Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
sebelum Qobiltu dilafatkan


__ADS_3

kedua orang tua Naya hanya diam saja


hahhh


"ya allah alhamdulillsh sudah pergi pak"


ucap ibu Naya lega.


"iya bu ayo masuk"


jawab bapak Naya melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


**


"kakak tunggu diluar saja kak aku aks


an cepat kok"


pinta Naya saat sudah sampai didepan rumah Ryan


"ya sudah"


Juna menurut


ia menunggu diteras rumahnya


satu jam kemudian Naya keluar membawa beberapa tas besar Juna dengan sigap ikut membantu memasukannya ke bagasi mobil.


"masih ada lagi??"


tanya Juna


"sudah semua kak"


jawab Naya menatap punggung Juna yang sedang menata barang.


brukk


pintu bagasi mobil ditutup oleh Juna


"ayo kakak anterin mau ke mertua kamu atau kerumah ibu dulu??"


tanya Juna


"rumah mertua dulu boleh kak biar gak kelamaan ibu nunggunya"


jawab Naya


kemudian mereka masuk mobil dan melanjutkan perjalanannya


"Nay mas Ryan sudah tau belom??"


tanya Juna memecah keheningan


"belum kak dia masih dilai kayaknya soalnya gak aktif hpnya"


jawab Naya


"ohh terus kalau dia gak terima gimana Nay?? kakak tau walaupun sikapnya labilun tapi ia sangat mencintai kamu"


ucap Juna


"kepetusanku sudah bulat kak jadi aku tidak peduli dia mau terima atau tidak tapi tetap aku akan minta maaf untuk yang terakhir kalinya"


jawab Naya nanar


Juna hanya terdiam mengehela nafas begitu sakit hatinya melihat pujaan hatinya terluka didepan matanya


mobil sampai didepan rumah orang tua Ryan


Naya dan Juna turun dari mobil bersama sama menuju rumah mertuanya


"assalamualaikum"


ucap Naya dan Juna bersamaan


terlihat begitu ramai keluarga Ryan sedang berkumpul bersama didalam rumahnya.


"waalaikum salam"


jawab semua orang yang berada didalam rumah.


"Nay sudah datang"


sambut Ika ramah kakak ipar Naya yang paling tua.


"ya mbak"


jawab Naya tersenyum.


hanya kakak ipar tertuanya yang baik tulus denganya daripada Siska kakak ipar kedua yang baik hanya ada maunya saja.


"sudah kamu urus Nay??"


tanya ibu Ryan ketus.


"sudah bu"


jawab Naya sopan.


"inu bu kuncinya mas Ryan saya sudah ambil semua pakaian ku dan Malik."


ucap Naya menyodorkan kunci rumah mereka pada mertuanya.


"kamu hanya ambil pakaian saja kan Nay?? kamu gak ambil yang lain lain kan?? awas ya kalau kamu ambil barang yang bukan hak kamu"


ancam ibu Ryan.


"astagfirullah"


gumam Juna dan Naya tidak sengaja bersamaan.


"tidak bu saya hanya ambil pakaian saja kok, kalau ibu gak percaya ibu bisa periksa barang bawaan aku kok bu masih dimobil bisa saya ambilkan sekarang"


ucap Naya lalu membalikkan badan ingin mengambilkan barangnya.


"tidak usah malas ibu periksanya"


jawab ibu Ryan menghentikan langkah Naya.


"ya bu"


Naya menurut.


"bu periksa aja biar agung bantuin"


Agung menimpali


"gak usah ibu malas Gung"


jawab ibunya.


akhirnya Agung terdiam.


Juna hanya diam saja memperhatikan tingkah keluarga Ryan tanpa berkata kata, menurut Juna keadaan masih baik baik saja jadi ia tidak perlu turun tangan


"terus ini selingkuhanmu Nay cakep Nay daripada Ryan, pinter juga kamu cari selingkuhan aku juga punya selingkuhan cakep kayak kamu cari dimana??"


celetuk Siska


"kamu apaan sih mala ngomong gitu"


tegur Agung.


