
dan mereka menuju tempat wudhu mendapati Naya swdang terbengong didepan kran yang masih terbuka dan air mengalir
"berarti suara dulu itu suaranya"
gumam Naya dalam hati ia masih syok dengan apa yang ia lihat barusan karna sempat mengagumi suara merdu tersebut saat ABG dulu
"kak niat wudhu tidak??"
Tata menepuk bahu Naya yang masih bengong dengan pikirannya
"i iya maaf"
jawab Naya kaget
Stela dan Intan geleng geleng kepala dengan tingkah Naya
"apa segitu melelehnya mbak Naya sampai segitunya"
gumam Stela
"sepertinya lebih tepatnya dia syok Stel bukan meleleh lagi"
celetuk Intan
"iya juga ya, nanti aku tanyain deh daripada penasaran"
jawab Stela yang dianggukan kepala Intan
Naya mengela nafas agar tenang dan mulai berwudhu dan menuju mushola
"mbak aku mau ngomong sama kamu bentar"
ucap Stela selesai sholat
"mau ngomong apa Stel??"
tanya Naya sambil melipat mukenanya
"kamu kenapa sih kok jadi aneh begitu setelah melihat mas Juna yang adzan ada sesuatu yng kamu sembunyiin dari kita??"
tanya balik Stela yang lainnya yang sudah ikut nimbung pun ikut mengangguk
"gak kenapa napa kok Stel"
jawab Naya canggung
"gak usah bohong deh ngaku gak??"
Stela mengintrogasi
"ya kak ada apa sih sebenarnya aku juga ikutan kepo tau gak"
Tata menimpali Intan ikut mengangguk
"iya deh iya, aku baru ingat pernah mendengar suara merdu tersebut waktu dipesantren dia sering adzan dan sholawatan tapi karna aku tidak tau kak Juna jadi aku cuma hanya mengangumi suara merdunya tanpa aku cari tau siapa dibalik suara tersebut pernah terbesit ingin jadi makmumnya, baru tadi aku melihat suara merdu yang dulu sering aku dengar dan aku kagumi ternyata milik kak Juna, gimana aku gak kaget"
Naya menjelaskan panjang kali lebar
hahaha
Stela menertawakan Naya
"gak usah ketawa gak lucu"
celetuk Naya manyun
"gimana gak mau tertawa mbak masku itu cinta mati denganmu dan kamu tau itu, dan kamu, kamu diam diam mengagumi suaranya tanpa tau suara siapa yang kamu kagumi bahkan udah berandai andai jadi istrinya dan ternyata suara tersebut milik orang yang tergila gila denganmu, apa itu kebetulan atau takdir memang kalian berjodoh, ya gak bestie"
Stela meminta persetujuan teman temannya.
"iya kak, aku baru ingat suara yang dulu sering adzan di pondok kamu ingat tidak tiap kali dengar suaranya pasti pada alay alay lebay gitu, tapi yang aku ingat kamu biasa biasa aja gak lebay kayak yang lain, ternyata kamu mengagumi juga ya, baru tau aku kalau kakak gak cerita"
celetuk Tata
"mungkin yang dikatakan Stela ada benarnya kak mungkin kamu takdir mas Juna"
Tata setuju dengan Stela
Stela dan Intan mengangguk angguk mengiyakan
"ngrumpi apa sih sampai mukanya tegang gitu"
celetuk Bagas Juna mengikuti dari belakang Bagas
"ini mas"
ucap Stela ingin memberitahu tapi dengan cepat Naya menutup mulut Stela dengan tangannya
"kita lagi ngrumpiin drakor mas biasa"
Naya yang menanggapinya
"ohhh kalian ini dimushola masih aja ngrumpi ayo kita jalan jalan"
ucap Bagas mengingatkan dan melangkah keluar mushola
"iya mas"
jawab Naya dan yang lain
"awas ya Stel kamu jangan ngadu kakakmu bisa malu aku Stel mau ditaruh mana muka ku"
ancam Naya
"hihihi taruh dihati mas ku aja mbak dijamin aman"
ledek Stela
"ayo ahh kita jalan jalan"
Naya mengalihkan pembicaraan
"ngeles kamu kak"
celetuk Tata
"udah deh ayo jalan"
perintah Naya
dan mereka pun akhirnya mulai menikmati pemandangan malam Semilir.
