Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
buaya darat


__ADS_3

hati Naya terasa mendengar ucapan yang masih menyandang sebagai mertuanya itu.


"baik bu kalai begitu saya permisi"


pamit Naya berjalan kaki menuju halte bus jalan raya


"ibu apa apaan ini kenapa ibu tega memisahkan mereka bu??"


ucap Juna menahan emosi.


"yang sopan ya sama orang tua"


jawab Agung membela ibunya


"kalian bener bener ya awas aja kalian akan menyesal nantinya telah menyakiti hati Naya"


peringatan Juna dan kembali masuk ke mobil dan mengejar Naya


"paling mobil sewaan juga bangga sekali dia"


cerocos ibu Ryan karna tidak tau identitas Juna yang sebanarnya.


"sudahlah bu ayo motor Ryan biar aku yang pake ya bu motorku aku jual aja motor Ryan kan masih baru bu mayan lahh"


pinta Agung


"ya sudah terserah kamu aja lagian ibu juga gak bisa naik motor yang penting ibu anterin kemana mana"


ucap ibu Ryan


"siapp kanjeng mami"


jawab Agung semangat empat lima.


tin tin


Naya tidak memperdulikan mobil yang mengklakson dirinya sampai akhirnya Juna mengklason beberapa kali membuat Naya menghentikan langkah kakinya.


"Nay ayo masuk kakak mau bicara"


ucap Juna masih didalam mobil


"mau bicara apa kak?? bicara tentang aku dan mas Ryan??"


tanya Naya


Juna mengangguk


"ayo lah Nay??"


bujuk Juna.


Naya menghelaikan nafas kasar dan akhirnya masuk kedalam mobilnya.


Juna pun melajukan mobilnya kejalan raya


mereka saling diam tanpa berkata apa pun, suasana didalam mobil begitu hening hingga mobil Juna berhenti dipinggiran jalan raya


"kamu serius akan menggugat cerai suamimu??"


tanya Juna dengan serius


"iya kak aku sudah memantapkan hatiku untuk melepaskannya"


jawab Naya datar.


Juna tersenyum kecut entah ia harus senag atau sedih pujaan hatinya akan melepaskan status halalnya.


"Nay?? "


Naya hanya menoleh kearah Juna


"kakak bantu kamu mengurusnya sampai selesai"


pinta Juna menatapa lurus wajah Naya ia melihat luka diraut wajah Sang pujaan hatinya


"gak kak biarkan aku mengurusnya sendiri aku gak mau melibatkan siapapun dalam masalah rumah tanggaku"


tolak Naya tegas


"Nay tolong"


Juna memohon


"kak aku mohon biarkan aku menyelesaikan semuanya sendiri pleasee"


Naya masih bersikukuh


akhirnya Juna pun pasrah dengan keputusan Naya.


"tapi kakak anterin aja ya sampai tujuan biar kakak lebih tenang Nay??"


pinta Juna


"ok deh anterin sampai tujuan saja gak lebih"


ucap Naya memastikan


"ok"


jawab Juna singkat langsung melajukan mobilnya menuju pengadilan agama


"makasih kak sudah anterin aku"


ucap Naya setelah sampai tujuan


"iya sama sama"


jawab Juna.


"Nay kamu yakin dengan semuanya??"


tanya Juna memastikan


Naya tersenyum


"ya doakan semoga lancar dan cepat selesai kak"


jawab Naya masih mengukir senyuman.


Naya berjalan berniat masuk tapi langkahnya terhenti saat di panggil kembali oleh Juna


"Nay??"


ucap Juna


Naya menoleh kearah Juna


"ini cas casan Ridwan yang ketinggalan kemarin tadi berniat mau ngembaliin tapi ketemu kamu dijalan ya sudah, titip ya kasiin Ridwan siapa tau dia membutuhkannya"


Juna keluar mobil dan menyerahkan cas casan milik Ridwan adiknya.


"ya kak makasih"


jawwb Naya lalu melanjutkan langkahnya


Juna pun peegi meninggalkan Naya dipengadilan agama sebelumnya ia menelepon seseorang untuk mengawasi Naya didalam sana.


huft


Naya menarik nafas panjang agar hatinya tenang lalu masuk untuk mengurus semuanya


Juna sampai dikantor mengurus pekerjaannya sambil menunggu laporan dari orang suruhannya.