"apa?? daripada punya suami gak guna kayak kamu kerjaannya makan tidur makan tidur aja, bosen tau gak hanya bisa makan hati doang kamu"


cerocos Siska.


"sudah sudah berantem aja kamu"


ibu Ryan melerai

__ADS_1


Naya hanya tersenyum melihat adegan keluarga suaminya.


"bu terima kasih ya selama ini ibu mau menerima saya sebagai menantu dan saya juga minta maaf bu selama ini banyak salah"


ucap Naya meminta maaf untuk yang terakhir kalinya.


"ya"


jawab ibu Ryan sinis.


"mbak juga minta ya Nay kalau ada salah selama ini, kita bisa jadi teman kan Nay??"


ucap Ika pada Nay


"iya mbak pasti"


jawab Naya yakin.


" kamu jangan harap harta gono gini ya Nay ibu tidak ikhlas karna semua itu hasil keringat anak aku, aku yang membiayainya jadi aku yang lebih berhak untuk semuanya"


ibu Ryan memperingati


"ya bu"


jawab Naya singkat masih terukir senyum dibibirnya.


"awas kamu ya jangan sampai kamu kembali rujuk sama anakku. aku tidak akan mau punya menantu seperti kamu lagi yang hanya bisa menghabiskan uang anakku"


cerocos ibu Ryan


Naya hanya terdiam tidak menanggapi ocehan mertuanya.


"saya pamit bu terima kasih atas semuanya"


pamit Naya.


"kamu dengar aku tidak sih orang tua bicara tidak didengarkan apa kamu tuli hahh menyesal aku punya menantu sepertimu"


maki ibu Ryan


Naya masih diam membisu melangkahkan kakinya bersama Juna tapi langkahnya terhenti karna Juna tiba tiba memegang tangannya dan menarik tangannya kembali lagi dihadapan keluarga Ryan.


"ibu Siti yang terhormat maaf ya saya lancang tapi harus bicara sekarang juga agar kalian sekeluarga tau, mulai sekarang Naya dan Malik adalah tanggung jawab saya, jadi kalian jangan lagi menyinggung Naya karna saya tidak akan segan segan akan menghancurkan kalian semua."


ucap Juna tegas membuat semua keluarga Ryan merinding ketakutan.


Juna menggandeng tangan Naya keluar dari rumah orang tua Ryan dan mereka kembali kerumah orang tua Naya


didalam mobil Naya dan Juna saling terdiam dengan pikiran masing masing sampai mobil berhenti dehalaman rumah orang tua Naya.


"sudah sampai Nay??"


ucap Juna


"iya kak"


jawab Naya nurut.


Juna mengeluarkan barang barang Naya dan Malik dibantu Naya ibu dan Banyaknya.


"terima kasih kak"


ucap Naya saat selesai menaruh barang dikamarnya


"ya sama sama"


jawab Juna tersenyum


"nak minum ayo sama bapak juga"


ajak ibu Naya


"iya bu terima kasih"


jawab Juna


mereka menuju ruang tamu untuk menikmati teh dan cemilan


"bagaimana rencananya kalian bisa bersama??"


tanya bapak Naya


Juna menjelaskan


"iya Nay??"


tanya bapak Naya pada putrinya.


"iya pak benar"


Naya membenarkan


"terus kunci rumahnya sudah dikembalikan nak??"


tanya bapak lagi.


"sudah pak sudah Naya kembalikan"


jawab Naya.


"maaf pak tadi saya lancang bicara dengan keluarga mas Ryan, tadi saya bilang mulai sekarang Naya dan Malik tanggung jawab saya"


Juna menjelaskan kembali.


huft


"ya tidak papa nak, bapak ngerti mungkin keluarga Ryan mengatakan hal hal yang tidak enak didengar sampai kamu berani mengatakan itu pada mereka tapi Naya dan Malik sekarang tanggung jawab bapak Jun. bapak tau kamu sangat mencintai dan menyayanginya tapi sebelum Qobiltu kamu lafatkan Naya masih tanggung jawab bapak"


bapak Naya memberitahu.


