Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
tidak mudah digapai


__ADS_3

"mas nanti jadikan datang keperjodohan??"


tanya Rangga. duduk dikursi sofa ruangan Juna.


Juna hanya mengangguk mengiyakan.


"gak semangat amat mas.??"


ledek Rangga.


"kamu gak lihat ini kerjaan menumpuk banget gak selesai selesai lagi. ingin rasanya menghilang dari sini dan langsung sampai rumah bubux cantik aja hahh."


keluh Juna pada sepupunya.


Rangga hanya nyengir kuda mendengarkan ocehan sepupu sekaligus atasannya itu.


"tadi om wijaya telepon aku mas memastikan mas gak kabur dari perjodohan. hihi. mas ditelpon gak ngangkat katanya. makanya om telpon aku."


Rangga cengengesan memberitahu.


"kan aku sudah bilang aku sibuk banget kerjaan gak selesai selesai. gak sempet megang ponsel. kamu kurang kerjaan banget sih. sini sini kerjain ini sebagian biar cepet selesai. aku lagi males banget pengen rebahan."


ucap Juna.


"tumben bad mood kayak cewek PMS aja. biasanya juga paling bahagia dikasih kertas kertas begituan."


ledek Rangga masih dalam mode cengengesan.


"iya kalau lagi mood. ini aku lagi gak mood banget."


jawab Juna tangannya masih sibuk dengan berkas diatas meja.


"terus biar mood itu gimana?? coba lah kayak kemaren itu seperti orang gila baca pesan berkali kali dari mbak my sunshine itu siapa tau imunnya kembali."


Rangga memberi saran.


"kamu gak lihat aku sibuk banget kayak gini. kalau aku ngurusin pesan dari Naya yang ada aku lupa sama kerjaan ku."


tanggapan Juna.


"iya sih. tapi kalau sebentar ya gak papa mas. yang penting gak lama lama yang ada gak kelar kelar kerjaan."


nasehat Rangga.


" kamu tau Gga. mas sedang berusaha mengendalikan jari dan hati mas agar tidak menyentuh handphone karna mau kerjaan cepet cepet selesai. kalau mas megang handphone terus buka storynya buka pesan pesan darinya yanga ada mas lupa dengan semuanya. dan selesai pekerjaan ini mas mau ke Jogja ke pesantren mas dulu."


Juna memberitahu tangannya masih cekatan dengan berkas berkasnya.


"terus dengan perjodohannya gimana mas. mau mau kabur ke Jogja.?? jangan bikin om Jaya jantungan deh mas??"


tuduh Rangga gemas.


"yee siapa yang mau kabur. orang kangen sama Malik. Naya juga kangen sama Malik. dia merengek ingin menemui anaknya dalam keadaan masih hamil. mas dan keluarganya takut terjadi apa apa kalau dia memaksa perjalanan jauh. jadi mas saja yang kesana nanti VC biar dia lihat anaknya. kalau perlu nanti mas minta ijin dari pihak pesantren untuk membawa Malik pulang walaupun hanya sebentar."


curhatan Juna.


Rangga mengerutkan alis heran dengan kakak sepupunya.


"sebenarnya ada hubungan apa mas Juna dengannya?? apa kalian selingkuh??"


tanya Rangga penuh selidik.


"astagfirullah."


Juna terlonjat ia menghentikan pekerjaannya.


"kalo ngomong disaring dulu biar bening."


ucap Juna melemparkan pena kearah Rangga. Rangga dengan sigap menangkap pena yang dilempar Juna.


"kamu pikir mas gila. sampai mau selingkuh sama Naya?? walaupun mas gak akan keberatan hanya jadi selingkuhan dia. tapi sayang Naya bukan tipe orang yang suka berselingkuh walaupun ia tau perasaanku. ia tetap setia dengan suaminya. ia selalu setia menanti kepulangan suaminya. walaupun suaminya sering membuatnya menangis Naya masih tetap mempertahankan pernikahannya. mas hanya bisa berdoa semoga dia selau bahagia bersama siapapun pilihannya. kalau memang kami berjodoh suatu saat nanti pasti akan dipersatukan."


ucap Juna parau.


