Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
aura pembunuh


__ADS_3

Juna terkekeh dengan kelakuan Naya yang tidak tau tempat cuaca dan situasi


"ayah kok mala senyum senyum??"


tanya Malik dengan polosnya


"gak papa sayang, kalau ada audisi dangdut kita daftarin umi ya?? siapa tau menang"


ucap Juna asal


"umi daftar audisi terus nyanyi dipanggung yang ada orang orang pada kabur denger suara umi Yah"


jawab Malik membuat Juna dan ibunya tertawa


ceklek


pintu kamar mandi pun terbuka menandakan Naya sudah selesai


"kenapa pada tertawa??"


tanya Naya penasaran


"gak papa sayang, cepat makan gih"


pinta Juna


Naya mengangguk dan ikut duduk menikmati makanan yang tadi ia dan ibunya masak


"kakak pulang ya??"


pamit Juna


"iya hati hati dijalan kak"


ucap Naya


"ayah hati hati dijalan ya"


Malik menimpali mencium punggung tangan Juna dan langsung masuk kedalam rumahnya


tinggallah Naya dan Juna


"sayang pulang ya??"


pamit Juna lagi


"iya kak hati hati untukku"


goda Naya manja


Juna tersenyum


"pinter gombal kamu ya??"


ledek Juna


"harus pintar dong kak, biar kamu tambah cinta sama aku"


Naya cengengesan


"duhh gak mau pulang, pengen disini"


guma Juna dalam hati


"penghulu mana penghulu"


lanjut Juna tersenyum cengengesan


"udah sana pulang?? katanya mau pulang?? gak rela??"


tebak Naya


Juna mengangguk cengengesan


"sabar kak, hitungan hari saja kok, aku sudah jadi milikmu"


ucap Naya malu


"tapi kakak gak ingin pulang sayang"


rengek Juna manja


"udah sana pulang"


usir Naya


"sayang"


Juna masih merengek


tidak sadar ada mata yang sedang mengawasi mereka berdua yaitu Ryan dan Agung kakaknya mereka berdua sudah merencanakan sesuatu agar Naya membatalkan pernikahannya dengan Juna


"ya sudah kalau begitu, dah sayang"


Juna pasrah sebenarnya ia sudah merasa tidak enak takut terjadi sesuatu tapi ia tepis


"mungkin hanya perasaanku saja"


gumam Juna dalam hati


ia pun melajukan mobilnya menjauh dari pekarangan rumah Naya


**


dikediaman rumah Bagas setelah mengucap ijab qobul Bagas pun sah menjadi suami Intan selama dua hari Intan sudah berada dirumah Bagas sebagai istrinya selama dua hari mereka melewati hari hari sebagai pengantin baru tanpa hambatan dan drama jebol gawang karna yang status Intan janda kembang dan tanpa gangguan dari siapapun


"mas kamu gak ngantor??"


tanya Intan menyiapkan sarapannya


"masih cuti sayang, kenapa?? capek ya??"


Bagas bertanya balik


"gak, cuma heran aja, kirain udah mulai kerja"


jawab Intan manja


"nanti habis dari pernikahan Juna dan Naya mas baru berangkat"


Bagas memberitahu


"iya ya, tinggal beberapa hari doang ya mas, ada yang perlu dibantu tidak mas??"


tanya Intan lagi


"kalau Juna semua beres sayang, gak ada yang perlu dikhawatirkan, kamu tenang aja"


jawab Bagas penuh perhatian


"mas pesta mereka di Semarang sana ya mas?? dihotel??"


tanya Intan lagi

__ADS_1


"iya sayang tapi Naya minta ijab qobulnya dimushola dekat rumahnya saja"


Bagas memberitahu yang dianggukan Intan


**


"mau sekarang bereaksi Yan?? kamu yakin?? apa sebaiknya gak usah saja Yan?? kasian Naya nya"


