
dipagi hari Ryan tiba tiba datang
tok tok tok
"assalamualaikum, assalamualaikum"
Ryan mengetuk pintu mengucap salam tidak sabaran
"waalaikum salam"
jawab Naya berlari membukan pintu karna yang mengetuk terburu buru
ceklek
"waalaik"
ucapan Naya terhenti saat melihat siapa yang terburu buru tidak sabaran mengetuk pintu rumahnya
"sayang mas kangen"
ucap Ryan hendak memeluk mantan istrinya tapi Naya dengan cepat menghindar
"maaf mas, kita sudah bukan suami istri lagi"
jawab Naya siaga ia takut mantan suaminya berbuat nekat lagi
"Naya?? apa tidak bisa kita kembali lagi?? aku masih mencintaimu Nay?? aku masih sangat mencintaimu"
ucap Ryan parau
Naya tidak menjawab ia hendak menutup pintu rumahnya tapi Ryan dengan cepat mencegahnya
"demi Malik sayang, kita kembali ya, aku mohon Nay??"
Ryan masih memohon sambil tangannya mencegah pintunya agar tidak dututup oleh Naya
"mas Ryan aku mohon kita hidup masing masing saja mas, itu akan lebih baik, tolong mengertilah"
ucap Naya penuh permohonan Naya masih berusaha melepaskan tangan Ryan yang mencegahnya untuk. menutup pintu rumahnya Naya takut Ryan berbuat nekat lagi karna ia sedang sendirian dirumahnya Ridwan dan bapaknya sudah berangkat bekerja kakaknya sudah pulang sedari subu tadi dan ibunya kepasar "mas kamu pulang saja ya aku gak mau ada fitnah"
pinta Naya
Ryan menyeringai
"itu mala lebih bagus sayang"
ucap Ryan mendapat sebuah ide
Ryan mendorong pintu rumah Naya dengan kuat hingga Naya terjungkal dilantai dan pintu rumahnya terbuka lebar
"ini mala lebih bagus sayang kamu pinter"
ucap Ryan tersenyum licik
Naya menelan savilanya takut Ryan berbuat yang tidak tidak dengannya
Naya berdiri hendak kabur keluar rumah tapi Ryan mencegahnya
"mau kemana sayang??"
ucap Ryan lembut ditelinga Naya yang sedang dipeluknya dari belakang dan tangannya sudah Ryan pegang agar Naya tidak bisa bergerak
Naya merinding dengan bisikan mantan suaminya
"mas jangan macam macam aku akan berteriak"
ancam Naya gemetaran
"kamu yakin mau berteriak sayang?? kamu mau melihat tetanggamu melihat kita yang sedang seperti ini??"
bisik Ryan masih ditelinga Naya
Naya hanya terdiam mencerna perkataan Ryan
"mas apa kita tidak bisa bicara baik baik saja mas"
ucap Naya hampir menangis
"kamu yang tidak mau sayang, mas sudah bilang berkali kali, tapi kamu tetap menolaknya, bagaimana dong?? mas pengen sama kamu??"
jawab Ryan parau hasratnya mulai membara
"aku gak mau mas, kita sudah bukan suami istri lagi"
tolak Naya gemetaran
"gak papa, banyak kok yang bukan suami istri melakukannya kamu benar benar menggoda sayang"
rayu Ryan berusaha menaklukan mantan istrinya
Naya mala menangis takut mantan suaminya berbuat nekat
"jangan menangis sayang, sakitnya hanya sebentar habis itu pasti nikmat seperti biasanya kita"
ucap Ryan mulai menciumi leher mantan istriya
tangis Naya semakin menjadi Ryan tidak mempedulikan Naya yang menangis ia tetap terlena menciumi leher Naya hingga tangan Naya dilepaskan tangan Ryan ingin menjamah ketubuh Naya dengan cepat Naya lari keluar rumah sambil menangis sesugukan ibu Naya pulang dari pasar mendapati anaknya yang sedang ditengah jalan berlari menangis dan Ryan mengejarnya langsung menghampirinya
"Naya kamu kenapa nak??"
