
dengan sangat hati hati juna membaringkan tubuh naya diatas kasur. agar naya tidak terbangun.
"kalau terbangun bisa berabe ini urusannya."
batin juna.
selesai membaringkan naya juna membersihkan diri dari keringat panas matahari saat bekerja.
" nay selamat malam sayang. biarkan aku melindungimu nay."
juna membelai lembut pipi naya. lalu juna pun ikut terlelap di atas sofa.
walaupun juna sangat mencintai naya tapi juna jga tidak berani berbuat yang tidak tidak atau berbuat zina. juna masih sadar akan ajaran agama walaupun juna sering khilaf memeluk naya saat melihatnya.
azdan subuh berkumandang naya menarik selimut karna kedinginan.
naya kaget dan terbangun dari tidurnya. pas naya tidur terasa hangat karna naya tidur dipelukan juna dan sekarang terasa dingin. naya kebingungan berada dimana.
naya celingukan mencari juna yang tadi malam memeluknya. naya merasa lega mendapati juna masih ada. juna tertidur disofa.
"alhamdulillah kirain ninggalin aku hehehhehe." gumam naya cengengesan.
lalu naya bangkit dari tempat tidur dan membangunkan juna untuk sholat subuh. saat tangan naya menyentuh lengan juna. juna dengan cepat menangkap tangan naya hingga naya terjatuh diatas tubuh juna.
wuahhh
reflek naya berteriak. juna memang orang yang sensitif setiap ada pergerakan apa aja yang ada didekatnya pasti ia akan tau dan langsung bertindak. tak heran juna selalu menang dalam hal bertarung melawan musuh karna juna orang yang cekatan dan cepat bertindak.
jantung naya benar benar dag dig dug seperti dangdutan yang banyak saweran. juna mematung melihat naya diatas tubuhnya darah juna berdesir mengalir seperti air mangalir jiwa laki laki juna jadi terganggu kala melihat naya diatas tubuhnya ditambah lagi wajah naya khas bangun tidur membuat adik junior juna meronta ronta ingin dikeluarkan.
naya yang menyadari ada yang menonjol dibawah pangkuannya langsung loncat dari pangkuan juna
"maaf kak aku cuma mau bangunin doang soalnya sudah adzan subuh."
ucap naya gugup.
juna mala tersenyum melihat naya gugup karna menyadari sesuatu yang terbangun.
"aku kemushola dulu."
pamit naya gugup salah tingkah.
lalu ia ngambil mukena ditas naya dan ingin segera berlalu tapi naya salah mengambil sarung juna yanga ada dirangsel juna.
"nay itu salah."
ucap juna.
naya menghentikan langkahnya.
"itu sarung aku."
ucap juna lagi tersenyum.
naya menoleh ke tas yang ia pegang.
"ehh iya salah maaf"
lalu naya mengembalikan rangsel milik juna dan mengambil tas nya dan berlalu.
juna tertawa melihat kekonyolan naya.
"naya naya kamu tu gemesin pengen deh rasanya aku cubit."
ucap juna gemes tangannya mengatup seperti ingin mencubit.
yang seharusnya salah tingkah itu aku yang terbangun bukan mala kamu nay.
hehehhehe
"ya allah naya bener bener deh. udah ah aku juga ke mushola."
akhirnya juna siap siap lalu menuju ke mushola.
"bodoh bodoh bodoh. kenapa aku yang gugup gimana sih nay kok mala kamu yang salah tingkah seharusnya tu orang yang salah tingkah orang pusakanya juga yang tegang gimana sih."
naya merutuki kebodohannya sambil berjalan kearah mushola hotel.
sampai mushola hotel naya mengambil wudhu lalu memakai mukena.
tiba tiba juna muncul.
"nay jamaah ya."
ucap juna.
naya hanya menganggukkan kepala tanda setuju. selesai sholat pun naya reflek mencium punggung tangan juna agak lama.
darah juna berdesir kala tangannya dicium oleh naya. naya bingung kenapa harus mencium tangan juna.
saat naya menyadari kesalahannya ia langsung kembali menarik tangannya.