"semoga kamu baik baik saja Nay"


gumam Juna kala teringat Naya


**


dikantor Bagas dan Tata.


"Ta Naya jadi ngurus perceraiannya??"


tanya Bagas penasaran


"mungkin jadi soalnya tadi malam sudah bilangnya mau secepatnya mengurus biar gak banyak libur terus"


Tata menjelaskan


"ohhh"


jawab Bagas singkat lalu memeriksa laporan dari Tata


"kenapa mas?? mas berniat mau ngejar kak Naya??"


tanya Tata curiga


"inginnya sih begitu siapa tau Naya mau menbuka hatinya untukku, tapi mas cukup tau diri Ta ada Juna yang juga memperjuangkannya dan mas juga gak mau berselisi dengannya hanya karna asmara lebih baik mas mundur lebih dulu daripada mas terluka nantinya"


curhatan Bagas.


"iya sihh sebenarnya aku juga setuju mas ngejar kak Naya tapi gimana ya, biarkan sajalah kalau memang jodoh gak akan kemana mas"


Tata menasehati.


"ya mas tau doakan yang terbaik untuk semuanya ya Ta, doakan mas cepat dapat jodoh biar gak terus terusan patah hati sama Naya"


keluh Bagas.

__ADS_1


"aminnn ya mas aku selalu doain kok"


jawab Tata


"ya sudah mas aku balik keruangan dulu ya"


pamit Tata yang dianggukan Bagas


ia kembali sibuk dengan pekerjaannya kembali


huftt


"ribet juga ya ngurus percaraian ternyata, tapi kenapa banyak yang suka kawin cerai kawin cerai heran, masalahnya juga beraneka ragam hihihi"


gerutu Naya kekikikan dengan kata katanya.


"pulang ahh naik bus"


ucapnya kemudian Naya pun melangkahkan kakinya menuju halte bus yang tidak terlalu jauh jadi ia bisa berjalan kaki kesana, tapi sayang Naya harus menunggu kedatangan bus berikutnya kurang lebih setengah jam dihalte


saat sedang duduk menunggu dihalte ada seseorang yang ikut duduk disampingnya.


"mbak nunggu bus juga ya??"


tanya seorang laki laki yang duduk disampingnya.


Naya hanya diam saja tidak berani menanggapi pertanyaannya.


"kok diam saja mbak?? padahal tadi kita bareng lohh didalam"


Naya masih diam membisu tidak menanggapinya


"mbak pisah karna suami selingkuh ya?? atau karna mertua yang suka ikut campur??"


tanyanya lagi


Naya masih tidak bergeming


"mbak kok cuek banget sihh, perkenalkan nama saya Yoga nama mbak siapa??"


Yoga mencoba memperkenalkan diri


Naya masih diam saja dan akhirnya berdiri karna bus yang akan ia tumpangi telah tiba Naya melangkahkan kakinya masuk kedalam bus ia duduk di kursi yang kosong.


ia masih diam mengetahui Yoga ikut duduk disampingnya


"mbak cuek amat sih gak usah jual mahal kenapa mbak??"


protes Yoga.


Naya masih cuek tidak menanggapi ocehan Yoga.


tiba tiba seseorang yang duduk disebelah Naya pun ikut nimbrung


"kalau gak mau gak usah dipaksa"


Ucap Juna dingin


seketika Naya menoleh kearah sumber suara karna ia mengenal suara tersebut.


"kak Juna kok disini?? bukanya kakak kerja?? ngapain kakak kesini?? jangan bilang kakak ngikutin aku kak??"


Naya membrondong pertanyaan ke Juna.


"gak bisa nanya satu satu kakak kan bingung jawabnya sayang??"


protes Juna sengaja meninggikan suaranya saat panggilan sayang.


Yoga tampak bingung dengan Naya dan Juna.


"kok panggilnya sayang sayang"


batin Yoga dalam hati.


