Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
cinta tak terbalaskan


__ADS_3

"itu karna naya saling mencintau bu"


ucap ibu naya gemas.


"kita sebagai orang tua jangan banyak ikut campur urusan rumah tangga anak kita bu. biarkan mereka menjalani rumah tangga masing masing. kita sebagai orang tuanya memantau saja. saat anak kita melakukan kesalahan kita nasehati kita ingatkan. tapi kalau anak kita dijalan yang benar biarkan saja mereka. mereka sudah dewasa. mereka tau mana yang salah mana yang benar bu." ibu naya memberitahu.


ia sedih menatap anak perempuannya diperlakukan seperti ini oleh mertuanya. ibu naya tau bahwa anak perempuannya selalu diperlakukan tidak adil. tidak pernah dihargai.


"naya selalu selingkuh. saya tidak suka."


ucap ibu ryan canggung.


"bukan karna naya selingkuh. naya tidak pernah berselingkuh. saya tau. tapi karna ibu memang tidak pernah menyukai naya. karna hanya lulusan sma. dan hanya suami naya yang lebih mapan dari anak anak ibu yang lain. ibu tidak berani mengeluarkan emosi ibu pada anak dan menantumu yang lain melainkan melampiaskan emosimu ke naya. karna hanya naya yang tidak pernah melawan mu. berbeda dengan dua menantumu itu yang selalu berani melawanmu."


ucap ibu juna. sebelumnya beliau sudah mencari tau tentang semua lingkungan naya termasuk keluarga dan mertuanya.


ibu ryan tercekat mendengarkan ibu juna. bagaimana ia bisa tau dengan yang sebenarnya terjadi.


ibu ryan akhirnya diam saja.


naya hanya terdiam tanpa kata. ia bingung harus bagaimana dengan nasib anak yang ia kandung kalau sampai tidak diakui oleh suaminya. bukan berarti naya membenarkan tuduhan suaminya. ryan masih marah dalam keadaan seperti ini suaminya sangat susah untuk mencerna apa yang terjadi. bahkan kalau sampai suaminya tau yang ada suaminya tidak akan percaya. dan mungkin bahkan suaminya akan menceraikannya. naya tidak takut diceraikan ia hanya bingung dengan nasib anaknya terlahir tanpa ayah mereka.


"ya sudah saya pulang saja. banyak urusan. yang penting saya sudah jenguk kamu ya nay. awas saja kamu kalau gaduh ke anak ku kalau aku tidak jenguk kamu. dasar tukang ngaduh."


lalu ibu ryan pergi tanpa mengucapkan salam.


huft.


semua orang menghela nafas lega setelah ibu ryan keluar dari ruangan.


"nay maafkan bapak yang menyuruhmu memberi kesempatan pada suamimu nay. seandainya bapak membiarkanmu bercerai dari dulu. mungkin tidak akan jadi seperti ini nak"


bapak naya menyesal.


"bukan salah bapak pak. mungkin ini takdir aku pak"


naya menangis dipelukan bapaknya.


"maafkan bapak ya nay. bapak minta maaf gara gara bapak kamu seperti ini."


bapak naya memeluk putrinya.


naya hanya menggeleng dipelukan ayahnya.


"nak kalau memang kamu sudah tidak kuat lagi sebaiknya kamu bercerai saja nak. anak kamu nanti kita urus sama sama. bapak masih sanggup mengurus kalian semua nak. bapak tidak rela kamu masih diperlakukan seperti ini nak."


bapak naya menitikan air mata.


semua orang yang ada diruangan itu hanya terdiam menyimak pemandangan naya dan bapaknya.


"pak sebaiknya naya suruh istirahat dulu pak. kasian naya kan baru sadar."


ibu juna menasehati.


"iya bu terima kasih sudah mau mengunjungi anak kami bu. maaf anak kami selalu merepotkan keluarga ibu."


ucap bapak naya sopan.