"maaf kak aku lupa."
ucap naya kikuk dan salah tingkah.
akhirnya naya langsung melepas mukena dan segera berlalu meninggalkan juna dimushola sendirian.
saat naya berjalan menuju kamar naya lupa nomer kamar berapa yang ia tempati. naya lupa bertanya pada juna.
akhirnya naya menuggu ditempat yang mungkin akan dilewati juna.
juna yang menyadari bahwa naya tidak tau nomer kamar mereka. akhirnya juna menghampiri naya. juna tau kalau naya pasti sedang menunggunya. saat melihat naya menunggu ke arah kamarnya juna tersenyum.
"ayo masuk kamarnya nomer 101."
ucap juna.
maaf.
naya cengengesan.
akhirnya mereka berjalan bersama menuju kamar mereka. orang yang tidak tau pasti akan mengira naya dan juna sepasang pengantin baru yang masih canggung satu sama lain.
"habis ini kita langsung sarapan sebelum perjalanan."
penuturan juna.
iya.
jawab naya canggung.
"silahkan masuk nay."
juna mempersilahkan saat masuk ke kamar mereka.
naya pun masuk untuk mengambil tas dan ponselnya yang lagi dicas.
juna menunggu naya diluar kamar.
setelah selesai naya pun keluar gantian juna yang masuk untuk berganti baju casual biasa. karna saat sholat juna memakai koko dan sarung.
"ayo kita sarapan.
ajak juna saat keluar dari kamarnya. naya hanya mengangguk tanda mengiyakan. lalu mereka melangkah menuju resto untuk nengisi perut. setelah sampai mereka pun langsung duduk dan memesan makanan.
tiba tiba ada seseorang yang menghampiri juna. "assalamualaikum selamat pagi pak juna."
sapa seseorang ramah yang menghampiri tempat duduk juna dan naya.
"waalaikum salam selamat pagi juga pak ahmad." jawab juna ramah.
"sarapan pak. saya pikir tadi saya salah lihat pak ternyata benar pak juna."
tanya pak ahmad basa basi.
karna tadi pak ahmad sempat melihat juna dan naya sedang berjalan bersama menuju kamar mereka.
__ADS_1
"iya pak ini lagi mau sarapan."
jawab juna.
"boleh saya ikut bergabung bersama bapak."
tanya pak ahmad.
"saya kesini bersama istri saya. pak juna."
ucap pak ahmad lagi.
"nay gimana. "
ucap juna pelan kepada naya meminta pendapat. naya hanya mengangguk angguk. tanda setuju. "boleh boleh. silahkan pak dimana istri pak ahmad."
ucap juna.
sebentar, pak ahmad terhenti melanjutkan kalimatnya kala melihat istrinya datang.
"eh itu istri saya pak."
ucap pak ahmad.
"halo selamat pagi."
sapa istri pak ahmad ramah.
"selamat pagi."
jawab naya dan juna bersamaan.
" duh pengantin baru jawabnya kompak."
canda istri pak ahmad.
eh eh.
naya jadi gak enak dipanggil pengantin baru.
juna pun salah tingkah dengan kalimat pengantin baru dan bingung darimana menjelaskan kalau sebenarnya mereka bukan sepasang pengantin baru.
iya pak.
akhirya dengan jawaban iya juna berikan daripada bingung dan ribet menjelaskannya.
"mari pak silahkan duduk.'
ajak juna mempersilahkan pak ahmad dan istrinya.
"senang ya yang lagi pengantin baru malu malu neong bengini."
canda istri pak ahmad.
"kayak dulu kita ya pa. malu malu meong gini. "ucap istri pak ahmad kepada suaminya.
"iya ma."
jawab pak ahmad tersenyum.