"apaan sihh sayang sanyangan gak lucu tau?? kakak ngapain kesini??"


tanya Naya mengulangi pertanyaannya.


"mobil kakak tadi mogok Nay waktu mau kerumah ibu jadi kakak coba naik bus terus keinget kamu yang tadi ngurus surat surat itu jadi sekalian saja kesini saat mau turun kakak lihat kamu duduk dihalte ya sudah gak jadi turun dehh"


kilah Juna.


"prett ahh ngelesss aku gak percaya jawab jujur pertanyaan ku kak??"


Naya menegaskan.


Juna cengengesan melihat Naya ngambek


"gak usah cengengesan jawab??"


ucap Naya sewot.


Juna menjelaskan dengan sengaja mengatai orang yang sedang menganggu Naya disebelahnya.


hahaha


Naya mala tertawa mendengarkan penjelasan Juna


"jangan kenceng kenceng ketawanya ini masih bus Nay??"


tegur Juna karna orang didalam bus langsung menoleh kearahnya saat mendengar tawa Naya.


uoppsss


Naya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"maaf kelepasan"


sesal Naya akhirnya ia menundukkan kepalanya karna malu.


Juna cekikikan melihat Naya malu.


Naya pun mendaratkan tangannya dipinggang Juna dan mencubitnya.


aaaaa


teriakan Juna menggema didalam bus karna Naya mencubitnya dengan kencang Naya cekikikan melihat wajah kesakitan Juna


"sakit Nay tega amat kamu sama kakak"


keluh Juna


Naya hanya cengengesan melihat wajah Juna memelas


"kalian saling kenal kok daritadi aku dikacangin"


protes Yoga


"aku calon suaminya puass"


Juna memperkenalkan dengan percaya diri


"kakak apaan sih"


Naya menyikut perut Juna


"biar dia gak gangguin kamu lagi Nay kakak gak suka"


bisik Juna ditelinga Naya


"geli tau"


protes Naya


Juna mala terkekeh dengan tingkahnya.


"sebaiknya kamu jangan deketin calon istri saya kalau tidak.."


ucapah Juna dipotong begitu saja oleh Yoga


"kalau tidak kamu akan memukulku?? begitu?? demi cintaku pada mbak ini aku rela digebukin"


potong Yoga dangan yakin


Juna mengangkat satu alisnya sebelah


"bukan hanya memukulimu tapi aku juga akan menghabisimu"


jawab Juna dengan dinginnya


seketika bulu kuduk Yoga merinding dengan aura pembunuh Juna


akhirnya ia pun berpindah tempat menjauh dari Juna dan Naya


Juna tersenyum cengengesan didepan Naya melihat Yoga pergi tanpa ia usir.


"apaan sih kak gak lucu gertakannya"


ucap Naya sewot


"bodo amat yang penting buaya darat itu udah pergi dan gak gangguin kamu"


jawab Juna santai.


"terserah dehh"


ucap Naya tidak peeduli ia kembali hening tanpa sepatah katapun


Juna bisa melihat raut wajah Naya sedih dan terluka

__ADS_1


"Nay mungkin ini awal kesedihanmu tapi aku janji akan berusaha membuatmu tersenyum kembali tanpa ada luka dan kesedihan lagi"


gumam Juna dengan wajah menunduk pandangan lurus.


bus berhenti di halte jalan Raya menuju rumah Naya ia pun keluar diikuti Juna


"kakak mau kemana kok ikut turun??"


tanya Naya heran.


"anterin kamu pulang"


jawab Juna santai


Naya mengerutkan keningnya


tiba tiba mobil Juna berhenti didepannya


"ayo masuk "


ajak Juna membukakan pintu mobilnya


"gak usah aku pulang sendiri aja kak"


nolak Naya


"gak ayo masuk, kakak gak akan biarin kamu pulang sendirian"


ucap Juna tegas


Naya menghela nafas kasar lalu masuk kedalam mobil Juna.


"pak rumah orang tua Naya pak"


perintah Juna pada pak Ayup supir Juna


"baik pak"


jawab pak Ayup sopan lalu melajukan mobilnya menuju rumah Naya


"kak aku udah bilang kan biarkan aku mengurusnya sendiri kenapa kakak selalu muncul sih"


protes Naya kesal.