"owchhh kirain mas selingkuhannya soalnya mas terlalu mengutamakannya. kan jadi traveling."


jawab Rangga memelas.


"hehh. perasaan mas ke Naya memang tak bisa tertutupi Gga. kalau mas dedekatnya. mas harus selalu mengontrol perasaan dan kesadaran mas. agar tidak bablas."


Juna tersenyum kecut.


"emang pernah bablas apaan mas??"


tanya Rangga penasaran.


"memeluknya. Naya langsung syok saat mas peluk secara tiba tiba. ia menangis sejadi jadinya. seperti orang ketakutan. mas sadar setiap kali kami bertemu dia selalu menjaga jarak. dia selalu waspada terhadapku. apalagi setelah mengetahui perasaan mas. dia semakin menjaga jarak. hahh. mas menyesali semuanya. seandainya mas lebih bisa mengontrol perasaan mas mungkin mas bisa mengobrol dan bercanda dengan bebas seperti Bagas dan Tata. mas bisa bertemu dengannya lebih leluasa tanpa takut dan kewaspadaan."


Juna menatap lurus.


"kuat juga iman tu cewek yang lain. ngejar ngejar bahkan berani menggoda mas. bahkan mereka rela merendahkan dirinya sendiri. dan yang paling utama mereka ingin menjadi nyonya dirumah. dia mala menghindari. apa dia gak bisa melihat wajah seorang Arjuna Wijaya pemuda tanfan dan mafan yang jadi inceran para wanita wanita. apa dia tidak bisa membandingkan antara pria kere dan pria kaya?? apa dia gak tau kalau mas orang kaya raya??"


cerocos Rangga.


"mungkin dia tau kalau mas orang berada. dia juga tidak bodoh kok. cuma mungkin dia tidak tau beseberapa kaya masmu ini. tapi tidak menjamin dia mau menerima mas. dia bukan tipe perempuan matre Gga."


Juna memberitahu.


"owhhh. ntar lihat saja nanti bagaimana reaksinya kalau tau mas orang yang kaya raya seperti raja."

__ADS_1


tantang Rangga.


"kamu pikir semua sama seperti orang di luaran sana. curhatan mas sampai disini. sana kerja. dan ini selesaikan biar cepet. mas lagi gak mood."


ucap Juna sambil menyerahkan berkas yang belum selesai.


"iya deh. daripada gak dapet bonus nantinya kasian istriku pengen keliling Eropa mas."


jawab Rangga lalu mengangkut berkas yang disuruh Juna untuk menyelesaikannya.


**


hari sudah berganti sore Tata dan Bagas sudah waktunya bersiap siap untuk pulang dan mampir kerumah Naya sebelum pulang kerumah.


Tata bergegas menghampiri kakaknya.


"mas ayo. udah belum??"


tanya Tata.


"sudah ayok.


ajak Bagas.


"ada yang ketinggalan gak?? awas nanti kalau balik lagi."


sungut Tata.


Bagas terkekeh dengan tingkah adiknya.


"tidak ada yang ketinggalan kok. ayok ahh."


ucap Bagas bersemangat.


mereka pun berlalu menuju rumah Naya.


sesampainya dirumah Naya Tata dan Bagas seperti biasa mengobrol bercanda dan makan bersama sama keluarga Naya. selesai berbincang Tata dan Bagas pun pamit undur diri.


**


selesai dengan perkerjaannya Juna menuju mushola kantor untuk menunaikan ibadah sholat magrib. setelah selesai juna langsung melanjutkam jadwalnya cafe melati untuk mengikuti perjodohannya dengan Ratna. sebenarnya Juna enggan mengikuti perjodohan kembali. tapi Juna sadar bahwa hatinya harus dipaksakan melupakan Naya. ia akan mencoba membuka pintunya untuk perempuan yang bernama Ratna tersebut.


saat ditengah jalan Juna membuka ponselnya untuk mengecek panggilan sang ayah. tapi ia berpindah haluan setelah melihat pesan dari Naya. ia tersenyum membuka pesan Naya. lalu membalasnya dengan semangat.


