
Agung dan ibunya ternganga mendengar jawaban Naya mereka pikir Naya akan menangis memohon agar tidak bercerai dari suaminya ternyata Naya mala menetujuinya tanpa perdebatan.
"ya sudah untuk masalah harta.."
ucap ibu Ryan yang langsung dipotong Naya
"tidak perlu harta gono gini bu aku tidak butuh, rumah itu hasil keringat mas Ryan aku akan keluar hanya membawa pakaianku dan Malik seperti pertama kali aku masuk kerumah itu. untuk Malik jangan khawatir aku akan selalu membebaskan mas Ryan bertemu dengan Malik aku dan keluargaku tidak akan menghalangi darah dagingnya, silahkan ibu pulang sekarang"
ucap Naya tegas.
"ya sudah ibu pulang sekarang"
ibu Ryan kehabisan kata kata dan langsung pergi dari hadapan Naya.
Naya hanya diam membisu ditempat tanpa sepatah kata pun.
Bagas dan Tata pun bingung harus berkata apa untuk mengibur sahabatnya. sampai ponsel Naya berdering panggilan dari Juna.
Naya berjalan menuju ruangannya dalam keheningan Tata dan Bagas hanya mendampinginya dari samping dan belakang.
"kak kamu yang sabar ya??"
Tata menggandeng dan menguatkan sahabatnya.
Naya hanya mengangguk tersenyum menoleh ke Tata dan terdiam kembali.
"kak jangan diam saja, aku takut kak kalau memang kamu ingin menangis menangislah kak ada aku disini"
ucap Tata lagi sangat khawatir melihat Naya hanya diam dan tersenyum tanpa menjawab.
sampai didepan ruangannya pun Naya langsung masuk tanpa berkata apapun ia duduk dimeja kerjanya dan mulai mengerjakan berkas yang tertunda. Bagas ikut masuk dan duduk disofa ruangannya.
Tata yang khawatir dengan kediaman Naya pun akhirnya geram didiamkannya
"kak lebih baik kamu menangis meraung raung daripada kamu diam membisu seperti ini, kamu tau aku sangat takut denganmu kak"
teriak Tata yang membuat Bagas dan Naya kaget.
"kak aku takut kamu kenapa napa tolong yang diam saja katakan sesuatu kak, aku sangat khawatir"
Tata mulai melembutkan suaranya.
"Ta tadikan kakak sudah bilang akan mengurus semuanya besok jadi apa lagi yang harus kakak katakan, lebih baik kakak menyelesaikan pekerjaan kakak karna besok kakak akan ambil libur untuk mengurus perceraian kakak."
ucap Naya parau menahan air matanya.
"apa kakak baik baik saja??"
tanya Tata.
"kakak akan selalu baik baik saja ada kalian yang akan selalu menghibur dan melindungi kakak jadi kakak akan selalu kuat."
Naya memegang tangan Tata menenangkannya agar jangan khawatir walaupun hatinya sedang hancur berkeping keping
Naya tidak menghiraukan panggilannya sampai Juna pun memutuskan untuk menghampiri pujaan hatinya ketempat ia bekerja
"kamu harus baik baik saja Nay"
gumam Juna berlari menuju parkiran mobil
"mas ini berkasnya harus.."
ucap Stela saat berpapasan dengan Juna yang sedang terburu buru keluar. Juna tidak menghiraukan panggilan adiknya ia tetap melangkah cepat untuk sampai diparkiran.
"ada apa sih dengan mas Juna kenapa tergesa gesa gitu tau ahhh nanti aku tanyain lagi"
gumam Stela.
tidak lama pun Juna berpapasan dengan Evan yang sedang menuju lift dengannya. meliha bosnya seperti orang khawatir mulut Evan gatal jika tidak bertanya
"kenapa dengan mukamu?? seperti mengkhawatirkan seseorang??"
"aku sedang buru buru Van"
jawabnya singkat.
"aku antar ya mas"
Evan menawarkan. ia khawatir dengan bosnya yang seperti orang ketakutan.
