
"iya juga ya mas. yang ada nanti kak Naya salah dimata orang orang kampung. terus gimana dong mas. aku juga kasian lihat kak Naya nanti kalau sampai denger kata kata itu."
Tata meminta saran.
"nanti saja lah Ta mas pikirkan. yang penting kita istirahat dulu."
ucap Bagas.
"tapi lebih baik kasih tau nak. dari pada nanti Naya lebih sakit hati lagi dengar dari orang lain. itu menurut ibu Gas."
ibu memberi saran.
" gampang nanti saja bu. yang penting sekarang istirahat dulu ya. nanti Bagas coba cerita sama Juna. semoga dia bisa mengerti. "
Bagas menengahi.
"ya sudah kalau begitu."
ibu Bagas pasrah.
tak lama mobil Bagas sampai dirumah Tata dan ibunya.
"bu Bagas langsung pulang aja ya bu??"
pamit Bagas.
"kenapa gak tidur sini aja sih Gas. udah malem."
bujuk ibu.
"gak papa bu Bagas pulang aja."
Bagas tersenyum.
"mas besok jemput aku ya. males pake mobil sendiri."
ucap Tata.
"ok tuan putri. mas pulang dulu. bu Bagas pulang ya.assalamualaikum."
pamit Bagas.
mobil Bagas menjauh dari rumah ibunya menuju kediamannya sendiri. sampai rumah Bagas langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang tidur. bingung harus bagaimana. ingin rasanya ia langsung terlelap tanpa memikirkan apapun. tapi pikirannya tak bisa diajak berkompromi.
hufttt
Bagas menghembuskan nafas.
"ya sudahlah mending aku hubungin Juna aja dulu ya biar tenang ini pikiran."
batin Bagas.
akhirnya Bagas mengambil ponselnya yang diletakkan dimeja samping tempat tidur.
panggilan terhubung.
"hay bro assalamualaikum."
saat Juna menjawab panggilan Bagas.
"waalaikum salam. aku ganggu gak Jun??"
tanya Bagas.
"gak. kenapa?? apa terjadi sesuatu sama Naya??"
tanya balik Juna.
"pasti kamu sudah tau kan Jun kalau orang tua Ryan bikin ulah??"
tanya Bagas memastikan.
"iya. tadi siang teman pabrik Naya datang kerumahnya dan menceritakan yang terjadi padanya. Naya sudah menjelaskannya. tapi aku yakin Gas walapun Naya sudah memberi penjelasan yang benar. tetap saja tidak akan mengurangi sakit hatinya atas apa yang terjadi."
Juna menjelaskan.
"terus bagaimana selanjutnya Jun. apa Naya suruh masuk kerja saja agar dia tidak terlalu tertekan dengan masalahnya?? dia juga selalu merengek sama tata ingin cepat cepat masuk."
Bagas meminta pendapat.
"tapi bagaimana dengan kehamilannya Gas. aku juga gak mau terjadi apapun dengan kandungannya. apa dia mau hanya membantu Tata saja. tidak melakukan pekerjaan berat??"
Juna frustasi. ia juga tau Naya tipe orang keras kepala dan ngeyelan.
"nanti coba aku bilang sama tata. untuk membujuknya agar mau nurut sama Tata. dan tidak boleh capek capek."
Bagas menenangkan.
"ok deh. semoga dia mau mengerti Gas. sebenarnya aku ingin kesana melihat keadaanya Gas. tapi aku sudah sepakat untuk menjaga jarak dan menunggu sampai selesai."
Juna memberitahu.
"kamu tenang aja Jun. disini ada aku. aku akan memastikan Naya baik baik saja. aku juga akan menjaganya demi kamu."
Bagas meyakinkan.
"aku percaya sama kamu Gas."
ucap Juna.
"besok aku ikut perjodohan Gas. aku akan coba menjalaninya dulu. entah bagaimana nanti jadinya. kalau memang jodoh gak akan kemana Gas."
curhat Juna.
"ya Jun. semoga terbaik untuk kita semua."
jawab Bagas mendoakan.
Juna tersenyum diseberang telepon.
"terus gimana masalah perjodohan mu hari ini. lancar??"
tanya Juna.
Bagas tersenyum kecut.
"gagal."
jawab Bagas singkat.
