Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
tak bisa berpaling darinnya


__ADS_3

"ini lebih dari kehilangan orang meninggal Ma?? mending meninggal bisa lihat jasadnya kalau kangen bisa datang kemakamnya peluk batu nisannya lah ini gak jelas hidup matinya membuat mas kita frustasi dan kembali seperti dulu lagi dingin dan datar pendiam cuek komplit lah pokoknya"


ucap Stela panjang kali lebar


"iya sih tau ahh aku juga bingung dengan situasi mereka"


jawab Sukma


tidak lama mobil mereka pun sudah masuk lobby kantor Juna


Sukma dan Stela pun langsung turun dan menuju ruangan kator kakaknya


tok tok


Stela mengetuk pintu ruangan Juna saat sudah sampai


"masuk"


perintah Juna dari dalam ruangan


"assalamualaikum mas Juna"


sapa kedua adik sambungnya tersenyum ceria


"waalaikum salam"


jawab Juna hanya melirik sekilas lalu fokus ke layar laptopnya


"mas aku pamit ke Batam ya doain semoga semuanya cepat selesai"


ucap Stela


Juna pun mengentikan pekerjaannya dan menghampiri adiknya yang masih berdiri


"ya adikku sayang terima kasih kamu selalu mau membantu masmu ini kalau ada apa apa kabari mas segera ya??"


pinta Juna memegang pundak Stela


Stela mengangguk tersenyum lalu mereka pun kembali kebandara untuk keberangkatan ke Batam


"mbak hati hati ya kabarin aku kalau sudah sampai"


ucap Sukma yang dianggukan kepala Stela lalu masuk kedalam pesawat setelah pesawat menghilang dari pandangan Sukma ia pun berangkat kuliah karna ada mata kuliah yang harus ia hadiri


"Sukma tumben lu telat?? darimana aja??"


tanya Chika teman Sukma


"habis nganterin kakakku Chik"


jawab Sukma


"mas Juna itu?? mau kemana?? tumben dianterin?? kenapa gak ngajak aku sih kan bisa kenalan sekalian siapa tau bisa gantiin kakak ipar kamu yang hilang itu"


cerocos Chika ia juga penggemar Juna kakaknya Sukma


"ye ogah banget gue punya kakak ipar kayak loe lagian ya tany tu satu satu panjang amat keyak kereta api aja"


protes Sukma cengengesan


"aku nganterin mbak Stela kakakku yang ada di Semarang dia mau ke Batam bantuin mas Juna ngurus cabang disana lagi bermasalah sekalian nanti dia juga akan cari mbak Naya siapa tau ketemu"


Sukma memberitahu


"ohhh udah ngilang kenapa dicari lagi cari lain aja aku juga siap kok dihalalin masmu"


ucap Chika menaik turunkan alisnya


"yang akan jadi kakak iparku siapa saja aku gak masalah cuma masku mau gak sama kamu heran deh pede banget sih lu Chik, udah cari cowok lain aja yang mau sama lu jangan masku susah orangnya yang ada lu sakit hati sendiri"


saran Sukma


"gak asik lu aku langsung ditolak aja sama kamu"


Chika sewot


"udah ah dosen masuk tu jangan ngurusin masku terus aku juga pusing soalnya"


Sukma menyudahi obrolannya karna dosen mereka udah tiba dan melangsungkan pelajarannya


**


sampai diBatam Stela langsung mengirim pesan ke Juna dan Sukma berlanjut menuju kantor kakaknya yang bermasalah dan mencari tau penyebab masalahnya


ting


ponsel Juna bunyi tanda pesan masuk


{mas aku udah sampai nih doain aku ya masku sayang}


pesan dari Stela


{iya hati hati ya adikku sayang jangan lupa ngabarin kalau ada apa apa}


Juna membalas pesan dari adiknya

__ADS_1


ting


sekarang giliran ponsel Sukma yang berbunyi dengan mata pelajarannya1 dan sampai kurang lebih 2 jam ia pun menggukan waktunya untuk nongkromg dikantin