Agung menasehati


"aku yakin mas, apa mas gak kasian sama aku yang menderita seperti ini"


ucap Ryan


"ya sih, ini salah mas juga bantu ibu misahin kalian, padahal mas sadar betul kalian saling mencintai, tapi gimana kamu tau ibu kita kayak gimana, maaf Yan"


sesal Agung ia juga merasa bersalah dengan perpisahan adiknya tersebut


"makanya bantu aku sekarang mas, aku hanya ingin Naya bukan Yayuk atau yang lain"


jawab Ryan pasti


akhirnya mereka berdua beraksi


"Nay??"


panggil Agung


Naya yang hendak menutup pintu pun menghentikan gerakannya


"ada apa mas??"


tanya Naya datar


"ini Nay ibu sakit ingin bertemu denganmu bentar, bisa gak?? soalnya Siska juga gak mau"


ucap Agung memelas


"maaf mas gak bisa, aku sudah bukan menantu ibumu lagi, minta tolonglah sama yang lain"


tolak Naya hendak melanjutkan menutup pintunya tapi dicegah Agung


"aku mohon Nay, kamu tau ibu seperti apa kalau gak dituruti, aku takut ibu nekat lalu bikin onar dirumahmu, sebentar saja Nay??"


Agung memohon


"ya sudah bentar aku bilang Malik dulu biar gak nyariin"


kilah Naya ia ingin menghubungi Juna sebentar


"iya aku tunggu disini ya Nay??"


ucap Agung menunggu diteras rumah


Naya pun masuk mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Juna tapi tidak diangkat akhirnya ia mengirim pesan dan share lok agar Juna tau keberadaannya tidak lupa izin pada bapak ibunya


Naya tidak ingin ada kesalah pahaman menjelang pernikahan, ia tau cobaan menjelang menikah jadi ia antisipasi dengan keadaan situasi dan kondisi


Juna yang merasa ponselnya berbunyi pas lampu merah menyala pun langsung membukanya ia mendapat satu panggilan tak terjawab dari Naya dan pesan darinya beresta lokasi saat ini


{kak aku kerumah ibunya mas Ryan bentar ya?? katanya ibunya sakit, aku disuruh kesana mas Agung yang kesini memberitahu aku udah share lok agar kakak tau}


isi pesan dari Naya karna perasaan Juna semakin tidak enak Juna pun memutuskan putar balik kearah yang sudah di share oleh Naya


"ayo mas"


ucap Naya hendak menaiki motornya tidak lupa ia menggunakan jaket yang sakunya rapat dan tertutup berresleting untuk menyimpan ponselnya agar tidak jatuh


"Nay mas boncengin aja, nanti mas juga anterin kamu pulang"


"tapi mas?? aku naik sendiri aja biar mas gak repot"


kilah Naya


"mas boncengin aja, gak repot kok"


Agung tidak mau kalah


akhirnya Naya pun mengalah ia naik dibonceng Agung menuju rumah orang tuanya


"Nay kamu ngrasa gak enak gak??"


tanya Agung ditengah perjalanan


"kenapa mas??"


tanya Naya yang tidak merasa apa apa


"ban motornya, kayaknya kurang angin atau gimana ya?? bentar ya mas periksa"


ucap Agung berhenti dan Naya pun ikut turun dari motor Naya tidak menyadari bahwa mereka berhenti tepat di depan rumah lamanya


"ban nya tubles kan mas, gak mungkin kempeslah mas"


ucap Naya memberitahu karna motor yang mereka berdua pakai itu milik Naya yang dibelikan mantan suaminya


"ya mas tau, kayaknya ini kurang angin deh, udah lah biarin aja, nanti mas tambah angin dipom sana habis anterin kamu, gak papa kan Nay??"


Agung minta pendapat sedangkan Ryan mengendap endap dibelakang Naya untuk membiusnya agar Naya tidak sadar diri dan membawanya kerumah untuk melancarkan aksinya


"iya mas gak papa"


jawab Naya tanpa curiga


tiba tiba dari belakang Naya dibekap mulutnya hingga Naya pingsan


Juna semakin tidak enak perasaannya ia melajukan mobilnya lebih cepat dan matanya fokus dilayar ponselnya untuk melihat lokasi Naya saat ini


"sudah sana mas pergi, sekarang ini urusan aku"


perintah Ryan


"tapi Yan apa gak papa Yan?? kamu yakin dengan begini kamu dapat rujuk kembali dengannya??"