"gak usah aku sedang buru buru"
jawabnya lagi. tanpa medengarkan Juna Evan mengikutinya bosnya
pintu lift terbuka
Juna berjalan cepat menuju parkiran
terasa jauh langkah Juna sampai diparkiran karna ia dalam keadaan khawatir terjadi sesuatau dengan pujaan hatinya karna ia mendapat laporan bahwa mertuanya mendatanginya ketempat kerjannya ditambah Naya tidak mengangkat telpon darinya membuatnya tambah takut terjadi apa apa dengan Naya.
Evan dengan sigap membukakan pintu mobilnya dan menutup pintu setelah bosnya masuk dan dengan cepat ia berlari menuju kursi kemudi dan langsung melaju ke TKP
Juna yang tau maksud sekretarisnya pun langsung memeberitahu lokasi tujuannya.
"kepabrik Bagas Van"
ucapnya
"ok"
jawab Evan fokus menyetir mobilnya.
"tolong lebih cepat Van"
perintah Juna yang terlihat khawatir dari kaca spion mobil.
"baik"
jawabnya singkat dan menambah kecepatan agar cepat sampai.
"ada apa dengan gunung es ini akhir akhir ini sepertinya sering menghawatirkan seseorang. apa masalah perempuan yang bernama Inayah itu"
gumam Evan sambil memacu kecepatan.
tak lama mobil sampai dipaekiran pabrik Juna langsung turun membuka pintu sendiri tanpa menunggu Evan membukakannya terasa sepi yang ia lihat akhirnya Juna berlari kearah ruangan Naya yang diikuti oleh Evan.
ceklak
nafas Juna terengah engah berlari dari halaman pabrik keruangan Naya yang sebenarnya tidak terlalu jauh tapi karna kekhawatiran Juna langkahnya seperti sangat panjang.
Naya dan Tata menoleh kala pintu ruangannya terbuka dan melihat Juna dengan wajah kacaunya seperti dikejar setan.
"Nay? hah hah"
panggil Juna dengan suara seperti habis maraton dan kelelahan.
"iya kak ada apa??"
__ADS_1
jawab Naya berusaha tenang setenang mungkin karna ia tau kejadian tadi pasti membuat Juna sangat mengkhawatirkan dirinya.
"kamu gak papa??"
tanya Juna masih dengan wajah khawatirnya.
Naya pura pura mengerutkan alis yang sebenarnya ia ingin mengadu tapi ia tidak mau membuat orang lain sekalu khawatir dengan keadaannya.
"emang kenapa kak, orang aku lagi kerja kok iya kan Ta??"
Naya minta kompromi dari Tata.
"i iya mas kita lagi kerja ini hampir selesai bentar lagi pulang "
jawab Tata menutupi masalah Naya.
Naya mengangguk cengengesan yang sebenarnya hatinya sedang terluka.
"Nay apa aku setidak bergunanya sampai sampai kamu selalu menutupi masalahmu dariku??"
gumam Juna dalam hati masih berdiri mematung didepan pintu.
Evan yang yang tau suasana hati sang bos pun hanya ikut berdiri dibelakangnya.
"kakak gak capek berdiri terus didepan pintu padahal nafasnya sudah seperti orang maraton keliling kabupaten Kendal gitu"
ledek Naya cengengesan.
"iya mas duduk gih terus itu yang dibelakang suruh duduk juga mas kasian."
Tata ikut menimpali.
"mas Bagas ya Ta??"
tanya Naya
Tata hanya geleng geleng
Naya mengerutkan alisnya penasaran.
"kak duduk"
Naya seperti memerintah sebenarnya penasaran dengan orang dibelakang Juna.
"oh iya maaf Nay"
ucap Juna lalu duduk disofa ruangan Tata yang diikuti Evan.
"bentar ya mas aku ambilin minum dulu"
pamit Tata berlalu dari ruangannya.
"kak mas yang disebelah siapa?? kok gak pernah lihat?? gak kalah ganteng ya dari kakak??"
ledek Naya menenangkan Juna.
"masak sih Nay gak kalah ganteng dari kakak padahal kakak yang paling capek loh sedunia"
Juna menanggapi ledekan Naya yang sebenarnya ia tau Naya hanya menyembunyikan kesedihannya
"paling cakep sedunia lain ya kak hihihi"
jawab Naya cekikikan
Juna dan Evan ikut tertawa kecil.
canda Evan yang dianggukan Naya.
