
tidak lama mereka tertidur hingga tidak ada yang mendengar gedoran pintu kamarnya yang berulang ulang kali diketuk
Aryo yang mendapat kabar dari mamanya langsung pulang dan mengabaikan pekerjaannya karna khawatir dengan putrinya dan Naya setelah mantan istrinya meninggalkan tempat tinggalnya mamanya langsung menghubunginya
ia takut mantan istrinya yang tidak segan segan berbuat nekat dengan siapapun demi keinginannya
"ma kenapa gak ada suara mereka berdua baik baik saja kan ma dari tadi gak ada yang buka pintunya"
ucap Aryo khawatir ia bingung harus berbuat apa dengan mereka yang ada dalam kamar tak mendapatkan respon atau suara apapun yang dikhawatirnya sedang tertidur nyenyak saling berpelukan
"ya allah Yok kita kan punya kunci cadangan kenapa daritadi gak ingat itu"
mama Aryo merutuki kebodohannya yang sedang tegang ia langsung mengambil kunci cadangan yang berada dikamar anaknya dan memberikannya
"ini Yok cepetan"
mama Aryo tidak sabaran
Aryo langsung membukanya
ceklek
dari wajah khawatir berubah menjadi lega mengehela nafasnya melihat dua wanita yang tertidur pulas diatas ranjang kasurnya saling berpelukan
Aryo dan mamanya tersenyum lega melihat pemandangan didepa matanya ia mengelus cucu tersayangnya dan Naya yang memeluk Lintang tanpa memakai cadarnya ia terlihat cantik saat matanya terpejam
"kalian itu ya benar benar membuatku jantungan"
ucap mama Aryo menoel noel pipi cubby Naya
Naya hanya mengeliat tanpa terbangun sedikitpun
Aryo dan mamanya tersenyum Naya tidak terbangun karna toelannya
"sudah ma ayo keluar mereka baik baik saja kok"
ucap Aryo menarik tangan mamanya kelauar dari kamar sang anak
"Yok kapan kamu akan mengutarakan perasaanmu ke Rani dia disini sudah lima bulan lebih loh jangan terlalu lama Yok keburu diembat yang lain"
mamanya tau kalau anaknya menyimpan perasaan terhadap baby sister cucunya tersebut dari raut wajah anak sangat terlihat hingga mamanya pun mau menyetujuinya walaupun Rani (Naya) hanya baby sister karna yang terpenting kebahagiaan anak dan cucunya
***
tidak terasa Stela sudah empat hari berada di Batam dan urusannya dengan kantor hampir selesai ia pun ingin menikmati jalan jalan sendiri menggirup udara segar
menjelang sore Stela memutuskan pergi ke mall sekedar melihat lihat begitupun dengan Naya setelah bagun dari tidurnya ia terbelalak melihat pintu kamarnya tidak terkunci
"seingat ku tadi udah aku kunci sesuai perintah mbok Ija"
Naya garuk garuk kepalanya yang tidak gatal ia bingung sendiri
"kenapa mbak??"
tanya Lintang yang melihat Rani (Naya) kebingungan
"sayang tadi mbak udah kunci pintu kan ya??"
tanya Naya memastikan
Lintang mengangguk mengiyakan karna ia juga melihatnya
"kenapa mbak??"
tanya Lintang lagi dengan polosnya ia tidak mengerti dengan kebingungan Naya
"tadi udah mbak kunci tapi kenapa sekarang gak kekunci Tang kan mbak jadi bingung sendiri kita kan baru bangun"
Naya menjelaskannya pada Lintang
Lintang pun jadi ikut berfikir dan bingung sama dengan Naya
"gak tau ah mbak aku pusing mikirin pintu yang tidak dikunci"
ucap Lintang pada akhirnya ia tidak mau ambil pusing
tok tok tok
tiba tiba pintu kamarnya diketuk beruntung Naya sudah memakai cadarnya jadi ia tidak perlu gelaban
Lintang membuka pintunya dan melihat papanya sedang berdiri didepan pintu kamarnya
"papa, papa sudah pulang dari kantor"
tanya Lintang antusias karna papanya pulang cepat
"ya papa pulang dari tadi kalian tidurnya nyenyak banget sampai gak dengar papa gedor gedor terpaksa deh papa buka pake kunci cadangan maaf ya sayang papa masuk tanpa permisi"
ucap Aryo menggendong anak kecilnya tapi matanya melirik ke Naya yang yang tertunduk salah tingkah ia tau apa yang Naya pikirkan
" sudah mandi sayang??"
