Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
selalu bikin aku jantungan"


__ADS_3

setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam akhirnya Naya sampai juga distasiun Jogja


"alhamdulillah udah sampai i'm coming anak sholeh umi"


gumam Naya semangat saat ia sudah keluar dari gerbongnya.


tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya.


"apa kabar mbak sarangheo?? udah lama gak ketemu ya??"


sapa Reza masinis kereta api yang kebetulan berada diJogja


"siapa ya??"


tanya Naya bingung


"lahhh udah lupa sama aku?? aku Reza mbak masak lupa mbak kan yang gini gini"


jawab Reza sambil memperagakan jarinya berbentuk love ala ala korea.


"ohh yang itu hehehe maaf lupa"


Naya cengengesan.


"makin cantik aja mbak?? mbak Naya mau jenguk anak lagi ya??"


tanya Reza sambil cengengesan.


Naya hanya diam saja tidak menanggapinya ia terus berjalan menuju pintu keluar diikuti oleh Reza


sampai lobby Naya menunggu taksi online yang sudah ia pesan saat masih didalam stasiun


"mbak kok masih cuek aja kan udah kenal aku anterin ya mbak?? sekalian kenalan dengan anakmu mbak ya ya ya ya??"


ucap Reza tapi Naya masih tidak menghiraukannya ia masuk taksi online ketika pesanannya sampai tanpa menoleh kembali ke Reza.


"mbak mbak ya allah susah sekali lah kamu itu padahal kamu imut tapi kok juteknya minta ampun"


Reza geleng geleng kepala sambil menatap kepergian Naya


setelah menempuh perlajalanan yang panjang dari rumah kestasiun sampai Jogja akhirnya Naya sampai juga ia langsung ke kantor pengurus untuk meminta dipanggilkan anak sholehnya ia menunggu diteras pondok. dan tak lama Malik pun datang menghampiri Naya


"umi??"


panggil Malik tersenyum ceria dikunjungi sang ibu.


"Malik"


Naya tidak kalah bahagia bisa melihat anaj sholehnya baik baik saja.


"umi sehat kan umi hahaha Malik senang sekali umi kesini Malik kangen"


ucap Malik memeluk sang ibundanya.


Naya juga memeluk anak sholehnya tak kalah erat menumpahkan rasa rindunya Naya menciumi seluruh wajah anaknya saking rindunya.


"umi sudah jangan cium terus aku malu s


dilihatin teman temanku"


Malik berusaha melepaskan ciuman bertubi tubi dari ibunya.


"hehehe maaf sayang umi kangen banget"


Naya cengengesan setelah melepaskan anaknya


"umi kesini sama siapa??"


tanya Malik


"sendiri sayang"


jawab Naya lembut


"pantes gak lihat siapa siapa bersama umi"


celetuk Malik.


Naya mengerutkan alisnya


"maksudnya, memangnya umi harus bersama siapa nak??"


tanya Naya bingung


"kirain umi rombongan bersama mbah kayak kemarin atau sama om Juna aja juga gak papa om Juna kan sudah janji mau jagain umi saat Malik dan abi gak ada"


penjelasan Malik.


"ngawur kamu, om Juna kan hanya teman umi sayang jadi om Juna gak berhak jagain umi apa lagi sampai nyintilin kemana mana kan gak lucu"


Naya memberitahu.


"gak lucu gimana, lucu aja kok dan gak keberatan walaupun om Juna nyintilin umi ya gak Malik"


ucap Juna tiba tiba merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Malik. ia juga mengunjungi Malik dan kebetulan bertemu dengannya.


"om Juna"


panggil Malik menghampiri Juna dan langsung memeluknya.


Naya menoleh kebelakang dan tersenyum melihat kedatangan Juna


"apa kabar anak sholehnya om?? sehat kan tidak nakal kan??"


Juna membrodong pertanyaan ke Malik setelah melepaskan pelukannya.


"om satu satu dong aku kan bingung jawabnya"


protes Malik


Juna terkekeh melihat keprotesan Malik.


"ya deh, apa kabar anak sholehnya om Juna ini??"


tanya Juna.