"belum jodoh guys. sabarr. Gas."
ucap Juna.
"ya."
Bagas cengengesan.
"ya sudah bro. aku ngantuk. istirahat dulu ya."
pamit Bagas.
"ok."
jawab Juna mematikan teleponnya setelah mengucap salam dan dibalas Bagas.
bagas berbaring kembali ditempat tidur.
ia menatap sendu langit langit kamarnya. meratapi nasib peecintaannya yang selalu tidak pernah berpihak padanya.
hufttt
Bagas menghembuskan nafas kasar.
"tidur ahhh besok kerja. ayo Gas percaya sama takdir allah."
Bagas menyemangati diri sendiri.
tak lama ia terlelap dalam tidurnya.
***
keesokan paginya seperti biasa Tata dan Bagas berangkat kerja bersama dikala adiknya malas mengemudikan mobilnya sendiri.
tin tin
tanda mobil Bagas datang menjemput sang adik.
Bagas turun dari mobil menghampiri ibunya yang keluar rumah mengetahui anaknya datang.
"Gas.??"
sapa ibu Bagas tersenyum melihat anaknya baik baik saja setelah kejadian semalam.
"bu."
__ADS_1
jawab Bagas membalas senyuman ibunya dan mencium punggung tangan sang ibu.
"kamu baik baik saja kan nak??"
tanya ibu.
"alhamdulillah bu Bagas baik baik saja. anak ibu kan selalu kuat."
canda Bagas.
"alhamdulillah kalau gitu. kirain bakal nangis batal sama Elvi. hihihi."
ledek ibu Bagas cekikikan. merasa konyol dengan kejadian semalam yang tidak jadi mendapatkan menantu kelainan jiwa.
"ah ibu ada ada saja. hihihi. tapi lucu juga sih bu semalam. diluar ekspektasi kita hahaha."
Bagas tertawa mengingatnya.
"udah ahh nanti sakit perut ibu. kamu sudah sarapan belum Gas?? ibu masak tadi. ayok sarapan dulu sambil nunggu adikmu."
ajak ibu mengandeng tangan anaknya masuk kedalam rumah.
Bagas hanya nurut pada ibunya yang membawa masuk.
setelah Bagas duduk dimeja makan. ibunya dengan sigap mengambilkan nasi dan lauk untuk anak laki lakinya.
"ibu makan juga bu. masak Bagas doang bu."
protes Bagas.
"iya ini ibu juga kok."
jawab ibu Bagas.
"pak dhe."
panggil akmal muncul dari luar rumah.
"akmal udah maem belum dek??"
tanya Bagas menggendong keponakannya.
"belum pak dhe. pak dhe tau sendiri ibu tidak pernah masak. aku maemnya sama simbah."
akmal mengadu pada pak dhenya.
ibu Bagas tersenyum melihat tingkah cucunya manja sama anak laki lakinya.
"ini maem dulu dek. suapi apa maem sendiri??" tanya ibu Bagas pada cucunya.
"maem sendiri dong kan jagoan. masak masih disuapin gak lucu dong??"
rayu Bagas agar keponakannya mau makan sendiri. "aku maem sendiri saja mbah. mau galapan sama pak dhe. pak dhe pak dhe kalau akmal menang akmal kasih hadiah ya??"
tawar akmal.
"asiappp. mau hadiah apa?? nanti pak dhe beliin.??"
tanya Bagas.
"robot remot ya pak dhe. ibu gak mau beliin soalnya."
adu akmal.
Bagas dan ibunya tersenyum melihat akmal mengadu.
"ok tapi janji ya jangan rewel. harus pinter dan rajin. gimana??"
tawar Bagas.
"siap pak dhe."
tangan akmal membentuk hormat dikeningnya dengan ceria.
Bagas dan ibunya tertawa melihat tingkah akmal.
"lagi ghibah apaan sih seneng banget deh gak ngajak."
Tata muncul tiba tiba.
" ibu kepooo."
ucap akmal memonyongkan bibirnya.
"owhh anak tak ada ahklak kamu ya."
gemes tata ikut tertawa.
"kamu tu ada ada saja. ayo makan lalu berangkat kerja sana."
canda ibu Bagas mengambilkan nasi dan lauk untuk anak perempuannya. dan mereka sarapan bersama ditemani celoteh akmal.