"semoga langggeng sampai jannah ya pak juna." doa istri pak ahmad.
naya dan juna hanya iya iya aja. karna bingung harus menanggapainya seperti apa. naya sengaja mengikuti juna karna juna sudah terlanjur mengiyakan statusnya pengantin baru.
kalau nanti naya membantah hanya akan membuat juna malu. jadi naya hanya mengikuti juna saja. juna yang sadar naya terpaksa mengikutinya pun tidak melewati batas dan tidak mencari kesempatan dalam kesempitan.
setelah selesai makan juna sengaja pamit lebih awal agar tidak ada percakapan selanjutnya. naya yang paham akan hal itu pun mengikuti juna.
"alhamdulillah selamat selamat."
juna bisa bernapas lega meninggalkan pak ahmad dan istrinya.
"untung kita cepet pergi nay kalau tidak bisa melebar kemana mana pembicaraannya."
ucap juna.
naya hanya menanggapinya dengan tawaan.
"mala tertawa."
ucap juna ketus.
" terus aku harus gimana kak. kan kak juna udah bertindak cepat aku sebagai pengantin baru pura pura ya hanya ngikutin suami pura pura juga dong." jawab naya cengengesan.
"iya sih tapi masak tadi kamu gak risih nay. tadi istrinya pak ahmad ngomong terus kayak gitu. tanya tanya ke kamu juga kan."
juna menjelaskan.
" ya gimana orangnya kayak gitu. iya iyain aja kan udah beres. selain itu istrinya pak ahmad juga orangnya asyik kok diajak ngobrol jadi ya sudah lah kak."
jawab naya.
naya memanng tipe orang yang tidak suka ribet. jadi kalau ada yang ribet naya iya iya aja agar cepat selesai.
"ah kamu tu ya bener bener deh nay."
ucap juna.
naya hanya senyum cengengesan menanggapi ucapan juna.
lalu mereka langsung masuk mobil karna tadi mereka berjalan ke arah parkiran mobil. juna dan naya sengaja setelah sarapan langsung pulang agar tidak terlalu lama dihotel. tujuannya agar tidak terlalu banyak fitnah.
mobil melaju menyusuri jalanan ramai. karna hari masih pagi jalanan lumayan macet. tidak ada pembicaraan diantara naya dan juna. hanya suara musik mobil yang menemani mereka.
"nay maaf ya jadi nginep dihotel. soalnya aku tidak tega melihatmu tidur dimobil ditambah lagi aku juga agak capek."
ucap juna jujur.
"iya gak papa kok kak aku ngerti. aku yang minta maaf sudah merepotkan kakak. maaf ya kak."
naya meminta maaf.
"ya gak papa ."
"maaf kakak jadi menuruti permintaan malik."
sesal naya.
"gak papa nay kakak juga sayang kok sama malik kakak sudah menganggap malik seperti anak kakak sendiri."
jawab juna.
setelah mereka saling diam lagi.
"kamu pulang kerumah ibu atau kerumahmu sendiri nay."
tanya juna setelah saling diam.
" kerumah ibu saja kak."
jawab naya.
juna dan naya terdiam kembali
"nay gimana rumah tanggamu."
tanya juna.
"rumah tanggaku baik baik saja kok kak. kakak gak usah khawatir."
jawab naya.
"kamu gak bohongkan nay kalau rumah tanggamu baik baik saja."
tanyanya lagi.
"iya kak rumah tanggaku baik baik saja."
__ADS_1
" kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan ya." ucap juna lagi.
"iya kak insyllah."
jawab naya.
"nay rencananya aku mau ikut perjodohan. menurutmu gimana."
tanya juna minta pendapat.
"bagus kak coba aja siapa tau cocok sama kakak." naya berpendapat.
" iya nanti akan aku coba. doain ya semoga cocok." ucapnya lagi.
aminnn.
jawab naya.
lalu mereka terdiam kembali. tanpa terasa naya terlelap. juna lewat jalan tol agar lebih cepat sampai.
saat mobil sudah melewati kampung naya. naya terbangun.
"kak sudah sampai ya."
tanya naya.
" bentar lagi nay ini sudah masuk kampung."
jawab juna.
"iya iya. kak aku turunin di depan sana aja ya kak." ucap naya.
"tidak aku akan mengantarmu sampai rumah."
jawab juna tegas.