Agung memastikan


"yakin mas, mas tenang aja"


ucap Ryan yakin lalu menggendong Naya masuk kedalam rumahnya


Agung hanya menghela nafas pasrah dengan aksi adiknya ingin kembali dengan mantan istrinya


sampai dirumah Ryan mengunci pintunya dan membawanya dikamar tidur yang dulu ia tempati bersamanya ia meletakkan Naya yang sudah tidak sadarkan diri dikasur empuknya dengan hati hati dan kasih sayang


"Nay kamu masih ingat tidak dengan kamar ini dulu kita sering bercanda bersama dikamar ini, melakukan kegiatan panas dikamar ini, kamu ingat kan sayang??"


Ryan membelai lembut wajah cantik Naya yang belum sadar dari bius Ryan, ia membuka hijab Naya dan memainkan rambut panjangnya


"kamu habis keramas ya sayang?? bikin aku tambah gemes aja sih?? kamu sengaja menggoda mas?? hmm?? aku ingin melakukan ibadah kita yang tertunda sayang, boleh kan?? mas akan kasih adek buat Malik agar kamu tidak meninggalkanku sayang"


Ryan berbicara sendiri meracau tidak jelas


perlahan ia membuka jaket Naya yang menutupi daster panjangnya

__ADS_1


disisi lain Juna semakin gelisah dan takut terjadi apa apa dengan Naya mengetahui lokasi saat ini yang berasa dirumah Ryan yang tadi ia kunjungi


"semoga kamu tidak kenapa napa sayang??"


gumam Juna semakin cepat melajukan mobilnya ia ingin cepat cepat sampai dan melihat apa yang terjadi


"ayo Jun lebih ngebut lagi"


gumam Juna lagi yang semakin gelisah padahal jarak yang ditempuh hanya beberapa menit untuk sampai dirumah lama Naya tapi karna kegelisahannya seperti berhari hari perjalanannya


Setalah melucuti semua pakaian Naya Ryan menciumi semua bagian tubuh Naya dengan beringat seperti singa kelaparan banyak tanda lukisan ditubuhnya Ryan semakin leluasa karna Naya belum sadarkan diri dan tidak bisa memberontak walaupun memberontak Ryan akan tetap melakukannya tanpa mengetahui efek trauma yang akan diderita Naya nantinya


sampai didepan rumah Ryan Juna langsung turun dan mendobrak pintu rumahnya karna terkunci dari dalam Juna berusaha mendobrak sampai pintu terbuka ia tidak menghiraukan tetangga yang melihat aksinya


brak brak


Ryan yang mendengar pintu rumahnya didobrak tidak mengiraukan ia sibuk menikmati tubuh mantan istrinya yang mulus bahkan lebih mulus daripada saat mereka masih mengarungi bahterai rumah tangga


Juna membuka pintu satu persatu setelah berhasil membuka pintu depan rumah Ryan saat satu pintu tidak bisa dibuka karna terkunci Juna kembali mendobrak pintunya berkali kali


"mas apa tidak bisa ketok saja??"


protes salah satu tetangga yang ikut masuk kedalam bersama Juna


"tidak saya harus mendobraknya, calon istri saja ada didalam, dia tidak mengangkat telpon dari saya, saya takut kenapa napa"


ucap Juna sambil mendobrak pintunya


ya Juna masih sempat menghubungi Naya beberapa kali tapi tidak diangkatnya itu yang membuat ia bertambah gelisah


brakk brakk


akhirnya Juna berhasil mendobrak pintu kamar yang tadi ia lihat Malik keluar dari kamar tersebut dan melihat pemandangan dimana Naya tidak sadarkan diri dalam keadaan telanjang dan Ryan yang sedang menikmatinya


Juna murka dengan apa yang ia lihat


ia langsung menyeret Ryan keluar dan menutupi tubuh Naya yang tanpa sehelai pakaian dengan selimut


bukk bukk


"brengsek kamu mas"


Juna menyeret keluar kamar dan memukulnya tanpa ampun


sedangkan tetangga wanita masuk kedalam kamarnya dan menutupi Naya dengan benar salah satunya mengambil baju Naya yang tergeletak dilantai