"iya lah mbak orang aku udah laku udah punya anak dua pula yang satu 4 tahun satunya lagi 1 tahun"
Evan cengengesan.
"wahhh berati hebat dong sampai punya dua, wahhh berarti kak Juna gak cakep ya gak laku laku penghinaan itu kak perlu dikasih pelajaran itu berani nikah duluan sebelum bosnya nikah wah wahh parah parah"
Naya mengompori Juna yang membuat bingung Evan harus berbuat apa
"loh loh"
muka panik Evan.
Juna pura pura berfikir
"iya juga ya enaknya dikasih pelajaran apa ya Nay kakak bingung nih, ngasih dia pelajaran yang menganggap kakak gak lebih cakep dariya."
Juna pura pura tersulut.
"apa??"
Evan semakin bingung harus bagaimana.
"anaknya ambil aja kak biar ayah ibunya bisa pacaran lagi kasian pasti mereka gak bisa pacaran seperti dulu karna bapaknya sibuk bekerja sedangkan ibunya juga sibuk ngurus anak yang 4 tahun dan 1 tahun"
Naya cekikikan yang dibalas Juna.
seketika nafas Evan merasa lega ia pikir sudah menyinggung sang bos atau bikin kesalahan yang ia sadari. dia pun ikut cengengesan.
"apaan sih bikin aku jantungan aja "
celetuk Evan Naya semakin tertawa
hahahaha
"tapi Nay kalau dia dikasih libur buat pacaran sama istrinya kerjaannya dikantor jadi terbengkalai dong takutnya mala bangkrut kantor kakak"
Juna pura pura mengeluh yang berhasil membuat Evan mengempiskan perutnya karna sesak
"sehari aja lah kak pacaran dirumah aja, kayaknya cukup deh anaknya titipin ke kita aku juga pengen nimang nimang anak kecil"
Naya manja.
Juna pura pura berfikir kembali
"ehm gimana ya ehmm ok deh sehari aja."
ucap Juna tertawa.
hahahaha
"maaf ya mas aku hanya bercanda wkwkwkwk"
Naya cekikikan.
Tata selesai membeli botol air mineral untuk Juna dan sekretarisnya.
" ini mas minumnya, lagi ghibahin apa sih kak seneng banget gak ngajak aku"
ucap Tata setelah memberikan air minum dimeja yang diduduki Juna.
__ADS_1
"iya makasih Ta."
Bagas menyusul keruangan Tata setelah diberi tau adiknya.
"Jun kok gak ngomong kalau kesini"
protes Bagas ikut duduk disebelah Evan.
"sorry tadi buru buru udah kangen banget sama Naya gak sempet ngasih tau"
kilah Juna.
"ehh kak bukanya tadi pas sebelum dhuhur kakak ke Jogja ya telponan sama aku dan Malik kok udah sampai sini aja?? kakak gak nyulik Malik kan tapi kok tadi telponnya maaih dipesantren"
Naya bingung tidak tau kalau Juna menggunaka pesawat pribadinya sampai di Semarang hanya membutuhkan beberapa menit saja.
"tadi kakak ngilang Nay clingg gitu langsung deh sampai Semarang hebat kan kakak"
canda Juna yang membuat Naya memicingkan mata curiganya
"masak?? emang kakak punya ilmu yang begituan?? aku kok gak percaya ya??"
Naya tidak percaya dengan ucapan Juna.
"hehehe mana mungkin aku punya ilmu begituan Nay, menahan rindumu saja aku gak akan kuat apa lagi menahan lapar harus puasa tirakat ilmu sapu jagat hehehe"
rayu Juna cengengesan.
" prettt ah gombal mukiyooo gaya menahan rindu hihihi"
Naya cekikikan.
Evan heran dengan bos besarnya yang ternyata bisa bertingkah seperti ini yang biasanya selalu bersikap dingin tegas berwibawa dan tak terbantahkan. sebenarnya Evan sudah dibikin kaget oleh tingkah bosnya dari awal tapi ia selalu berusaha tenang mungkin salah fikirnya dan semakin kesini ia tambah yakin bahwa ia tidak salah lihat.