"iya pak saya paham"


jawab Juna sopan


"saya pamit pulang pak sudah sore"


Juna pamit.


"ya sudah gak papa, maaf nak Juna selalu merepotkan kamu"


ucap bapak Naya sungkan.


" gak papa pak saya mala senang dapat membantu, kalau bapak sekeluarga butuh bantuan jangan sungkan pak saya akan selalu siap"


ucap Juna sopan


"ya insyallah nak"


jawab bapak Juna


"permisi pak assalamualaikum"


pamit Juna yang dijawab salam oleh keluarga Naya


**


"gila bener tu orang berani banget nglamar Naya ke keluarga kita bu bener bener gak punya otak"


cerocor Agung


Rizky hanya diam saja menyimak ia tidak tau harus berbuat apa karna keluarganya selalu memperlakukan Naya seperti itu dan tidak juga membenarkan perkataan Juna.


"tapi mas sepertinya orang kaya pacarnya Naya mas pake mobil ada supirnya pula aku juga mau kayak Naya langsung aku ceraikan kamu kalau aku punya pacar kaya seperti dia udah capek kaya lagi aku gak akan kelaparan"


celetuk Siska yang sengaja menyindir suaminya


Ika dan Rizky suaminya hanya tersenyum melihat adegan tersebut.


"apa apaan kamu Sis bilang begitu sama aku didepan ibu lagi..


langsung dipotong oleh Siska

__ADS_1


"memang kamu tidak berguna mas buat makan saja kamu selalu minta uang ke ibu kamu selau malas bekerja cuma makan tidur saja dirumah e


benar benar suami tidak berguna"


cerocor Siska lagi.


Agung hanya diam menahan emosi dengan penghinaan yang istrinya ucapkan


"apa mas?? kamu mau marah?? silahkan kamu marah jujur aku juga muak hidup miskin sama kamu kenapa mala Naya yang disuruh cerai kenapa bukan aku saja, jujur ya mas Naya itu baik dia tidak pernah neko neko dasar Ryannya saja yang bodoh selalu terpengaruh sama kamu dan ibu tapi benar sih menurutku lebih baik Naya menceraikan suaminya daripada hidup berkecukupan tapi menderita karna ulah kalian"


ucap Siska mengeluarkan unek uneknya.


"sudah Sis kamu jangan seperti itu gak baik"


Ika menasehati


"aku kesel mbak"


jawab Siska kesal lalu ia pulang kerumahnya tanpa pamit


"begitulah kelakuan dia mbak gak pernah mau nurut sama aku kerjaannya cuma marah marah terus tiap hari kadang aku gedek sama Siska"


Agung mengeluh.


"kamu gak pernah kerja Gung uang ibu pun pas pasan hanya buat makan, namanya perempuan itu bukan cuma butuh makan saja butuh pakaian bedak jalan jalan dan lain lain Gung jadi tidak salah juga kalau Siska suka marah marah"


Rizky menasehati.


"sedangkan Naya dia penurut tidak pernah neko neko tapi sayang Ryan tidak bisa menjaga rumah tangganya memang sangat disayangkan sebenarnya Ryan pisah dengan Naya tapi mau bagaimana lagi mungkin Naya sudah pasrah dengan takdir rumah tangganya"


Rizky menatap lurus


"kok kamu mala belain Naya mas bukan bela Ryan adik kita"


protes Agung.


"mas gak bela siapa siapa Gung mas cuma melihat kebenaran saja"


Rizky memberitahu.


"ya sudah terserah mas saja aku malas, aku pulang mas"


pamit Agung sewot langsung meninggalkan rumah orang tuanya.


"susah mas kalau sudah begitu"


ucap Ika pada suaminya.


"sudahlah biarkan saja"


jawab Rizky.


