
setelah Naya mengambil barangnya dikamar hotel ia langsung berlari menghampiri Juna yang sedang menunggunya dengan lari Naya agar cepat sampai kana tidak enak Juna menunggu terlalu lama
Juna yang melihatnya daro jauh pun langsung berdiri dan menghampiri Naya
"Nay jangan lari nanti jatuh"
teriak Juna menghampiri Naya
brukkkkk
yang benar saja perkataan Juna menjadi kenyataan untung Juna dengan sigap menangkapnya jadi Naya jatuh diatas Juna
mereka saling menatap satu sama lain sehingga membuat jantung mereka berirama ria
"ma ma maaf kak aku gak sengaja"
ucap Naya gugup saat Naya sudah berdiri lagi dan membangunkan Juna.
"iya gak papa, kakak kan sudah bilang jangan lari masih aja lari untung kakak yang dibawah kalau kamu sudah penyok wajah cantikmu"
jawab Juna memberitahu
"maaf soalnya buru buru takut kakak kelamaan nunggu kak"
protes Naya
Juna tersenyum
"ada yang sakit?? ayo duduk dulu coba kakak periksa dulu"
ucap Juna menuntun Naya duduk dikursi depan serepsionis
"tapi aku gak papa kak"
jawab Naya gak enak karna menurut Naya Juna terlalu berlebihan
"periksa dulu ya"
ucap Juna lagi
setelah duduk Juna memeriksa tangan dan kaki Naya
"Nay maaf bisa buka gamismu sampai lutut?? kakak mau periksa dilutut"
pinta Juna agak canggung
Naya pun menurutinya karna setelah duduk terasa ada yang perih di lutut.
"lecet Nay bentar ya kakak obati kamu duduk aja"
pinta Juna lalu bergegas meminta obat P3K ke tempat serepsionis telah dapat Juna dengan cepat ngobati luka lecet dilutut Naya dengan telaten.
"sakit gak??"
tanya Juna sambil meniup niup luka Naya.
"agak peri kak tapi gak papa kok"
jawab Naya
"tahan bentar ya mau dikasih obat"
ucap Juna pelan pelan menempelkan obatnya ke lutut Naya yang terluka.
"aoww kok perih ya kak??"
tanya Naya.
"kan ada luka pasti perih, tahan ya kakak tiup biar gak terlalu perih"
jawab Juna lembut sambil meniup niup lukanya.
"seandainya kita sepasang suami istri pasti aku orang yang sangat bahagia dan sangat beruntung kak diperhatikan sampai seperti ini tapi sayang status kita hanya teman dan aku tidak berniat membuka pintu hatiku untuk saat ini"
gumam Naya dalam hati sambil memerhatikan Juna yang sedang sibuk mengobati lukanya.
"membuka hati"
gumam Naya lagi dalam hati ia teringat kata kata terakhirnya sampai melamun.
"Nay mikirin apa sampai seperti itu"
ucap Juna membuyarkan lamunannya.
"gak kak, gak papa udah selesa??"
tanya Naya mengalihkan pembicaraan.
"sudah,coba kamu berdiri dan berjalan apakah bisa??"
tanya Juna lalu membantu Naya berdiri.
"kak aku gak papa cuma lecet dikit doang kok gak akan bikin aku lumpuh"
protes Naya sambil berdiri
"kan kakak khawatir Nay kakak gak mau kamu kenapa napa"
jawab Juna cengengesan memperhatikan wajah Naya yang sedang kesal
"ayo pulang kak"
rengek Naya
"ayo"
jawab Juna tersenyum lalu mereka berjalan keluar menuju parkiran mobil dan berlalu pulang mengantarkan Naya ke rumah orang tuanya.
"kak apakah kalau aku mencoba membuka hatiku untukmu terus kalau gak berhasil apakah kakak tidak akan kecewa??"
tanya Naya memecah keheningan disaat sampai ditengah jalan
Juna tersenyum senang mendengar perkataan Naya
"kan kakak sudah bilang urusan hati biarkan allah yang menentukannya dan kamu jangan pernah memaksakannya, biarkan mengalir seiring berjalannya waktu Nay cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, jadi jangan kamu paksakan membuka hatimu untukku ya"
Juna menjelaskan.
