Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
senang buka aib


__ADS_3

setelah puas memandang Naya pun memutuskan masuk kedalam kamar lagi


ketiduran selama dua jam ia keluar kembali


"kok sepi ya, kayaknya tadi mereka mainan deh, masak aku halu??"


gumam Naya teringat anak dan calon suaminya yang sedang bermain diluar sudah tidak mengeluarkan suara akhirnya ia pun keluar kamar untuk memastikannya


"oala pantes sepi pada merem gitu, kirain aku yang halu"


gumam Naya lagi saat melihat Juna dan Malik ketiduran disofa saling berpelukan seperti ayah dan anak sedangkan Ridwan tertidur disofa yang satu mainan berserakan dimana mana akibat perbuatan tiga orang yang telah terlelap didepannya


akhirnya Naya membereskan semuanya dengan hati hati takut terbangun selesai membereskan semuanya Naya kembali memandang mahluk yang masih terlelap saling berpelukan tersebut yang sangat ia sayangi dan sangat berharga baginya


Naya mengambil ponselnya disaku gamisnya dan iseng memfoto karna menurutnya sangan bagus untuk disimpan diponselnya


"sudah belum foto fotonya"


ucap Juna dengan suara khas bangun tidur


Naya terlonjak kaget


"udah bangun kak?? hehehe maaf"


Naya cengengesan


"Malik aku pindahin aja ya kak?? pasti capek tiduran kayak gitu, nanti badan kakak pegel semua"


ucap Naya dengan suara pelan takut Malik terbangun


"biar kakak yang pindahin kamu bukain pintunya aja"


perintah Juna langsung bangkit masih memeluk calon anak sambungnya memindahkannya kekamar Naya


Naya dengan sigap membukakan pintu kamarnya


"ayah jangan pergi ya?, Malik mau ayah"


ucap Malik dengan mata terpejam dan pelukan semakin erat


"ya sayang"


jawab Juna dengan penuh kasih sayang


"kakak temani Malik dulu aja gak papa, aku keluar ya kak"


pamit Naya yang dianggukan Juna lalu keluar kamar


Juna pun merebahkan kembali tubuhnya sambil memeluk Malik dan tertidur kembali dikamar Naya


Naya menyibukkan diri didapur membantu sang ibu membereskan rumah dan memasak


"umi lagi apa??"


tanya Malik bangun tidur sudah membawa handuk yang dikalungnya dan baju digenggaman tangannya


"nonton tivi kamu udah bangun sayang??"


Naya bertanya balik


"udah dong, umi nonton tivi tapi matanya dihp terus mana ada itu??"


protes Malik


Juna terkekeh didepan kamar Naya


Naya pun menoleh kesumber suara dan memicingkan matanya kesal ditertawakan oleh Juna


seketika Juna langsung terdiam tidak berani tertawa kembali takut kena marah Malik sudah berlalu masuk kekamar mandi


"kakak gak mandi??"


tanya Naya


"gak sayang sudah mandi tadi dihotel"


jawab Juna lembut ikut duduk disebelah Naya


"ibu bapak mana kok gak kelihatan??"


tanya Juna yang tidak melihat keberadaan calon mertuanya tersebut


"kesawah bentar katanya"


jawab Naya mengambil cemilan dan memasukkannya kemulut seksinya


Juna yang melihatnya menelan savila ingin sekali mengecup bibir calon istrinya yang seksi nan menggoda imannya


"kenapa kak?? kakak pengen?? nih??"


Naya menyodorkan cemilan ke Juna


"eng enggak kok, gak papa"


jawab Juna gelapan melihat Juna salah tingkah Naya pun menyadari calon suaminya sedang melawan hasrahnya


"bener nih gak mau??"


goda Naya


Juna menggeleng


"apa mau yang ini??"