"ayo kita juga pulang dek mas mau capek"


ajak Rizky kemudian ia berpamitan kepada ibunya sebelum pulang kerumahnya sendiri.


**


setelah Juna dari keluarga Naya ia memutuskan pulang kerumah sang ibu.


tak butuh waktu lama ia sampai dirumah ibunya


"assalamualaikum"


ucap Juna melangkahkan kakinya kedalam rumah karna pintunya terbuka lebar.


"waalaikum salam ya allah anakku sayang kenapa muka mu seperti itu apa yang terjadi nak??"


tanya ibu Juna khawatir.


Juna hanya memeluk ibundanya untuk menumpahkan kesedihannya sang ibu pun hanya memberikan pelukan hangat dan membelai lembut anak laki lakinya sampai ia tenang.


"bu Naya cerai"


ucap Juna setelah melepaskan pelukannya.


"maksud kamu apa Jun??"


tanya ibu Juna bingung.


"ayo duduk dulu ini minum dulu agar kamu bisa tenang nak"


ibu Juna memberikan air minum dalam gelas.


Juna pun mengangguk menerima gelas yang diberikan ibunya.


"apa yang terjadi dengan Naya nak??"


tanya ibu Juna setelah Juna mengehabiskan air minum sekali teguk.


Juna pun mengatur nafasnya agar ia dapat bicara dengan tenang kepada ibunya.


"bu Naya bercerai dengan suaminya bu"


ucap Juna kembali.


"kenapa bisa terjadi Jun bukanya Naya berusaha mempertahankan rumahnya nak apa yang terjadi??"


tanya ibu Juna lagi.


akhirnya Juna menceritakan alasan Naya menceraikan suaminya sampai kejadian tadi


"kok tega banget sih itu mertua, apa gak punya rasa kasian pada anaknya padahal kebahagian anaknya itu lebih penting dari segala kenapa mala tega menyuruhnya berpisah, memang benar benar miris orang tua sekarang"


ucap ibu Juna agak geram.


"terus apa langkah kamu selanjutnya nak??"


tanya ibu Juna


"gak tau bu kalau untuk sekarang mungkin Naya gak akan mau Juna mengejarnya, mungkin Juna akan membiarkan Naya untuk menyembuhkan lukanya dulu bu sambil pelan pelan mendekatinya yang penting Naya mengizinkan Juna berada disisinya itu saja sudah cukup bu soal nanti Juna dan Naya bagaimana terserah yang diatas mengaturnya yang penting Juna selalu berdoa dan berusaha dulu bu "


jawab Juna lemas.


"ya sudah nak ibu hanya bisa mendoakan saja sekarang kamu mandi dulu gihh biar fress lalu makan ibu sudah masak"


bujuk ibu Juna


"gak selera makan bu"


jawab Juna dengan wajah kusutnya.


"kalau kamu gak makan siapa yang akan melindungi Naya nak?? kamu harus selalu sehat dan kuat, biar bisa menjaga dan melindungi orang yang kamu sayang nak, mungki ini awal baru untuk kehidupan mu dan Naya kamu harus selalu semangat buatlah Naya selalu tersenyum jangan membuatnya menangis lagi nak"


nasehat ibu Juna.


"iya bu, aku mandi dulu ya bu"


pamit Juna lalu menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dari keringat.


***


keesokan harinya


"kamu berangkat kerja nak??"


tanya ibu Naya melihat ikut duduk dimeja makan.


"iya bu tadi Naya udah sms ke Tata kalau hari ini Naya mau masuk kerja"


Naya memberitahu.


"kamu yakin mbak mau berangkat kerja dengan keadaan kamu yang seperti ini??"


tanya Ridwan terlihat mencemaskan kakaknya.


Naya hanya mengangguk mengiyakan.


"Wan mbak nebeng kamu ya mbak udah gak punya motor soalnya"


ucap Naya memelas.

__ADS_1


"ya mbak nanti sekalian pulangnya aku jemput sekalian aku usahain pulang cepat mbak"


jawab Ridwan


__ADS_2