tanya ibu Naya memeluk anak gadisnya Naya hanya menangis sesugukan
"kamu apakan anakku Ryan, kalian sudah berpisah tolong mengertilah dengan semua ini nak"
ucap ibu Naya membentak membuat beberapa tetangga jadi mengeruminya
"kami suami istri bu, aku tidak pernah menceraikannya"
jawab Ryan
"tapi ibumu yang menyuruh Naya menceraikanmu dan Naya pun sudah memiliki akte cerainya Yan, ibu mohon biarkan Naya hidup tenang nak jangan ganggu dia lagi"
ucap ibu Naya
Naya masih menangis dipelukan ibunya
"tapi aku tidak mau cerai sama dia bu aku mencintainya"
jawab Ryan jujur
"Ryan jangan egois begitu, ibumu sendiri yang marah marah kesini suruh cepat cepat ceraikan kamu jangan salahkan Naya kalau dengan cepat menceraikanmu"
celetuk tetangga ibu Naya yang berada disebelah rumahnya
"diam kamu bu, tau apa kamu, aku masih sayang sama dia bu dan aku tidak akan menceraikannya"
ucap Ryan berteriak
__ADS_1
Juna tiba tiba datang dan langsung berlari melihat keramaian ditengah jalan
"permisi bu permisi"
ucap Juna minta jalan
dan mendapati kekasih hatinya menangis dipelukan sang ibu dan ibunya memaki Ryan
"Naya??"
panggil Juna
Naya tidak menghiraukan panggilan Juna ia masih menangis dipelukan ibunya
"apa yang terjadi bu??"
tanya Juna pada ibunya
"ibu tidak tau Jun, ibu lagi kepasar tiba tiba ibu mendapati Naya berlari dijalanan, ibu tidak tau apa yang terjadi"
jawab ibu Naya jujur
mata Juna menatap tajam ke arah Ryan
Ryan hanya terdiam memikirkan apa yang ingin ia katakan agar Juna menyerah dengan Naya
"aku hanya ingin rujuk dengan istriku demi anak kami"
ucap Ryan berusaha tenang
"pergi kamu dari sini atau aku"
ancam Juna belum selesai berkata Ryan sudah melangkah menjauh tiba tiba langkahnya berhenti dan berbalik kebelakang
"aku tidak akan menceraikannya dan aku tidak akan menyerah aku akan berusaha mendapatkan milikku kembali"
ucap Ryan lalu pergi menjauh dari kerumunan
"bu bawa Naya pulang dulu ya bu"
pinta Juna mengambil belanjaan ibu Naya dan ibu Naya pun menurut membawa anak gadisnya pulang kerumahnya
Juna menunggu sampai Naya benar benar tenag baru ditanyai apa yang terjadi padanya
"kamu sudah tenang sayang??"
tanya Juna saat Naya sudah berhenti menangis merasa tenang
Naya hanya mengangguk
ibu Naya meninggalkan dua insan tersebut memberi ruang untuk anaknya menjelaskan pada calon suaminya
"kenapa kamu menangis sayang??"
tanya Juna lembut ia sudah berpindah duduk disamping Naya
"apa kakak akan memaafkan ku kalau aku jujur??"
tanya Naya balik
"iya kakak akan selalu memaafkanmu, kakak tau kamu bukan orang yang akan memanfaatkan kebaikan orang lain, jadi ceritalah kakak dengarkan"
jawab Juna lembut ia mendengarkan apa yang tadi terjadi termasuk Ryan memeluk dan berniat nekat padanya
Juna hanya mengangguk tenang lebih tepatnya berusaha tenang didepan Naya walaupun sebenarnya sakit hatinya kekasih hatinya dilecehkan seperti itu dengan mantan suaminya sendiri
ucap Naya lirih
Juna menghela nafas lega karna tidak terjadi apapun dengan Naya
"maafkan aku kak, kalau kakak kecewa dengan ku aku bisa memakluminya kalau kakak tidak terima lebih baik sampai disini saja hubungan kita batalkan pertunangan kita kak, aku gak mau menyakiti kak Juna lebih dalam lagi"
lanjut Naya
Juna tercekat dengan perkataan Naya
"kakak gak kecewa sayang kakak gak marah justru kakak bangga kamu bisa melindungi dirimu sendiri, kakak lebih rela kamu menyerahkan diri daripada kamu mati demi menjaga kehormatanmu karna kakak tidak mau kamu kenapa napa sayang, jangan hiraukan perasaan kakak kalau itu demi keselamatanmu ya??"
