
tak lama mobil memasuki area kantor. Juna pun siap siap membereskan berkas yang tadi ia sentuh. setelah mobil berhenti dilobby kantor. supir Juna dengan sigap membukakan pintu untuk kedua tuannya.
setelah Juna dan Rangga keluar dari mobil. mobil juna pun berlalu bersama supirnya menuju parkiran kantor. juna masuk kedalam yang sudah disambut oleh staf staf kariawan kantornya.
"selamat pagi pak."
sapa resepsionis kantor.
Juna hanya mengangguk sedikit tanda mengiyakan.
"selamat pagi pak."
sapa staf kantor. juna menganggukan sedikit kepalanya.
sampai di depan litf ada seseorang gadis yang bernama Ratna dengan pakaian sangat ****. tiba tiba memanggil namanya dan menghampiri. Juna dan Rangga hanya menoleh kebelakang.
tiba tiba gadis tersebut memeluk Juna dengan erat. dengan sigap Juna melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh sang gadis hingga terjatuh.
"mas kok jahat banget sih aku kan calon istrimu. gimana sih."
ucap Ratna cemberut manja.
juna tidak menghiraukan cerocos Ratna ia masih menunggu lift terbuka.
Ratna kembali ingin bergelayut dilengan Juna dengan manja tapi Rangga dengan sigap langsung mendorong Ratna hingga terjatuh dilantai.
"aowww kamu tu gimana sih sakit tau. kamu gak tau siapa aku hah."
ucap Ratna kesal.
"aku tau siapa kamu. Ratna kartika sari santoso. yang akan mengikuti pejodohan dengan Arjuna wijaya. besok malam jam 20.00 dicafe melati. apakah saya benar nona??"
jawab Rangga dengan santainya.
Juna masih cuek bebek melihat Ratna dan Rangga.
"mas sakit nih. bangunin dong sayang kok mala diem aja calon istrimu dikayak giniin."
rengek Rantna manja.
Juna masih cuek cuek aja tanpa memperdulikan rengekan Ratna.
ting
pintu lift terbuka Juna langsung masuk tanpa menghiraukan Ratna yang masih duduk dilantai. Rangga dengan cepat ikut masuk ke dalam lift.
Ratna langsung bangun ia juga ingin ikut masuk kedalam lift dengan cepat Rangga menghadang dan mendorongnya hingga terjatuh kembali kelantai.
pintu lift tertutup dan mengantarkan Juna ke lantai yang diadakan rapat.
pintu lift terbuka juna melangkah keluar dan membuka pesan. karna ia dengar ponselnya bunyi menandakan pesan masuk.
{semangat kerjanya ya kak. gak usah di bales kerja sana }
Juna tersenyum membaca pesan Naya.
"kamu itu benar benar ya Nay."
Juna tersenyum ceria.
"ya allah mas dapet sms dari istri orang aja kamu udah kayak gitu banget sih mas."
celetuk Rangga.
"gak papa Gga yang penting dia baik baik saja. itu udah cukup buat ku."
jawab Juna sumringah.
Rangga hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Juna.
Juna melangkahkan kakinya dengan semangat yang Naya berikan walaupun lewat pesan. ia tersenyum sepanjang jalan sampai masuk keruangan rapat. membuat semua orang keheranan melihat wajah juna yang ceria.
Juna duduk dikursi kekuasaannya masih dengan tampang cengengesannya.
"Gga itu pak bos kenapa kok jadi gitu. biasanya juga muka ditekuk terus."
bisik Dika pada Rangga.
"udah biarin aja. asalkan dia bahagia semuanya beres."
bisik Rangga.
"iya sih cuma gak biasanya aja. kan jadi takut kitanya Gga."
bisik Dika lagi.
"biarin aja. dia lagi kasmaran. udah daripada nanti kenak semprot."
"bisik Rangga pada Dika.
ehemmm
Juna berdehem.
"mau dimulai kapan rapatnya.??"
tanya Juna tegas dan berwibawa.
"maaf."
ucap Rangga lalu memulai rapat dipagi hari.
