Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
ada apa denganmu


__ADS_3

Ryan tersenyum kecut menerima kenyataan harus selalu terpisahkan jarak dan waktu dengan istri tercintanya. tidak terasa Ryan ikut menitikan air mata mendengar istrinya menangis tersedu sedu. yang Ryan pikir Naya sangat merindukannya dan enggan berpisah dengannya. karna sebenarnya Ryan pun sangan merindukan sang istri dan enggan berjauhan.


yang sebenarnya naya pikirkan adalah takut Ryan tidak mau mengakui anak yang dikandungnya karna hasutan orang tuanya. walaupun ia tau suaminya sudah mengakui bayi yang ia kandung tapi mendengar laporan dari temannya Naya takut kembali. bukan takut Ryan tidak bertanggung jawab. naya hanya takut anaknya tumbuh tanpa seorang ayah. maka dari itu Naya berusaha membujuk suaminya untuk pulang dan berhenti merantau. walaupun Naya tau bujukannya hanya akan sia sia saja.


"sayang??"


panggil Ryan mesra.


"mas. pulang ya??"


ucap Naya lagi.


"nanti ya sayang selesai kontrak mas pulang ya sayang."


bujuk Ryan.


"mas pulang."


Naya masih merengek.


"malu dong sama dedeknya masak emaknya nangis terus kan gak lucu sayang."


rayu Ryan agar istrinya berhenti menangis. ia juga sangat ingin pulang walau hanya sebentar. "andaikan ada sapu jagat yang bisa bikin orang menghilang dan kembali lagi seperti ilmu ilmu hitam begitu. pasti sudah aku gunakan agar aku bisa memeluk istriku walau hanya sebentar."


ucap Ryan dalam hati.


Naya menghentikan tangisannya.


"mas aku kangen. ingin disayang."


Naya manja.


berharap menggunakan jurus rayuan walaupun pasti tidak akan bisa membuat suaminya langsung pulang tapi bisa mendesak agar suaminya mempercepat kepulangannya.


Naya benar benar takut kejadian Malik terulang kembali.


"hihihi. bilang lagi sayang?? mas pengen denger lagi??"


pinta Ryan.


"mas aku kangen. pulang ya mas. aku ingin disuapi mas Ryan. aku ingin dimanja manja mas."


jawab Naya lagi.


"hehehe. iya sayang sabar ya. mas juga kangen banget sama kamu sayang. jaga kandungan kamu ya sayang. jaga kesehatan. ok??"


Ryan mengingatkan.


"ya mas."


Naya pasrah.


"ohh iya mas tadi Tata telpon aku disuruh masuk kerja lagi mas. alhamdulillah akhirnya aku tidak nganggur lagi hehehe."


Naya cengengesan.


Kening Ryan berkerut.


"kamu kan masih hamil sayang. tidak usah kerja ya. dirumah saja ya??"


nasehat Ryan.


"mas aku dirumah tambah pusing mas. gak punya kerjaan. cuma makan tidur makan tidur lagi. badan aku pegel pegel mas. sakit semua."


adu Naya.


"aku gak akan capek capek kok mas aku janji mas. Tata juga pasti gak akan ijinin aku capek capek. mas tau Tata kan mas. gak hamil saja aku jarang kerjanya dipabrik. mala lebih sering bantuin bikin laporan Tata. terus banyak ghibahnya lagi. biar kan aku kerja ya mas aku bakalan nurut kok sama Tata. ya mas plisss??"


Naya memohon dengan manja.


huft


Ryan menghembuskan nafas.


"iya sudah tapi janji ya jangan sampai kamu kecapekan ya sayang.??"


pinta Ryan.


"siap pak boss."


Naya cengengesan.


"mas sekarang lagi apa sudah makan belum."


tanya Naya manja.


"belum sih. mas kangen sama kamu sayang. jadi mas milih nelpon dulu biar semangat makannya."


rayu Ryan.


"gombal. hehehe."


Naya cengengesan.


"sayang sudah dulu ya. kapalnya sudah sampai dipelabuhan. mas kerja dulu ya. love you. assalamualakum. emuahhh."


ucap Ryan mesra.


"love you too. waalaikum salam."


setelah menjawab salam Naya pun mematikan panggilannya.