pinta Juna membelai lembut kepala Naya
"apa kakak yakin dengan ucapan kakak?? apa kakak gak merasa jijik aku disentuh orang lain??"
tanya Naya penasaran
Juna tersenyum
"yang penting kamu selamat tidak ada luka ataupun lecet sedikitpun, hanya itu yang kakak mau sayang, kakak lebih takut kehilanganmu"
jawab Juna lembut
Naya mala menangis kembali tapi tangisannya tangis haru karna Juna begitu tulus mencintainya
Naya memeluk Juna dengan erat Juna pun membalas pelukan Naya seolah takut berpisah
"kak Juna bagaimana tau kalau aku sedang ada masalah??"
tanya Naya penasaran setelah melepaskan pelukannya
"kakak telpon kamu berkali kali tapi tidak diangkat perasaan kakak tidak enak takut kenapa napa sama kamu jadi kakak langsung kesini saja, maafkan kakak ya sayang kakak terlambat datang"
ucap Juna menyesal
"aku yang seharusnya minta maaf kak aku membuat kakak kecewa denganku, maafkan aku"
Naya menundukkan kepala
"hey angkat kepalamu sayang kakak jadi tidak bisa melihat wajah cantikmu"
ucap Juna mengangkat dagu Naya agar melihat wajah Naya
"dengarkan kakak ya?? kakak tidak akan kecewa atau menyesal kamu melakukan hal seperti tadi karna kamu melindungi dirimu sendiri kakak mala bangga ternyata kamu tidak lemah kamu tau cara melindungi diri, tapi sayang kalau kamu melakukannya dengan sengaja kakak pasti akan kecewa padamu akan sangat kecewa tapi ada tapinya sayang"
yang tadinya Naya mendengarkan dengan khusuk jadi mengerutkan kan alisnya karna masih ada kata tapi
"tapi kalau kamu melakukannya dengan kakak pasti kakak akan senang bahkan lebih senang lagi "
ucap Juna cekikikan
yang membuat Naya manyun
"kakak cium nih kalau manyun gitu"
ancam Juna cengengesan
"Nay ibu anter makanan dulu ya ke bapak mumpung masih ada Juna disini ibu gak was was"
ucap ibu tiba tiba nongol dari dapur
__ADS_1
"Jun kamu makan ambil sendiri ya udah mateng tinggal makan saja"
lanjut ibu Naya kemudian pergi dari rumah mengantar makanan suaminya yang sedang disawah
" ibu itu gimana sih mala ninggalin aku sendiri dirumah cuma ada kak Juna doang gak takut apa aku diapa2in sama dia"
sungut Naya monyong
Juna hanya senyum senyum ingin mengerjai Naya
"iya iya kenapa ibu gak takut kamu kakak apa apain?? kalau kamu takut tidak kalau kakak apa apain??"
tanya Juna menaik turunkan alisnya
"apaan sih horor tau"
keluh Naya sewot ia kembali
"kenapa harus monyong gitu, kakak cium nih"
goda Juna
"tau ahh aku mau cek hp ku dulu kakak disini saja jangan nyintilin aku"
ucap Naya bangkin kekamarnya untuk mengecek ponselnya
Juna mala mengikuti Naya kekamarnya Naya yang merasa diikuti pun berhenti mendadak dan langsung membalikkan badannya Juna menabrak Naya yang berbalik dan tubunya menempel ketubuh Naya karna tabrakan tersebut
deg
jantung Naya dan Juna beradu karna tubuh mereka hampir tidak berjarak
"ka kakak mau a apa??"