"tapi kak aku akan.."
belum selesai Naya berkata Juna sudah menutup mulut Naya dengan jarinya
sssstttttt
"sudah jangan bahas itu, biarkan saja, yaaa kalau kamu sudah jatuh cinta dengan kakak bilang ya??"
Juna mengedipkan satu matanya lalu fokus mengemudi lagi.
Naya hanya terdiam tidak menanggapinya sampai ia tertidur
"Nay kakak yakin suatu saat nanti kamu bisa jatuh cinta padaku aku yakin kamu bisa membuka pintu hatimu untukku dan bisa menerima ku apad adanya, aku yakin itu"
gumam Juna membelai pipi Naya yang sedang terlelap saat lampu dijalan berwarna merah mobilnya berhenti.
saat lampunya berwana hijau Juna pun kembali melanjutkan perjalanannya
Juna berhenti dua kali untuk istirahat sebentar dires area jalan tol hingga sampai dirumah orang tua Naya.
"assalamualaikum bu lagi apa??"
Naya mengucap salam bersama Juna yang mengekor dibelakang Naya sambil masuk kerumah yang dimana pintunya terbuka lebar
"waalaikum salam kamu sudah pulang nak?? wahh ada nak Juna juga tow??"
jawab ibu Naya senang melihat kedatangan Juna
lalu Naya salim mencium punggung tangan ibunya yang diikuti oleh Juna
"Jun sudah makan belum?? ibu sudah masak sayur bening ikan asin dan sambel lalapan ada ayam goreng dan juga bakwan nak ayo makan"
ibu Naya mengajak Juna dengan semangat.
"bu anak ibu Naya apa kak Juna kok yang diajak makan cuma kak Juna doang aku gak diajak mentang mentang ganteng"
protes Naya manyun
Juna dan ibu Naya terkekeh melihat wajah Manyun Naya
"iya iya anak ibu yang cantik jelita ayo makan ibu sudah masak makanan lezat"
rayu ibu Naya sambil berjalan menuju meja makan.
"telat bu"
keluh Naya
__ADS_1
"hihihi udah deh gak usah ngambek gitu gak cantik tau"
goda Juna cekikikan mencubit hidung Naya yang tidak terlalu mancung.
"apaan sih"
Naya masih ngambek.
"sudah ayo makan"
lerai ibu Naya mengambilkan nasi dan lauk untuk Juna dan dirinya Naya mengambil nasi beserta lauknya sendiri kemudian mereka makan bersama
selesai makan Juna pun pamit untuk pulang ke rumah ibunya
setelah Juna berlalu Naya pun memutuskan untuk istirahat dikamarnya
"bu aku istirahat dulu ya bu capek"
pamit Naya
"iya ibu juga mau berangkat pengajian, ibu kunci pintunya ya biar gak ada yang ganggu kamu"
ucap ibu Naya memberitahu.
"iya bu"
jawab Naya berlalu kekamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang lelah
**
tok tok tok
"bu assalamualaikum"
Juna mengucap salam kala pintu rumah orang tuanya tetutup rapat
ceklek ceklek
pintu dibuka dari dalam
"ehh mas Juna silahkan masuk mas"
bu lastri mempersilahkan masuk anak majikannya "iya bu, ibu kemana bu kok gak kelihatan??"
tanya Juna dengan wajah dinginnya masuk kedalam rumah
"lagi arisan mas mau ibu siapkan kamarnya mas??"
tanya bu kastri pada Juna
"iya bu aku nginep sini"
Juna memberitahu lalu duduk disofa panjang ruang keluarga
"iya mas sebentar ya"
pamit bu Lastri berlalu meninggalkan Juna seorang diri diruang keluarga.
tak terasa Juna merebahkan tubuhnya diatas sofa dan tertidur sangat lelap hingga ia tidak menyadari ibunda tercintanya sudah pulang
"Juna Juna kenapa tidur disini"
ucap ibu Juna melihat anaknya terlelap disofa.