"alhmadulillah mas Ryan tidak marah. aku udah takut banget lagi. mudah mudahan mas Ryan gak akan percaya sama omongan ibu. huft."


Naya menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.


"ok sekarang kirim pesan ke kak Juna ngucapin terima kasih."


Naya pun mencari nomer Juna untuk mengirim pesan.


{assalamualaikum. kak Juna terima kasih ya aku sudah dikasih izin masuk kerja lagi. emang the best deh kak Juna ku.} tak lupa Naya memasang emoji senyum ceria dan mengirimnya.


**


jam istirahat dimulai. Bagas menghampiri adiknya Tata diruangannya untuk menanyakan tentang Naya.


tok tok tok.


ketukan pintu Bagas.


"masuk."


Tata mempersilahkan.


Bagas pun langsung masuk kedalam.


"Ta gimana Naya mau tidak??"


tanya Nagas.


Tata mengacungkan jempolnya lalu membentuk o tiga jari.


"beres. kak Naya pasti mau lah. dia sendiri yang merengek merengek kemarin kemarin. tenang aja mas kak Naya sudah janji mau nurut sama aku. aku gak akan terlalu memaksakannya. aku jamin keselamatan kak Naya ok."


ucap Tata meyakinkan.


"ok deh. yang penting Naya gak akan kelelahan."


jawab Bagas.

__ADS_1


"makan yuk laperr??"


ajak Bagas.


"hayukk."


Tata dan Bagas bergegas ke kantin untuk mengisi perutnya yang lapar.


saat tiba dikantin tak sengaja Bagas mendengar teman teman Naya sedang membicarakannya. akhirnya Bagas memilih untuk menguping.


ssstttt.


jari Bagas menutup mulut sendiri tanda memerintah Tata untuk diam dan dengarkan.


Tata yang tau maksud dari kakaknya pun mengiyakannya.


"Yuk kamu yakin mbak Naya hamil anak pak Bagas??"


tanya Nabil penasaran.


"ya iya lah orang aku tetangga mertuanya mbak Naya. aku denger juga dari dia. mertuanya nangis nangis meratapi anaknya yang sedang berlayar mala diselingkuhi sampai hamil. gak tau sebenarnya anak itu anaknya pak Bagas atau pak Juna. kurang paham soalnya."


"fitnah dosa lohh Yuk??"


tegur Fitri.


"kalau gak percaya ya sudah. mau gimana lagi. yang penting aku udah kasih tau."


Yayuk tak mau tau.


"ya sudahlah Yuk. kamu yang lebih tau. kami hanya mendengarkan saja. salah benarnya hanya allah yang tau."


ucap Nabil santai.


eheemmm.


Tata berdehem membuat semua orang termasuk rombongan Yayuk kaget gelabakan.


"hmm bu."


Fitri nyengir kuda.


Tata dan Bagas mengangguk dengan ekpresi datar.


"Ta duduk sini aja ya. kamu pesen gih."


perintah Bagas pada adiknya.


Tata hanya mengangguk dan berlalu menuju bu kantin.


Bagas terdiam ingin rasanya menyusun kata kata yang pedas dan sampaikan pada orang orang yang suka menfitnah tanpa tau kebenarannya.


"kenapa sih pak Bagas selalu cuek dan datar begitu kalau sama kita. senyum dan keceriaannya hanya bersama mbak Naya. heran aku apa hebatnya dia. padahal orangnya juga biasa aja."


bisik Wiwin pada Yayuk yang sama tidak menyukai Naya.


Bagas masih terdiam mendengarkan bisikan mereka. walaupun sebenarnya bisikannya tidak keras tapi Bagas masih dapat mendengarnya.


"pake guna guna kali. aku juga heran. kata mertua mbak Naya sih pake pelet bahkan mas Ryan pun sampai cinta buta. walaupun sering diselingkuhin. mbak Naya gak sekali dua kali selingkuh. kata mertuanya dulu juga sering selingkuh. gitu sih kata mertuanya sering cerita dikampung."


bisik Yayuk.


"padahal orangnya kelihatan kalem gitu. tapi liar juga. suaminya sering berlayar sih jadinya kesepian deh. hehe."


bisik Wiwin sambil nyengir takut ketahuan ghibahin orang.