{sama sama. kamu yang pinter ya. jaga kesehatan jangan sampai sakit. gak boleh capek. harus nurut sama Tata. harus banyak istirahat. jaga kandungan kamu. pokoknya kakak hanya mau melihat kamu dan kandunganmu baik baik saja.}


Juna membrondong ocehannya dipesan yang ia ketik. lalu mengirimkannya ke Naya.


Naya yang kebetulan sedang memegang ponsel pun langsung membuka setelah pesan dari Juna masuk.


{ihhh kak Juna gak asik dehhh. udah kayak emak emak cerewetnya minta ampun. belum aja masuk kerja udah diceramahin.}


Juna dengan sigap membuka pesan dari sang pemilik hati karna ia memang menunggu pesan dari Naya.


Juna langsung tertawa membaca pesan dari Naya. dan membalasnya.


{kakak hanya mau mengingatkan dan memastikannya bahwa kamu baik baik saja. sehat sehat saja. dan yang paling penting kamu harus selalu bahagia.}


Naya yang sedang bermain dengan ponselnya pun membuka dan membaca balasan Juna.


{asiapppp komandan laksanakan }


dengan emoji tertawa banyak. mengirim balasan dari Juna.


Juna langsung membuka balasan dari Naya. dan membalasnya kembali.


{Nay aku hari ini ikut perjodohan. doakan ya??}


{doa terbaik untuk kakak dan kita semua kak.}


balasan dari Naya.


tak lama mobil Juna sampai ketempat tujuan. Juna pun turun dan duduk ditempat perjanjian.


Juna menunggu Ratna lebih dari setengah jam. ia mulai jenuh menunggu. dan akhirnya Juna memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. saat Juna bangun dari duduknya Ratna datang tanpa dosa memakai pakaian minim dan serba menonjol. akhirnya Juna duduk kembali dengan wajah kesal.


"maaf ya maaf aku telat soalnya aku tadi kesalon dulu biar maksimal datangnya."


ucap Ratna dengan tidak tau malunya duduk berhadapan dengan Juna dan dengan sengaja menonjolkan buah dadanya.


Juna yang melihat penampilan Ratna bukanya tergoda ia mala merasa risih dengannya.


Juna sudah hafal dengan perempuan perempuan dengan modelan seperti Ratna ini. jadi ia tidak akan gentar dengan godaannya.


"iya tidak papa."


jawab juna acuh. ia tak mau memandang Ratna yang yang sudah berdandan cantik untuknya.


"mas sudah pesen makanan belum??"


tanya Ratna manja. Ratna berusaha bisa mendapatkan hati Juna.


"saya sudah kenyang. kalau kamu mau makan silahkan."


jawab Juna masih enggan memandangnya.


"aku lapar mas. belum makan. temenin aku makan ya.??"


pintanya masih manja.

__ADS_1


"ya."


jawab Juna singkat.


akhirnya Ratna makan ditemani Juna yang tetap enggan memandang dirinya.


"ihh aku udah dandan maksimal seperti ini kenapa dia sama sekali tidak melirikku dari tadi. apa aku kurang menarik dimatanya. kenapa dia gak mau menatapku walaupun sedetik saja."


gerutu Ratna dalam hati sambil menyuap stieak yang tadi ia pesan.


"mas potongin aku gak bisa."


Ratna masih memakai mode manja untuk mendapatkan perhatian Juna.


Juna pun mengiyakan memotong stieak Ratna. ia terpaksa menuruti kemauan Ratna agar cepat selesai dan beristirah.


saat Juna mengambil alih stieak Ratna. Ratna dengan sengaja menyenggol kan buah dadanya ke tangan Juna yang menarik piring stieaknya. berharap Juna tergoda dan menginginkannya. karna biasanya laki laki akan tergoda dengan sentuhan sentuhan yang ia berikan atau rayuan manja. tapi tidak dengan juna. ia mala merasa jijik tersentuh barang yang diobralkan olehnya.


"hiiiiii."


Juna tersentak dan bergidik. tangannya tersentuh buah dada yang sangat besar dan menonjol milik Ratna.


Juna bangkit dari duduknya untuk mencuci tangan yang tadi tersentuh. tapi Ratna dengan cepat memegang tangan Juna untuk menghalangi Juna pergi.