**
"mas jadi keperjodohan??"
tanya Tata saat diruangan Bagas.
"jadi nanti malam mas dan ibu ke rumahnya."
jawab Bagas.
"namanya siapa orangnya mas??"
tanya Tata penasaran.
"kata ibu sih namanya elvi."
jawab Bagas lagi.
"elvi sukaesi maksudnya mas hahahaha."
Tata tertawa mengingat namanya mirip penyanyi dangdut.
"huss kamu tu. mas gak tau lengkapnya ibu cuma ngasih tau nama elvi itu aja."
Bagas kesal.
"kan siapa tau mas namanya sama kayak artis dangdut itu. hihihi. tapi kok aku merinding ya mas denger namanya doang. cantik gak orangnya mas. ada fotonya??"
Tata semakin penasaran.
"kata ibu gak ada. disuruh langsung kesana gitu katanya. cantik gak nya belum tau lah Ta orang belum lihat "
jawab Bagas santai.
"ntar malam aku diajak kan mas. masak gak diajak. aku kan juga penasaran mas. ikut ya??"
__ADS_1
Tata merengek.
"iya mas sih terserah kamu. tapi kamu tanya ibu dulu ya. biar ibu tau."
Bagas memberi nasehat.
"ok deh nanti aku bilang ibu."
jawab Tata.
"aku keruangan ku ya mas masih ada kerjaan."
pamit Tata bangkit dari duduknya.
"ya."
jawab bagas.
Tata pun berlalu dari ruangan Bagas.
**
"Nay kamu lagi apa?? ngelamun aja diteras??"
Tanya ibu Naya.
"lagi cari angin bu disini. bosen didalam terus. pusing aku bu."
jawab Naya.
"iya sih tapi mau gimana lagi Nay. kalau keluar pasti banyak yang nyinyir tentang kehamilanmu. walaupun kamu berusaha tidak menghiraukan tetap saja sakit hati jadinya."
ucap ibu Naya lemas.
"makanya aku pengen kerja bu biar gak suntuk. dirumah terus. aku juga ada diposisi fase bosen hehehe."
Naya cengengesan.
"kamu tu ada ada saja. fase bosen gaya kamu Nay."
ibu Naya cekikikan.
"suamimu belum didarat Nay??"
tanya ibu
"belum bu. mungkin besok kali bu sudah seminggu sih."
jawab Naya.
"ya sudah yang penting rumah tanggamu baik baik saja Nay. hanya itu yang ibu harapkan."
pinta ibu Naya.
"iya bu insyallah doakan ya bu selalu baik baik saja."
jawab Naya.
"ibu masuk dulu lah mau masak."
ucap ibu berlalu menuju dapur.
Naya memandangi tanaman diteras yang ditanam oleh ibunya.
"mataharinya cantik. kapan ibu nanem ini. kok baru lihat. jadi inget kak Juna. sms ahh."
Naya mengambil ponselnya untuk pengirim pesan.
{semangat kerjanya ya kak. gak usah dibales kerja sana}
"hihihi pasti kak Juna marah aku sak enak jidat."
Naya cengengesan.
"foto bunga matahari ahh buat story."
Naya pun beralih memusatkan camera ponselnya untuk memotret bunga matahari buat dijadikan story aplikasi hijaunya.
"pasang deh hihihi cantik juga nih bunga."
Naya masih cengengesan memandangi ponselnya.
"masuk ah merem ngantuk pengen rebahan."
ucap Naya bangkit dari duduknya menuju kedalam rumah untuk istirahat.
**
meeting Juna selesai dua jam lebih cepat dan berjalan lancar.
"gak usah senyum terus kali mas giginya kering nanti."
celetuk Rangga.
karna dari tadi melihat wajah sang kakak sepupunya senyum sumringah seperti orang bodoh. Juna pun tidak menanggapi ocehan adik sepupunya.
"Gga jadwal ku apa aja hari ini??"
tanya Juna.
"bentar aku periksa lagi siapa tau aku lupa."
jawab Rangga. Rangga pun menjelaskan jadwal Juna selanjutnya sampai pulang kantor nanti.