"kakak cuma nganterin aja kok, kakak gak akan ikut campur masalah kamu Nay"


kilah Juna


"sama aja"


ucap Naya cemberut


"sudah jangan monyong gitu ah jelek"


goda Juna


"tau ahh"


jawab Naya


mukanya masih ditekuk sampai mobil berhenti dihalaman rumah orang tua Naya.


"itu kan motorku bukanya tadi sudah dibawa ibu kok sekarang disini lagi"


ucap Naya.


"mungkin mertuamu disini kali Nay itu sendal yang tadi beliau pakai sama kok"


jawab Juna mengingatnya


"ada apa ya perasaan ku gak enak"


keluh Naya.


"mending masuk aja kita lihat ada apa lagi "


saran Juna.


"kakak pulang aja biar aku selesaikan sendiri"


ucap Naya membuka pintu mobil dan turun masuk kedalam rumahnya.


Juna masih diam ditempat penasaran dengan apa yang terjadi didalam sana


"bapak tidak ikut masuk saja pak daripada penasaran disini"


saran pak Ayup tau bahwa bosnya sedang penasaran.


"tidak pak nanti saja kalau kacau aku kesana"


ucapnya kaluar mobil ingin memastikan keadaan aman


setelah mengucap salam Naya pun masuk kedalam dan menyalimi kedua orang tua Naya beserta mertuanya.


"mana kunci rumah Ryan sini kembali kan pada ibu biar ibu kontrakin rumahnya"


ucap ibu Ryan dengan suara tinggi


Naya menghela nafas


"bentar bu saya ambilkan kuncinya tapi saya mau ambil baju baju saya dulu bu habis itu saya kembalikan ke ibu"


jawab Naya masih dengan nada sopan


"ambil sekarang saja ibu tunggu dirumah jangan lupa kasih kuncinya ke ibu secepatnya"


perintah ibu Ryan


"ya bu"


jawab Naya masuk kekamarnya untuk mengambil kunci rumah suaminya dan mengambil barang barang yang ia tinggalkan disana


tak butuh waktu lama Naya langsung keluar


"bu pak Naya pamit dulu ya mau ambil barang dirumah sana"


pamit Naya kepada kedua orang tuanya


"kakak kok masih disini ada apa?? apa ada yang ketinggalan??"


tanya Naya bingung


"ambil baju saja pake dianterin selingkuhan enak bener ya hidupmu yahh walaupun mobilnya paling rentalan sih"


cibir ibu Ryan dan Agung tersenyum sinis melihat Juna dan Naya


"astagfirullahhal azdim"


ucap semua orang yang ada diluar rumah Naya


"ibu gak tau siapa pak Juna ya??"


belum sempat melanjutkan perkataannya pak Ayup dicegah oleh Juna


Juna mengangkat tangannya kesamping menyuruh sang supir untuk tidak melanjutkan pembicaraannya


"ya bu gak papa yang penting kalau ajak Naya keluar setidaknya tidak kepanasan"


jawab Juna sopan dengan senyum dibibirnya.


"kamu hina adik saya ya mentang mentang gak punya mobil tapi dia juga punya rumah besar, apa kamu punya rumah, paling mobil nyewa aja bangga"


cibir Agung tidak terima


"alhamdulillah mas walapun kecil tapi nyaman untuk ditinggali"


jawab Juna santai


"sialan kamu ya"


umpat Agung ingin meninju Juna tapi dikacangin


"ayo Nay kakak anterin biar cepat sampai"


ajak Juna


Naya pun menurut daripada jalan


"ayo kak"


jawab Naya.


"bu pak pamit dulu ya"


pamit Juna kepada orang tua Naya yang dianggukan orang tuanya


lalu mereka pergi kerumah suami Naya


"saya pulang Sri assalamualaikum"


pamit ibu Ryan sewot


kedua orang tua Naya hanya diam saja


hahh


"ya allah alhamdulillah sudah pergi pak"


ucap ibu Naya lega

__ADS_1


__ADS_2