tanya Aryo ia menciumi anaknya dengan gemas
"sudah dong pa Lintang sudah wangi"
__ADS_1
jawab Lintang manja
"jalan jalan yuk?? kita ke mall"
ajak Aryo
"asik, bener ya pa"
Lintang bertanya memastikan takut tidak jadi
papanya mengangguk pasti ia pun menurunkan anaknya
"mbak Rani ayo cepat mandi kita jalan jalan"
Lintang menarik narik tangan Naya menyuruhnya bersiap siap
"ya Ran kamu siap siap gih saya tunggu sama Lintang ya kita jalan jalan bertiga sekalian ada yang ingin saya bicarakan denganmu"
perintah Aryo ia sengaja mengajak Rani ikut bersama karna ingin mengutarakan perasaannya yang lama terpendam
Naya mengangguk dan berlalu menuju kamar pembantu untuk bersiap siap ikut dengan majikannya
setelah siap mereka bertiga pun berangkat
"maaf ya Rani tadi tidak sengaja saya melihat wajahmu saat lagi tidur nyenyak sama Lintang karna khawatir dengan kalian atas kedatangan mama kandungnya Lintang"
ucap Aryo jujur
mata Naya terkejut mendengar pengakuannya yang sudah melihat wajahnya tapi Naya juga berusaha untuk tenang
"ya gak papa tuan saya mengerti"
jawab Naya sopan
"wajahmu cantik"
ucap Aryo tersenyum ia melirik dari kaca spion mobil
"te terima kasih"
jawab Naya malu
"Lintang kan sudah bilang pa mbak Rani cantik dan imut, papa sih gak percaya?? sekarang udah lihat kan cantik kan pa mbak Rani"
celetuk Lintang ia memandangi papanya dan Rani bergantian
Aryo tersenyum menanggapinya
tidak lama mobil mereka pun sampai diparkiran mall yang dituju
Naya Aryo duduk menemani dan mengawasi anaknya
"maaf ya saya jarang ngajak kamu keluar Ran"
Aryo membuka obrolan agar tidak canggung ia terus menatap Naya yang wajahnya tertutup cadar
"ya tuan tidak papa saya juga lebih senang dirumah walau sempat khawatir Lintang kenapa napa jauh dari saya"
jawab Naya ia masih menunduk Aryo semakin kagum dengan Naya yang selalu perhatian dan mengkhawatirkan anaknya ia mengira kekhawatirannya karna Naya sudah menganggap Lintang anaknya padahal itu memang tugasnya sebagai baby sisternyw
"Rani apa kamu tidak ingin menikah lagi??"
tanya Aryo tiba tiba membuat Naya terkejut kembali Naya pun menoleh kearah Aryo dan kembali tertunduk menghela nafas untuk menenangkan hatinya atas pertanyaan majikannya
"saya belum siap menikah lagi tuan, saya masih ingin menyembuhkan luka yang saya alami dulu"
jawab Naya tenang lebih tepatnya berusaha tenang mengingat kejadian silam yang membuatnya membatalkan pernikahannya dengan Juna
"apakah mantan suamimu KDRT?? atau selingkuh??"
tanya Aryo yang tidak tau permasalahannya
Naya menggeleng dan akhirnya ia menceritakan perihalnya tapi tidak menyebutkan nama Juna dan Ryan
"ya allah astagfirullahaladzim"
Aryo nyebut mengusap dadanya mendengar cerita yang dialaminya
"terus bagaimana dengan calon suamimu sekarang dan mantan suamimu Rani?? apa kamu tau kabarnya??"
tanya Aryo penasaran
Naya menggeleng
"saya tidak tau kabar mereka tuan yang saya tau calon suami saya pasti hatinya hancur dengan masalah itu ditambah saya membatalkan pernikahan kami walaupun dia masih mau menerima saya tapi saya benar benar tidak pantas bersanding dengannya, saya tau dia juga pasti mencari saya makanya saya memutuskan untuk memakai ini sekalian hijrah"
Naya cengengesan
Aryo tersenyum melihat senyuman Naya dibalik cadarnya walaupun tidak melihat ia bisa merasakan ia sering berinteraksi dengan wanita wanita bercadar termasuk Shifa pegawainya teman Naya satu satunya
"kamu lucu Ran kamu wanita yang kuat semoga kamu selalu kuat menghadapi segala cobaan ya"
Aryo menyemangati yang diaminkan Naya
"jadi kalau saya melamarmu, kamu pasti menolak saya??"
