Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
suami bodoh


__ADS_3

Juna Tata dan Evsn geleng geleng dengan tingkah Naya


Naya hanya cengengesan teringat tingkahnya jaman ingusan.


"udah ahh pulang jam kerjanya habis"


Naya menyudahi percandaanya.


"iya nih keasikan nostalgia lupa waktu"


tata ikut menimpali.


mereka semua beranjak dari duduknya untuk keluar ruangan Tata.


"Nay pulang naik apa??"


tanya Juna.


"naik motor, aku bawa motor sendiri"


jawab Naya santai yang sebenarnya hatinya ingin sekali menangis.


"ya sudah hati hati pulangnya"


Juna mengingatkan


Naya hanya tersenyum melangkahkan kaki menuju parkiran.


saat sampai parkiran ponsel Naya berdering panggilan dari sang suami dengan malas Naya mengangkat telpon darinya.


"Nay kamu bener bener keterlaluan ya Nay apa salahku kamu mala mau menceraikannku"


ucap Ryan tiba tiba tanpa mengucap salam.


Naya kaget mendengar ucapan suaminya, Juna yang memperhatikan langkah Naya pun mengerutkan kening melihat ekpresi Naya yang berubah


"pasti mas Ryan yang telepon sampai wajahnya berubah begitu"


gumam Juna matanya tak lepas dari pandangannya


"maksud kamu apa mas?? kenapa kamu bilang begitu??"


tanya Naya bingung


"kamu berniat menceraikanku Nay padahal ibu cuma ngasih tau kamu agar mengangkat telpon dariku, ya ibu memang salah tempat mendatangumu sampai pabrik tapi seharusnya kamu jaga sikap kamu pada orang tua ku kenapa kamu mala marah marah dan mau kita bercerai apa kamu gak mikirin perasaan Malik?? kamu bener bener tega ya Nay"


cerocor Ryan.


"marah siapa?? siapa yang marah?? aku gak marah mas?? yang marah marah yang teriak teriak itu ibu yang menyuruhku menceraikanmu itu ibu terus aku harus gimana orang tuamu sudah menyuruhku untuk berpisah darimu mas aku bisa apa?? apa aku harus diam saja hahh?? apa aku harus memohon jangan pisahkan aku dari mas Ryan bu gitu maksud kamu?? aku udah capek mas aku pasrah dengan takdir kita, ibumu sudah menyuruhku untuk menceraikanmu maka aku akan kabulkan dengan lapang dada aku akan ikhlas mas"


keluh Naya berderai air mata.


Juna yang menyaksikannya tidak tega


"ingin sekali aku memelukmu menenangkanmu Nay tapi aku gak bisa, aku hanya bisa memandangmu seperti ini"


gumam Juna yang tidak sadar sudah ikut menitikkan air matanya.


"kamu jangan menuduh ibu Nay setidak sukanya ibu kekamu tidak akan tega mengucapkan kalimat itu padamu Nay"


ucap Ryan membantah.


"sudah kuduga kamu tidak akan percaya mas, terserah kamu aku tidak perduli lagi kamu percaya atau tidak, assalamualaikum."


ucap Naya mematikan ponselnya sepihak ia menangis diparkiran motor sudah tidak memperdulikan pandangan orang padanya. puas menangis Naya memutuskan meninggalkan kalangan pabrik menuju rumahnya


Juna yang mengkhawatirkan keadaan Naya akhirnya mengikutinya.


Naya masih meneteskan air matnya sambil mengendarai motor sampai ditengah jalan pandangan matanya kabur walapun ia berusaha tetap barusaha tetap fokus tapi tak membuatnya bertahan Naya pun oleng tak sengaja sepeda motor dari depan menabraknya hingga terjatuh tersungkur dijalanan aspal pinggir jalan tepat mengenai perutnya hingga mengalir dibawahnya dan kepala Naya terkapar direrumputan dipinggir jalan.


mobil Juna dan Bagas yang melihat kejadian itu langsung menghentikan kendaraannya Juna dengan cepat melangkahkan kakinya menghampiri Naya dan menggendongnya


"perutku sakit tolong anakku"


rintihan Naya tak mala kesadarannya pun hilang Juna menangis ketakutan kehilangan pujaan hatinya.