"baik om, om Juna juga apa kabar?? apakah baik??"


Mali bertanya balik.


"seperti yang Malik lihat om Juna baik baik saja seperti doa Malik yang selalu m


Malik panjatkan untuk om"


jawab Juna mencubit hidup mancung Malik.


Malik hanya cengengesan.


"Malik sehatkan apakah Malik pernah demam saat om atau umi tidak kesini??"


tanya Juna kembali.


"pernah om, Malik pernah demam om setelah om umi dan mbah kesini tidak lama Malik sering demam keingat abi dan umi terus tapi sekarang Malik sudah sembuh, om lihat kan Malik sehat"


tutur Malik.


deg


hati Naya kaget mendengar penuturan anaknya yang demam karna seingatnya setelah kunjungan bersama keluarga Naya mulai proses perceraiannya dengan ayah kandung anak sholehnya.


"apakah dia merasakan kesedihan yang aku dan mas Ryan rasakan"


gumam Naya dalam hati sekuat tenaga ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh didepan sang putranya.


tak kala dengan hati Juna ia merasa nyeri dengan penuturan Malik Juna sangat menyayangi Malik seperti anaknya sendiri apapun yang berhubungan dengan Malik ia selalu siap siaga.

__ADS_1


"betapa perasanya dia kedua orang tuanya berpisah, tapi lebih menyedihkan kalau dia sampai melihat perpisahan orang tuanya didepan matanya mungkin ini lebih baik untuk semuanya, tidak seperti yang aku alami dulu waktu kecil harus melihat semua kejadian memilukan."


gumam Juna dalam hati ia berusaha tersenyum dan menyembunyikan kesedihannya didepan putra sang pujaan hatinya.


"Malik sudah makan??"


tanya Juna mengalihkan pembicaraannya.


"belum om sudikah om Juna mengajak aku dan umi makan bersamamu om??"


tanya Malik dengan gaya imutnya.


Juna terkekeh


"dengan senang hati sayang ayo ajak umimu mau tidak ikut makan bersama kita"


Juna melirik kearah Naya yang tidak jauh darinya.


"umi bagaimana??"


tanya Malik


"ehmm gimana ya ehmmm"


Naya pura pura berfikir


Juna dan Malik menunggu jawaban dari Naya.


"ayo lah umi Malik sudah lapar"


Malik menarik tangan uminya untuk ikut


Naya tertawa melihat Malik tidak sabaran


Juna merasa lega dan senang melihat Naya tertawa berarti Naya tidak menolak ajakannya walaupun ia tau Naya terpaksa demi menyenangkan anaknya.


"iya iya ayo"


jawab Naya ceria lebih tepatnya pura pura ceria didepan anaknya.


"bentar ya om izin dulu kepengurus nak"


ucap Juna lalu menuju kantor kepengurusan untuk meminta izin keluar sebentar membawa santrinya.


selesai meminta izin akhirnya mereka keluar untuk mencari warung makan bersama Naya dan Malik. selesai mengisi perutnya Juna lanjut membelikan jajanan untuk Malik dan teman temannya di mini market sepanjang perjalanan mereka bercanda gurau mengobrol ringan seperti keluarga kecil bahagia sampai dipondok, yang melihatnya pasti akan mengira bahwa Naya Malik dan Juna keluarga kecil yang sangat bahagia.


"duhh senengnya dek Malik dikunjungi kedua bapak ibunya, senang ya nak, bapak ibu semoga selalu bahagia sampai jannah ya pak bu amin"


celetuk wali santri yang juga sedang berkunjung ia tidak tau bahwa Naya dan Juna bukan suami istri.


mereka berdua hanya mengangguk tersenyum menanggapinya tapi dalam hati Juna ia selalu mengaminkan semua orang yang mendoakannya bersama Naya.


"mari bu"


ucap Naya kemudian berlalu.


setelah mengobrol sebentar dengan Malik dan pengurus pondok Naya dan Juna pamit untuk pulang


"sayang umi pulang dulu ya?? jaga kesehatan maafkan umi tidak ada disampingmu nak"


Naya menciumi wajah anaknya


"sudah umi Malik malu, ya umi ku sayang Malik tidak apa apa ada kang pondok kok yang selalu jagain Malik, umi jangan khawatir, umi juga jaga kesehatan ya untuk Malik umiku sayang"


rayu Malik.