"ya lah. jarang dibelay. hehehe."


jawab Yayuk dengan wajah memcemooh.


brakkkk.


tata yang juga ikutan kaget pun langsung menghampiri sang kakak.


"ada apa denganmu mas??"


tanya tata kesal.


menurut Tata sikap kakaknya sangat memalukan dan tidak dapat menjadi contoh.


Bagas masih membisu dan langsung menghampiri tempat duduk rombongan Wiwin dan Yayuk.


"kamu dan kamu. ikut keruangan saya sekarang juga."


Wiwin dan Yayuk ketakutan saat tangan Bagas menunjuk kearahnya.


tangan Bagas menunjuk kearah Wiwin dan Yayuk dengan wajah penuh amarah dan langsung berlalu meninggalkan kantin menuju ruangannya.


"mas tunggu bentar aku bungkus aja mas."


teriak Tata langsung ke ibu kantin untuk meminta dibungus saja nasi yang sudah ia pesan.


Bagas tidak menghiraukan teriakan adiknya ia tetap berjalan lurus tanpa menoleh kanan kiri menuju ruangannya.


Wiwin masih duduk terdiam membisu ketakutan dengan perintah bosnya.


saat selesai mengambil nasi bungkusnya Tata bergegas mengejar kakaknya.


"awas kalian ya."


ancam Tata saat melintasi meja rombongan Wiwin dan Yayuk. langsung melanjutkan mengejar kakaknya.


brakkkkkkk


Bagas membanting pintu ruangannya karna sangat kesal.


Tata yang berlari mengejar kakaknya pun cepat sampai diruangan kakaknya yang baru saja membanting pintu ruangan.


"mas apaan sih kok emosi gitu. kenapa??"


tanya Tata setelah masuk keruangan kakaknya dan duduk dengan ngos ngosan mengejar kakaknya.


"kamu tau ta Naya dikatain liar. tukang selingkuh. anak yang ada dalam kandungannya buka anak suaminya melainkan anak mas atau Juna."


Bagas mengadu dengan penuh amarah.


"astagfirullah hal adzim. heran aku sama mereka. kok bisanya begitu.??"


Tata beristigfar dan geram dengan mereka yang suka ngomong seenaknya.


"mas juga gak tau Ta. katanya itu tetangganya Ryan. emaknya suka ngadu. makanya dia tau."


Bagas menjelaskan.


hufttt.


Tata menghela nafa.


"topiknya masih disitu aja gak ada ujungnya. dan itu benar mas si Yayuk tetangga mertuanya kak Naya. kata kak Naya Yayuk itu memang suka iri. apalagi dulu pernah ditolak sama mas Ryan. ditambah lagi naksir kamu mas. sama saja yang naksir kak Naya. mungkin dia gedek karna itu."


terang Tata.


"kalah saing ternyata??"


ucap Bagas sinis.


Bagas menggeleng dengan apa yang terjadi.


tok tok tok.

__ADS_1


Wiwin mengetuk.


"masuk."


perintah Tata.


"maaf bu pak??"


ucap Wiwin dan Yayuk ketakutan kelihatan dari getar tubunya. mereka berdua sangat gemetaran sangkin takutnya karna sudah menyinggung bosnya.


"apa maksud kalian tadi??"


tanya Bagas membuka suara.


"yang apa pak. saya tidak mengerti dengan maksud bapak."


dalam ketakutan Yayuk masih sempat ngeles.


"yang mengatakan Naya hamil anak saya. dan Naya anak liar tukang selingkuh."


Bagas memperjelas.


Wiwin dan Yayuk semakin tercekat. ia tak menyangkah bahwa bisikan dirinya telah terdengar dengan orang yang bersangkutan. padahal mereka memastikan bisikan mereka sangat pelan hingga tiada orang yang mendengarnya.


"jelaskan sekarang???"


bentak Tata.


"maaf pak kami tidak sengaja. kami hanya mendengarkan saja dari orang lain."


Yayuk masih bisa mengeles.


"mendengarkan apa mendengarkan??"


tanya Tata dengan suara meninggi.


Wiwin dan Yayuk terdiam membisu bingung akan menjawab apa.


"kenapa diam saja?? tidak bisa jawab?? mendengarkan dari siapa??"


tanya Tata menyentak.


"da dari Wiwin bu."


jawab Yayuk terbata.