Evan dengan sigap membukakan pintu mobilnya dan dengan mempercepat melajukan mobilnya agar Naya cepat mendapatkan pertolongan.


"Nay aku kamu harus kuat, aku mohon jangan tinggalkan aku Nay aku takut kehilanganmu Nay aku mohon"


Juna menangis memeluk Naya yang sudah tidak sadarkan diri.


Tata yang berada dimobil bersama Bagas pun tak kalah takutnya


"mas lebih cepat mas aku takut kak Naya kenapa napa??"


pinta Tata pada kakaknya.


"sabar Ta ini mas udah cepat mau bagaimana lahi macet Ta karna yang motor satunya juga orangnya terpental jadi macetnya tidak bisa dihindari"


ucap Bagas.


tak lama mobil Juna sampai dirumah sakit terdekat Naya langsung masuk keruangan UGD untuk mendapatkan pertolongan


Juna menunggu diluar dengan gelisah.


sang perawatpun keluar menghampiri Juna


"pak bapak keluarga pasien??"


tanya perawat tersebut


"iya mbak gimana keadaanya mbak??"


tanya Juna khawatir.


"keadaan ibunya tidak terlalu parah pak tapi anak dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan"


ucap perawat belum selesai menjelaskan Juna sudah terkejut


"apaaaa"


"ya pak kami akan melakukan pembersihkan pada rahim ibu Naya mohon untuk tanda tangan disini untuk mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga pasien"


pinta perawat rumah sakit.


akhirnya Juna yang menanda tangani tanpa menunngu keluarga Naya datang.


"tolong lakukan yang terbaik untuk Naya dok aku mohon selamatkan dia"


Juna memohon keselamatan Naya


Evan hanya diam menatap nanar memandang bosnya.

__ADS_1


"Jun gimana keadaan Naya??"


tanya Bagas baru sampai karna menerjang macet yang diakibatkan kecelakaan Naya.


"Naya tidak terlalu parah tapi bayinya tidak bisa diselamatkan mas Gas"


Evan memberitahu


"ya allah bagaimana dengan keluarga kak Naya mas??"


tanya Tata cemas


"sudah mbak tadi saya yang menghubungi tapi kenapa.."


belum selesai Evan berucap teriakan ibu paru baya membuat mereka menoleh kearahnya


"ilham apa yang terjadi padamu Nak??"


salah satu orang tua korban kecelakaan bersama Naya menangisi anaknya yang belum sadarkan diri.


"Gas Jun bagaimana Naya nak bagaimana bisa terjadi??"


tanya bapak Naya yang diikuti ibunya dari belakang karna tergesa gesa ingin melihat putrinya.


" mbak Naya kehilangan bayinya pak dan pihak rumah sakit akan melakukuan pembersihan pada rahim mbak Naya katanya keadaan mbak Naya tidak terlalu parah pak kita tunggu saja nanti bagaimananya semoga keadaan mbak Naya baik baik saja "


Evan menjelaskan karna melihat sang bos seperti kehilangan hidupnya.


"Jun kita berdoa untuk Naya ya nak bapak yakin Naya akan baik baik saja"


bapak Naya menenangkan


"pak seharusnya tadi aku paksa Naya saja ikut mobilku pak, aku mala membiarkannya pulang sendiri padahal aku tau Naya sedang tidak baik baik saja aku salah pak maafkan aku"


sesal Juna


"mungkin sudah takdir bayinya tidak mau menjadi anak Naya nak karna ayahnya pun tidak mau mengakuinya jadi mungkin allah mengambilnya kembali jangan salahkan dirimu Jun tidak baik"


bapak Naya menasehati.


"tapi pak itu kelalainku pak"


Juna masih menyalahkan diri sendiri.


"Jun kita sama sama tau rumah tangga Naya seperti apa dan kamu datang secara tiba tiba pun kamu pasti tau masalah tadi mertuanya datang kepabrik dan menyuruhnya berpisah dengan suaminya kan??"


Bagas menjelaskan Juna hanya mengangguk membenarkan


kedua orang tua Naya terkejut


"apaa mertua Naya datang kepabrik?? dan nenyuruh anakku berpisah dari suaminya??"


ibu Naya meminta penjelasan.