Naya tertawa dengan tingkah anaknya yang selalu pintar merayu dirinya.


"ya sayang jangan khawatir"


jawab Naya lalu Malik menyalimi uminya dan Juna


"om titip umi untukku ya om"


"iya sayang jangan khawatir om akan selalu menjaga umi tersayangmu ok"


ucap Juna mengelus kepala Malik dengan penuh kasih sayang.


"iya om"


jawab Malik tersenyum lebar.


"om sama umi hati hati dijalan ya"


pinta Malik lagi


"iya sayang"


jawab Naya dan Juna bersamaan.


mereka berdua melirik canggung merasa malu satu sama lain.


kemudian ia pamit berlalu meninggalkan pondok setelah memastikan Malik masuk kepondok.


"Nay kakak antar ya??"


pinta Juna


"gak usah kak aku pulang sendiri saja udah pesan tiket juga sayang kan"


kilah Naya mencari alasan.


"kakak anterin sampai stasiun"


tawar Juna


"gak usah kak gak papa kok"


Naya masih menolaknya


"Nay"


panggil Juna dengan nada memelas.


Naya pun tidak tega dan akhirnya ia setuju dan membuat Juna tersenyum lagi.


Juna dengan sigap membukakan pintu mobilnya untuk Naya.


dan berlalu meninggalkan halaman pondok.


"keretanya jam berapa??"


tanya Juna memecahkan keheningan


"jam 12 malem sih"


jawab Naya agak ragu ia tau pasti Juna tidak akan membiarkannya sendiri.


Juna menghela nafas menahan kesalnya.


"apa gak sebaiknya kamu nginep dihotel saja biar kakak pesankan besok pagi kakak antar kamu ke stasiun"


saran Juna


"udah terlanjur pesan kak budazhir"


jawab Naya menolak.


"ok deh"


ucap Juna yang membuat lega Naya


"tapi kakak temenin sampai kereta kamu datang dan masuk ke kereta"


pinta Juna.

__ADS_1


Naya terperanjat menatap tajam Juna.


"kenapa kamu masih mau menolak??"


tanya Juna santai ia tau melihat wajah kesal Naya


Naya hanya menatapnya dengan wajah kesalnya.


"kakak tidak akan membiarkan kamu sendirian Nay kakak akan temani kamu sampai rumah dan mengembalikan anak gadisnya kepelukan orang tuanya"


Juna menjelaskan dengan serius.


"kak apa sebenarnya aku aku"


ucapan Naya terbata bata menahan tangis.


"sebenarnya kamu ingin sendiri menenangkan diri atau menata diri sendiri?? itu yang ingin kamu katakan Nay??"


jawab Juna kesal Naya tidak bisa menahan air matanya dan akhirnya tumbah membasahi wajah cantiknya.


akhirnya Juna meminggirkan mobilnya di pinggir jalan


"sudah berapa kali kamu mengatakan itu Nay dan yang sekarang kamu masih terpuruk karna perceraianmu kan, kamu yang mengambil keputusan itu, kakak sudah bilang ayo kita hadapi bersama sama jangan hiraukan perasaan kakak Nay kakak hanya ingin melihatmu bahagia hanya itu biarkan kakak disisimu urusan hati biarkan allah yang menentukannya"


ucap Juna sambil mengusap air mata Naya


Naya hanya mengangguk sambil sesugukkan.


"boleh aku peluk sebentar kak??"


Naya meminta izin


Juna hanya mengangguk dan memeluknya dengan erat dan penuh kasih sayang.


"maafkan aku ya kak?? aku selalu merepotkan kakak aku hanya takut membuat kakak kecewa kak maaf"


ucap Naya setelah melepaskan pelukannya dan menangis kembali karna ia selalu merasa bersalah dengan Juna.