"kak aku ingin naek prosotan pelangi ayok"
ajak Tata
"ayo kita naik"
Naya mengajak yang lain Juna dan Bagas mengikuti mereka seperti pengawal
sebelum mereka naik keprosotan pelangi mereka harus melewati bundaran naik keatas dulu agar bisa meluncur kebawah
"ya allah Nay kok serem banget ya kita diatas gini kalau jatuh gimana Nay"
keluh Intan pada Naya
"jangan nakutin aku deh mbak kamu pikir aku gak takut aku juga takut mbak"
jawab Naya agak gemetar
Juna tersenyum melihat Naya gemetaran dan ingin menggodanya
belum sempat Juna menggodanya Naya kesenggol orang lain yang lewat tubuh Naya terdorong kesamping dan reflek ia berteriak
aahhhh
dengan sigap Juna menangkap tubuh Naya padahal disana dilengkapi kerangka besi yang sangat kuat dan kokoh tertutup hanya lubang lubang kecil dikerangka besinya agar orang dari dalam bisa melihat pemandangan indah dusun Semilir dibawah sana
"kamu gak papa Nay??"
tanya Juna
Naya langsung memeluk tubuh kekar Juna dengan erat gemetaran ia takut kerangkanya jebol karna dorongan tubuhnya dan ia terjatuh kebawah seperti drakor drakor yang sering ia tonton
__ADS_1
"jangan takut ada kakak disini kakak akan nelindungi kamu sayang apa kita turun aja"
saran Juna
"sayang kalau turun kita udah hampir sampai dan tinggal merosot kebawah aja, gak usah turun mbak ya nanggung "
pinta Stela cengengesan
Naya hanya mengangguk dipelukan Juna
Juna menuntun Naya yang masih dalam pelukannya Juna tersenyum dengan apa yang sedang ia lakukan dipeluk oleh sang pujaan hatinya ditambah dua bulan tidak bertemu ia bisa menumpahkan kerinduannya lewat pelukan Naya
"ini namanya kesempatan dalam kesempitan"
gumam Juna dalam hari cengengesan
"senengnya yang lagi dipeluk ehemm udah sampai atas tinggal meluncur kebawah"
ledek Bagas
Juna melototi Bagas yang sedang menganggunya
Naya pun melepaskan pelukannya
"maaf ya kak aku ngrepotin kakak terus"
ucap Naya canggung
" gak papa mau peluk lagi??"
tawar Juna tersenyum
"gak"
jawab Naya denga cepat
"itu tinggi banget loh kak pasti seru banget ini"
celetuk Tata dan Naya menoleh kedepannya
"ya allah gak akan jatuh kan ini"
Naya melihat betapa tingginya ia saat ini berada diatas ia mlihat orang orang yang sedang antri dan akan merosot kebawah menggunakan bak kotak yang berwarna warni yang bisa menampung maksimal dua orang yang akan mengantarkannya merosot kebawah
"gak akan sayang kamu tenang aja ya kalau masih takut kakak temani kita naik berdua gimana??"
