Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
lakukan demi kamu


__ADS_3

selesai makan Juna pamit kembali kekantor untuk menyelesaikan pekerjaannya


Naya pun memutuskan untuk tidur siang ditemani ibunya dirumah


"habis darimana Jun??"


tanya papa Juna karna dari tadi tidak melihat anak laki lakinya


"dari Naya pa"


jawab Juna


"kamu itu ya Jun benar benar deh sabar sedikit kenapa Juna sebentar lagi juga bakal tunangan nak dua bulan setengah kamu sudah bisa menghalalkannya"


papa Juna mengingatkan


"apaan sih pa tadi Naya ada masalah, perasaanku gak enak jadinya kesana"


Juna memeritahu


mata papa Juna melotot


"apa??? masalah apa Jun?? kenapa gak bilang papa??"


tanya papa Juna gemas


Juna pun menceritakan perihal kejadian yang menimpa kekasih hatinya sampai selesai


mata papa Juna semakin melotot karena calon menantunya diusik ketenangannya ditambah pelecehannya


"benar benar ya"


geram papa Juna


"terus Naya nya bagaimana?? dia baik baik saja kan?? tidak trauma kan Jun?? bisa gawat kalau sampai trauma, bisa bisa tidak mau disentuh gara gara kelakuan bejat mantaj suaminya"


papa Juna mengoceh


"bukannya trauma mala ketagihan gara gara perbuatanku itu"


gumam Juna cengengesan


"apaaa??"


teriak papa Juna yang sedikit mendengar gumaman Juna walaupun tidak jelas


Juna terperanjat ternyata papanya mendengar apa yang ia ucapkan Juna garuk garuk dagunya yang tidak gatal


"Juna kamu ngomong apa??? ketagihan apa maksudnya??"


tanya papa Juna penasaran apa yang anaknya gumamkan barusan


"bu bukan apa apa pa"


jawab Juna salah tingkah


"maksudnya apa ketagihan?? Naya menikmati belaian mantan suaminya gitu?? yang bener Jun??"


tuduh papa Juna


"bukan pa bukan itu ditagih penjual panci ibunya Naya, iya pa ditagih tukang panci gitu maksudnya"


jawa


kilah Juna mencari alasan


"ohhh gitu ya sudah, kirain apa"


jawab papa Juna


"aku kerja dulu pa"


ucap Juna lalu sibuk dengan laptopnya hingga sore menjelang waktu jam kantor usai


Juna pun meninggalkan kantor pulang kerumah bersama papa dan bapaknya


"Jun kamu itu ya benar benar nakal, sabar sedikit kenapa Jun, gitu gitu Naya janda Jun"


ucap ibu Juna bersantai diruang keluarga bersama yang lain


"sudah mbak jangan dimarahi, mereka sudah dewasa biarkan saja yang penting tau batasan"


mama Juna membela


"apa sih bu ma, ada apa?? gak jelas banget"


tanya Juna bingung ia datang datang ikut nimbrung karna mau diskusikan masalah pertunangan mala ditegur tidak jelas


"masih ngeles kamu ya dasar anak kurang ajar"


ucap ibu Juna menjewer telinga anaknya


"adududu bu sakit bu sakit"


Juna mengadu


"hihihi makanya mas jangan suka khilaf, udah tau anak orang janda lagi hihihi"


celetuk Stela cekikikan


"maksudnya??"


tanya Juna bingung memegang telinga yang habis dijewer ibunya


Stela pun menceritakan kejadian yang dialami Naya termasuk berciuman dengan Juna


"gitu mas"


ucap Stela setelah menceritakannya


"ember juga cintaku itu"


gumam Juna garuk garuk kepalanya yang tidak gatal


"gimana gak ember aku paksa ngaku ya jadi bocorlah"


ucap Stela cengengesan


"kamu itu ya Stel suka kepo"


Juna gemas dengan Stela


"kamu Sukma jangan ikut ikutan kepo kayak mbakmu ini ya??"