Naya menunjuk bibirnya Juna semakin gelaban


"jangan pancing buaya lapar deh Nay"


ucap Juna kesal Naya mala tertawa puas


"sabar ya bang"


ledek Naya menepuk pundak Juna yang masih kesal dikerjainnya


"umi ketawanya kayak kuntilanak aja sih"


protes Malik keluar dari kamar mandi bau sabun dan shampo semerbak keruangan


"gak papa kali"


jawab Naya


"horor tau"


celtuk Malik


Juna terkekeh dengan tingkah Malik yang suka isengin ibunya


"makan sana"


perintah Naya pada Malik


"ya bentar mi"


jawab Malik menjemur handuk dijemuran khusus handuk


"ayo Yah makan bareng Malik biar bisa menghadapi kenyataan galaknya umi"


ledek Malik menarik tangan Juna untuk makan bersama Juna tertawa puas melihat wajah Naya yang kesal diledek anaknya sendiri


Juna dan Malik menikmati makanannya dengan canda tawa seperti ayah dan anak Malik terlihat ceria bersama dengan Juna


Naya hanya memandangnya dari ruang tivi sambil tersenyum ia pikir Malik akan susah dengan kehadiran orang lain dan akan menolaknya seperti anak anak yang lain tapi ternyata ia salah walaupun Malik masih kecil dan belum mengerti apapun maksud dari orang dewasa tapi ia paham ia sedikit paham karna tinggal dipesantren banyak teman beraneka ragam


selesai makan bersama Juna dan Malik mencuci piring bersama sama hingga selesai dan menghampiri Naya yang sedang mencari chanel chanel tivi yang menarik


"mau nonton apa mi??"


tanya Malik duduk ditengah Juna dan Naya


"gak ada yang bagus filmnya, Malik mau nonton apa??"


tanya Naya


"gak tau emang ada film apa aja mi??"


Malik balik bertanya


"gak tau lah, umi jarang nonton tivi"


jawab Naya


"sayang ayah pulang ya??"

__ADS_1


pamit Juna


"yaaa kenapa gak tidur sini aja sih yah??"


tanya Malik memelas


"ya nanti kapan kapan sayang kalau sudah sah pasti ayah tidur sini"


Juna memberitahu


"kapan yah??"


tanya Malik antusias


"dalam waktu dekat ini, doain ya sayang semoga lancar dan berkah"


ucap Juna lembut


"aminnnn"


jawab Malik dan Naya


"beneran mau pulang kak??"


tanya Naya meyakinkan


Juna mengangguk


"takut khilaf sayang"


jawab Juna jujur Naya terkekeh


"ya sudah hati hati dijalan kak"


Naya mengingatkan


"ya sayang"


jawab Juna mengusapa kepala Naya lembut


Naya dan Malik mengantar sampai teras rumah


"ayah pulang dulu ya sayang, hati hati dirumah, jaga umi ya untuk ayah"


Juna mengusap kepala Malik dengan penuh kasih sayang


"ya Yah, ayah juga hati hati ya, jaga hati jaga mata jaga pikiran"


celetuk Malik membuat Naya dan Juna tertawa


"siap komandan laksanakan"


jawab Juna lalu masuk mobil dan melajukannya setelah Naya dan Malik masuk rumah


**


"ayo Gas masuk dulu istirahat bentar biar terlalu capek"


perintah ibu Intan


"ya Gas ibu capek pengen istirahat bentar disini ya??"


pinta ibu Bagas


"ya sudah bu, gak papa, maaf ya bu merepotkan"


ucap Bagas sungkan ikut masuk dan duduk diruang keluarga


Intan dan ibunya menyiapkan minuman dan cemilan untuk calon suami dan keluarganya


"nak Rofik benar benar sudah sembuh ya??"


tanya ibu Intan


"alhamdulillah bu lebih cepat sembuh"


jawab Rofik sopan


"ya bu yang nyari dokternya siapa dulu mas Juna, mas Juna juga yang menyelesaikan semuanya jadi kita sudah aman bu, alhamdulillah"


Tata memberitahu


"wah Juna yang sering bersama Naya itu ya??"


tanya ibu Intan


"iya bu mas Juna tunangannya Naya bu"


Intan memberitahu


"hebat ya orangnya??"