**
dikediaman Naya sedang tidak mood sarapan. mendengar laporan dari temannya. ia mengingat perjuangannya saat hamil Malik anak pertamanya yang sangat menyedihkan. ia takut kejadian lalu terulang kembali.
huft.
Naya menarik nafas berulang ulang kali agar hatinya tenang.
"Nay sudah tidak usah dipikirkan. yang penting jaga kesehatan kamu. jangan hiraukan omongan orang yang tidak penting. makan sarapanmu."
bujuk ibu.
"ya mbak jangan dengarkan apa kata orang. yang penting makan mbak. katanya mau lihat aku bawah suster cantik. kalau mbak semaput duluan gak akan lihat aku gandeng mbak suster cantik dong."
rayu Ridwan menghibur kakak perempuannya.
"kapan mau bawa kesini?? emang kamu sudah bisa naklukin hatinya??"
ledek Naya.
"ngece kamu ya mbak. kalau aku berhasil menaklukan hari mbak suster cantik apa yang akan mbak Naya berikan??"
tantang Ridwan.
"ehmmm apa ya?? kamu mau apa?? tanggapin dangdut?? terus nanti mbak nyanyi dipanggung?? hahaha"
Naya tertawa membayangkan dengan perut besar joget dipanggung seperti badut.
"yeee ogah banget. masak ditanggapin dangdut. yang nyanyi mbak lagi yang ada pada kabur denger suara cemprengmu."
sewot Ridwan.
"ngece banget sih kamu. gini gini pinter nyanyi kalee. lagu apa aja bisa. mau mbak nyanyiin lagu bollywood yang berjudul gerua. nanti kamu romantis romantisan kaya film titanic itu Wan. hihihi.
Naya cekikikan.
"gak usah halu deh mbak."
Ridwan kesel disamakan film bollywood.
"Wan Wan nanti frewednya dipatung perahu yang deket tol kentang ( Kendal Batang) itu ya Wan. yang jalan arah kerumah mas Bagas kan unik Wan. kalau enggak jalan ke arah pantai sendang sikucing itu juga ada Wan baru dibuat lagi hihihi."
Naya masih cekikikan meledek adiknya laki lakinya.
"terserah deh mbak asal kau bahagia lah mbak."
Ridwan pasrah.
"sudah sudah. ribut aja kerjaannya. makan cepat. nanti telat kerjanya. jangan lama lama bawa calon mu kerumah ini."
ucap ibu Naya tersenyum.
"iya bu. doain aja semoga calon istriku nanti tidak kabur melihat mbak Naya. hehehe."
ledek Ridwan cengengesan.
" semoga saja calon istrimu betah sama kamu yang tukang marah."
Naya balik meledek adiknya.
"sudah ayo cepetan. bapak juga mau berangkat kerja."
tegur bapak.
"iya pak."
jawab Ridwan dan Naya bersamaan.
mereka pun makan bersama dalam keheningan dengan pikiran masing masing. yang terdengar hanya bunyi sendok dan garpu.
**
dirumah Juna tak kala hening makan sarapan sendirian tiada yang menemani. ia juga tidak selera makan memikirkan keadaan Naya bagaimana.
__ADS_1
"apa biarkan saja dia kerja agar tidak terlalu stress."
Juna berbicara sendiri.
huftt
"mudah mudahan Tata bisa memberitu Naya. dan Naya bisa nurut sama Tata."
ucap Juna kemudian. karna Juna sudah tidak berselera makan lagi akhirnya ia memutuskan untuk berangkat kerja lebih awal agar bisa mengikuti perjodohan.
"pak udin mobilnya sudah siap??"
tanya Juna saat berjalan menuju teras rumah.
"sudah siap pak."
jawab pak udin supir rumah Juna dengan sopan.
"ayo berangkat sekarang saja pak."
perintah Juna.
"baik pak."
jawab pak udin dengan sigap membukakan pintu mobil untuk tuannya. setelah tuannya masuk ia pun bergegas masuk kemobil den mengemudikannya.
**
Tata dan Bagas berangkat bersama setelah mengantarkan ibu dan keponakannya kesekolah.
sampai diperjalanan
"Ta coba kamu telpon Naya suruh masuk lagi kepabrik biar dia gak terlalu stress memikirkan mertuanya."
ucap Bagas.