Juna mengingatkan


"ya pasti kepo lah gimana sih mas, orang cerit lucu gitu, sejak kapan masku yang ganteng ini berkelakuan cabut sama janda lagi"


ucap Sukma cekikikan ingat Naya mengoceh ditelpon Stela dengannya tadi siang


"hahh kalian itu sama saja"


jawab Juna gemas dengan kedua adiknya


"gak papa mas kalau perlu bablasin aja biar cepet halal, mbak Naya kan susah diajak nikah, giliran dikasih bibirmu langsung mau"


saran Stela cekikikan


"hus kamu itu ya mala ngajarin masmu kayak gitu dosa"


tegur mama Juna pada Stela


"ya abisnya mbak Naya susah banget ma gak mau sat set sat set gitu"


kilah Stela cengengesan


"memanya dia gitu ya?? suka jual mahal gitu mbak??katanya janda kok jual mahal"


tuduh Sukma


"bukan jual mahal Sukma cuma mbak Naya pernah gagal dalam rumah tangga jadi mungkin lebih tepatnya berhati hati gitu"


Stela menjelaskan


"nah dengerin itu mbakmu Ma , pelajaran buat kita memilih pasangan jangan asal"


ucap mama Juna


"dan jangan pilih pilih nanti gak laku"


ibu Juna melanjutkan


Stela dan Sukma mengangguk tanda mengerti


"ma bu, besok ajak Naya belanja ya buat acara pertunangan"


pinta Juna


"siappp"


jawab mama dan ibu Juna kompak


"aku ikut ya ma??"


rengek Sukma


"iya aku juga"

__ADS_1


Stela ikutan


"ya sudah ikut semuanya, mas juga mau ikut"


ucap Juna


"yeee mas gak usah ikut mas kerja aja ya biar aku dan Sukma yang nemenin mbak Naya gak akan ilang kok"


saran Stela


"tidak besok mas harus ikut, kamu yang jangan ikut besok kan kamu kerja, dan kamu Sukma selesaikan tugas kuliahmu"


Juna mengingatkan


"gak, kita mau ikut dan akan ikut titik"


ucap Stela dan Sukma kompak membuat semua orang tertawa termasuk Juna


"baiklah baiklah baiklah semuanya ikut kita belanja bersama sama besok"


jawab Juna kemudian dan Juna pun pamit untuk memberitahukan Naya bahwa besok belanja keperluan untuk acara


tidak lain dengan Bagas ia mulai aktif menghubungi Intan semenjak melamarnya sering bertukar kabar dan bercerita satu sama lain


"Yang masih ada yang kurang tidak?? kalau masih besok kita belanja lagi soalnya tunangan kita dan Juna hanya lebih dua hari saja"


Bagas memberitahu lewat sambungan video call


"ya sudah besok aku cek ya Yang masih ada yang kurang atau tidak"


jawab Intan menampakkan senyum manisnya dilayar ponselnya


"ya sudah istirahat gihh besok mas kerja sayang"


ucap Bagas kemudian


"ya sayang assalamualaikum"


Intan mengakhiri panggilannya setelah mendapat jawaban dari Bagas


***


keesokan harinya sesuai janji Juna menjemput Naya dari pabrik untuk diajak berbelanja bersama keluarganya


"mau belanja dimana kak?? kok jalan terus??"


tanya Naya heran setiap pasar Juna masih tetap berjalan


"kita ke moll sayang"


jawab Juna lembut


"kok ke moll kenapa gak beli ditoko toko sini saja, sama bagusnya kok kak modelnya"


tawar Naya


"gak ke moll saja, sebelum ke moll kita mampir disuatu tempat dulu untuk mengecek kamu sayang"


ucap Juna


"ngecek apaan kak aku gak kenapa napa kok, aku lagi datang bulan"


Naya memberitahu


"bukan itu sayang, kita ngecek tubuhmu ukurannya berapa gitu"


ucap Juna lagi reflek Naya menutup dadanya


"kakak mau apa sih?? kok tubuhku diukur segala?? buah dadaku memang kecil kak gak besar kayak yang lain"


Naya kesal


"bukan bukan, bukan sayang maksudnya gini hmmm kita ke desainer untuk mengkur badan kamu buat pakaian pertunangan kita"


Juna menjelaskan


"ohhh kirain"


jawab Naya


"kirain apa?? traveling ni pasti ya kan??"