"iya bu tadi mertuanya datang"


dan Tata menjelaskan dari awal mertua Naya dan sampai akhir mertua Naya pulang


"ya allah gusti mereka benar benar keterlaluan, ibu tidak terima pak ibu tidak ikhlas, nanti kalau Naya sudah keluar suruh dia cepat cepat mengurus perceraiannya pak"


ucap ibu Naya marah.


"iya bu sudah sudah nanti kita urus semuanya sekarang yang penting keadaan anak kita bu ya"


akhirnya semua orang menuju keruang operasi mengikuti Naya dan para perawat yang akan menangani Naya.


**


Naya sudah dipindahkam diruangan rawat inap walaupun belum sadarkan diri setelah melewati 3 jam operasi pembersihan rahimnya semua orang menunggu Naya siuman didalam ruangan Juna masih gelisah meliha Naya yang belum sadar


"kenapa belum siuman Naya baik baik saja kan kenapa lama sekali"


gumam Juna gelisah duduk disamping ranjang Naya berbaring.


"sabar Jun dia kan baru dipindahkan mungkin obatnya belum hilang makanya belum siuman"


Bagas menenangkan Juna hanya diam saja dengan pikirannya sendiri


"maaf pak sebaiknya bapak makan dulu sudah malam pak"


Evan mengingatkan.


"kamu belum pulang Van, pulang gih kasian istrimu dia juga membutuhkanmu"


perintah Juna


"maaf pak gak papa saya sudah ijin istri untuk menemani bapak"


jawab Evan sopan.


"ini pak bu mohon dimakan seadanya gak papa ya bu"


Evan menyodorkan box makanan ke semua orang yang berada diruangan Naya.


mereka semua menerima nasi box dari tangan Evan.


"pak Juna dimakan nasinya pak"


Evan mengingatkan lagi.


"aku belum lapar"


jawab Juna parau sambil memandangi Naya yang belum tersadar juga.


"tapi pak bapak butuh makan agar bisa melindungi mbak Naya pak Juna tau kan mbak Naya butuh perlindungan, kalau bapak juga ikutan sakit siapa yang akan menjaga dan melindungi mbak Naya, jangan sampai mbak Naya dilindungi orang lain lagi apa lagi orang yang salah lagi"


Evan membujuk.


"iya mas kak Naya juga kelihatannya lebih nyaman kalau bersama kamu, dan kak Naya pasti bakalan sedih dan tambah rapuh kalau kita juga kita seperti ini"


Tata ikut membujuk


huft


Juna menghela nafas


"ya sudah aku makan"


Juna pasrah


"Nay kamu harus cepat bangun ya aku rindu celotehmu, kakak mau makan dulu biar kuat meluk kamu kalau kamu butuh pelukan sih kalau gak butuh juga gak papa seengaknya kalau kakak makan kakak bisa menghajar suami bodohmu itu sampai dia sadar"


Juna berbicara sendiri.

__ADS_1


dan kemudian menyantap makanan yang sebenar sangat lezat tapi hambar yang dirasa Juna.


selesai makan Evan Bagas dan Tata pamit pulang kerumah masing masing.


yang tertinggal diruangan hanya Juna dan kedua orang tuanya.


"kamu tidak pulang Jun??"


tanya bapak Naya


"tidak pak saya akan menemani bapak dan ibu disini sampai Naya siuman, kalau saya pulang saya tidak akan tenang dirumah pak, saya pasti akan memikirkannya maaf pak mungkin saya tidak sopan karna saya buka suami Naya tapi saya benar benar tidak bisa hanya diam saja pak"


jawab Juna sopan.


"Jun terima kasih atas perhatianmu sama Naya nak terima kasih kamu sudah mau mencintai dan menyayanginya dengan tulus selama ini bapak hanya bisa mendoakan semoga kalian berdua diperjodohkan oleh allah amin"


Juna pun ikut mengaminkan doa bapak Naya.


"bapak ibu istirahat saja biar saya yang jaga Naya nanti gantian kalau saya sudah nengantuk, soalnya saya belum ngantuk pak"


ucap Juna sopan.