"apaaa. kok mala nyalahin aku sih. kan kamu sendiri yang bilang kalau mbak Naya itu hamil anak pak Bagas."


protes Wiwin.


"kamu diam saja."


bisik Yayuk.


"gak bisa gitu dong. kamu yang koar koar kok aku yang kena getahnya. jangan seenak jidatmu dong."


Wiwin tidak terima.


"bisa diem gak??"


bisik Yayuk.


"tega kamu Yuk. mengambing hitamkan aku. aku salah apa sama kamu. kamu yang cerita duluan kalau mbak Naya itu hamil anaknya pak Bagas dan kamu nyuruh aku nyebarin ke teman teman biar mbak Naya makin banyak yang benci. kok sekarang kamu limpahin kesalahan ke aku. aku tidak terima."


Wiwin membongkar aib Yayuk.


Bagas bertepuk tangan diiringi tertawa lepas.


hahahaha.


"gila ada ya teman dan tetangga macam kamu. sangat munafik."


ucap Bagas sinis mendekati telinga Yayuk dengan suara keras.


degg


Yayuk sangat sakit hati mendengar perkataan Bagas. ia dengan sekuat tenaga menahan air matanya keluar.


"aku tau kamu naksir dengan ku. tapi sayang kamu bukan wanita idamanku. dan aku juga tidak suka dengan wanita munafik sepertimu."


Bagas berucap kembali sambil duduk dusudut meja kerjanya.


bagaikan disambar petir disiang bolong. seketika air mata Yayuk menetes sangat deras tanpa ia minta. Yayuk tidak kuat mendengar ucapan bagas. dan langsung berlari keluar dari ruangan bagas tanpa menghiraukan orang sekitar.


Wiwin masih terdiam membisu melihat kemarahan Bagas. dengan mendengar satu dua perkataan pedas yang Bagas ucapkan membuat hati terasa sakit.


"kamu keluar. awas kamu kalau ulah lagi aku pecat kamu."


ancam tata.


Wiwin akhirnya keluar dari ruangan Bagas dan bisa bernafas lega.


"untung aku tidak dikatain kayak tadi. kalau aku yang dikatain mungkin udah aku cakar itu wajah pak bos. ganteng tapi pedas."


gerutu Wiwin sambil berjalan.


"mas kamu apaan sih ngatain perempuan kayak gitu. pedes tau gak. pasti sih Yayuk sakit hati denger ucapan kamu. aku aja yang denger ngilu."


protes Tata.


"mas tidak peduli Ta. dia memang pantas dikatain itu. dia udah keterlaluan. menyebarkan fitnah. mengkambing hitamkan temannya lagi. kata kata apa yang cocok sama dia coba??"


tanya Bagas.


"iya juga sih emang keterlaluan tapi gak usah dikatakan juga kali mas."


Tata masih menyalahkan kakaknya.


"tau ah mas gak peduli dengan dia."


jawab Bagas.


"udah ahh aku keruanganku. udah mulai habis jam istirahatnya."


Tata menengok jam tangannya dan pamit keruangannya sendiri.


Bagas menarik nafas berulang ulang kali agar dirinya benar benar tenang. dan bisa melanjutkan pekerjaannya.


"ayo Gas semangat nanti mau kerumah Naya. harus cepat selesaikan pekerjaannya."


Bagas mensugesti dirinya sendiri.


**


disisi kantor yang sangat besar dan megah. Juna sedang disibukkan dengan pekerjaannya karna malam ini ia harus menghadiri perjodohan yang sudah dijadwalkan. tangan Juna ingin sekali membuka ponselnya tapi melihat begitu banyak berkas yang harus ia selesaikan membuat lelaki itu mengurungkan niatnya.


"haissss masih lama kenapa gak selesai selesai. dan siapa yang menggelitik ponselku sampai sampai aku ingin sekali membukanya huftt."


gerutu Juna dalam hati sambil tangan dan matanya cekatan membuka lembar demi lembar agar cepat ia selesaikan.


tok tok tok.


pintu diketuk dari luar.


"masuk."


ucap Juna tanpa menoleh kearah pintu.


setelah Juna memerintahkan untuk masuk orang didalam pun langsung membuka pintu dan masuk kedalam.

__ADS_1


__ADS_2