__ADS_1
tanya Aryo serius menatap Naya yang menoleh kearahnya dan tatapan mata mereka bertemu satu sama lain Naya dengan tegas dan mantap menganggukkan kepala menandakan iya menolak
Aryo langsung lemas dengan jawab Naya
"tega kamu Rani masak nolak majikan sendiri sih mana ganteng gini lagi"
ucap Aryo memelas
Naya cekikikan
"maaf tuan calon suami saya lebih ganteng dan lebih keren dari tuan dan tambah lagi masih perjaka"
canda Naya tapi ia berkata jujur
"brondong dong?? apa kamu lebih suka yang daun muda Rani??"
Aryo penasaran dengan selera Naya
Naya menggeleng
"dia lebih tua tiga tahun dari saya tuan cintanya tulus ke saya dia selalu menunggu saya dari dulu mungkin sampai sekarang saya akan kembali padanya saat saya benar benar siap bertemu dengannya untuk saat ini saya masih takut dan belum percaya diri akan masalah itu"
ucap Naya
"saya jadi curhat maaf ya tuan"
lanjut Naya cengengesan setelah menyadarinya
"gak papa saya senang kok bisa mendengarkan keluh kesahmu"
jawab Aryo santai yang sebenarnya ia juga hancur mendengarkan semua kejujuran cerita Naya dan pada akhirnya ia masih ditolak
setelah puas bermain mereka memutuskan mencari makan didalam mall tersebut dan kebetulan Stela juga berada didekat tempat Naya duduk
Stela terkejut matanya benar benar melotot melihat wanita yang mirip dengan Naya
"apa itu mbak Naya tapi kok pake begituan terus itu anak kecil siapa lah yang cowok itu apa mataku udah rabun ya masak mbak itu Naya tapi sorot matanya mirip mbak Naya apa aku cuma salah duga saja"
Stela berbicara sendiri bingung dengan apa yang ia lihat
sedangkan Naya sedang asik berbincang dengan Lintan dan Aryo sambil makan dan menceritakan segala hal dengan ayahnya
Stela masih mengamatinya ia penasaran dengan wanita yang ia lihat akhirnya ia pun berpindah didekat resto yang ditempati Naya
"papa tadi aku disekolah ada anak baru loh cowok ganteng banget dia pindahan dari jauh pa"
Lintang bercerita tentang apa yang ia lalui disekolahnya
Naya dan Aryo mendengarkan dan sesekali menanggapinya
"oya?? gantengan mana sama papa?? papa sedih loh kalau bilangnya lebih gantengan teman barumu itu"
Aryo pura pura merajuk
"tetap gantengan papa dong"
puji Lintang pada papanya ia pun mencium pipi papanya dengan gemas
"pintar anak papa"
Aryo mencubit pipi anaknya dengan gemas
"Rani kamu bayar ya ini ATMnya"
perintah Aryo menyodorkan dompetnya
"lah kok dompet??"
Tanya Naya bingung karna Aryo menyodorkan dompetnya
"didalamnya ada ATM Rani sayang tinggal ambil saja terserah kamu mau pakai yang mana"
Aryo memberitahu ia mempercayakan semuanya ke Naya
"bener gak papa??"
tanya Naya memastikan
Aryo mengangguk pasti
"sekalian kamu belanja pake dompet itu beli semua yang kamu butuhkan"
ucap Aryo Naya tidak menghiraukannya ia berjalan menuju kasir untuk membayarnya
"Nayanya Rani kirain Naya tadi yang cowok juga panggil sayang mungkin bukan mbak Naya"
gumam Stela lemas menerima kenyataan yang ia lihat bukan orang yang ia cari cari
"aku pulang sajalah capek muter muter dari sore"
akhirnya ia pun bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk kembali ke hotel milik kakaknya
selesai ke kasir Naya pun kembali ke mejanya dan bersiap siap pulang bersama majikannya
deg
__ADS_1
jantungnya berdetak kencang kala melihat tubuh Stela berjalan di didepannya yang semakin menjauh