Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
aku gak peduli


__ADS_3

tidak lama Ridwan dan bapaknya pun tiba setelah diberitahu salah satu warga yang lain


mereka langsung masuk kedalam karna keadaan pintu terbuka lebar


ia melihat Ryan yang tergeletak babar belur dan tidak sadarkan diri dan Naya yang terisak menangis dipelukan Juna didalam kamar


"apa yang terjadi sebenarnya bu??"


tanya Ridwan penasaran


"gini mas tadi mas Ryan memperkosa Naya yang pingsan dan mas yang didalam itu menolongnya mendobrak pintu dan menghajarnya sampai begini"


ibu tetangga menjelaskan sambil tangannya menunjuk Ryan yang bergeletak dilantai


"apa sudah bu??"


tanya Ridwan menggantung perkataannya karna ia masih mendapati Ryan masih memakai celana walaupun tidak memakai atasannya


"gak tau mas, ibu cuma lihatnya Naya sudah tidak pakai apa apa dan tidak sadarkan diri mas dan badannya penuh ******"


ibu tetangga memberitahu


"sialan brengsek kurang ajar kamu"


jebret jebret


ucap Ridwan geram ia menendang Ryan berkali kali yang sudah terkapar di lantai


"sudah Wan sudah biarkan saja dia nanti bisa mati kalau kamu hajar lagi, yang penting sekarang mbakmu, dia butuh kita"


bapak Naya menasehati


Ridwan dan bapaknya pun masuk menghampiri Naya yang masih dipelukan Juna


"Naya"


panggil bapak Naya iba melihat anak perempuannya


"bapak"


jawab Naya memeluk sang bapak ia menangis mengaduh dengan apa yang telah terjadi hingga akhirnya Naya pingsan dipelukan bapaknya Juna dengan sigap menangkapnya menggendong Naya masuk kedalam mobilnya membawa kerumah sakit tiba tiba Agung dan ibunya datang berteriak sambil terisak


"apa yang terjadi ini kenapa anakku seperti ini,


siapa yang berani melakukan ini sama anakku"


ucap ibu Ryan memeluk anak laki lakinya yang terkapar tidak berdaya


"kamu apakan dia ??"


tanya Agung kesal dan panik menghalangi Juna diambang pintu kamar


"minggir "


ucap Juna dingin seketika nyali Agung menciut ia langsung menyingkir tidak berani menghalangi


"kalau sampai terjadi apa apa sama mbak Naya aku tidak akan tinggal diam, kamu dan adikmu harus menerima konsekuensinya"


ancam Ridwan mendorong tubuh Agung hingga mundur beberapa langkah


"hey perempuan gatel kenapa kamu?? apa yang kamu lakukan sama anakku hahh??"


maki ibu Ryan


"minggir"


ucap Juna dingin tapi tidak dihiraukan ibunya Ryan ia masih memaki dengan ucapan kotornya


"aku bilang minggir "


teriak Juna yang langsung menciutkan nyali ibunya Ryan yang melihat tatapan tajam mata Juna


Juna dengan cepat membawanya kerumah sakit diikuti Ridwan dan ayahnya


**


"mas Juna kalau udah sama mbak Naya betah amat heran aku, padahal juga bentar lagi sah juga, emang gak ada pingit pingitan apa"


Sukma menggerutu


"sudahlah yang penting gak kelewat batas biarkan saja mereka toh mereka sudah dewasa jaman sekarang udah jarang pakai pingit pingitan segala apa lagi model kaya masmu itu maunya nemplok aja terus kayak cicak"


ucap ibu Juna malu dengan kelakuan anaknya yang susah dikasih tau


"iya heran aku sama dia bu padahal mbak Naya sering ngusir dia udah dikasih tau juga tapi kenapa masih aja gak tau malu gitu kelihatan banget dia yang tergila gila bukan mbak Naya"


Stela ikut menimpali


"sudahlah pusing ibu"


jawab ibu Juna pasrah


**


saat tiba dirumah sakit Juna dengan cepat membawanya keruang IGD agar cepat ditangani