"mas kenapa?? mau kemana??"


tanya Ratna manja.


"mau ketoilet."


jawab nya acuh.


Juna langsung pergi ke toilet meninggalkan Ratna yang masih duduk manis. Ratna mengira Juna pergi ketoilet beneran. ternyata Juna pergi meninggalkannya dicafe sendirian lewat pintu belakang. Juna tidak tahan dengan sikap alaynya Ratna yang membuatnya muak.


Ratna masih setia menunggu karna ia kira Juna ketoilet. ia menunggu hanpir setengah jam dan akhirnya ia jenuh sendiri dan menghampiri Juna ketoilet pria. tanpa rasa malu ia masuk ketoilet dan mencari Juna disemua sudut ruangan.


"gimana sih main masuk aja. apa kamu gak tau ini toilet pria. dasar mesum. tidak tau malu."


umpat lelaki sekitaran 25than tersebut dengan kesal.


Ratna tidak peduli dengan ocehan lelaki tersebut. setelah memastikan Juna tidak ada ditoilet Ratna kesal. untung yang berada didalam toilet hanya dua orang pria.


karna ia sudah menunggunya setengah jam Juna mala tidak ada.


"sial dia sudah pergi duluan. aku harus pake cara apa lagi untuk mendapatkannya. dia benar benar tidak mudah digapai."


gerutu Ratna.


Ratna pun memutuskan untuk pulang kerumah karna gagal perjodohan.


Juna pulang menggunakan taksi online menuju rumah. ia yang sudah berlalu jauh dari tempat perjodohan tersebut merasa lega.


"alhamdulillah sudah aman dari ular berbisa itu. jijay aku sama tu cewek."


gumam Juna.


tak lupa Juna menghubungi Rangga agar tidak menjemput kesana karna ia sudah menuju pulang kerumah. jelas saja Rangga kaget ia kabur dari perjodohannya. tapi setelah tau alasannya Rangga pun pasrah dengan keputusan kakak sepupunya.


sampai dirumah juna langsung masuk kamar dan membersihkan tubuhnya dari keringat dan membaringkan tubuhnya ditempat tidur untuk istirahat.


tiba tiba ponselnya berdering. ia tau yeng menghubunginya pasti papanya. karna otomatis Ratna pasti mengaduh ke orang tuanya atau papa Juna.


Juna dengan malas mengangkat telepon dari papanya.


"assalamualaikum pa."


Juna mengucap salam.


"waalaikum salam. Jun kamu apa apaan. kenapa kamu main kabur tanpa pamit pada Ratna. dia menunggumu satu jam karna dia pikir kamu pergi ketoilet. kamu kenapa selalu seperti ini Jun??"


ocehan papa Juna.


"pa aku sudah bilang berkali kali sama papa. aku tidak suka perempuan yang suka merendahkan dirinya dihadapan orang lain pa. aku tidak suka dengan penampilannya yang seperti pelacur."


ucap Juna kesal.


"astagfirullah Jun. itu bisa diubah nanti kalau sudah menikah nak. kamu bimbing dia dengan benar. kan bisa nak."


papa Juna berusaha menasehati anak laki lakinya.


"aku tidak suka dan tidak mau dengannya pa."


ucap Juna tegas.


"hahh. ya sudah kalau begitu. kamu memang keras kepala Jun. papa sudah bingung harus bagaimana denganmu nak. mau sampe kapan kamu seperti ini. mau sampai kapan kamu akan selalu menunggu pujaan hatimu itu yang sudah terang terangan menolak mu nak.??"


keluh papa Juna.


"pa aku ngantuk besok harus ngantor asssalamualaikum."


pamit Juna langsung memutus sambungan telepon sepihak.


huft


Juna menghela nafas.


"papa pikir aku gak mau berusaha untuk melupakannya. aku juga sudah berusaha pa. aku juga sudah berdoa agar allah mau membalikkan hati ku untuk wanita lain. kalau memang dia bukan jodohku. tapi allah belum lakukannya pa. atau memang allah tidak mau melakukannya. hahhh tau ahhh memikirkannya saja sudah membuat ku frustasi."


Juna curhat dengan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2