saran Juna
Naya berpikir sejenak bingung harus bagaimana
"udah mbak naik berdua aja sama mas Juna daripada kamu jatuh nanti, bisa ngebayangin gak tuh jatuhnya pasti mantep banget tuh"
Stela menghasut Naya calon kakak iparnya
"tapi"
Naya masih berpikir
"udah la kak masih mikirin aja, pikirin keselamatan yang lebih penting"
Tata ikut menghasut
"i iya deh kalau giman daripada jatuh Malik masih butuh aku"
akhirnya Naya terhasut juga
"nah gitu dong, mas kamu temenin mbak Intan juga lah masak gak kasihan dia sendirian"
Tata beralih kekakaknya
Bagas pun pasrah dengan adiknya ia menutujui daripada kena semprot
"iya mas temenin Tan aku temenin ya nanti jatuh"
Bagas meminta persetujuan Intan
Intan hanya mengangguk tersipu malu
karna mereka tamu VIP jadi tidak perlu mengantri seperti pengunjung pada umumnya ditambah Juna menginvestasikan dananya diwisata tersebut
"Nay kalau takut pegangan kakak ya"
pinta Juna ia duduk dibelakang Naya berjarak beberapa senti saja Naya hanya mengangguk mengiyakan
saat mereka mulai diluncurkan kebawah Naya masih biasa saja tapi saat meluncur Naya reflek memeluk Juna karna takut terpental dari prosotannya
Juna pun membalas pelukan sang pujaan hatinya ia tersenyum puas menggunakan kesempatan dalam kesempitannya.
"mas udah ayo masih peluk peluk aja udah sampai bawah ini"
ledek Stela memberitahu
Juna pun melepaskan pelukannya
"Nay udah sampai bawah sayang"
Juna membelai kepala Naya dengan lembut yang tertutup hijabnya
Naya pun melepaskan pelukannya dan membuka mata
"udah sampai bawah ya"
ucap Naya kikuk
Juna hanya mengangguk tersenyum akhirnya Naya pun berdiri yang diikuti Juna
"maaf pak ini ponselnya sudah selesai saya rekam"
ucap salah satu kariawan wisata yang diperintahkan Juna untuk memvideo mereka
"iya terima kasih ya sudah membantu"
jawab Juna ramah
"sama sama pak"
ucap kariawan tersebut lalu pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya
Juna dan yang lainnya melanjutkan menikmati wahana seperti trem kereta keliling ala ala alun eropa dan dan gondala prau getek dan lain lain yang bernuansa eropa hingga kelelahan yang diakhiri makan malam diresto dan kembali kehotel untuk istirahat
"mbak itu beneran yang kamu katakan kalau kamu mengagumi suara merdu masku dan sempat ingin jadi makmumnya??"
tanya Stela memastikan
Naya hanya mengangguk mengiyakan nyengir kuda menampakkan giginya
"jangan bilang masmu ya pliss aku malu"
pinta Naya
"aku pertimbangkan"
jawab Stela
"nanti aku cerita sendiri sama masmu Stel, aku janji akan cerita suatu saat nanti beneran deh makanya jangan cerita masmu ya??"
pinta Naya lagi
"ok deh aku gak akan ngadu nanti mas ku itu bisa berkepala besar lagi"
jawab Stela cengengesan
"ahh kamu itu ayo ahh bubuk besok katanya mau lanjut berpetualang katanya"
ucap Naya membaringkan tubuhnya
Stela mengangguk dan ikut berbaring
tok tok tok
pintu kamar mereka diketuk
"siapa mbak malam malam ngetuk pintu gak lihat apa orang mau tidur"
__ADS_1
gerutu Stela
"udah biar aku aja yang buka kamu istirahat gih"
ucap Naya bangkit dari ranjang
Stela terseyum
dan Naya pun membukaan pintunya
ceklek
"kak Juna ada apa??"
tanya Naya dengan santainya
saat ini ia tidak memakai kerudungnya karna mau istirahat ia juga lupa ia pikir yang mengetuk Tata ingin mengajaknya ngerumpi
"kamu belum tidur Nay??"
tanya balik Juna
"mau tidur sih tapi kakak datang ada apa??"
Naya kembali bertanya
"ingin mengobrol dikit sih tapi kalau kamu mau istirahat besok saja"
jawab Juna tidak enak
"ya udah ngomong aja, mau ngomong apa kak??"
tanya Naya menggandeng tangan Juna duduk disofa ruang tamu yang tersedia dikamar hotel
"yakin tidak menganggu istirahatmu??"
tanya Juna memastikan
Naya mengangguk ia sudah duduk berdampingan disatu sofa
"gini Nay masa iddahmu kan sudah selesai apa kamu siap kakak pinang??"
tanya Juna memandang lekat wajah cantik Naya yang lelah berkeliling dusun Semilir
Naya mala teringat suara merdu Juna saat adzan tadi
"kak apa yang tempo hari waktu dipesantren itu kakak yang adzan?? aku masih ingat suaranya"
tanya Naya memastikan
"kenapa kamu tanya itu?? apa karna tadi kakak yang adzan??"