Ridwan langsung berlari bagian pendaftaran untuk mengurus semuanya untuk kakaknya sedangkan bapaknya menemani Juna


Juna hanya terdiam tidak berkata apapun ia hanya menatap lurus pintu IGD yang sedang menangani Naya


"Jun maafkan bapak tidak menjaganya dengan benar bapak gagal nak"


sesal bapak Naya


"Juna yang minta maaf pak yang datang terlambat seandainya Juna lebih cepat tidak akan terjadi seperti ini maafkan Juna pak"


jawab Juna yang juga menyesal


"selanjutnya bagaimana Jun?? bapak bisa mengerti kalau kamu kecewa dan ingin melepaskan Naya nak Naya sudah"


ucap bapak Naya yang dipotong Juna


"Naya belum diapa apain pak Ryan belum melancarkan aksinya Juna yakin karna Juna melihat Ryan masih mengenakan cenalanya rapi hanya Naya yang sudah tidak memakai apapun dan tidak sadarkan diri sepertinya Naya dibius atau mungkin Ryan menekan pergelengan tangan Naya hingga pingsan"


Juna menduga duga


"mungkin Nak tapi kamu masih bisa menerima Naya yang keadaanya sudah seperti ini??"


tanya bapak Naya penasaran


"aku akan selalu menerimanya dalam keadaan apapun pak, aku mencintainya aku menyayanginya aku tidak akan melepaskannya lagi seperti dulu pak"

__ADS_1


jawab Juna pasti bapak Naya menghela nafas lega anaknya dicintai sama orang yang benar benar tulus menyayanginya


Ridwan masuk keruang IGD tanpa sepengetahuan Juna dan bapaknya lewat jalur pintu rawat inap yang sejalur keruang IGD


ia meminta dokter untuk mengecek keseluruhan tubuh Naya memastikan bahwa kakaknya belum dilecehkan


"baik pak"


jawab dokter jaga IGD setelah Ridwan memberitahu kronologinya


Ridwan kembali keluar dari jalur yang tadi ia lewati


**


"perasaanku kok gak enaknya mas??"


tanya Tata pada suaminya ia gelisah kepikiran Naya yang entah ia sendiri tidak tau


"gak enak kenapa sayang' mungkin perasaanmu saja kali jangan dipikirin mas gak mau pikiramu bercabang dan jadi pusing dan stres, kamu masih banyak kerjaan yang belum selesai Ta, mas gak mau kamu sakit"


Rofik mengingatkan


"ya aku tau mas tapi aku keingat kak Naya terus apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?? tapi rasanya gak mungkin mas Juna selalu siap siaga menjaganya"


pemikiran Tata


"nah itu kamu tau kalau mas Juna selalu melindunginya, jadi kamu gak usah terlalu khawatir sudah ayo tidur"


ajak Rofik Tata menurut dan ikut memejamkan matanya


tapi Tata tetap tidak bisa terlelap hanya matanya yang ia tutup tidak dengan pikirannya berkelana ke Naya ia belum tau apa yang terjadi dengan sahabatnya tersebut


**


"Jun kamu pulang gih biar bapak dan Ridwan yang mejaga Naya"


ucap bapak Naya


kini Naya sudah dipindahkan diruang rawat inap untuk memantu kondisi selanjutnya


"tidak pak Juna disini saja menemani Naya, kalau bapak mau pulang gak papa biarkan saya yang menjaganya, bapak harus istirahat"


jawab Juna sopan


"bapak disini saja Jun Naya pasti butuh bapak"


ucap bapak Naya Juna mengehela nafas baru sadar kalau Naya membutuhkan keluarganya


"izinkan Juna juga disini ya pak"


ucap Juna penuh permohonan


"ya nak gak papa, tapi kamu hubungi keluargamu dulu gih biar gak khawatir"


bapak Naya mengingatkan


Juna baru sadar kalau keluarganya belum mengetahui keberadaan dia dan Naya


akhirnya Juna pun menghubungi keluarganya


panggilan terhubung


ibu Juna mengomeli anaknya


"waalaikum salam bu, dengarkan Juna dulu Juna mau biacara"


ucap Juna lemas


"kamu kenapa?? kenapa suaramu begitu?? apa yang terjadi nak??"