"Nay dengerin kakak ya apapun keputusanmu nanti kakak akan terima jadi kamu jangan khawatirkan kakak ok"


jawab Juna


Naya hanya mengangguk mengiyakan


"kakak janji apapun keputusanku nanti aku berharap kita masih bisa berteman kak??"


pinta Naya


"iya sayang kakak janji, tapi kamu juga harus janji dengan kakak tidak boleh sedih lagi, kita hadapi bersama, kalau ada apa apa cerita jangan sungkan ya, jangan paksakan perasaanmu untuk kakak Nay"


pinta Juna kepada Naya.


"iya kak, aku janji, tapi kalau seandainya tiba tiba aku jatuh cinta dengan kakak bagaimana, itu hanya seandainya kak aku takut kakak kecewa denganku"


tanya Naya


Juna tersenyum kecut mendengan ucapan Naya


"seandainya kamu jatuh cinta dengan kakak betapa bahagianya kakak Nay, dengan senang dan hati bahagia kamu mau terima kakak dihatimu, tapi kakak minta jangan pernah dipaksakan kakak gak mau kamu tersiksa sendirian menderita sendirian ok, tapi kalau kamu mau mencoba membuka pintu hatimu untuk kakak gak masalah, tapi ya itu jangan dipaksakan kamu mengerti kan"


ucap Juna memberitahu


Naya hanya mengangguk mengiyakan.


"jadinya dimana nih nginep hotel biar kakak pesankan kamar untukmu atau ke stasiun tapi tetap kakak temenin kamu"


tanya Juna memastikan tujuan.


"stasiun aja kak aku udah pesen tiketnya"


jawab Naya pasti.


"ya sudah OTW sekarang"


ucap Juna lalu menyalakan mesin mobilnya menuju stasiun.


sampai disana Juna dan Naya menunggu keretanya datang satu jam lagi.


saat mereka duduk saling diam karna merasa canggung dan merasa tidak ada yang perlu dibicarakan tiba tiba Reza datang kembali menghampiri Naya


"mbak sarangheo mau pulang ya??"


sapa Reza pada Naya


Naya menoleh kearaah sumber suara.


"mbak mau pulang??"


tanya Reza lagi tapi Naya masih diam membisu. Juna memperhatikan pria yang sedang menganggu pujaan hatinya


"mbak aku anterin ya kalau perlu sampai rumah juga gak papa mbak"


tanya Reza lagi


tapi Juna langsung berdiri dan menggandeng tangan Naya membawanya pergi dari stasiun


"kak kak mau kemana??"


tanya Naya bingung


"loh loh loh mbak mau kemana mas kenapa tangan mbak ini ditarik??"


protes Reza tidak terima.


"kereta ini batal, kalau kamu masih ingin bekerja disini jaga sikap kamu, jangan ganggu Naya"


ancam Juna dengan mata melotot


Reza langsung tertunduk tau maksudnya tidak berani menatapnya lagi


"ayo pulang ke hotel"


tangan Juna menarik tangan Naya


Naya akhirnya Naya pasrah dengan tingkah Juna.


"siapa sebenarnya dia kenapa auranya kuat sekali?? kalau orang biasa tidak akan mungkin berani kayak tadi nanti aku cari tau saja daripada menerka nerka tidak jelas"


gumam Reza dalam hati.


"apa seperti itu setiap kali kamu distasiun Nay??"


tanya Juna menahan kesal saat sudah berada didalam mobil.


Naya hanya diam saja


"Naya tolong jawab aku apakah kamu selalu diganggu oleh mereka setiap kali distasiun??"


tanya Juna lagi


" jangan marah ya kak aku akan jelasin tapi kakak janji jangan marah marah dulu"


pinta Naya takut


Juna mengatur nafasnya agar tidak terbawa emosi


Naya tau bahwa Juna sedang menahan emosinya.


akhirnya Naya menceritakan awal pertemuannya dengan Reza sampai sekarang.


Juna melongo mendengar cerita Naya


"ya allah benar benar ya wanita pujaan hatiku ini selalu bikin aku jantungan terus"


gumam Juna dalam hati

__ADS_1


__ADS_2