"Van kaget ya Naya emang suka bercanda orangnya"
Bagas memberitahu.
"namanya Van siapa kak?? nanti kalau ketemu dijalan biar gak bingung"
tanya Naya.
"gaya biar gak bingung, paling kalau ketemu lain kali gak bakalan ingat, firasatku ini ya yang bakalan manggil duluan Evan bukan kamu kak"
Tata membuka kartu Naya yang tulalit dan pelupa.
Naya hanya cengengesan.
"iya juga ya, mas Evan nanti kalau ketemu dijalan maaf ya kalau aku gak nyapa duluan soalnya aku pelupa orangnya kalau gak kena marah istri sihh nyapa cewek lain hihihi"
Naya cekikikan.
"iya mbak insyallah"
jawab Evan sopan.
"kamu gak tau kan Jun pas pertemuan kedua ku dengan Naya pas dia aku dan Tata suruh membawa surat lamaran kepabrik ini, aku udah cerita belum ya sama kamu??"
tanya Bagas
"kayaknya belum deh, cerita dong aku penasaran Gas??"
jawab Juna.
"padahal kita udah ketemu semalam terus paginya dia datang bawa surat lamaran kesini pas banget ketemu aku di luar, dia tanya maaf pak saya Naya mau ketemu yang namanya pak Bagas dimana ya?? kamu tau tidak apa yang aku pikirin dan aku ucapin??"
Tanya Bagas
"emang apa yang dipikirin??"
tanya Juna penasaran Evan dan Naya pun ikut ikutan penasaran akan jawaban Bagas.
"kamu tau yang diotakku??"
Juna Naya dan Evan geleng geleng tanda tidak mengerti.
"gini, nih cewek otaknya gimana sih baru tadi malam ketemu ngobrol bareng masak sekarang gak ngenalin wajahku yang ganteng ini, nih orang geser atau gimana, dan akhirnya pun aku pura pura mengantarkan keruangan Bagas dan menyuruhnya menunggu didalam aku menemui Tata tanya ke dia tentang Naya aku mala diketawain sama dia terus diceritakanlah Naya itu orang yang seperti apa akhirnya aku menemuinya kembali dengan perasaan malu kasian ahh pokoknya campur aduk telah membohonginya dan tidak memperkanalkan ulang.."
belum selesai Bagas bercerita Juna sudah tertawa terbahak bahak
" ya allah Nay kamu mengulangi hal yang sama seperti dulu lagi Nay hahhahaha"
Naya Tata Bagas dan Evan bingung dengan perkataan Juna.
"maksudnya kak?? aku gak ngerti"
tanya Naya.
"Nay kamu ingat Abdul tidak teman pesantrean kita dulu kejadian waktu di kantin yang kamu disuruh membelikan es nya mbak umaroh, ingat kahh??"
Juna tanya balik
Naya mengingat ingat kejadian waktu dipesantren
"apa ya??"
Naya berpikir.
"dasar tulalit"
umpat Tata.
"kakak tu ya bener bener deh masak gak ingat?? kejadian dulu aku aja tau dari temen sekelasku dia bercerita tentang kekonyolan kamu "
ucap Tata gemas.
"kan jaman jahiliyah Ta agak lupa"
kilah Naya
"ngomong aja lupa"
Tata gemas.
"ceritanya gimana sih kok aku jadi penasaran??"
Bagas penasaran dengan tingkah Naya jaman dulu yang dianggukan Evan.
"gini Gas.."
akhirnya Juna menceritakan panjang kali lebar dari awal sampai akhir jaman jahiliyah Naya dipesantern yang membuat semua orang tertawa terbahak bahak.
"ya allah Nay kamu itu dulu benar benar yaaa ya allah tingkahmu Nay gak heran aku dulu sempat bingung denganmu hahaha"
ucap Bagas
Juna Tata dan Evan geleng geleng dengan tingkah Naya.
__ADS_1
Naya hanya cengengesan teringat tingkahnya jaman masih ingusan