"tidak apa apa pak. saya juga sayang sama naya. bapak jangan khawatir ya."


jawab ibu juna.


akhirnya mereka semua keluar membiarkan naya istirahat. hanya ibu naya yang menemaninya didalam.


tak lama bagas dan tata pamit pada bapak naya untuk pulang.


tinggallah bapak naya juna dan ibunya.


"pak apa bapak yakin naya akan bercerai dengan suaminya pak??"


juna membuka obrolan.


"bapak juga tidak tau nak. tapi bapak benar benar sudah pasrah dengan rumah tangga naya nak."


tutur bapak naya.


"iya pak. saya mau minta dan sudah memintanya ke naya pak. kalau suaminya tidak mau mengakui anak yang dalam kandungan naya. saya akan mengakuinya pak."


bapak naya terkejut.


"tapi itu tidak baik nak. mala akan menyudutkan naya nak. dan itu bukan anak kamu."


bapak naya tidak setuju.


" saya tau pak. tapi kalau mas ryan masih tidak mau mengakui anaknya bagaimana pak walaupun sudah dijelaskan. saya juga tidak tega pak. anak naya tidak mendapatkan kasih sayang. saya siap merawatnya."


juna memelas.


"bapak masih sanggup merawat naya beserta anak anaknya nak. biarkan bapak saja yang mengurusnya"


ucap bapak naya pasti.


"iya pak tapi kalau bapak butuh bantuan jangan sungkan ya pak saya akan membantu sebisa saya."


juna menawarkan bantuan.


"iya nak terima kasih nak."


tangan bapak naya memegang pundak juna.


"bapak tau kamu orang yang sangat baik nak. semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik nak. jangan mengharapkan naya nak. bukannya bapak tidak setuju. bapak tidak yakin dengan naya. mau membuka hatinya setelah ini. kalau memang kalian berjodoh insyallah suatu saat pasti kalian akan dipersatukan. biarkan allah yang menentukannya."


bapak naya menasehati.


"iya pak saya mengerti."


jawab juna sopan. ibu juna hanya menyimak obrolan anaknya dengan bapak naya.


tak lama juna dan ibunya pun pamit untuk pulang. setelah juna dan ibunya berlalu bapak juna masuk keruangan naya dirawat.


"assalamualaikum."


"waalaikum salam pak. keluarganya nak juna sudah pulang pak??"


tanya ibu naya.


"sudah bu. naya sedang istirahat bu ??"


tanya bapak naya.


"iya pak."


jawab ibu naya.


"ya sudah ibu juga istirahat bu. jangan sampai ibu juga ikutan sakit. naya masih butuh kita bu."


bapak naya menasehati.


"iya pak."


ibu naya istirahat disofa ruangan naya.


**


naya terbangun dari tidurnya mendengar suara dering ponselnya. naya menengok siapa yang menghubunginya. ternyata ryan suaminya. naya mengangkat telepon


"assalamualaikum mas."


"waalaikum salam. nay apa kamu beneran hamil??"


tanya ryan tanpa basa basi.


"i iya mas. aku


belum sempat naya bicara suaminya sudah memotongnya

__ADS_1


"alhamdulillah kamu sudah hamil sayang. itu anak aku kan sayang??"


tanya ryan diseberang telepon.


"iya mas ini anak kamu. aku hamil anak kamu."


naya menangis


"iya mas tau. kan mas yang buat. mas sengaja membiarkanmu hamil sayang."


ucap ryan


"iya mas."


naya mengangguk menangis sesugukkan.


ibu dan bapaknya kaget terbangun mendengar naya nangis sesugukan sambil teleponan.


bapak dan ibunya cemas takut ryan tidak mau mengkui anaknya melihat naya menangis.


"kamu jaga baik baik kandunganmu ya sayang. jangan sampai kenapa napa. gak boleh capek ya." ryan menasehati.


naya hanya mengangguk dalam tangisannya.


"mas jangan marah lagi ya??"


ucap naya ditengah sesugukkannya


seketika hati bapak dan ibu naya lega mendengar perkataan naya ditelepon.


"berati si ryan sudah tidak marah lagi pak"


bisik ibu naya pada suaminya.