"ya sudah kalau begitu bapak dan ibu istirahat dulu. bapak minta tolong, tolong jagain Naya ya nak"


jawab bapak Juna lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang satunya lagi yang dikhususkan untuk yang menjaga.


Juna masih setia menunggu disebelah Naya hingga tertidur


jam 3 malam Naya siuman ia menggerak gerak kan jarinya yang terasa masih kaku karna terlalu lama tertidur dan kepalanya terasa pusing.


Juna yang terbangun dari tidurnya karna tangan yang ia genggam bergerak.


"Nay kamu sudah sadar sayang"


Juna membelai lembut pipi Naya


Naya hanya mengangguk mengernyitkan keningnya yang masih terasa pusing.


"kamu jangan terlalu banyak bergerak ya sebentar kakak panggilkan dokter jaga ya"


ucap Juna lagi langsung keluar memberitahu suster dan dokter jaga yang berada diluar


setelah memberitahu dokter jaga ia langsung membangunkan kedua orang tua Naya dan memberitahu bahwa anaknya sudah sadar.


orang tua Naya terkejut karna dibangunkan tiba tiba tapi setelah mendengar kabar anaknya sudah siuman ia pun langsung bangkit dan menghampiri anaknya.


"sebentar ya pak saya periksa dulu"


ucap dokter jaga dengan sopan.


semua orang hanya mengangguk dan memperhatikan Naya yang sedang ketap ketip kebingungan.


selesai periksa Dokter menjelaskan keadaan pasien dan pamit berlalu


"alhamdulillah kamu baik baik saja nak"


ucap ibu Naya penuh syukur.


"bu aku dimana kok aku dimana bu"


keluh Naya sambil mengingat ingat kejadian sebelum ia pingsan.


"kamu mengalami kecelakaan Nay, sekarang kamu dirumah sakit, nak anas yang membawamu kesini"


ibu Naya memberitahunya pelan pelan.


"rumah sakit??"


Naya masih berfikir.


"ya allah bu aku kecelakaan bu perutku sakit bu"


Naya mengeluh setelah mengingatnya.


"perut, perut aku bu, perut aku kenapa bu"


tanyanya kemudian.


"maaf nak banyimu tidak terselamatkan nak, perutmu sudah dibersihkan"


ibu Naya memberitahu menangis.


"berati bayiku meninggal bu, iya??"


tanya Naya menangis.


ibunya hanya mengangguk masih dalam menangis


Naya yang paham anggukan ibunya ia hanya menangis sesugukan dipelukan ibunya.


"maafkan aku. aku tidak bisa menjaga anakku sendiri"


sesal Naya disela tangisannya.


"kamu tidak salah nak, mungkin allah belum mempercayakanmu lagi anakmu kembali disisinya ikhlaskan ya nak jangan menyalahkan dirimu ya ini sudah takdirnya"


ibu Naya menasehati.


Juna dan ayah Naya hanya bisa ikut menangisi


Naya hanya mengangguk dalam sesugukkannya.


"Nay kamu istirahat ya biar cepat sembuh"


ucap Juna lembut penuh perhatian


"iya kak tapi anakku pergi kak maafkan aku, aku gak becus menjaganya"


jawab Naya masih sesugukan


"ini sudah takdir Nay jangan pernah menyalahkan diri sendiri ya?? kamu harus kuat ada Malik yang masih membutuhkanmu butuh kasih sayang dan perhatianmu ya??"


bujuk Juna agar tidak putus asa.


Naya hanya mengangguk


"kamu istirahat ya, kakak janji kalau kamu sudah sembuh total kakak akan mengajak kamu sekeluarga mengunjungi anak sholehmu bagaimana?? kamu mau kan??"


Juna masih membujuk.


Naya mengangguk tersenyum dan membaringkan tubuhnya kembali untuk istirahat.


Juna mengambil wudhu lalu tadarusan sambil menunggu waktu subuh.

__ADS_1


Naya yang mendengarkan suara merdu Juna pun lama lama akhirnya terlelap. kedua orang tua Naya pun sama ikut terlelap sebelum berpesan minta dibangunkan saat adzan subuh kepada Juna.


__ADS_2