"aku sudah peringatkan kamu, tapi kamu masih saja tidak menghiraukannya, jangan salahkan aku kalau kamu mati ditanganku"


ucap Juna beringas matanya tajam seperti pembunuh menatap Ryan yang tersungkur dilantai yang penuh luka karna pulukan u


yang bertubi tubi dari Juna


"aku sudah peringatkan sama kamu, jangan pernah sentuh Naya lagi"


geram Juna kembali melayangkan tinjunya


Naya yang mulai sadar dan mendengar ada keributan tersebut pun bangun dan mendapati ia tidak memakai apapun dan ada banyak tanda merah disetiap bagian tubunya hanya selimut yang menutupinya ia syok dengan apa yang ia lihat


"Nay pakai bajumu cepat"


perintah tetangga Naya menyerahkan pakaian yang tadi ia ambil


Naya hanya terdiam memandang pakaiannya yang sedang berada ditangan tetangganya dan mencerna apa yang terjadi


"kenapa pakaianku dilantai?? kenapa ada banyak tanda itu kenapa aku ada dirumah ini, kenapa??"


gumam Naya dalam hati ia masih terdiam membisu dengan pikirannya hanya air matanya yang menetes yang berbicara


"bu pakein ajalah"


perinta salah satu tetangganya yang menutupi tubuh Naya dengan selimut karna tidak mendapatkan respon dari Naya


tetangga satunya pun menurut dan memakaikan pakaian Naya


Naya hanya menangis dengan apa yang terjadi


"sabar Nay, sabar, Ryan memang keterlaluan, yang sabar ya nak"


tetangga Naya menenangkan karna melihat Naya terdiam hanya ada isak tangisan yang terdengar


Naya semakin terisak tak terkendali


Juna yang mendengar isakan Naya pun menghentikan aksinya menghajar Ryan ia langsung menghampiri Naya kedalam tidak menghiraukan Ryan yang sudah babak belur tidak berdaya


"sayang jangan nangis, udah cup cup cup"


ucap Juna mendekati Naya ingin menenangkan


Juna langsung memeluk Naya yang terisak dipelukannya walau Naya berontak ingin melepaskan tapi pelukan Juna semakin erat memeluk


Naya yang memukuli dada Juna yang tidak mau melepaskannya pun akhirnya pasrah menangis dipelukan sang calon suaminya tersebut hanya isakan tangis yang terdengar dikamar yang dulu pernah Naya tempati


tetangga Naya memutuskan untuk keluar kamar memberi ruang untuk mereka berdua tapi tetap mengawasi


"lah pak gimana ini, Ryan begini, mati tidak pak??"


tanya ibu ibu yang tadi menemani Naya didalam


"gak tau bu, kayaknya masih hidup sih, bapak juga takut tidak berani misahin tadi si sholeh mencoba melerai mala terpental karna laki laki tadi yang seperti setan menghajar Ryan"


suami ibu tersebut memberitahu


"dia calon suaminya Naya pak, ibu pernah tanya ibunya saat bertemu soalnya ibu pernah lihat mereka pulang bersama"


si istri menjelaskan


"oala pantes kayak orang mau bunuh Ryan bu, auranya masyallah bapak takut bu"


ucap sibapak


"auranya kenapa emang pak??"


tanya ibu yang tidak paham


"aura pembunuh"


jawab bapak berbisik membuat istrinya merinding


"pak terus gimana ini pak si Ryan kalau dibiarkan bisa mati dia"


ucap salah satu tetangga yang tadi ikut mendobrak pintu bersama Juna


"sudah kasih tau keluarga belum pak, biar keluarganya saja yang mengurus aku takut"


ucap bapak yang satu


"sudah pak tadi mbak Aton dibonceng suaminya kerumah keluarga Ryan untuk memberitahukannya"


jawab yang satunya lagi


"ya sudah kita tunggu saja kelurganya datang"


jawab ibu yang menemani Naya

__ADS_1


didalam kamar Naya masih terisak dipelukan Juna


__ADS_2