tanya bapak Intan


"iya pak, dia orang hebat dan berbakat, semua bidang dia kuasai, Bagas dan Rofik termasuk orang yang diajarinya berbagai macam bisnis"


puji Bagas jujur bapak Intan mengangguk mengerti


"iya kelihatan dari wibawanya"


jawab bapak Intan


"ibu kira Naya itu belum punya calon, mau ibu jodohin sama Andi, ternyata sudah laku"


celetuk ibu Intan jujur


"huss Andi kan dibawah Naya bu umurnya"


tegur Intan


"masak sih Tan??"


tanya ibu Intan terkejut


"iya bu kak Naya itu janda anak satu umurnya diatasku"


Tata memberitahu


"apa?? umurnya diatasmu Ta?? udah punya anak??"


tanya ibu Intan syok


Tata mengangguk mengiyakan


"Naya nikah muda bu dulunya, tapi bukan kecelakaan loh bu, memang nikah muda, emamg gak kelihatan tua sih karna memang wajahnya baby pack, jadi walaupun sudah beranak masih kelihatan imut imutnya"


Tata memberitahu


"owchh, ya ya gak kayak Intan mukanya boros jadi cepet tua"


ledek ibu Intan menutup mulutnya


"hehe iya bu, muka ku juga boros bu"


Tata cengengesan


"perawatan terus aja biar tetap muka kayak Naya"


ibu Bagas ikut mengomentari


"lahh, dikira kak Naya awet muda karna sering perawatan bu"


tanya Tata


"lah iya kan dia perawatan, apa lagi Juna kaya raya pasti dong"


tuduh ibu Bagas


"yee ibu salah paham, Naya itu emang dari pabriknya cantik dan awet muda bu, bukan vermakan, jangan ngarang bu"


Bagas menjelaskan


"tapi kok tadi malam dia cantik banget ibu lihat terus kalian kan nyalon terus tiap hari"


ucap ibu Bagas


"iya bu memang aku juga ikut nyalon itu karna permintaan mas Juna, gak perawatan aja kak Naya udah cantik ditambah perawatan jangan tanya lagi bu, iya sih walaupun harus dipaksa dulu"


Tata membela Naya


"emang dipaksa siapa Ta??"


tanya ibu Bagas penasaran

__ADS_1


"ini ini Stela Sukma dan Juna"


Bagas menunjuk Tata dan Intan


Intan dan Tata cengengesan yang lain geleng geleng dengan kelakuan wanita muda didepannya


"kan ibu nyuruh kamu Tan kenapa mala Naya yang jadi dipaksa??"


tanya ibu Intan heran


"ya gimana bu biar ada temannya aja, ditambah adik adiknya mas Juna pada dukung ya sekalian, ya gak Ta??"


Intan minta pembelaan Tata calon adik iparnya


"yep betul bu, soalnya kak Naya itu susah orangnya kalau disuruh perawatan harus dipaksa dulu baru ok"


Tata membela Intan


Intan tersenyum mendapat pembelaan dari Tata


"kalian itu sama saja orangnya suka paksa dan ngomporin Naya "


Bagas gemas mencubit Tata ingin mencubit Intan tidak enak ada calon mertuanya


"gak papa Gas maksanya positif, tapi semenjak kenal Naya Intan jadi ceria tidak lagi banyak murung, apa lagi kenal kamu tambah sumringah"


bapak Intan melirik anak perempuannya yang tersenyum malu


"ihh bapak suka banget deh buka aibku"


ucap Intan manja menunduk malu wajahnya sudah merah merona


setelah ghibahin Naya mereka pun berpindah topik tentang pekerjaan Bagas dan mengobrol ringan lainnya tidak lama keluarga Bagas pun pamit pulang


"pulang dulu ya sayang"


pamit Bagas


"iya mas hati hati dijalan"


jawab Intan manja yang dianggukan Bagas masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari kediaman keluarga Intan


**


dirumah orang tua Juna setelah sampai rumah mereka semua memutuskan untuk beristirahat Stela pun masuk kamarnya karna Adam sudah berkali kali mengirim pesan dan menghubunginya


panggilan terhubung


"sayang ada apa??"


