang sebenarnya aku tidak ingin kehilanganmu lagi aku mohon"
Juna memohon
Naya hanya diam saja dengan ucapan Juna
"Nay tolong"
Juna masih memohon
Naya masih diam membisu
Juna pun akhirnya melajukan mobilnya mengantarkan Naya sampai dirumah.
"kak aku akan pertimbangkan tapi aku pinta tolong jangan kecewakan aku, kalau kakak kecewa tolong katakan padaku"
ucap Naya setelah turun dari mobilnya karna mobilnya sudah sampai halaman rumah orang tua Naya.
"iya Nay kakak akan berusaha tidak mengecewakanmu sayang maafkan kakak seharusnya kakak lebih meyakinkanmu"
ucap Juna kemudian
Naya hanya tersenyum dan berlalu masuk kerumahnya tanpa menawarkan Juna untuk masuk, Juna pun memakluminya dan akhirnya Juna melajukan mobilnya menuju apartemens tempat tinggalnya untuk menenangkan dirinya
sampai diapartemens miliknya Juna termenung dikasur ranjangnya memikirkan bagaimana agar Naya tidak meninggalkannya suatu hari nanti karna ada identitasnya yang masih ia sembunyikan dan belum berani mengatakannya dengan jujur karna menyangkut keselamatannya
"mungkin pelan pelan saja"
gumam Juna dan tidak lama ia memejamkan matanya untuk terlelap menyambut hari esok
***
tiga hari berlalu Juna mengajak main Naya dan yang lainnya ke apartemensnya karna Naya selalu menolak diajak berduan dengannya
"kak nanti jam berapa??"
tanya Tata karna ia belum tau jam keberangkatan menuju apartemens Juna
"mungkin selesai kerja Ta"
jawab Naya lemas
"kenap lemas kak?? kamu gak akan syok lagi seperti waktu itu kan??"
tuduh Tata
"mungkin gak Ta, cuma gak tau ini kok lemes banget ya perutku pun sakit"
keluh Naya
Tata pun khawatir dengan keadaan Naya dan memegang keningnya.
"gak demam kak, rasanya gimana kak??"
tanya Tata khawatir
"perutku sakit banget Ta pusing mual lemes gitu"
jawab Naya meringis menahan sakit
"aku kekamar mandi bentar ya Ta"
pamit Naya dan berlalu ke kamar mandi.
"ya allah ternyata aku mens pantes perutku sakit"
Naya berbicara sendiri
"Tata sini bentar"
teriak Naya
"kamu kenapa kak??"
tanya Tata khawatir
"Ta minta tolong ambilin pembalutku ditas aku mens pantes sakitnya minta ampun"
ucap Naya Tata menghela nafas lega ternyata sakit Naya bukan karna hamil melainkan datang bulan teringat ucapan Stela saat masih di Dusun Semilir membuatnya mengakhawatirkan keadaan sahabatnya tersebut
__ADS_1