tuduh Juna cengengesan


"siapa yang traveling orang aku nanya doang kok heran aku, aku sosor baru yaho kamu ya"


ancam Naya


Juna hanya cengengesan dengan ucapan kekasihnya


tidak lama mobil Juna sampai ditempat butik yang sangat mewah


"hay"


sapa Juna


"halo guys akhirnya sampai juga"


jawab pemilik butik mewah yang bernama Ana


"mana orangnya??"


tanya Ana pada Juna


"ini"


Juna menyodorkan Naya


"beautyfull"


ucap Ana mengangkat tangannya ok


Juna hanya tersenyum tipis


"mataku gak salah lihat kan?? aku gak rabun kan??"


tanya Ana heran


"kenapa mbak?? apa mata mbak mines??"


tanya Naya polos


Ana menggeleng


"aku melihatnya tersenyum, aku gak salah lihat kan??"


tanya Ana menepuk pipinya


Naya bingung dengan ucapan desainer tersebut


Juna hanya diam saja


"sudah cepat ukur buru buru nih mau ketempat lain"


protes Juna pada Ana


"ok deh"


jawab Ana cemberut


"aku mulai ukur ya mbak"


tanya Ana pada Naya


Naya hanya mengangguk mengiyakan


"selesai"


Ana menghela nafas setelah mengukur badan Naya


"mbak kok mau sih sama gunung es modelan dia"


celetuk Ana penasaran karna yang ia tau Juna orang yang dingin dan cuek


Naya hanya cengengesan menanggapinya


Juna menggeleng dengan tingkah teman perempuannya yang mengompori Naya


"ayo sayang kita pindah tempat"


Juna mengajak Naya pergi Naya hanya menurut saja


"hey bentar kenapa, gini ya yang namanya teman, aku udah jauh jauh datang dari london hanya untuk gaun kalian tapi kalian mala cuekin, diajak makan kek kemana kek kesel aku"


Ana mengoceh


"nanti saja kalau semuanya sudah selesai, sekarang masih banyak urusan"


ucap Juna datar lalu pergi meninggalkan butik tersebut


Juna tidak menghiraukan kekesalan temannya yang sedang menghentak hentakan kakinya


"kak papa kak kita tinggal dalam keadaan kayak gitu?? nanti gaunnya gak dibuatin loh sama dia"


Naya mengingatkan


"biarkan saja, kalau dia berani gak buatin gaun buat kamu kakak tarik dana semuanya yang sudah masuk, pasti dia tidak akan berkutik"

__ADS_1


Juna memberitahu


"kejam juga kamu ya kak?? emang dunia bisnis kayak gitu ya kak?? kayak didrakor drakor gitu atau dikomik komik??"


tanya Naya penasaran


"mungkin soalnya kakak gak pernah nonton drakor atau baca komik sayang jadi tidak tau seperti apa"


jawab Juna lembut


"nanti aku lihatin kapan kapan, kita nonton berdua kak"


Naya menawarkan


"oh tidak tidak terima kasih, kakak takut khilaf lagi sayang, jangan ya"


tolak Juna cepat ia takut melakukan kesalahan lagi dan lagi


Naya cekikikan dengan penolakan Juna


"ok ok, nanti saja kak kalau sudah halal kita nonton berdua"


ucap Naya lagi


"ok kalau sudah halal gak masalah sayang"


jawab Juna tersenyum tidak lama Juna masuk kedalam moll elit bersama Naya untuk mengambil perhiasan yang sudah ia pesan


"selamat siang pak"


sapa pegawai


Juna dan Naya hanya mengangguk tersenyum kecuali Juna yang memasang wajah datar dan manager perhiasan langsung menyambutnya ramah


"silahkan pak Juna tunggu sebentar ya pak saya ambilkan barangnya sebentar"


ucap manager tersebut mengambilkan barang yang sudah Juna pesan setelah mendapatkan anggukan


Juna dan Naya duduk diruang tunggu pelanggan VVIP dan salah satu pegawainya mengantarkan minuman dan cemilan untuk Naya dan Juna sembari menunggu datangnya perhiasan yang ia minta


"kak ini toko perhiasan kan?"


tanya Naya


"iya sayang"


jawab Juna lembut menggemgam tangannya


"kenapa gak beli ditoko mas saja kak kan lebih murah harganya dari berlian ditoko ini"


tanya Naya


Juna tersenyum gemas dengan kekasih hatinya itu


"darimana kamu tau kalau toko ini mahal harganya??"