tanya Naya gugup ia melihat wajah tampan Juna yang memandangnya
Juna hanya diam saja menatap wajah Naya ia menelan savilanya melihat dalam kaos oblong Naya yang kelihatan karna Juna lebih tinggi dari Naya
tanpa sadar Juna mencium bibir seksi Naya
Naya pun tidak menolaknya ia mala menikmati ciuman tersebut
saat sadar Juna pun melepaskan ciumannya
"ma maafkan kakak Nay kakak kakak"
ucap Juna gugup takut Naya marah
"aku mau lagi"
pinta Naya membuat Juna terperanjat kaget
"kakak diluar saja"
ucap Juna melangkah keluar
"aku pingin lagi kak??"
pinta Naya lagi memegang tangan Juna hingga menghentikan langkahnya
"duhh Juna kamu macam macam aja, pake khilaf lagi duhh jadi ketagihan kan dia"
gumam Juna dalam hati kikuk dengan situasinya
"kak aku pingin hanya gini aja gak papa aku tau batasan kok"
pinta Naya lagi
Juna menghela nafas meredakan gelora dihatinya yang sebenarnya ketagihan juga seperti Naya tapi akal sehatnya masih bisa menguasainya
"sayang kita belum halal kakak takut kebablasan tahan dulu ya, kita seperti ini saja sebenarnya sudah dosa apalagi kalau kita sampai itu, kamu ngerti kan maksud kakak??"
tanya Juna
Naya hanya mengangguk kecewa
"kakak menghalalkan dosa mendekatimu demi cintamu Nay, tapi kakak juga takut untuk melakukan hal diluar batas, maafkan kakak"
ucap Juna lagi
"ya sudah kakak diluar saja ya aku didalam biar gak khilaf"
Naya menimpali ia juga tau bahwa perbuatannya berdekatan dengan Juna sampai ciuman itu sudah dosa tapi dengan adanya kedekatannya bisa membuatnya jatuh cinta tidak dipungkiri antara Naya dan Juna bukan wanita atau pria sholeh saleha walaupun ia pernah menjadi santri tapi mereka berdua juga tidak luput dari dosa dan kekhilafan akan tetapi mereka masih tau batasan
akhirnya Juna menunggu diteras rumah Naya untuk meredakan gelora yang bergejolak dan Naya pun diruang keluarga untuk menonton sereal film FTV sampai ibunya pulang
"loh Jun kok diluar Naya kemana??"
tanya ibu Naya yang melihat Juna tiduran diteras
"tidak apa apa bu cuma cari angin aja"
kilah Juna salah tingkah
"kamu kenapa?? aneh"
tanya ibu Naya masuk kedalam rumah
"Nay kenapa Juna kok mala diluar gak kamu temani??"
tanya ibu Naya mendapati anaknya rebahan sambil nonton tivi
"gak papa bu katanya pengen diluar saja, ya sudah biarin saja"
jawab Naya santai seperti dipantai
"ohh udah pada makan belum??"
tanya ibu Naya lagi
"belum bu"
jawab Naya nyengir baru ingat Juna belum makan sejak datang sampai sekarang
"kamu itu ya benar benar deh, terus nanti kalau sudah nikah kamu masih mau biarin Juna kelaparan?? suami juga butuh makan Nay jangan kamu biarkan suamimu dalam keadaan perut kosong ngerti tidak?? sudah pernah menikah tapi masih saja seperti belum nikah, kamu itu gimana sih harus jaga suamimu jangan sampai makan diluar, masakan rumah itu lebih nikmat lebih higinis"
cerocos ibu Naya
Naya tidak mendengarkan ocehan ibunya ia langsung keluar memanggil Juna untuk makan siang yang sudah lewat
"kak ayo makan dipanggil ibu tu"
ajak Naya
Juna pun mengangguk dan masuk kedalam rumah dan duduk di ruang makan
Naya dengan sigap mengambilkan nasi dan lauk untuk Juna dan ikut menemani makan sambil bercanda ceria seperti tidak ada yang terjadi karna ibu Naya ikut duduk bersama
__ADS_1