"tapi kok tumben dia gak bereaksi aku datang"
ucap ibu Juna duduk disamping anaknya dan menempelkan tangannya dikening anak laki lakinya.
"ya allah ternyata demam pantes aku datang gak bangun kirain lagi ngebo"
gumam ibu Juna
"bu Lastri tolong ambilin baskom dan air dingin ya bu buat ngomores"
perintah ibu Juna pada bu Lastri.
"iya bu"
jawab bu Lastri langsung menyiapkan apa yang diperintahkan majikannya.
ibu Juna mengambil waslap dilemari miliknya untuk mengompres anak laki lakinya.
"kok tumben kamu sampai demam Jun?? tidak biasanya kamu seperti ini"
"apa yang terjadi denganmu nak??"
ibu Juna masih berbicara sendiri
tidak lama Juna pun terbangun
"bu dari mana?? kok lama sekali"
protes Juna dengan suara lemas.
"ibu habis dari arisan Jun kamu pulang jam berapa nak?? kenapa kamu sampai demam gini?? kamu habis dari mana??"
tanya ibu Juna khawatir sampai memboros semua pertanyaan untuk anaknya.
"bu satu satu tanyanya aku kan lemas bu"
keluh Juna.
"kamu sudah makan belum??"
tanya ibu Juna.
"sudah bu tadi dirumah Naya"
"mau makan lagi??"
tanya ibu Juna lagi
Juna menggeleng tanda tidak mau.
"ya sudah, tadi kamu pulang jam berapa Jun??"
tanya ibu Juna lagi
"sekitar satu jam yang lalu bu terus Juna tiduran disini sambil menunggu kamar Juna dibersihkan eh mala kebablasan"
Juna cengengesan lemas.
"kamu itu ya"
ibu Juna mencubit lengan anaknya
"ayo pindah kekamar Juna istirahat dikamar saja biar enak"
pinta ibu Juna
Juna pun mengangguk mengiyakan ibunya membantu dan memapahnya kekamar anaknya.
"kamu habis dari mana Jun kok sampai kerumah Naya segala"
tanya ibu saat Juna sudah berbaring ditempat tidurnya.
"aku ketemu Naya di Jogja bu terus aku anterin dia pulang kerumah. aku gak rela Naya pulang sendiri naik kereta diganggu sama masinis tengil itu"
Juna menjelaskan
"Naya diganggu??"
tanya ibu Juna memastikan
Juna mengangguk lemas
"kok bisa??"
tanya ibu Juna penasaran
akhirnya Juna menceritakan pertemuan Naya dengan masinis itu sampai bertemu kembali
"gitu bu"
ucap Juna dengan lemas ditempat tidur ibunya mendengarkan cerita anak laki lakinya sambil mengompres kening anaknya.
"ada ada saja kelakuannya, terus gimana reaksi Naya saat bertemu dengan masinis itu??"
tanya ibu Juna penasaran
"ibu gak ngertiin aku banget sih aku sampai demam loh bu mikirin Naya, mala minta ceritain lagi Naya sama masinis itu"
protes Juna
"hahahha kan ibu kepo Jun"
__ADS_1
ledek ibu Juna
"malas aku cerita bu panasa tau gak bu ceritain itu membuat hatiku benar benar terbakar"
keluh Juna lagi
"iya terbakar api cemburu"
ledek ibu Juna lagi.
"udah ah bu kompresnya aku mau istirahat besok kerja soalnya"
ucap Juna mengusir ibunya.
"demam gini masih mikirin kerja kamu Jun bener bener ya kamu sudah dibutakan oleh pekerjaan kamu mau mati kecapekan hahh"
ibu Juna mengomel
"bu kepala ku pusing bu ingin istirahat"
keluh Juna lagi dengan wajah melas plus lemasnya membuat ibunya menetujui anaknya dan akhirnya keluar dari kamar anak laki lakinya.
Juna pun melanjutkan istirahatnya karna pekerjaan besok menumpuk dan harus diselesaikan secepatnya.
Juna memilih istirahat cukup memulihkan tenaganya agar lebih fit.