"tidak usah kak didepan sana aja. "
naya masih ngotot.
"tidak akan naya."
jawab juna masih dengan nada tegas.
kak aku gak mau jadi fitnah kakak kan tau aku sudah bersuami. aku gak mau jadi masalah."
naya menjelaskan.
"lebih baik kena fitnah. aku tidak peduli dengan omongan orang. daripada aku harus nurunin kamu dijalanan. kamu mau buat aku mati khawatir. "jawab juna lebih ngotot.
akhirnya naya mengalah tidak mau banyak debat dengan juna.
mobil sampai diparkiran rumah orang tua naya. naya pun turun dari mobil.
bapak dan ibu naya mennyambut kepulangan anak perempuannya.
"assalamualaikum"
naya mengucap salam karna juna masih didalam mobil.
"waalaikum salam"
alhamdulillah sudah pulang.
jawab ibu dan bapak naya.
"loh kok sama juna."
bapak juna heran.
akhirnya menghampiri juna yang masih didalam mobil.
"nak ayo mampir dulu sini. ngobrol ngobrol dulu." ucap bapak naya menawarkan.
" iya pak maaf lain kali saja pak juna masih banyak kerjaan."
jawab juna mencari alasan.
tapi bapak naya ngotot mengajak juna mampir barang sebentar. ada sebab bapak naya menyuruh juna mampir sebentar karna memang ada yang akan dibicarakan.
"iya deh pak tapi maaf pak hanya sebentar saja ya pak."
jawab juna akhirnya menyetujui tawaran bapaknya.
mereka pun masuk kedalam rumah. naya menyiapkan minuman untuk juna dan bapaknya. sedangkan ibu naya membantu membawakan cemilan
"maaf nak juna mungkin bapak lancang menanyakan ini tapi bapak ingin menanyakannya ke nak juna."
bapak naya memulai obrolan.
"iya ak tidak apa apa pak."
jawab juna sopan.
perasaan juna sudah was was
"gini nak. sebenarnya apa hubungan kalian berdua?? tanya bapak naya to the point.
maksud bapak hubungan saya dengan naya?? tanya juna balik.
"iya nak. "
jawab bapak naya.
"kami tidak ada hubungan apapaun pak hanya teman pesantren saja."
juna menjelaskan.
"oya. apa hanya hubungan teman pesantren saja tidak ada yang lain."
ucapan bapak juna menekan.
"iya pak tidak ada hubungan apa apa kok pak." kilah juna.
tapi bapak tidak yakin dengan jawaban kamu. tanya bapak juna penasaran.
juna menghela nafas
huft
"kami memang tidak mempunyai hubungan apapun pak. hanya saja. "ucapan juna terhenti.
juna membuang nafas kembali untuk melanjutkan ucapannya.
"hanya saja aku sangat mencintai naya pak. dan cinta itu tumbah dari sebelum naya mengenal suaminya. "
ucap juna jujur.
huftt.
bapak juna menghembuskan nafas sudah menduka karna dari sikap juna yang proaktif membawa naya kerumah sakit sampai menemani dan mengantar pulang naya dan juna juga sering mengawasi naya dari jarak jauh membuat perasaan bapak juna semakin yakin kalau ada apa apa. ditambah lagi pulang bersama. membuat tebakan bapak juna bertambah yakin. berbeda dengan naya yang biasa biasa saja seperti cuek.
"nak kamu tau kan naya sudah berkeluarga."
tanya bapak naya.
" iya pak saya tau. "
jawab juna
"maaf nak tidak pantas kalau nak juna dekat dekat dengan naya nanti bisa menimbulkan fitnah nak. " bapak naya menasehati.
"kamu pasti tau kan mertua naya seperti apa." tanya bapak naya lagi.
"iya pak saya tau. "
jawab juna
__ADS_1
" maaf nak. sebelum rumah tangga naya selesai tolong jangan dekati naya dulu nak. bapak tidak mau kamu terseret rumah tangga naya. biarkan naya berpisah dengan suaminya secara baik baik nak. ucap bapak naya memberitahu