"insyallah tidak bu. mudah mudahan mereka baik baik saja bu."


bapak naya juga berbisik


"maafkan mas ya nay. mas bener bener gak suka mendengar tuduhan ibu. mas sangat cemburu saat mendengar kamu selingkuh atau bersama laki laki lain selain mas. maafkan mas nay."


ryan menyesal.


naya hanya mengangguk angguk tanpa berkata.


"sekarang kamu lagi apa?? kata ibu kamu masuk rumah sakit??"


tanya ryan perhatian


"iya mas aku pingsang dipabrik dan ditolong sama kak juna kebetulan kak juna sedang berkunjung dipabrik. aku langsung dibawa kesini."


naya menjelaskan.


sebenarnya ryan selalu cemburu dengan juna dan bagas mereka berdua selalu ada untuk naya saat sedang kesusahan daripada dirinya. tapi ryan juga tau bahwa cinta mereka tidak pernah terbalaskan oleh naya. ryan juga sadar merekalah yang selalu melindungi istrinya dari apapun.


"ohhh. apa mas junanya masih nungguin kamu sayang??"


tanya ryan.


"sudah pulang mas daritadi tidak lama bapak ibu kesini."


naya memberitahu.


ryan begitu lega mendengar juna sudah pergi dan naya ditemani orang tuanya.


"ohhh kirain masih disitu."


kilah ryan.


mereka berdua berbincamg ringan sebelum ryan memutuskan teleponnya.


"sayang sudah dulu ya mas mau nurunin barang barang. sudah waktunya soalnya."


naya hanya mengangguk angguk.


lalu mereka mengakhiri panggilannya setepah mengucap salam.


"nay ryan gak marah kan nay??"


tanya ibu naya memastikan.


"alhamdulillah tidak bu mas ryan mengakui perbuatannya"


jawab naya tersenyum.


ibu naya melongo bingung yang dimaksud dengan perbuatannya.


"maksudnya??"


"perbuatan hamilin aku lah bu. apalagi???"


naya cengengesan


"ya allah kamu itu ya nay bikin ibu bingung aja hahaha"


ucap ibu naya tertawa.


"pak anakmu nakal."


ibu naya mengadu pada suaminya


bapak naya hanya menggeleng gelengkan kepalanya ikut tertawa.


jarum jam sudah menunjukan angka 9 malam. ibu dan bapak naya setia menemani putrinya.


"assalamualaikum."


ridwan membuka pintu dan langsung masuk.


"mbak kamu baik baik saja kan mbak??"


tanya ridwan khawatir. setelah mencium tangan kedua orang tuanya.


"mbak baik baik saja kok wan. kamu pulang kerja langsung kesini wan??"


naya tanya balik.


"iya mbak setelah dikasih tau aku langsung kesini."


ridwan menjelaskan.


"ohhh kerjamu lancar kan wan??"


tanya naya.


"iya mbak alhamdulillah lancar. mbak jangan khawatirin kerjaan ku mbak. khawatirin kondisi mbak tu lagi bunting juga. jaga kesehatan mbak jangan terlalu capek."


cerocos ridwan.


"iya wan ya allah adikku lebih cerewet ya banding mbak hehehe??"


naya cengengesan.


tok tok tok


"assalamualaikum."


juna langsung masuk sambil mengucap salam.


"waalaikum salam."


jawab semua orang yang ada dalam ruangan naya.


"ini buk ada sedikit makanan buat ibu bapak. takut belum makan."


"gak usah repot repot nak. nanti kita beli disini saja gak papa."

__ADS_1


jawab ibu naya sopan.


"makanan dirumah sakit hambar bu rasanya. nanti ibu tidak selera lagi. bapak ibu harus jaga kesehatan bu pak. naya membutuhkan bapak ibu??"


ucap juna sopan.


"betul itu bu bener kata mas juna ibu kan sudah tua harus jaga kesehatan.hehehe."


ridwan menimpali sambil cengengesan.


"sudah tau ibu tua kenapa gak nikah nikah. sana nikah biar ibu juga bisa melihat istri dan anakmu sebelum pikun."


ibu naya cemberut.