"paham kan mas. gak usah senyum senyum kayak orang bodoh deh mas. kayak bukan kamu aja. gimana sih."
ucap Rangga kesal.
"sirik amat sih lu Gga. gak seneng apa lihat kakakmu ini bahagia."
celetuk Juna.
"aku gak sirik mas. cuma heran aja disms istri orang doang kok jadi bodoh gitu. kan gak lucu. gemes aku lihatnya. dimana mas Juna ku yang berwibawa dan tegas itu."
cerocos Rangga.
"udah ah bawel. ayo ketemu klien diresto."
ajak Juna tak mau ambil pusing.
"iya tapi nanti tampang mu jangan kayak orang bodoh lagi malu maluin aja."
Rangga sewot sambil berjalan mengikuti langkah Juna menuju ke lift untuk keluar dari kantor bertemu parnert bisnisnya yang lain.
sampai lobby pun mobil Juna sudah siap dan tinggal menunggu tuannya masuk dan meluncur.
"ani nanti kalau ada perempuan siapapun jangan dibiarkan masuk saya tidak suka. mengerti. dengan alasan apapun tanpa seizin saya."
ucap Juna memerintah dengan tegas.
"baik pak. maaf saya lalai pak."
ucap ani resepsionis kantor Juna sopan.
Juna hanya mengangguk setelah mendapatkan jawaban dan berlalu menuju mobil yang sudah siap mengantar ke arah tujuan.
sang supir yang melihat langkah tuannya dengan sigap membukakan pintu mobil agar tuannya tidak menunggu terlalau lama. setelah Juna dan Rangga masuk ke mobil. dengan cepat sang supir mengemudikan dan melajukan mobilnya menyusuri kota jakarta yang macet. di tengah perjalanan Juna iseng membuka ponselnya. Juna tersenyum cengengesan membaca kembali pesan dari Naya. dan membuka story Naya yang biasa setiap hari bikin story diaplikasi hijaunya. saat membuka story Naya ia terkejut foto yang terpampang diponsel storynya.
__ADS_1
"sekarang kamu sudah mekar ya. cantik."
Juna tersenyum lebar melihat bunga yang ia berikan pada ibu Naya telah mekar sempurna walapun tidak terlalu besar karna berada dipot bunga kecil.
"bales gak ya storynya. kayaknya bales aja deh. tapi mau bales apa. bingung jadinya."
gumam Juna dalam hati.
"mas nanti sekalian makan siang kita ketemu klien dari perusahaan elektronik ya mas. orang nya minta sekalian makan siang katanya. mas."
ucap Rangga ia menoleh ke arah Juna yang tidak meresponnya.
"astagfirullah ni orang kesambet apa lagi lah. kok aku jadi gemes."
Rangga berbicara sendiri.
"mas Juna."
panggil Rangga dengan suara meninggi.
"apa sih teriak teriak. budek tau."
jawab Juna kesal.
ia sedang bingung ingin membalas story Naya dengan kata kata apa.
"mas tu yang apa aku ngomong dari tadi gak dijawab. kan kesel akunya. gak biasanya mas kayak gini juga. kenapa sih mas. kayak orang begok lagi. gemas aku jadinya."
cerocos Rangga.
"gemes gemes apanya. Gga tolongin dong Gga bingung nih mau balas apa??"
Juna minta pendapat.
"apaan sih mas. kayak orang begok aja. sini aku lihat."
Rangga mengambil ponsel Juna.
"yang mana mas??"
tanya Rangga.
"di story yang tulisan My sunshine itu Gga. aku harus bales apa??"
Juna tanya balik.
"ini hanya tulisan cantik doang dan sebuah potret bunga matahari. terus mas mau balas apa??"
Rangga mala bertanya balik membuat Juna semakin bingung.
"duh gimana sih aku tanya kamu harus komen apa kok mala kamu yang tanya aku balik sih. ya aku tambah bingung lah Gga."
ucap Juna kesal. Rangga mala menertawakan Juna merasa lucu melihat wajah bingung kakak sepupunya.
hahahahahahaha
"mas kamu tu ya lucu banget. mukanya seperti orang nyasar aja sih kebingungan. kamu tinggal balas aja. cantik seperti kamu atau apa gitulah yang sekiranya romantis membuat sang pujaan kesemsem. kamu mala panik sendiri ingin membalas apa. hahaha lucu lucu lucu. baru pertama kali sih aku lihat kamu kebingungan kayak gini mas. perlu diabadikan ini."