"mas sudah tanya ke mas Juna soal kak Naya??"
tanya Tata.
"sudah dia sudah mengetahui semuanya dan mensetujui Naya masuk kembali ke pabrik tapi dia berharap kamu atau yang lainnya tidak akan membuat Naya kelelahan dalam beraktifitas."
Bagas memberitahu.
"siapp mas. nanti aku hubungi kak Naya kalau sudah sampai kantor."
jawab Tata semangat.
"semangat amat kamu."
ledek Bagas.
"iya dong jadi ada teman ketawa lagi. mas kan tau sendiri kak Naya suka bercanda. aku sudah kangen kumpul bareng lagi."
Tata merindukan sahabat konyolnya.
"apa kita samperin aja kerumahnya ta??"
tanya Bagas.
"boleh mas. nanti aku kasih tau kak Naya. kita akan berkujung kesana."
jawab Tata penuh dengan semangat.
mobil sampai diparkiran pabrik Tata dan Bagas turun dari mobil setelah mobil mereka terparkir dengan sempurna. Tata dan Bagas pun masuk keruangan masing masing.
"aku langsung telpon kak Naya aja ahh."
ucap Tata saat sudah berada dalam ruangannya.
lalu ia pun mengambil ponselnya yang berada didalam tas.
panggilan terhubung.
"assalamualaikum Ta??"
Naya mengucap salam setelah mengangkat telepon dari Tata.
"waalaikum salam kak nanti aku mau kerumah kakak. mau nyampein sesuatu."
Tata membuat Naya penasara.
"sesuatu apaan Ta?? kakak udah boleh masuk kerja ya??"
tebak Naya.
"yee belum aja dikasih tau udah tau duluan. gak seru ah."
Tata ngambek.
"yee udah kebaca kali. kan kemaren kemaren kakak merengek minta masuk kerja. ya pasti itulah sesuatunya hihihi.
Naya cengengesan.
"tapi aku nanti mau kerumah kakak ya??"
rengek Tata.
"ok aku tunggu kedatangan kalian."
Naya tersenyum senang.
"ya udah aku kerja dulu kak. siapin makanan yang banyak ya.hehehe."
Tata cengengesan.
"asiapppp."
jawab Naya.
dan memutus sambungan telepon setelah mengucap salam.
"alhamdulillah kak juna pasti yang ngijinin. kirim pesan aja ahh. ngucapin terima kasih."
ucap Naya ceria.
tapi keduluan Ryan suaminya yang menelepon. ia memberitahu bahwa dirinya sudah berada didarat.
"hahh mas ryan menelepon. semoga mas Ryan tidak terpengaruh dengan berita itu."
Naya berdoa. Naya mengangkat telepon suaminya dengan hati yang gelisah.
"mas mas Ryan."
Naya gugup.
"assalamualaikum sayang lagi apa??"
tanya Ryan lembut.
seketika hati Naya merasa lega mendengar suara suaminya masih bernada lembut.
"wa waalaikum salam mas. huhuhu huhuhu mas."
tiba tiba Naya menangis tersedu sedu.
"sayang kamu kenapa kok mala nangis. ada sayang??"
tanya Ryan penuh perhatian.
"huhuhu aku kangen mas. kapan pulang huhuhu."
adu Naya.
"sabar ya mas juga kangen sayang. mas kan baru berangkat. belum bisa pulang. sabar ya sayang."
Ryan menenangkan.
"mas pulang dong. mas pulang saja. jangan merantau lagi mas. aku pengen mas dirumah mas huhuhu."
suara Naya parau.
"iya sayang sabar ya. sebenarnya mas juga kangen banget sama kamu Nay. tapi mau gimana lagi mas gini juga demi masa depan kita sayang. sabar ya sayang."
Ryan memberi pengertian.
"mas pulang mas. kerja apa aja mas gak papa. mau nyapu kek mungut sampah kek. apa aja mas. yang penting mas dirumah. kita tinggal sama sama mas."
rengek Naya.
Ryan mala tertawa mendengar rengekan Naya. ia merasa gemas dengan istrinya manjanya itu.
"seandainya kamu ada disini pasti mas akan memelukmu menciummu. bahkan mas akan mecubit pipimu dengan gemas Nay."
ucap Ryan dalam hati.
__ADS_1