Juna mala bertanya balik
Naya mengangguk
"iya dulu kakak yang adzan, apa kamu terkesima dengan suara adzan kakak Nay??"
tanya Juna menggoda
"biasa aja kakak tau tidak banyak yang mengagumi suara merdunya kakak loh"
Naya memberitahu
"termasuk kamu??"
jawab Juna dengan cepat
Naya melongo karna yang dikatakan Juna benar adanya
"kamu terpesona kan sayang"
Juna membelai lembut pipi Naya yang membuat Naya nyaman akan belaian lembut tangan Juna
melihat wajah dan bibir Naya yang menggoda reflek Juna mencium bibir manis Naya yang menggoda imannya
cup
bibir Juna menempel dibibir Naya
Naya terbelalak dengan aksi Juna
tapi kemudian ia menikmati sentuhan lembut Juna karna ia mencium bibirnya dengan sangat lembut saat tersadar Juna pun melepaskan tautannya
"maaf Nay kakak khilaf"
ucap Juna merasa bersalah
" i iya kak maafkan a aku juga"
jawab Naya gugup ia juga merasa bersalah karna juga menikmati belaiannya
"kakak permisi kamu istirahat saja maaf ya Nay, kakak akan bertanggung jawab atas perbuatan kakak Nay"
Juna meyakinkan Naya ia takut Naya menganggapnya laki laki kurang ajar pengecut dan tidak bertanggung jawab
Naya hanya diam mematung tidak menjawab ucapan Juna
karna Juna takut khilaf lagi akhirnya ia memutuskan untuk kembali kekamarnya
"Nay kakak pamit ya??"
pamit Juna Naya hanya mengangguk diam saja tanpa berkata apa apa, ia masih syok akan tingkahnya sendiri.
"Juna kamu gila main cium anak orang segala nanti harus gimana ketemu lagi Jun bisa khilaf lagi nanti yang begituan selalu bikin nagih ingin lagi dan lagi, Jun kamu harus cepat nikahi Naya kalau tidak bisa khilaf lagi nanti atau kalau tidak jangan temui dia sampai dia siap menikah denganmu"
gumam Juna berjalan menuju kamarnya
ceklek ceklek
ia membuka pintu dan menutupnya
dan berjalan menuju ranjangnya seperti orang ling lung
Bagas yang mendapati sahabatnya aneh pun mengerutkan keniangnya heran
"darimana Juna??"
tanya Bagas
"eh i iya "
jawab Juna gelabakan
"kamu habis darimana??"
tanya Bagas semakin penasaran dengan reaksi Juna yang gugup
"ng gak kok cu cuma habis dari Naya saja iya habis dari Naya, kenapa Gas ada yang kamu mau omongin??"
Juna mengalihkan pembicaraannya
"tidak heran saja sama kamu, kamu aneh seperti Naya tadi yang bertingkah aneh, sebenarnya ada apa dengan kalian??"
tanya Bagas lagi
"Naya aneh kenapa??"
tanya Juna pada Bagas
akhirnya Bagas menceritakan seperti apa yang diceritakan oleh Intan yang bercerita dengannya saat berduaan dengannya karna Naya meminta agar jangan membocorkan ke siapa siapa
Juna terkejut mendengar apa yang diceritakan oleh sahabatnya tersebut
"apa iya Gas??"
tanya Juna memastikan
"iya tadi Intan cerita begitu, tapi kamu jangan bilang ya kalau kamu sudah tau nanti Nayanya malu"
jawab Bagas
"ingat jangan bocorkan kasian Naya"
__ADS_1
Bagas mengingatkan
Juna hanya mengangguk senang dan bahagia