"yaelah pasti mengarah kesana malasss. nanti juga dapet bu bu ."


jawab ridwan sewot.


"mas juna bawa makanan apa mas. mau makan apa aja aku mas laper baru pulang kerja"


ridwan mengalihkan pembicaraan.


"ini banyak kok pilih aja yang kamu suka."


jawab juna santai.


naya dan bapaknya hanya geleng gelebg kepala dengan kelakuan ridwan.


"wan kamu itu ya gak ada sopan sopannya. gimana sih."


tegur bapak naya


"nak juna maaf ya ridwan kurang sopan."


bapak naya tidak enak hati dengan juna.


"tidak apa apa pak. saya senang kok pak. jangan sungkan pak."


jawab juna sopan.


"naya ingin sesuatu??"


tanya juna lembut.


"hmm hmm. apa boleh kak?? tapi kayaknya gak enak deh kak."


jawab naya sungkan.


"gak papa kalau kakak bisa. pasti kakak lakuin. kamu ingin apa hmm???."


ucap juna dengan penuh perhatian.


"aku ingin hmm.


juna menanti jawaban naya.


"aku ingin es kelapa muda yang ada didepan sana kak."


jawab naya canggung.


"ya sudah bentar ya kakak beliin."


ucap juna lembut.


"gak usah mas nanti biar aku saja yang beliin. masak mas juna yang ngurusin mbak naya kan gak enak."


ridwan menimpali.


"gak papa wan kamu kan lagi makan. biar aku saja. yang penting mbakmu keturutan biar bayinya gak ileran. hehehe."


juna cengengesan


"iya nak biar bapak aja kalau gimana."


bapak juna ikut menimpali.


" biar juna aja gak papa pak. daritadi kan bapak jagain naya. bapak harus banyak istirahat juga pak. naya masih butuh bapak ibu untuk jagain. biar juna saja yang nyari esnya."


juna masih bersikeras.


"ya sudah kalau begitu. maaf ya nak kami banyak merepotkan nak juna."


ucap bapak naya sungkan.


"gak papa pak. saya mala senang pak bapak jangan khawair ya?"


juna menimpali.


"kak tapi aku ingin minum esnya disana kak. apa bisa kak??"


ucap naya


"mbak jangan nglunjak deh mbak ada ada aja deh. masih diinfus juga. banyak tingkah."


tegur ridwan


"bentar ya kakak tanya perawat dulu ijin keluar boleh apa tidak. kalau tidak boleh gak papa ya. biar kakak sendiri yang nyari"


juna menasehati.


naya mengangguk angguk dengan mata berbinar. lalu juna pun keluar keruang perawat untuk meminta ijin membawa naya keluar.


"nay kamu ada ada aja sih nak. kan kasihan nak junanya."


ibu naya menasehati.


"gak tau bu aku juga gak mau sebenarnya. tapi gimana aku pengen banget minum es kelapa muda disana."


jawab naya bingung dengan keinginannya.


huft


naya naya.


ibu naya menghela nafas heran dengan ngidam anak perempuannya.


bapak naya hanya geleng geleng dengan tingkah anak perempuannya.


rak lama juna masuk memberitahu naya boleh keluar walaupun hanya sebentar.


"nay kakak sudah minta ijin katanya boleh tapi gak boleh lama lama. gimana??"


tanya juna


"iya kak gak papa."


jawab naya mengangguk.


lalu perawat masuk untuk mencopot selang infus naya agar bisa keluar.


"bu pak kami pamit bentar pak bu??"


pamit juna


"iya nak hati hati."


jawab ibu bapak naya.


naya dan juna keluar dari ruangan.


"kakak pegangin ya nay??"


juna menawarkan bantuan.


"gak usah kak aku masih bisa jalan sendiri. nanti kalau aku gak kuat gendong ya hahaha."

__ADS_1


canda naya.


juna geleng geleng tersenyum dengan tingkah naya. naya sudah bisa tertawa kembali. itu yang paling penting buat juna melihat senyuman tan tawa naya.


__ADS_2