tanya ibu Juna khawatir


"Naya dirumah sakit bu, Juna mau izin untuk menemani Naya"


jawab Juna sedih


"rumah sakit mana?? ibu akan kesana sekarang"


tanya ibu Juna khawatir


"sudah malam bu besok saja"


jawab Juna


"gak ibu mau kesana sekarang juga kamu kirim alamat sekarang"


perintah ibu Juna tak terbantahkan


akhirnya Juna pun mengakhiri panggilannya dan mengirim alamat rumah sakit tempat Naya dirawat


setelah ibu Juna mendapat alamatnya mereka sekeluarga pun langsung menuju rumah sakit


"pantas saja mbak Juna gak pulang pulang ternyata terjadi sesuatu dengan Naya"


ucap Risma mama sambung Juna ditengah perjalanan


"iya agak nyesel aku ngomel ngomel ke Juna Ris"


sesal Sari ibu Juna


"iya udah tadi kita ghibahin lagi ya allah apa yang terjadi sama Naya mbak kenapa bisa sampai masuk rumah sakit??"


tanya Risma penasaran


"gak tau Ris Juna gak cerita nanti saja tanya pas sampai disana, mas Herman sama mas Jaya udah dikasih tau belum Ris?? kasih tau gih suruh nyusul aja kalau mau"


perintah Sari dan Risma pun langsung menghubungi suaminya memberitahukannya


**


dirumah sakit Naya sudah sadar ia kembali menangis dipelukan sang ayah dengan apa yang sedang menimpanya


bapak Naya memeluk dan membelainya dengan penuh kasih sayang


"sudah nak jangan nangis lagi ada bapak dan keluarga yang selalu mendampingimu Malik membutuhkanmu Nay yang terpenting Juna selalu ada untukmu sudah ya"


bapak Naya menenangkan


Naya baru ingat dengan Juna yang tadi telah menolongnya ia pun melepaskan pelukannya dan menatap Juna penuh sendu


"maafkan aku kak maaf??"

__ADS_1


ucap Naya masih terisak


"jangan bilang begitu sayang kamu gak salah maafkan kakak tidak datang tepat waktu maaf ya Nay"


sesal Juna menggenggam tangan Naya


"kak apa kita bisa bicara sebentar?? hanya kita berdua?? ada yang ingin aku sampaikan"


ucap Naya kemudian


"baiklah"


jawab Juna lembut


"kalau begitu bapak dan Ridwan keluar dulu kalau sudah selesai panggil kami lagi"


pinta bapak Naya yang dianggukan kepala oleh Naya dan Juna


"kamu mau bicara apa sayang??"


tanya Juna lembut setelah Ridwan dan bapaknya sedah keluar ruangan


"kak sebaiknya lepaskan aku saja aku gak pantas untukmu aku kotor kakak berhak mendapatkan yang terbaik"


ucap Naya menahan air matanya


"maksud kamu?? jangan ngomong gitu Nay kakak sayang sama kamu tolong jangan tinggalkan kakak sayang kakak mohon"


Juna memohon


"tapi aku kotor kak mas Ryan sudah melecehkanku aku gak mau kakak harus menanggung malu karna aku"


ucap Naya lagi


"kakak gak peduli Nay dan kakak gak mau peduli kakak hanya mau kamu pernikahan kita tinggal menghitung hari sayang pernikahan yang selama ini kakak impikan, tolong jangan bicara seperti ini Nay"


Juna menangis dipangkuan Naya yang duduk diranjangnya


"kak nanti kakak dan keluarga akan malu kalau menampung aku yang kotor ini kak aku gak mau"


Naya masih membujuk


"apa kamu akan kembali rujuk sama Ryan?? hmm??"


tanya Juna menatap lekat wajah calon istrinya Naya menggeleng


"aku tidak akan kembali dengannya kak tapi aku juga tidak mau sama kamu aku gak mau reputasimu hancur karna aku tolong pikirkan kak"