Rangga merasa geli melihat tingkah Juna seperti orang bucin.
"aku harus komen cantik seperti kamu gitu ya. ya sudah."
jawab Juna lalu mengetik kata kata untuk mengirimkannya ke Naya. Rangga masih tertawa melihat wajah Juna yang seperti puber ke 100.
{cantik seperti kamu Nay my sunshine}
"sudah aku kirim. jangan ngambek ya Nay nanti aku gak tahan ingin nyubit pipi kamu."
ucap Juna cengengesan mengingat Naya ngambek.
"tuan sudah sampai."
ucap supir Juna yang bernama pak Wito. membukakan pintu dan mempersilahkan tuannya turun dari mobil.
"iya pak terima kasih."
jawab Juna kakinya turun dari mobil. dan melangkahkan kakinya disebuah restoran yang dikunjungi Juna untuk bertemu rekan bisnisnya.
**
ting
bunyi pesan masuk
Naya yang sedang rebahan diatas ranjang tempat tidurnya pun mengambil ponselnya dan melihat isi pesan dari siapa. setelah membaca pesan Naya tersenyum lebar.
"ihh jadi baper deh aku hihihi. meleleh deh hatiku. balas ahh"
Naya membalas pesan dari Juna.
{ihh kak juna pinter gombal juga ya ternyata??hihi}
ting
Juna yang mendengar ponselnya berbunyi pun langsung mengalihakan matanya keponsel dan membuka pesan yang sudah tau pasti dari Naya.
Juna langsung tersenyum membaca pesan dari Naya.
{kakak cuma bisa gombal kalau sama kamu Nay}
lalu ia mengirimkannya ke Naya sambil senyum senyum.
"coba kalau dari dulu aku lebih memperjuangkan kamu Nay. mungkin sekarang kita sudah berumah tangga dan hidup bahagia. "
gumam Juna dalam hati. tersenyum kecut.
"gimana pak Juna kerja sama kita apakah bapak tertarik dengan proposal yang saya ajukan??"
tanya rekan bisnis Juna.
"apa pak. ahh iya nanti saya pertimbangkan lagi. bagai mana??"
tanya Juna balik.
"ok deh kalau begitu. tapi saya harap anda bisa mempertimbangkan kerja sama kita pak."
ucap rekan bisnis Juna dengan ramah.
"insyallah. kalau begitu saya permisi dulu masih ada janji lain. selamat siang."
pamit Juna dan Bagas. mereka pun meninggalkan resto tersebut.
Juna kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya.
**
didalam kamar Naya seperti biasa gulang guling ngalor ngidul ngetan ngulon tidak jelas tujuannya. kerjaannya hanya rebahan makan dan rebahan. karna ia dilarang ibunya mengejakan pekerjaan rumah. bahkan Naya pun dilarang keluar rumah karna takut mendengar kabar miring atas kehamilannya yang bersumber dari mertuanya.
Juna sudah mewanti wanti kepada keluarganya agar menjaga kehamilan Naya. walaupun Juna tau anak yang Naya kandung adalah anak suaminya sendiri tapi mendengar bahwa mertua Naya selalu ikut campur urusan rumah tangganya membuat Juna was was dengan keadaan kandungan Naya.
Juna sudah menceritakan semua awal pertemuan sampai bertemu kembali dengan Naya secara detail kepada keluarga Naya. bahkan ia rela menjaga jarak demi kebaikan rumah tangga Naya. tapi Juna tetap meminta untuk memantau keadaan Naya. agar ia bisa tenang walaupun jauh.
ting
menandakan pesan masuk diponsel Naya.
Naya yang menjadi tidak punya kerjaan apapun dengan gercepnya membuka ponsel untuk pelihat pesan yang masuk
__ADS_1