Juna bertanya balik


"walaupun aku tidak pernah masuk dikalangan seperti ini tapi aku tau kak kalau semacam toko ini pasti mahal, aku kan sering nonton drakor"


jawab Naya nyengir


"kamu itu ya kebanyakan nonton drakor"


Juna menoel hidung Naya gemas


tidak lama menejer perhiasan pun muncul membawa pesanan Juna


"maaf pak menunggu lama"


ucap manager tersebut ramah


Juna hanya mengangguk dengan ekpresi masih datar


dan Juna memeriksa pesanannya dan memperlihatkan pada Naya


"ini sayang hadiah untuk pertunangan kita"


ucap Juna tersenyum lembut


Naya ternganga melihat satu set berlian yang cukup mewah dikotak perhiasan


"kak ini buat tunangan kita nanti??"


tanya Naya bingung dengan kemewahan


"iya sayang"


jawab Juna tersenyum


"kak sebaiknya ganti yang murah saja atau yang biasa biasa saja kak"


saran Naya


"gak akan kakak ganti sayang ini untukmu seperti kamu bagaikan berlian untukku"


ucap Juna lembut


"tapi kak ini terlalu mahal aku gak mau"


tolak Naya


"gak ada kata kata mahal untukmu sayang apapun akan kakak lakukan demi kamu"


ucap Juna lagi


"mbak"


panggil Juna hanya menganggukkan kepalanya manager perhiasan langsung paham dengan cekatan mengambil kembali perhiasan dan membungkusnya Juna langsung pergi dari tempat perhiasan tersebut tanpa membawanya karna perhiasan tersebut akan ada orang Juna yang mengantarkannya


"kak jangan ambil perhiasan itu ya terlalu mahal ga cocok juga untukku"


rengek Naya


Juna hanya tersenyum melihat kearah sang pujaannya


"kak Juna"


panggil Naya kesal menghentakkan kakinya manja karna tidak didengarkan oleh Juna


Juna menoleh kebelakang dan tersenyum gemas dengan tingkah Naya yang manja


"ayo sayang kita sudah ditunggu sama mama ibu Stela dan Sukma"


Juna memberitahu wajah Naya langsung kembali ceria yang tadinya cemberut


"ada disini kak??"


tanya Naya


Juna mengangguk tersenyum melihat Naya kembali ceria


"ayo"


ajak Naya reflek menggandeng tangan Juna dengan semangat


Juna hanya menggeleng saja dan mengikuti kemauan Naya


saat bertemu dengan keluarga Juna Naya dengan semangatnya melambaikan tangan dari jauh dan berlari melepaskan gandengan tangan Juna


Juna pun mengejar Naya


"sayang jangan lari nanti jatuh"


tegur Juna tapi Naya tidak menghiraukannya


ia tetap berlari menghampiri keluarga Juna dan tiba tiba Naya menyenggol hingga hampir jatuh Juna dengan sigap menangkap Naya


Juna memeluknya dengan erat seperti takut kehilangan


"hati hati sayang"


ucap Juna jantungnya deg degan


Naya hanya nyengir menampakkan giginya


"maafkan aku kak aku gak sengaja"


Naya cengengesan tanpa dosa


"ada yang sakit??"


tanya Juna memeriksa


"aku baik baik saja kak, kak Juna jangan khawatir"


jawab Naya meyakinkan


"mas maaf ya istri saya tidak sengaja"


Juna meminta maaf untuk Naya


"iya gak papa mas lain kali hati hati"


jawab orang yang ditabrak Naya


Jun hanya mengangguk Naya juga ikut meminta maaf tapi langsung ditarik sama Juna

__ADS_1


dan mereka pun akhirnya jalan bersama karna Juna melarangnya untuk berlarian lagi Naya pun menurut pada akhirnya


__ADS_2