{Sukma sayang mbak dah sampai nih doain ya semoga bisa ketemu mbak Naya}


pesan dari Stela yang dibaca Sukma


{amin aku selalu doain mbak semangat semangat}


balasan dari Sukma


ia tersenyum sendiri membaca balasan pesannya


***


disudut pabrik tempat Shifa bekerja ia heran dengan bosnya yang menanyakan Naya beberapa kali


kali ini Aryo juga menanyakannya lagi


"Fa mau tanya lagi dong?? itu beneran si Rani janda??"


tanya Aryo pas datang keruangan Shifa


"ya pak kak Rani janda anak satu, bapak kan udah nanya berkali kali pak gak bosen apa aku aja yang denger bosen"


Shifa kesal karna Aryo menanyakan hal yang sama


"kalau bapak naksir ya udah bapak tanya sendiri ke kak Rani biar jelas kan serumah lebih enak mala mala tanya di aku aneh"


lanjut Shifa masih kesal


"hehehe jangan marah lah Fa aku cuma nanya doang kok kalau aku bisa tanya langsung ke Rani ya gak mungkin dong aku nanya ke kamu aku gak bisa nanya ke dia soalnya dia diam saja paling jawab sekedarnya doang jadi akunya sungkan nanya nanya sampai sana"


ucap Aryo cengengesan ia tau karyawannya yang satu itu kesal karna ia menanyakan terus menerus


"berusaha dong masak gak bisa heran aku"


umpat Shifa


"ya aku akan usaha doain ya semoga berhasil"


jawab Aryo lalu menuju keruangannya kembali


**


seperti biasa keseharian Rani (Naya) selalu menemani Lintang dari bangun tidur hingga tidur kembali ia sedang menemani Lintang makan siang


Naya sudah mengajarinya untuk makan sendiri tanpa disuapi agar lebih mandiri


"Lintang sayang mama datang jenguk kamu nak"


ucap wanita tersebut yang bernama Frida tidak lain lagi mantan istri Aryo


Lintang yang mendengar suara perempuan yang tidak lain lagi ibu kandungnya langsung bersembunyi memeluk Naya dengan erat


"kamu kenapa sayang??"


tanya Naya khawatir


"aku gak mau mbak"


jawab Lintang takut memeluk Naya lebih erat lagi


"kamu siapa??"


tanya frida heran dan penasaran


ia heran melihat Naya yang berpakaian serba tertutup dan begitu dekat dengan anaknya seperti tidak biasanya anaknya sedekat itu


"saya Rani nyonya baby sister barunya Lintang, maaf kalau boleh tau anda siapa ya?? maaf nyonya soalnya nyonya besar sedang tidak ada dirumah"


jawab Naya sopan


"oh pantes beda sama yang dulu saya kesini, saya Frida ibu kandung Lintang mungkin sebentar lagi akan bersatu lagi, doain saja ya Rani"


Frida memperkenalkan diri dengan bangganya Naya hanya mengangguk mengerti


"maaf nya tuan dan nyonya besar sedang tidak dirumah saya tidak berani mempersilahkan anda masuk, maafkan saya nyonya senbaiknya anda datang lagi nanti saat tuan atau nyonya besar sudah pulang, saya takut dimarahi nya"


mbok Ija memberitahu dengan sopan


Naya diam saja menyimak apa yang terjadi ia juga takut kena marah majikannya


"gak usah banyak omong deh mbok aku kangen sama anakku sendiri apa salahnya menjengukknya dia darah dagingku sendiri"


ucap Frida agak meninggikan suaranya


"tapi nya saya tetap tidak berani tunggu pulang tuan saja nya"


saran mbok Ija masih tetap sopan


"Rani tolong bawa non Lintang masuk dan kunci pintu kamarnya sampai mbok kesana"


perintah mbok Ija Naya mengangguk ia langsung menggendong Lintang yang ketakutan tapi dicegah oleh ibu kandungnya

__ADS_1


"tunggu mau bawa kemana anakku"


teriak Frida memegang tangan anaknya yang berada digendongan Naya


"mbak tanganku sakit aku takut mama mbak"