Naya memohon


"apapun alasan kamu kakak tidak peduli, kakak hanya mau kamu yang kakak inginkan hanya kamu Nay bila perlu kakak juga mau melakukan hal serupa agar kamu tidak meninggalkan kakak"


Juna menekan perkataannya Naya menoleh dan menatap Juna


"kakak gak peduli reputasi atau nama baik, kakak tidak pedulikan semua itu kakak tidak akan pernah merasa malu bersanding denganmu Nay"


Juna meyakinkan


tiba tiba pintu terbuka karna keluarga Juna yang khawatir dengan Naya


"kamu gak papa kan sayang?? hmm"


ucap ibu Juna memegang pipi Naya lalu memeluknya penuh kasih sayang


"apa aku boleh merasakan kasih sayang ini tapi aku sudah seperti ini aku merasa gak pantas berada ditengah tengah orang baik ini"


batin Naya dalam hati dipelukan calon mertuanya


"kamu jangan pikirkan apapun lagi Nay sekarang kamu istirahat ya?? sudah malam"


ucap ibu Juna melepas pelukannya yang sebelumnya mengusap air matanya yang keluar


Naya pun menurut dan membaringkan tubuhnya karna memang ia merasa lelah menangis terus tidak butuh waktu lama Naya pun terlelap


" mama mau bicara sama kamu Jun"


ucap mama Juna setelah memastikan Naya benar benar tertidur


Juna mengangguk dan keluar ruangan yang diikuti ibu dan mamanya


sebelumnya ibu Juna menitipkan Naya dan kedua anak perempuannya pada Ridwan dan ayahnya


mereka duduk dikursi ruang tunggu luar ruangan


"mama sudah tau apa yang terjadi dengannya tadi Ridwan dan bapaknya sudah cerita dan memberikan surat keterangan ini"


ucap mama Juna menyerahkan surat pemeriksaan Naya yang tadi Ridwan minta ke dokter IGD


Juna pun membuka dan membacanya


"alhamdulillah Ryan belum sampai ke tahap itu"


Juna lega membaca laporannya


"terus apa yang akan kamu lakukan selanjutnya nak??"


tanya mama Juna


"ma aku gak peduli dengan apa yang terjadi pada Naya walaupun Naya dilecehkan sekali pun aku tidak peduli aku akan tetap menerimanya dia cintaku ma, maafkan Juna yang belum bisa membahagiakan kalian Juna benar benar minta maaf ma bu"


ucap Juna menggenggam tangan kedua orang tuanya


mama dan ibu Juna hanya menghela nafas pasrah dengan apa keputusan anak laki lakinya


dan mereka juga sudah tau perihal permasalahannya bahwa Naya hampir diperkosa


"ya sudah kalau memang itu keputusanmu yang penting kamu bahagia nak"


ibu Juna kemudian ia pun menggandeng tangan anaknya untuk masuk kembali kedalam ruangan


tidak lama mereka pun pamit karna hari sudah semakin malam


Juna Ridwan dan bapaknya memutuskan untuk berisitirahat menemani Naya tapi sayang Naya ditengah malam terbangun dan merencanakan sesuatu untuk menghilang dari kehidupan Juna agar tidak menanggung malu tapi sebenarnya Naya salah dengan mengambil keputusan tersebut karna pernikahannya dengan Juna tinggal menghitung hari mala akan membuat Juna semakin malu


setelah ia berpikir cukup matang Naya pun memutuskan untuk cepat bertidak sebelum semuanya tahu


Naya diam diam keluar dari ruangan menyelinap menggunakan topi masker dan kacamata agar tidak ada yang mengenalinya


ia langsung pergi menggunakan ojek online menuju pelabuhan ia berniat berangkat ke batam dan melupakan semuanya ia berharap Juna dan keluarganya akan baik baik saja


ia tidak tau bahwa kepergiannya akam membuat Juna semakin menggila mencarinya

__ADS_1


__ADS_2