**
sore hari ibu Juna sengaja memberitahu Naya bahwa Juna sakit dan ibunya juga tidak lupa memintanya untuk mrnjenguk Juna sehabis magrib nanti, ia juga memberitahu bahwa Juna dilarang keras bekerja saat keadaan tidak memungkinkan Naya pun mengangguk mengerti maksud ibu Juna
"pak habis magrib aku izin keluar ya pak jenguk kak Juna, dia lagi demam tinggi tapi masih maksa kerja mulu Nay diminta kesana sama ibunya pak"
izin Naya pada bapaknya.
"terus kamu kesana sendiri??"
tanya bapak Naya
"gak pak nanti katanya aku dijemput supir ibunya"
Naya memberitahu.
"ya sudah tapi harus hati hati Nay, walau bagaimanapun juga kamu masih masa iddah dan belum selesai"
bapak Naya memperingati anak perempuannya.
"iya pak Nay ngerti"
"ya sudah siap siap gih bentar lagi magrib"
perintah bapak Naya
"ya pak"
jawab Naya patuh dan mulai bersiap siap untuk nenunaikan sholat magrib dan pergi mengunjungi Juna.
**
"Gas kapan kamu mau nikah??"
tanya ibu Bagas saat Bagas berkunjung kerumsh orang tuanya.
",sabar bu kalau sudah ketemu jodohnya pasti Bagas nikah."
Bagas menenangkan sang ibu.
"tapi ibu pengen punya mantu dan cucu Gas"
rengek ibunya.
"ya bu sabar ya Bagas juga lagi usaha bu, doakan ya bu secepatnya Bagas bertemu jodohnya "
Bagas menyemangati ibunya.
"tapi kapan Gas??"
tanya ibunya.
"mungkin jodohnya sudah meninggal atau belum lahir kali bu"
ledek Tata cengengesan ikut duduk disebelah ibunya.
"husss ngawur kamu Ta"
ucap ibu Bagas.
"ya kali bu"
jawab Tata santai.
"awas aja kamu ya Ta"
ancam Bagas
"idihhhh ngancemmmmm"
jawab Tata cekikikan.
"sudah sudah berantem terus"
lerai ibunya.
"iya bu"
jawab Tata dan Bagas bersamaan.
**
sehabis magrib supir yang disuruh jemput Naya pun datang dan Naya pun langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"bu pak Nay pergi dulu ya assalamualaikum"
pamit Naya
"ya nak hati hati dijalan"
nasehat ibu Naya.
"iya bu"
jawab Naya tersenyum lalu menyalimi kedua orang tuanya dan melangkah keluar.
"pak tolong hati hati ya, jaga anak saya??"
nasehat bapak Naya pada sang supir.
"baik pak, monggo saya permisi dulu assalamualaikum"
pamit supir ibu Juna lalu berlalu meninggalkan rumah Naya dan menuju kediaman Juna berada.
sampai dirumah orang tua Juna Naya terpanah dan tidak percaya diri melihat begitu megahnya rumah orang tua Juna
"ayo mbak masuk sudah ditunggu ibu"
ucap supir yang bernama Yono.
"maaf pak ini rumah kak Juna??"
tanya Naya penasaran.
"ini rumah ibunya mbak rumah mas Juna di Semarang"
pak Yono memberitahu.
akhirnya Naya turun dari mobil tapi tidak beranjak masuk ia masih bingung didepan mobil.
"Nay ayo masuk kok diam saja"
ucap ibu Juna keluar rumah melihat Naya tidak bergeming dari tempatnya.
Naya hanya memandang wajah cantik nan elegan ibu Juna
"ayo nak masuk kasian Juna gak mau ditemenin ibu makan juga gak mau huftt.
keluh ibu Juna menghampiri Naya lalu menggandeng tangannya agar mau ikut masuk.
" i iya bu maaf"
ucap Naya gugup
setelah masuk rumah Naya baru menyalimi ibu Juna karna dari tadi tangannya digandeng seperti takut kabur
"maafkan aku bu buat kak Juna sakit"
ucap Naya setelah mencium punggung tangan ibu Juna
__ADS_1