Lintang mengadu sambil terisak


"maaf bu sebaiknya lepaskan tangan anak anda dulu nanti kita mengobrol bersama agar aku tau permasalahannya dimana kasian Lintang takut dengan anda"


Rani (Naya) memberi solusi dengan sopan


"kamu memerintah saya?? aku majikanmu ngeti tidak kata kata majikan??"


ucap Frida kesal


"saya mengerti nyonya tapi Lintang ketakutan melihat anda jadi biarkan dia tenang dulu baru nanti saya bujuk Lintang mau bertemu dengan anda"


saran Naya


tiba tiba mama Aryo datang sambil berlari menghampirinya


"hey Frida ngapain kesini?? kamu sudah tidak diterima dikeluarga ini dasar tukang selingkuh pergi kamu dari rumah ini"


usir mama Aryo


"ma aku minta maaf aku janji tidak akan mengulanginya lagi ma aku mau rujuk dengan mas Aryo"


ucap Frida memelas


"tidak ada kata maaf untukmu sekarang kamu pergi dari sini"


usir mama Aryo kembali


Naya yang membawa Lintang kekamarnya pun mengunci pintu kamarnya seperti yang disuruh mbok Ija ia menenangkan Lintang yang masih menangis sesugukan Naya memeluknya seperti putrinya sendiri


"cup cup ya sayang jangan nangis lagi mbak ada disini bersamamu"


Naya menenangkan ia memeluk Lintang penuh kasih sayang


"mbak janji ya jangan tinggalin aku seperti mama dan Lisa?? mbak gak akan pergi ninggalin aku kan?? aku ingin mbak jadi mamaku"


ucap Lintang disela isakan tangisnya


deg


Naya bingung harus berkata apa dengan anak kecil didepannya ia juga tidak bisa mengiyakan ucapannya karna ia tidak mempunyai perasaan apapun dengan ayahnya apalagi Naya masih menyimpan nama Juna dihatinya ia benar benar tidak bisa berpaling darinya


"sa sayang jangan nangis lagi ya ada mbak disini mbak akan menjagamu"


jawab Naya gugup bingung harus mengatakan apa


"mbak janji dulu sama aku maukan jadi mamaku??"


ucap Lintang kembali


"sayang mbak bingung jangan ngomong gitu lagi ya mbak sedih jadinya keingat kak Malik nangisnya sama kayak kamu"


Naya berusaha menenangkannya mengalihkan pembicaraannya


"kenapa sama kak Malik kalau nangis??"


tanya Lintang penasaran mengehentikan tangisannya walaupun ia tidak mengenal anak Naya tapi Naya sering menceritakan tentang anaknya ke Lintang dan menunjukkan foto diponselnya jadi Lintang hanya melihat Malik difotonya tanpa melihat secara nyata


"kak Malik kalau nangis suka ngoceh kayak kamu mbak jadi binging ngendiaminnya gimana mbak jadi pusing tujuh keliling"


Naya memberi alasan


"masak??"


Lintang penasaran


"ini kalau gak percaya lihat sendiri"


Naya memberikan ponselnya dan membuka galeri yang berisikan video anaknya yang sedang menangis sambil mengomel ngomel tidak jelas kebetulan Naya memvideonya untuk meledek anaknya bila saat bercanda


Lintang pun melihat videonya dengan serius dan tertawa kala mendengar Malik mengoceh sambil menangis


"mbak Rani mbak Rani apa aku kalau nangis kayak kak Malik gini??"


tanya Lintang dengan polosnya


"iya mirip sekali"


jawab Naya senang karna dengan sebuah video bisa mengalihakan permintaannya


"kok divideo ini mbak Rani mala tertawa cekikikan??"


tanya Lintang lagi


"iya kan lucu Lintang saja yang melihat videonya tertawakan??"


Rani (Naya ) bertanya balik


Lintang mengangguk mengusap ingusnya yang keluar dari hidung dengan bajunya mereka pun bercerita berbagai hal bercanda bersama didalam kamar yang dikuncinya

__ADS_1


__ADS_2