Stela menampakkan wajahnya pada layar ponsel


"gak papa lagi apa?? dari tadi gak bisa dihubungi"


Adam cemberut


"lagi dijalan sayang, ini baru aja nyampe"


jawab Stela


mereka pun melepas rindu lewat panggilan video sampai Juna pulang kerumah


tok tok tok


Juna mengetuk pintu adiknya


"bentar Yang kayaknya mas Juna pulang"


ucap Stela meninggalkan ponselnya dikasur


ceklek


"ada apa mas??"


tanya Stela


"gak papa cuma mau ngecek aja soalnya pada sepi kirain belum sampai rumah, ya sudah kalau gitu mas mau kekamar"


pamit Juna


kemudian berlalu dari kamar adiknya


dan masuk kekamarnya dan merebahkan tubuhnya ia senyum senyum mengingat dirumah orang tua Naya


ia begitu bahagia dengan kedekatannya dengan Malik yang akan menjadi anak sambungnya


"semoga semuanya baik baik saja sampai nanti"


gumam Juna tersenyum


***


hari pernikahan Bagas pun tiba Naya Tata dan Juna disibukkan berbagai urusan pernikahan Bagas sampai malam Nanti acara serasahan untuk Intan dari Bagas


"kak mandi dulu gih, nanti gantian"


ucap Tata


"ya deh ini beneran gak papa aku tinggal??"


tanya Naya memastikan


"bisa tenang aja, sana gih"


usir Tata


"ok, kak Juna mana?? kok gak kelihatan Ta??"


tanya Naya yang tidak melihat calon suaminya


"jemput ibu bapakmu kak, sudah sana"


usir Tata lagi


"ok ok"


jawab Naya mengambi baju yangs udah siapkan dirangselnya dan menuju kamar mandi


"hanya dia, yang ada diantara jantung hati, tempat bermanja tempatnya rindu tempat curahan hati yang damai, entah apa bagaikan kayu basah dimakan api, api curiga, api cemburu ,api kerinduan yang membara, oh angin kabarkan, melati didepan rumahku menantimu ha ah ah ah"


Naya bernyanyi sambil mengguyur air dibubuhnya Juna yang sedang masuk kerumah Tata yang awalnya hendak buang air kecil tidak jadi karna melihat pintu kamar mandi tertutup tapi ia mendengar suara calon istrinya sedang bernyanyi dengan suara cemprengnya akhirnya berdiri didepan kamar mandi sambil tersenyum


"ya allah Nay kamu itu ya gak tau tempat bernyanyi aja sih, dirumah orang juga masih sempat sempatnya nyanyi"


gumam Juna menggelengkan kepalanya dengan tingkah calon istrinya tersebut


"memandangmu walau selalu tak akan pernah beri jemu dihatimu, memandangmu walau selalu masih terasa aku bagai diawal jumpa"


Naya masih bersenandung sampai selesai mandi ceklek


pintu kamar mandi terbuka dan ia dikejutkan Juna yang sedang tersenyum padanya di depan pintu kamar mandi


"astagfirullah ya allah kak Juna kirain setan atau apa, gemes deh aku, ngapain sih kakak disini ngintip aku ya??"


selidik Naya penuh curiga


Juna hanya cengengesan


"kamu itu ya gak tau tempat kalau nyanyi"


tegur Juna


"bodo amat, kan gak ada orang, lagian ngapain kakak berdiri kayak satpam didepan kamar mandi, mau ngintip aku?? gak usah ngintip ni aku lihatin??"


goda Naya hendak mau membuka resreting gamisnya yang dicegah tangan Juna


"gak usah mancing kucing ya sayang, aku perkosa kamu nyaho ya"


ucap Juna kesal karna Naya selalu menggodanya


Naya cengengesan mendengar ucapan Juna


"kayak berani aja, ayo kak aku siap diperkosa kamu"


Naya semakin menggoda Juna mencolek dagu Juna dengan genit


"awas kamu ya Nay bentar lagi sah kakak gak akan kasih ampun kamu"


ancam Juna tersenyum lalu masuk kekamar mandi


Naya cekikikan


"awas kamu ya Nay bentar lagi sah kakak gak akan kasih ampun kamu"

__ADS_1


Naya menirukan ucapan dan gerakan Juna sambil cekikikan


__ADS_2